(Dimuat di Koran Tempo, 30 Agustus 2014)

Firasat Nenek

 

Usai memanjatkan doa

Dengan kisah cintanya yang berulang

Dan mata Tony yang tak lepas dari dendeng terakhir

Dan aku yang mengomeli Vincent yang

menggambar tahi sapi pada kening

Elisabeth yang menjadi batu badao

Nenek mencium kematian di kandang kuda

 

Kuda belum pulang

Kakek belum bergurah

Mana pelita?

 

Dan perempuan bijak di Usapinonot

Tak butuh minyak dalam buli-buli

Demi pengantin yang belum juga tiba

 

“Ambil suluh damar, Gilbert!

Kau Unu, putera tertua.

Jagalah adik dan sapi, seperti

Tuhan menjaga biji mataNya.”

 

Di dadaku Kain berseru seperti singa

Yang meraung di padang gurun:

Apakah aku penjaga adikku?

 

Namun perempuan tua itu

Yang tak bijak

Tak bicara

Merangkak dalam gelap

 

Mungkin di suatu padang datar

Dekat kandang kuda Om Ose

Ia temukan jejak suaminya

Yang tertinggal di tunggul aren

Dan pisau pengiris malay

Menancap di dadanya

 

Malang, 2014

 

 

Requiem

 

Selalu ada dosa

Bagi kata tak bertuan

Dan lidah-lidah yang menelurkannya

 

Ibu membayar lunas dosa di dadaku

Namun ayah yang dihanguskan cinta

Tak cukup kuat menombak lambungnya

 

Ini dadaku

 

Tikamlah di situ

Ayah tak ingin menggali kubur

Sebab nenek masih meratap

 

“Terkutuklah tanah yang menumbuhkan aren

Dan langit yang merapuhkan temali.

Telah berkabung jiwa kami

 

Sebab diambil kepadanya

Kesayangan Maria

Yang tak memetik buah untuk hidup.

 

Cukuplah bagimu mengutuk Adam

Dan menggulingkan kecintaanku

Yang memeras nira dari aren.”

 

Nenek tak mau berhenti menangis

Sebab Tuhan selalu mengurangi berkah

Sejak Eden menjadi sabana.

 

Malang, 2014

 

Bisain Sore Hari

 

Lentera belum tumbuh?

Anak dan ibu kejar-kejaran.

Ayah asyik mencumbu ladang.

Unu!

Babi seru sendiri —

Babi-babi suka marah

Babi Belanda lupa kenyang

Sapi sudah di kandang?

Anak lari ke dapur.

Minyak tanah menguap ke padang.

 

Pakai damar. Pakai damar jadi pelita.

Ditendang pula lesung itu

Sebab tahun ini

Tuhan enggan menurunkan api

 

Ada hujan

Di rumahmu.

Dari lesung pipi Maria

 

2014

 

 

Berburu Sapi

 

Di sinar itu bulan

Dua lelaki mengintai sapi

 

“Telah sedia kayu bakar

Jika Tuanmu tak masukkan ke kandang

Jadilah kau mangsa kami”

 

Telah ia asah pula tombaknya

Bekas darah

Dari perang Kleja mengusir Nippon.

Tapi siapa membuat sipit mata kami?

 

Tak apa, Usi,

Selama rambut masih keriting

 

Dan Babah Leong rajin menutup kandang

Agar aman singkong kita

Singkong terakhir

Setelah kecewa

Menghalau kemarau

 

2014

 

 

Berburu Ikan

 

Nyalakan saja suluh itu!

Ain Nel butuh lele

Namun belut suka cahaya

 

Kami pelan menuruni ngarai

Demi berkat terakhir

Sebelum mulai lagu requiem

 

Di persimpangan kedua

Udang adalah demonstran yang terkepung polisi

Namun matanya malu meminta ikut

 

Bawa kami, Usi, bawa kami

Agar sembuh katarak Ain Nel

Biar terang jalan ke surga

 

2014

 

Felix K. Nesi: Lahir di Nusa Tenggara Timur, Agustus 1988. Bergiat di Pelangi Sastra Malang, Sastra Titik, Komsen 69 dan Marginal Art Community. Beberpa puisinya pernah termuat di Malang Post, Riau Post, juga puisinya termuat dalam Antologi Puisi Bersama Pelangi Sastra Malang. Bercita-cita menjadi petani.