Karya: Ratna Indraswari Ibrahim

Dalam tiap acara keluarga besar kami, sejak kecil aku merasa Antinglah yang jadi selebritis. Dari sekian puluh cucu eyang putri, cuma dia yang cantik. Konon, Anting mirip leluhur kami, garwa kepala prajurit Pangeran Diponegoro yang lari ke Malang.

Saya yang belajar biologi, sebetulnya heran genetik leluhur (teori Mendel) eyang cuma jatuh ke Anting. Padahal, ada sekian puluh cucu perempuam eyang, termasuk aku (Dini). Anting paling beruntung. Om Didit (papa Anting) pengusaha restoran yang sukses. Di Jakarta saja punya lima belas cabang, padahal yang dijual hanya bakso dan ayam goreng khas Malang. Mama bisa lebih enak membuat masakan itu, tapi tidak pernah sukses memperdagangkannya.

Dibanding Om Didit, ekonomi keluarga kami kalah jauh. Mama dan Papa, lulusan IKIP Malang, hanya guru SMA. Bisa dibayangkan, sejak kecil, aku dan Mbak Anting seperti bumi dan langit. Sekalipun, sebisa-bisanya kala lebaran mama memberiku baju yang lebih bagus dari yang lainnya, agar aku tidak terlampau merasa kalah dengan Anting.

Tapi, papa selalu memprotes sikap mama. “Kamu tidak mendidiknya dengan baik. Seharusnya Dini sejak kecil diajari memahami realitas hidup ini. Aku bukan pebisnis. Gajimu dan gajiku tidak akan sama dengan pendapatan Om Didit.”

Sejak remaja aku tidak suka mendengarkan itu. Seolah-olah aku betul-betul miskin, dan tidak akan pernah sejajar dengan Anting. Apalagi, pada waktu remaja Anting sudah bermain sinetron. Saat itu aku sudah tidak suka menceritakan pada teman-teman sekelasku bahwa dia sepupuku. Pastinya mereka tidak akan pernah percaya, bagaimana mungkin aku bisa bersaudara dengan Anting yang cantik dan anak orang kaya itu.

Semua orang tahu kami tinggal di perumahan BTN. Kedua orang tuaku hanya punya sepeda motor. Aku dan adikku, Dina, memang pernah membicarakan hal itu dan kukatakan padanya, “Jangan bilang sama orang, kalau Anting itu kakak sepupumu. Mereka tidak bakal percaya.” “Mbak, teman-temanku percaya kok. Malah mereka bilang, sampeyan dan Anting itu mirip. Cuma saja baju sampeyan bukan baju bermerek.” Aku benci mendengarkan itu. Sejak remaja aku sudah bertekad untuk tidak akan pernah kalah dengan Anting, yang semakin kelihatan naik daun.

Aku kini menjadi wartawan sebuah harian nasional. Suatu kali redaksi daerah memanggilku. “Dini, coba liput Anting, dia kan saudara sepupumu. Kamu akan berkerja sama dengan seorang wartawati senior dari Jakarta. Liputannya untuk halaman tokoh. Akan dimuat dua minggu lagi. Menurut kabar, dia akan menjadi artis terbaik tingkat ASEAN.”

Aku menganggukkan kepala. Sesungguhnya aku tidak suka tugas itu! Tulisanku akan menjadikannya lebih populer. Aku, secara individu maupun secara lembaga, akan ikut membesarkanya. Aku benci memikirkan itu. Kala remaja aku adalah bayang-bayangnya. Aku tidak ingin mendorongnya menjadi orang besar dengan tulisanku di koran tersebut.

Tapi, tidak mungkin aku menolak tugas. Aku bisa disingkirkan dari media itu. Aku benci. Aku seorang sarjana teknik material. Seharusnya aku berada di perusahaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan Anting. Tapi, kehidupanku berbicara lain. Setelah hampir enam bulan menganggur, setelah tamat SI, aku cuma bisa diterima di media tersebut.

Sebetulnya, sampai hari ini, aku tidak suka bekerja di tempat seperti ini. Apalagi, harus bertemu dengan Anting, ikutan membesarkan orang yang membuat aku merasa tidak berarti apa-apa di muka keluarga besar kami, juga di muka Tom (pacarku) yang selalu dengan terkagum-kagum bilang, “Astaga, aku tidak tahu Anting, tapi luar biasa ya bakat dan cantiknya.”

