Oleh Dwi Ratih Ramadhany**

Perempuan itu tak pernah berharap siapa pun mati setiap hari. Ia bahkan tak ingin menggantungkan hidupnya pada tubuh-tubuh kaku dan ruh mereka yang telah pergi menjauh. Tetapi perempuan itu telanjur menjelma pertanda bagi maut yang menghampiri urat nadi. Apabila kau tengah putus asa dan ia datang padamu dengan sebilah senyum serta sentuhan lembut di pundakmu, kau akan tahu bahwa perempuan itu akan datang pada hari kematianmu.

Orang-orang hanya memanggilnya emak. Tanpa embel-embel. Dan tiba-tiba saja ia rajin memilin kematian setelah ditinggal suaminya. Kau mungkin takkan percaya, tapi dia mulai menghidupi dirinya dengan kematian-kematian sejak akhir Ramadhan tahun lalu. Sejak suaminya melaut dan tak pernah kembali. Kasihan sekali.

”Tapi bagaimana bisa kau bilang ialah yang memilin kematian? Bagaimana caranya?”

”Ah, kau memang tak pernah tahu. Pundakmu tak pernah disentuh olehnya. Tapi ada banyak bukti. Semua yang telah mati adalah saksi.”

Semua berubah setelah suaminya dilahap arus pasang air laut. Ia tak percaya bahwa suaminya pergi meninggalkannya sebelum mereka sempat mencicipi takbir hari kemenangan yang selalu diidam-idamkan. Emak tak menangis, tapi tatapannya seolah menandakan bahwa ia tak di sini. Mungkin jiwanya sedang mengarungi lautan untuk mencari suaminya, tak ada yang mengerti.

Ada yang bilang, suami emak sangat beruntung meninggal dunia di penghujung Ramadhan. Meninggal di bulan yang suci itu baik, katanya. Orang baik biasanya cepat dipanggil Tuhan, Mak. Apalagi ini akhir Ramadhan, kata ustaz ngaji anak saya, insya Allah dijauhkan dari api neraka. Begitu kata salah seorang perempuan gemuk yang dililit daster kusam sehabis jualan ikan di pelabuhan.

Tapi sejak saat itu, emak semakin jarang berbicara. Pernah sekali ia berbicara tanpa ditanya, yaitu ketika melamar pekerjaan sebagai pembantu di rumah besar bertembok putih di ujung gang sana. Dan yang paling mengejutkan, kematian juragannya itulah yang pertama kali ia pilin.

Seorang perempuan karier. Suaminya selalu murung, sebab ia berangkat sangat pagi dan pulang sangat larut. Kata orang, cermin kondisi rumah tangga yang pasti carut-marut. Suatu ketika, perempuan itu pulang lebih awal karena ia hendak memberi kejutan untuk suaminya pada hari ulang tahunnya. Namun sungguh malang nasibnya. Di kamarnya, ia menemukan suaminya tengah asyik bercengkerama dengan perempuan lain. Tidak hanya satu.

Emak menjadi saksi pertengkaran mereka yang tak tanggung- tanggung seperti guntur dan petir yang menggelegar di dalam rumah. Pertengkaran itu berakhir dengan kepergian sang suami yang entah ke mana bersama gundiknya. Ketika itulah emak menghampiri dan menepuk lembut pundaknya sambil tersenyum iba, ”Sabar. Kalau tidak bisa sabar lebih baik mati saja,” bisiknya lirih. Dan benar saja, keesokan harinya, emak menemukan perempuan itu mati gantung diri di kamar mandi.

”Mana mungkin? Kupikir itu hanya kebetulan.”

Akan kubeberkan bukti-bukti yang lain. Pada sebuah pagi yang renta, emak tengah menyeduh kopi untuk seorang nelayan yang menjadi pelanggan pertamanya hari itu. Ia mengeluhkan biaya sekolah anak-anaknya yang semakin menanjak dan istrinya yang mengancam akan minta cerai jika ia tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Bukankah kau tahu bahwa orang-orang seperti merekalah yang pada akhirnya tercekik zaman? Tak ada uang, tak ada kehidupan.

