Data Buku:

Judul : Tulislah Namaku dengan Abu

Penulis : Abdul Mukhid

Penerbit : Babel Publishing & Komunitas Bengkel Imajinasi

Cetakan : I, September 2006

Tebal : xii + 56 hal.

ISBN : 979-25-3950-6

Peresensi:  Wawan Eko Yulianto

Bisa dipastikan, bagi sebagian penyair, puisi adalah cara yang mereka pakai untuk melepaskan keluh kesah, menyalurkan kegelisahan, untuk menghindari overload di dalam batin. Bahkan, jika para penyair itu tidak keberatan, kita bisa menyebutnya sebagai “curhat.” Namun, sebagai seorang dewasa yang tegar, tidak pada tempatnya jika penyair berkeluh kesah, meratapi hidup, mengutuk dunia, dan “curhat” dengan berlinang airmata.

Memang, penyair berhasil mengatupkan mulutnya kuat-kuat, berhasil menyembunyikan berbagai kegelisahan “di sisi kalbu yang paling rahasia.” Namun, pengalaman panjang membaca puisi membuat penyair tak mampu mencegah jari-jarinya yang tiba-tiba menggerakkan pulpen ketika dia sendirian di kamarnya, di kereta api, di tepi jalan. Maka, lahirlah Tulislah Namaku dengan Abu dari tangan Abdul Mukhid, salah seorang penyair dari kelompok yang saya sebut di atas, para penyair yang menulis sebagai sebuah kebutuhan. Perlu ditegaskan, di sini tidak dibicarakan penyair yang menulis puisi untuk sekedar menggambarkan suasana, yang menulis puisi untuk sekedar memenuhi kuota sekian puisi per bulan, atau yang menulis puisi untuk sekedar disebut penyair.

Ignas Kleden menggolongkan setidaknya ada tiga jenis kegelisahan yang menggerakkan seorang penyair dalam berkarya. Yang pertama adalah kegelisahan metafisik, yaitu kegelisahan yang timbul dalam hubungan si penyair dengan kosmos, baik itu alam maupun manusia. Di sini, penyair hanya bisa menerima atau menolak keadaan itu. Selanjutnya, kelahiran puisi bisa juga dipicu oleh kegelisahan politik, yaitu kegelisahan penyair terhadap kejadian-kejadian yang bersifat kemasyarakatan, kegelisahannya terhadap segala jenis ketimpangan yang disebabkan oleh golongan penguasa atau golongan-golongan lain yang berkaitan dengan penguasa, atau kegelisahan si penyair dalam hubungannya dengan banyak orang “di dalam struktur sosial yang diciptakan oleh manusia sendiri.” Dan yang terakhir adalah kegelisahan eksistensial, yaitu yang muncul dalam hubungan si penyair dengan diri sendiri.

Tidaklah salah jika kita membaca ke-44 puisi Abdul Mukhid yang terkumpul dalam Tulislah Namaku dengan Abu dengan berpegang pada tiga postulat itu. Pada kelompok pertama, yang digerakkan oleh kegelisahan metafisik, kita bisa mendapati puisi-puisi Abdul Mukhid yang banyak mengangkat tema sepi dan kepergian seseorang. Puisi-puisi semacam Tulislah Namaku dengan Abu dan Catatan Sepi 1-4 bisa dimasukkan ke dalam kelompok pertama. Bagaimanapun, alih-alih curhat yang berhenti pada keluh kesah, puisi-puisi ini sudah memiliki solusi. Bisa dibilang, puisi-puisi ini ditulis ketika si penyair sudah memutuskan akan bangkit dari segala hal yang menggelisahkannya. Perhatikan berikut ini:

Jika dari sepi mesti dimulai

hari-hari duka abadi

Mudah-mudahan kita bertemu di kehidupan nanti

(bagian dari “Catatan Sepi 3”)

Di sini, sang aku sudah memutuskan tidak akan larut ke dalam kegelisahannya, meskipun pada kenyataannya dia memilih sepi. Jika masih kurang, berikut masih ada lagi:

Duhai sepi yang lahir dari saripati gelisah!

Ijinkan aku mulai berbenah.

(bagian dari “Catatan Sepi 4”)

Dalam antologi pertama Abdul Mukhid ini, kita akan mendapati beberapa saja puisi yang bernada ini.

Selanjutnya, kita akan menemukan puisi-puisi yang kelahirannya didorong oleh kegelisahan politik. Di sini, seperti banyak orang Indonesia yang tak puas dengan kemeriahan pesta kemerdekaan sementara negeri masih berantakan, Abdul Mukhid hadir dengan puisi “56 Tahun Indonesia (masih) Cemas.” Di sini, dia melayangkan tuntutannya tentang kemerdekaan bertahun-tahun yang tetap tak bisa memberi kita ketentraman. Dalam puisi “Revolusi Dimulai Hari Ini,” tampak sekali penyair menggugat keadaan yang serba cacat, semisal:

ketika isu-isu sudah jadi komoditi

cukong-cukong politik obral janji

seniman sibuk tipu sana-tipu sini

mahasiswa cuma jadi agen mimpi.

(bagian dari “Revolusi Dimulai Hari Ini”)

Namun, tidak hanya keadaan di Indonesia yang disasar penyair. Dia juga menyasar invasi Amerika ke Irak sebagaimana terlihat pada puisi “Airmata Ibrahim” dan “Jangan Menulis Sajak Tentang Perang.”

Terakhir, kita bisa melihat keresahan eksistensialis yang banyak terkait dengan Tuhan. Dalam kelompok ini, kita bisa melihat bagaimana penyair membahas Peta Nasib yang harus dia “gambar/gores/jalani” sementara dia hanyalah makhluk serba lemah dan otaknya “dungu.” Bahkan, puisi yang berjudul “Di Luar Terlalu Gaduh” menunjukkan betapa si aku ingin berlari ke Tuhan karena tidak mampu lagi menghadapi dunia yang terlalu gaduh. Nada serupa juga muncul dalam puisi “Ini Hari Apa? Tanggal Berapa?” Selain itu, banyak diantara puisi-puisi kelompok ini yang terasa “mengembalikan segala persoalan kepada Tuhan,” sebagaimana disoroti Anwar Holid dari puisi Abdul Mukhid. Sikap yang semacam ini terasa sekali pada banyak puisi dalam kumpulanTulislah Namaku dengan Abu ini.

Namun, ada satu fitur khas puisi-puisi ketuhanan Abdul Mukhid di buku ini, yaitu kemampuannya memberikan cara ungkap yang unik. Salah satu contoh yang sangat bagus adalah:

Tuhan, maafkan aku

114 surat yang kau kirim

tak pernah sempat kubalas.

(bagian dari “Tuhan, Maafkan Aku”)

Di sini, tampak jelas sekali bagaimana si penyair telah dengan begitu cerdasnya menyamakan surat-surat Alquran itu dengan surat yang dikirimkan lewat pos. Memang, banyak lelucon sehari-hari yang menyamakan surat-surat Alquran dengan surat pos. Tapi, sepertinya ada yang sampai terpikir untuk membalas surat-surat tersebut. Di sinilah, puisi ini benar-benar menunjukkan orisinalitas ungkapan yang hebat. Yang sudah tampak unik sejak dari daftar Isinya adalah Tuhan@…. Pada puisi yang sebelumnya pernah masuk di buku Dian Sastro for President Reloaded (AKY, 2004). Di dalam puisi ini, kita bisa menguping doa yang diucapkan oleh seorang pecandu internet. Karenanya, si aku ini meminta kepada Tuhannya untuk membalas emailnya. Puisi ini terasa unik. Kesan jenakanya lebih terasa daripada kesan seriusnya. Di sini, seorang manusia menanti balasan dari Tuhannya, bertentangan dengan puisi “Tuhan, Maafkan Aku” dimana seorang hamba menyesali sikapnya yang belum sempat membalas surat dari Tuhan.

Namun, ketiga penggolongan di atas tidaklah mungkin cukup untuk membaca sebuah kumpulan puisi. Sebagaimana diterima secara umum bahwa dari satu puisi bisa lahir satu jilid buku skripsi, maka tidaklah mustahil jika dari sekumpulan puisi Abdul Mukhid ini bisa lahir berjuta penafsiran pada diri pembaca.

* * *

Dari ke-44 puisi dalam buku Tulislah Namaku dengan Abu, bisa dicari setidaknya dua hal yang mencirikan puisi-puisi Abdul Mukhid—setidaknya puisi-puisi yang ada dalam buku ini. Pertama, puisi-puisi ini hadir dengan bahasa yang gamblang, tidak dibuat-buat. Dengan pilihan pemakaian diksi-diksi yang kuat tetapi masih sangat akrab di kuping seperti itu, puisi-puisi Abdul Mukhid yang tabiatnya minta dirasakan itu segera bisa dirasakan. Namun, perlu ditekankan, puisi-puisi ini tidak akan berhenti begitu ia bisa ditafsirkan. Ruang-ruang yang membutuhkan penafsiran masih tetap ada.

Yang terakhir adalah adanya kesan suram. Sekan-akan ada ada tekanan besar yang memaksa hadirnya puisi-puisi itu. Hal itu diimplikasikan dengan kata-kata bernada minor, semacam “sepi, cemas, sedih, gundah, perih, maut, kebusukan, senyap,” yang muncul secara bertubi-tubi. Untungnya, sebagaimana di singgung di awal sekali, selalu ada solusi di sana. Maka, puisi-puisi ini tidak hanya datang untuk berkeluh kesah dengan pembaca, dan melarutkan pembaca ke dalam kesuraman. Ia datang untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana sebuah permasalahan dihadapi. Maka, jadilah kita menikmati puisi ini sebagai sebuah desahan kepuasan dari seseorang yang telah melepaskan sebuah tekanan di pikiran. Dan berkat jemari sang penyair yang lepas kendali itu, kita bisa menikmati sesuatu yang sebenarnya sudah digudangkan “di sisi kalbu yang paling rahasia” dalam bentuk puisi-puisi di lembar-lembar buku Tulislah Namaku dengan Abu ini.