Tentu saja aku tidak menunjukkan perasaan tidak sukaku pada Anting di muka Tom. ketidaksukaanku itu akan membuat hasil liputanku amburadul. Padahal, aku ingin sekali ke Jakarta untuk membuktikan aku bisa menulis untuk media ini. Saat kukatakan tugasku ini pada Dina, gadis remaja itu berkata kepadaku, ”Mintakan fotonya ya, Mbak, dengan tanda tangan, biar teman sekelasku tahu kalau aku ini adiknya selebritis.”

Dan, mama menambahi, “Kalau kau ketemu Anting, aku mau kirim keripik tempe untuk Om Didit dan tantemu, mangga yang masak di batang dari teman yang punya kebun mangga di Probolinggo.”

Aku berlagak sibuk dan masuk ke kamar. Mengotak-atik komputer, mencoba membuat format untuk profil Anting. Menurut teman-teman, wartawati senior yang akan meliput bersamamu, orang yang cerewet. Dan aku harus berhati-hati, karena pengaruhnya besar pada atasan. Bisa jadi, aku diberhentikan dengan tidak hormat, kalau dia tidak suka, kepada pekerjaan yang aku lakukan. Bisakah dibayangkan aku sebetulnya tidak selalu ingin menjadi orang kedua sejak kecil. Aku sering mengatakan pada diriku sendiri, “Aku harus punya nilai lebih dari Anting.”

Aku tidak pernah sepakat dengan omongan papa yang mengatakan bahwa, “Tidak setiap orang bisa menjadi nomor satu. Di dunia ini, pasti ada yang nomor dua dan tiga. Kita adalah aktris dan aktor yang disutradarai oleh-Nya. Setiap orang pegang peranan, hanya untuk kembali kepada-Nya.”

Aku sangat marah mendengar ucapan papa. Menurutku papa seharusnya tidak pasrah seperti itu. Dia seharusnya mengambil S2, S3 dan menjadi guru besar di universitas, bukan hanya guru SMA. Waktu itu mama bercerita, “Papamu tidak mau kuliah di luar kota, karena takut membebani orang tuanya. Dia menyuruh adik-adiknya yang sekolah di luar kota. Secara ekonomi mereka tidak seberuntung aku dan saudara-saudaraku.” “Toh adik papa yang kaya-kaya itu tidak memberi bantuan kepada kita sekalipun papa sudah berkorban untuk adik-adiknya.”

Mama tersenyum, “Nduk, kita kan sudah cukup sekalipun tidak sekaya Pakde Didit.” Yah, aku tidak tahu bagaimana seharusnya menghadapi Anting. Dia pasti akan menegakkan kepalanya di mukaku, kala berbicara seolah-olah dunia ini cuma dia yang memiliki. Tentu saja, dia tidak jelek seluruhnya. Kadang-kadang Anting memberiku sebotol parfum dari kelas bermerek. Kadang-kadang, dia menyelipkan uang kepada adikku yang membuat adikku berjingkrak-jingkrak.

Tapi, aku memang tidak begitu suka padanya. Apakah aku membencinya? Mungkin juga tidak. Kadang-kadang kalau pulang lebaran dia bercerita banyak. Tentang sinetron, atau jalan-jalannya ke luar negeri, dan aku menikmati juga ceritanya. Dia pasti tidak lupa memberi mama parfum, yang pasti tidak akan terbeli oleh kami. Jadinya, aku mungkin orang yang lagi iri hati saja. Dalam diskusi panjang dengan Tom, dia mengatakan, “Seharusnya kita mengukur baju kita sendiri.”

Aku merasa omongannya tidak jelek. Tapi, aku selalu tidak mau terkurung omongan orang. Berhari-hari aku membikin profilnya dan kukirim ke wartawati senior yang akan meliput bersamaku. Wartawati itu bilang, “Saya sudah pas dengan semua pertanyaanmu, dan sudut yang kau ambil. Cuma aku harus menambah di sana-sini, tapi tidak banyak.”

Pulang dari wawancara, seluruh keluargaku mendapat hadiah termasuk aku. Dia memberiku laptop yang sudah lama aku inginkan. Anting bilang, “Ini pakailah. Aku baru beli tiga bulan lalu, namun aku tidak suka warnanya. Kan kamu sekarang wartawati.”

Hari minggu pagi adikku berteriak-teriak, liputan yang aku buat tentang Anting sudah ada di koran. Kemudian, wartawati senior dari Jakarta meneleponku, “Ini pekerjaan yang bagus. Saya merekomodasi kamu untuk bekerja di pusat saja.”

Setelah itu, aku membaca lagi jawaban atas surat lamaranku yang datang kemarin. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan baja di Jakarta. Aku sudah menata kopor untuk keberangkatanku besok Senin. Dan, aku juga sudah menulis e-mail kepada Tom, pacarku, yang sedang meliput gempa bumi di Sumbawa.***