Dan lagi-lagi emak hanya tersenyum iba sembari menepuk lembut pundaknya. Lalu, ”Sabar. Kalau tidak bisa sabar lebih baik mati saja.” Esoknya, emak datang ke rumahnya membawa daun pandan yang telah diiris dan kembang rupa-rupa. Tanpa diundang. Bahkan emak tiba sebelum corong masjid mengabarkan berita duka.

”Itu hanya perasaanmu. Irisan daun pandan dan kembang yang dibawanya tidak menjelaskan apa pun. Dia sudah tua dan pada kenyataannya, orang tua lebih rajin ketimbang yang muda. Lagipula, dia tidak punya apa-apa. Apa salahnya ikut bersedekah? Sudah banyak orang yang menyumbang bahan makanan untuk tahlilan, tidak masalah kan jika ia memilih kembang?”

”Terserahlah. Tapi semua orang telah mengetahui ini.”

”Aku tetap tidak percaya. Bagaimana bisa? Dia bukan dukun, bukan setan, dan bukan psikopat. Lagi pula untuk apa dia melakukan itu?”

”Mana ku tahu? Siapa yang tahu bahwa dia manusia normal? Buktinya, semua mati dengan sentuhan pada pundak dan senyum ibanya.”

”Itu tetap tidak membuktikan apa-apa. Itu hanya senyuman. Semua orang bisa melakukannya. Dan kupikir, emak memang tidak punya motif apa-apa. Kalau semua orang yakin emak yang menyebabkan kematian mereka, kenapa tidak lapor polisi saja?”

”Sudah kubilang, emak memang tidak membunuh mereka. Ia hanya memilinnya. Emak mungkin melakukannya karena ia tak bisa menerjemahkan isyarat kematian suaminya. Mungkin saja ia menyimpan dendam pada siapa pun dan bersumpah untuk membaca pertanda-pertanda sekaligus menjelma pertanda kematian itu sendiri!”

Terkadang, alam menyuguhkan isyarat yang membawa pesan, seperti yang ia terima tatkala suaminya ditelan maut. Namun ia abai. Walau emak dirundung gelisah dan tubuhnya diterpa meriang, ia menolak pertanda itu dan membiarkan suaminya pergi. Daun-daun bergesek lirih menyayat hati dan meninggalkan perih di dada. Sakit. Tak terperi. Tapi dia tetap tak berusik. Ia benar-benar mengabaikan isyarat-isyarat itu. Hingga ia menyesal dan menjadi begini.

Dan karena emak tak lagi memiliki pekerjaan setelah juragannya bunuh diri, maka ia datang padaku. Emak melamar menjadi pembantu di rumahku.

”Dengarkan baik-baik, aku akan menyodorkan cerita yang kualami sendiri ketika bersamanya.”

Sore itu adalah hari Minggu yang gempar ketika corong masjid mengumumkan berita duka. Pak RT meninggal dunia di Rumah Sakit Pertiwi setelah sepuluh hari terjangkit demam berdarah. Terop kembali digelar dan bahan makanan mulai diolah. Para warga berdatangan untuk bergotong royong memasak makanan bagi orang-orang yang tahlilan.

Suatu hal mengherankan terjadi pada emak. Hari itu, emak tidak membawa irisan pandan dan kembang rupa-rupa untuk ditaburkan nanti saat pemakaman.

Aku yang sebelumnya tak pernah datang membantu, kali itu hadir di tengah istri-istri warga yang sibuk memasak sambil bercakap-cakap. Tatapan penuh heran dalam sekejap mengerubungiku. Aku adalah seorang perempuan karier—dengan suami yang tidak selingkuh—jarang bertegur sapa dengan mereka, tiba-tiba datang untuk membantu. Ini hari libur dan aku tak berwisata kuliner dengan ibu-ibu arisan di bulan puasa, bukankah kesempatan bagus untuk menyatu dengan lingkungan?

Tetapi niat baikku ini menjelma gunjingan tak menyenangkan. Kupingku panas. Aku bahkan tak tahu nama para perempuan gemuk dan kusut yang sangat antusias sekali membicarakanku. Di bulan puasa. Sungguh tega. Tidakkah mereka mendengarkan ceramah ustaz ngaji anak-anak mereka bahwa bergunjing itu adalah dosa? Bahkan untuk sisa parutan nyiur yang seujung kelingking kutinggal dalam baskom sebab aku takut jemariku ikut tergerus, mereka tak hentinya mengolok-olok. Apa salahnya jika seorang perempuan tidak bisa memarut kelapa?

Aku menutup telinga dan menjauhkan diri dari mereka. Lalu duduk di sebelah emak. Ia tengah asyik mencuci wajan raksasa sambil mendengarkan suara tangis Bu RT yang meraung-raung. Sayup-sayup terdengar suara ustaz yang memimpin shalat jenazah, dan setelah itu anak laki-laki Pak RT memberikan berpatah kata.

”Menurut rencana, jenazah bapak akan dimakamkan besok subuh karena saudara tertua saya yang bernama Mbak Santi yang di Solo baru akan tiba di Sampang esok dini hari. Sesuai wasiat yang bapak tulis, beliau ingin semua keluarga hadir dalam acara pemakamannya.”

Seketika aku menatap emak yang tersenyum dan balik memandangku. Mungkin itulah alasan mengapa ia tidak membawa kembang-kembang dan irisan pandan hari ini, pikirku. Tetapi emak malah melempar senyum iba padaku sambil menggenggam lembut kedua pundakku, kemudian berbisik, ”Pak RT beruntung, sama seperti suami saya dulu. Bulan Ramadhan memang istimewa. Apa kau tidak ingin mencecap keberuntungan seperti mereka? Semoga dijauhkan dari api neraka. Amin.”

Aku gemetar. Gusar. Merinding. Apakah aku akan mati besok? Mana mungkin? Tapi emak telah berlalu. Sepanjang malam aku tak bisa tidur memikirkan kejadian sore tadi. Mana mungkin emak tega memilin kematianku, orang yang selama ini telah membantunya bertahan hidup. Tapi bisa saja kematianku lebih menguntungkan baginya. Ah, tapi tak mungkin.

Ya, mana mungkin. Sebab sampai subuh aku belum juga mati dan corong masjid tidak menyebut-nyebut kematianku. Demi menepis pikiran itu, aku segera bergabung dengan warga untuk pemakaman jenazah Pak RT walau tatapan dengki ibu-ibu gemuk berdaster tak hentinya menusuk pupil mataku.

Terlambat bagiku untuk menyadari bahwa subuh kala itu begitu riuh resah ketika emak tak kunjung datang membawa kembang dan irisan pandan, padahal sebentar lagi orang-orang akan menguburkan jenazah Pak RT. Hingga salah seorang warga mengutus Paimin untuk menyusul emak, sementara yang lain bersiap menggotong keranda menuju tempat pemakaman umum.

Tetapi tiba-tiba terdengar teriakan keras dan mencekam dari dalam keranda. Semua orang kaget bukan kepalang dengan mata terbelalak tak percaya. Setengah takut, setengah penasaran. Perlahan mereka membuka keranda dan menemukan Pak RT berteriak sambil meronta-ronta ingin retas dari kain kafan yang membelitnya. Semua berkomat-kamit dan berzikir apa pun yang mereka bisa. Lubang kubur ditutup lagi dan orang-orang mulai menebar kabar ke sana kemari.

Tak lama Paimin datang berlari dengan wajah berkeringat pucat pasi. Napasnya tersengal. Ia gelagapan.

”Tidak jadi mati. Pak RT cuma mati suri. Emak suruh pulang saja lagi,” kata seorang lelaki yang tadi mengutusnya.

”Emak…sudah pulang. Emak tidak datang. Emak sudah pergi…,” ujar Paimin terbata-bata.

Dan begitulah cara ia memilin kematiannya sendiri. Ia menukarnya dengan Pak RT. Ia sangat terobsesi dengan kematian suaminya. Mungkin karena iming-iming ”semoga dijauhkan dari api neraka.”

 

*Dimuat di Harian KOMPAS, 8 Desember 2013

**Mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang, Aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang