Oleh Yusri Fajar[2]

Puisi-puisi dalam antologi “Sulfatara” (Pelangi Sastra Malang dalam Puisi, 2012) mayoritas menggunakan sudut pandang ‘aku’ untuk menggambarkan diri dan relasinya dengan orang lain, menarasikan berbagai peristiwa dalam latar beragam dan mengkonstruksi sekaligus merekonstruksi identitas personal, komunal dan plural. Lima puluh satu (51) puisi di antara tujuh puluh sembilan (79) puisi dalam antologi ini bertumpu pada ‘aku’, baik yang liris (yang mendalami diri dan perasaannya dalam ruang individual bersama) yang digunakan untuk membangun tema cinta, dan ‘aku’ yang menolak membangun dominasi diri tetapi lebih berbaur dalam ruang sosial begitu lebar sehingga fenomena yang dinarasikan tidak terbatas ruang diri. Dengan tidak hanya berkutat pada ‘aku liris’ maka puisi dalam Sulfatara bisa bergerak keluar membentuk puisi naratif dan dramatik dengan ‘pelangi’ tema mulai dari kota, lingkungan, dan identitas.

 

‘Aku’ dan Lingkungan Kota

 

 “Aku” di berbagai puisi dalam antologi ‘Sulfatara’ tidak hanya berposisi sebagai narator, tetapi juga saksi yang mengamati sekaligus mengkritisi kota tempatnya berpijak. Kota Malang dipuisikan dalam beberapa puisi yang menurut asumsi saya dipengaruhi oleh penyair yang pernah tinggal di Malang. Ada benang merah yang bisa ditarik dari puisi-puisi tentang kota (Malang) ini yaitu puisi yang menggambarkan wajah kota yang lebih dipoles dengan berbagai make-up kehidupan hedonisme memabukkan dan imperialisme lingkungan (environmental imperialism) demi kepuasan manusia.

Penyair memandang kota dengan pandangan berbeda-beda. Andi Wirambara dalam puisinya Malang, Tanggal Sepuluh di Bulan April (hal.8) menarasikan Malang sebagai kota yang tak bisa dilepaskan dari karakteristik metropolitan. Andi, entah dia sadari atau tidak, telah menciptakan puisi tentang Malang dan yang ditulis di Malang ini, menjadi puisi yang bersaksi tentang dinamika kota. /puisi-puisi memberi tepuk tangan kepada puisi/lain yang merapal/meramal, dan meramaikan senyuman/ yang tersangkut pada gelas-gelas bir…/kepulan asap resap betapa/santunnya. Menyapa sepi di kolong-kolong meja/mengeja kode-kode rahasia dari tumpukan kata-kata yang bertebaran di langit kota…/. Andi kemudian menegaskan bagaimana kota selalu meninggalkan persoalan di balik gemerlap dan kebebasannya. Di puncak keriuh-riangan, satu persatu nama mengukur lalu mengukir percakapan, merebahkan resah. Suasana kota yang jika dilihat dari permukaan adalah sebagaimana yang dilukiskan Andi Wirambara dalam puisi ini. Namun demikian, lanskap hedonisme dan gemerlap kota Malang serta berbagai fenomena di dalamnya terasa belum tuntas digauli Andi melalui puisi ini.

Penyair yang bergulat dengan carut marut lingkungan kehidupan kota dan memerhatikan perkembangannya, ternyata tak tahan juga untuk berbicara tentang krisis dan degradasi alam kota. Di balik gemerlap metropolis dan relasi-relasi individualisnya, kota menyimpan petaka dari alam yang telah dirusak penggembala kota. Dalam puisi Hijau Bumiku Telah Tiada penyair Afif Affandi secara lugas menunjukkan ‘kota bunga’ yang kehilangan aura alam hijaunya. Kehilangan lahan hijau ini sebagai hasil perbuatan manusia yang enggan melestarikan dan menata ekosistem harmonis kota yang akhirnya melahirkan bencana. Narasi bencana (disaster) dalam puisi ini memberi peringatan bagi para perusak lahan hijau kota. Namun, kedalaman dan detail lainnya sebenarnya bisa lebih dieksplorasi sehingga puisi yang dalam judulnya menggunakan kata ‘bumi’, yang tentu luas cakupannya, tidak usai di baris keenam saja.

Penyair Denny Mizhar mengkritik kondisi kota dengan gaya berpuisi yang berbeda dengan Afif Affandi. Jika Afif dalam puisinya Hijau Bumiku telah Tiada (hal.3) menempatkan ‘aku’ yang langsung mengomentari degradasi lingkungan kota, Denny dalam puisinya Aku, Hun dan Kota ini (hal 26) mendeskripsikan kerusakan alam kota dengan sentuhan ‘romantis’ karena ‘aku’ mengajak ‘kau’ (Hun-panggilan Honey) untuk melakukan refleksi atas kota. Relasi privat yang terkesan romantis ini bukan menjadi tujuan utama dalam puisi Denny. Relasi dan posisi ‘Hun’ ini hanya digunakan sebagai media membaca kota yang makin poranda. Atmosfer romantis dan lanskap degradasi alam kota adalah perpaduan yang memukau yang menciptakan antitesis menarik. Relasi mesra antara ‘aku’  dan ‘Hun’, ironisnya bertolak belakang dengan relasi antara pemilik wewenang atas kota dan alam di dalamnya.

 

Hun, ingatanku tercetak kembali

pada sebuah pesta pertemuan kita yang sunyi.

Pada sebuah taman ketika hujan turun.

Kau menarik lenganku dan mengajakku bermain air

yang berjatuhan dari langit kota.

Kala itu hujan masih menjadi rindu untuk disetubuhi.

Sebab peluknya masih mesra terasa.

Tapi kini, aku takut. Ia diam-diam membawa wabah.

Membuat orang-orang was-was ketika menderas.

Wabah yang lahir dari genangan yang mampet.

Wabah yang datang dari gorong-gorong yang menyempit.

Wabah jelmaan dari gedung-gedung pusat belanja.

Wabah yang tertulis dari kitab hukum yang buram.

 

Hun, aku rindu mengecup keningmu dan rambut lebatmu

sebab wajahmu, wajah kota adalah sama. Wajahmu kembali

pada ingatanku. Tetapi aku takut memandangnya. Ketakutan yang lahir dari kota ini. Kota yang kehilangan jejak masa lalunya.

 

Masa lalu, meskipun tidak dideskripsikan secara rinci oleh Denny, bisa dikaitkan dengan tradisi lampau baik berupa material dan kebiasaan yang kini makin tersisihkan. Kota kini telah menjelma ruang bagi perayaan kapitalisme dan konsumerisme yang mempersempit ruang hijau yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dalam harmoni. Namun, yang perlu dicatat dari puisi-puisi Denny tentang degradasi lingkungan kota dan pudarnya identitas kulturalnya, adalah tak adanya upaya memasukkan subjek yang selama ini berperan dalam kerusakan alam kota. Padahal jika Denny mau sedikit banyak menyentuhnya, kontestasi cinta, kepedulian pada alam, dan musuh alam akan terasa.

Sementara itu, dalam puisi berjudul Sawah dari Ketinggian Beribu Tahun Cahaya (hal. 71) Johan Wahyudi mengartikulasikan ‘ketidakseimbangan’ ekosistem di mana pertumbuhan entitas alam telah terganggu oleh beton-beton, dan cerobong (yang merepresentasikan polusi udara, hasil dari industrialisasi-pabrik). Petani tersingkirkan dan lahan-lahan sawah yang melahirkan padi yang padanya banyak manusia bergantung makin menghilang.  Dalam baris akhir puisi ini, sang ‘aku’ “merindukan nasi”. Sayangnya keutuhan dan koherensi bait dalam puisi ini yang dibutuhkan untuk menajamkan tema masih kurang tergarap.

Oposisi Kemegahan kota dengan berbagai penanda materialismenya dan orang-orang yang  tersingkirkan adalah persoalan berikutnya yang hadir dalam puisi Johan Wahyudi Dialog Trotoar (hal.60). Teknik memainkan binari oposisi dalam puisi menciptakan ‘ketegangan’ tersendiri. Dalam puisi ini Johan menggambarkan iklan dan reklame, sebagai kepanjangan tangan pemilik modal, yang kontradiktif dengan ‘lelaki kecil’ yang termarjinalkan. Impian yang coba digantungkan di kota menjadi sia-sia. Orang baik, penolong, yang memerhatikan lelaki kecil ini berperan sebagai ‘counter’ atas ketidakpedulian dan manifestasi adigum ‘homo homini lupus’ yang sering melanda kota. Ketika materi menjadi tujuan utama dari para pengelola kota maka orang-orang kecil dan lahan-lahan hijau kota akan menjadi korbannya.

Kesadaran untuk melestarikan alam sebagai bagian dari ‘green agenda’ yang seringkali disuarakan oleh para aktivis lingkungan tergambar dengan apik dalam puisi liris berjudul Sajak untuk Bumi karya Felix Nesi.  Identifikasi ‘warisan alam’ yang dilakukan Felix tidak hanya menyentuh entitas alam tetapi juga binatang. Penyair Nusa Tenggara Timur ini menyebut hijau pohon, tangis bayi binatang malam, harimau tropis dan beruang kutub, pulau-pulau kecil, gunung yang ingin dicintai.

 

Aku menulis puisi kecil untukmu

Agar cinta ini tersampaikan

Saat semakin banyak kresek hitam menyumbat selokan

Dan botol-botol plastik dicangkul keluar dari lumpur sawah

Sebab ketika anak cucuku belajar menulis dan ingin menoreh sajak tentangmu

Tak lagi ada deret pohon berdaun hijau

Harimau dan beruang yang menyusui

Atau sawah yang bisa digarap

Lautan menjadi kumpulan cairan mematikan

Dan pulau-pulau patah berkeping

 

Sajak ini hanya salam untukmu

Salam kecil saja

Ketika tak lagi ada harapan untuk melihatmu bertahan

Atau menitipkanmu pada anak-cucu

Sampai ketika cucuku menjadi dewasa dan terbuka matanya

Bumi yang indah adalah sejarah yang ditemukan di perpustakaan dan diragukan kebenarannnya

Surga adalah bumi masa lalu

Neraka adalah bumi yang aku titipkan

Ending puisi ini bagus, karena menggunakan terminologi surga dan neraka untuk merepresentasikan keindahan alam yang tinggal menjadi kenangan dan kerusakan alam yang akan dicicipi generasi akan datang. Nilai-nilai universal pelestarian alam, bumi tempat manusia mengembangkan diri, tidak hanya perlu bagi kota tapi juga daerah-daerah di luar kota.  ‘Aku’ liris dalam puisi Felix di atas adalah ‘aku’ liris yang membentangkan cinta pada alam melalui perasaannya yang mendalam. ‘Aku’ di sini terlihat ingin membangun kedekatan dengan alam tempatnya berpijak agar generasi berikutnya bisa menikmati nikmat alam. Yang menarik adalah baris “Sebab ketika anak cucuku belajar menulis dan ingin menoreh sajak tentangmu” yang bila dikaitkan dengan proses penciptaan estetika puitika puisi, maka alam memang telah menjadi unsur yang begitu lekat dalam penciptaan puisi.

Dalam puisi lama seperti pantun hingga puisi-puisi kontemporer alam tidak hanya menjadi sumber puitika, namun juga tema yang seringkali keberadaannnya dikaitkan dengan manusia. Pada bumi, puisi menggantungkan kelangsungan kreatifnya. Pada sampiran di dalam pantun, alam selalu menjadi pilihan utama, sebelum dalam isi subjek (manusia) dihadirkan. Alam dan manusia dengan demikian sesungguhnya saling membutuhkan. Jika alam hanya menjadi kenangan indah lampau yang tak lagi lestari dan bisa dinikmati dan rekonstruksi, sebagaimana berbagai tradisi lampau di kota dan wilayah lainnya yang menjadi artefak yang tak lagi bisa direvitalisasi, gerakkan dan praktekkan, maka akar identitas manusia juga terancam tercerabut.

Dalam puisi Simfoni (hal.20) karya Bahaudin, alam bahkan digunakan untuk membentuk identitas ‘aku’. Warna identitas aku sangat dipengaruhi oleh persentuhan dengan entitas alam. Setelah membangun deskripsi natural alam, Bahaudin membawa ‘aku’ dalam pusaran mutual dialektis dengan alam, sebuah relasi harmonis. Alam membawa kekuatan baik secara simbolis maupun riil dalam pembentukan identitas diri sang ‘aku’. Bahkan alam menjadi ekstase yang melahirkan menyamanan dalam diri ‘aku’.

aku dibirukan langit

aku diputihkan awan

aku dibelai lirih-lirih ombak

 

‘Aku’ dan Identitas Kultural

Dalam antologi Sulfatara ‘aku’ mengkonstruksi identitas kulturalnya dengan membangun kesadaran tentang pluralisme dan tradisi-tradisi yang telah ada sejak lama.  Ketika ‘aku’ dalam puisi Husen Arifin yang berjudul Dua Bola Mata Perempuan Tionghoa bercerita tentang etnis Asia Tionghoa yang telah sejak lama menjadi komunitas diaspora di Indonesia, maka secara implisit ‘aku’ liris dalam puisi Husen ini mengidentifikasi dirinya berbeda. Relasi diskursif dalam perbedaan identitas ini ditunjukkan dengan upaya ‘aku’ liris untuk beradaptasi dengan perbedaan itu, berusaha mengenali.

Perempuan Tionghoa dua bola matanya

seperti bulan sabit

seolah olah aku menjadi burung pipit

mengerling dan menyunting malam

malam menepis daun-daun layu

menadah rindu-rindu di reranting pohon randu

 

aku menghapus mimpi-mimpi burukku

begitu dua bola matanya mengecup pada tidurku

pada senandung bayangku

dan aku melayari dua bola mata itu

tiap waktu tiap aku mau

meladang pada Tuhanku

 

‘Aku’ telah melewati batas stereotipe ‘sang lain’ ketika aku melayari dua bola mata itu/tiap waktu waktu tiap aku mau/ . Jelas ‘aku’ liris di sini tak menjauhkan diri dari perempuan berbeda etnis ini. Dalam masyarakat multikultural negosisasi identitas terjadi tidak hanya berkaitan dengan cara pandang atas ‘sang lain’ (the other) tetapi juga cara ‘sang diri’ (the self) memosisikan dirinya. Sayangnya, Husen Arifin cenderung berhenti pada identitas fisik, sehingga dialektika kultural belum mencapai kedalaman dan ketajaman sebagai wacana puitik.

Sementara ‘aku’ dalam puisi Silsilah Dewata (hal.124) karya Royan Julian memandang identitas ‘kamu’ yang kental dengan tradisi Hindu dari perspektif pengamat (outsider) yang tak terlibat. ‘Aku’ adalah orang luar yang datang lalu berusaha mengobservasi karakteristik tradisi Hindu di Bali dengan cara pandang aku yang ‘terbatas’. Eksplorasi yang dilakukan, namun demikian, terkesan sambil lalu sebagaimana layaknya pelancong yang menyaksikan ritual dengan informasi tak mendalam. ‘Aku’ juga menarasikan apa yang dia lihat secara deskriptif, sementara kesan personal ‘aku’ atas tradisi berbeda dari tradisinya tak digambarkan.

Identitas dalam diskursusnya tidak hanya menjadi medan adaptasi dan negosiasi ‘aku’ dan orang lain, tetapi juga menyangkut ‘aku’ yang berusaha menformulasikan identitas serta mencitrakan dirinya. Identitas kultural yang tak terpisahkan dengan nilai-nilai dan narasi-narasi tradisional tercermin dalam ‘kami’ (tokoh-tokoh) dalam beberapa puisi Elyda K rara.  Ritual-ritual yang digambarkan dalam puisi Lelaku Sakral Upacara Smaraloka di Kuil Salaka (hal.37) memiliki nuansa lokal sekaligus religius yang membentuk identitas ‘aku’, ‘kami’,’kita’ dalam puisi ini. Upacara yang identik dengan dialog vertikal telah melahirkan bagian bentuk puisi dramatik di mana pelaku upacara memanggil dan berbicara pada ‘batari-batari’.

Konstruksi identitas pesisir dan Madura tergambar dalam puisi Noval Jubbek Di Kamarmu (hal.118). Penyebutan nama perempuan yang identik dengan ke-Madura-an, yaitu Marlena dan penanda-penanda identitas yang bisa membangun asumsi identitas Madura seperti ‘garam’ dan ‘clurit’ serta kalimat ‘ole olang paraona alajere’ telah membawa konstruk lokal dari identitas ‘aku’ dan para tokoh dalam puisi ini.

inilah dansa anak-anak pasir

putra-putri marlena

dan layar-layar

jelmaan sampan berlengan ombak

yang ribuan tahun silam

leleh dari sebongkah garam

ole olang paraona alajere

ole olang alajere delem dede

 

o… inilah tak dusta

sebab mata celurit masih tersimpan

dalam luka

 

Hal menarik yang bisa dicatat dari penggalan puisi di atas adalah kontradiksi konstruksi identitas Madura yang dibangun Noval. ‘Dansa’ yang dapat dimaknai sebagai keriangan dan kebahagiaan, ‘layar’ yang menjadi bagian penanda spirit orang-orang pesisir Madura dan ‘clurit’ yang menjadi bagian dari tradisi kelam yang melahirkan banyak tragedi demi menjunjung tinggi harga diri. Ketika cinta didustai dan dikhianati, maka luka akan menjadi konsekuensi.

 

‘Aku’, Cinta, Wanita

Ekpresi personal yang berkaitan dengan perasaan cinta dalam bingkai romantika menjadi bagian dominan dalam antologi puisi Sulfatara. Melalui genre puisi liris ungkapan perasaan bisa dilakukan secara mendalam. Ada Penyair-penyair yang hampir seluruh puisinya, atau sebagian puisinya, yang termuat dalam Sulfatara menggambarkan ungkapan perasaan cinta, baik itu kepada Tuhan, Ibu, kekasih hati, alam, serta orang yang dianggap sebagai pahlawan. Tema cinta sesungguhnya adalah tema klise yang bertebaran dalam banyak puisi, sehingga tantangan penyair yang mengeksplorasi tema ini terletak pada gaya ungkap dan pilihan-pilihan berbahasa dan diksi. Dalam puisi berjudul Seperti Diorama (hal.95) Masaly melukiskan ‘aku’ yang tengah menyampaikan perasaan dan kecenderungannya pada ‘kau’ melalui bahasa majas ‘simile’ dan metafora.

seperti diorama, sepasang cahaya matamu adalah oase bagi segala rindu

dan relakan kuberteduh di titik hitam antara alismu

barang kali akan lebih jernih kumemandangi warna semesta

jangan berkedip, apalagi terpejam agar selesai dahaga musimku

teruslah memandangku agar seluruh denyut nadiku adalah senyumu

rambati sel-sel motorik dan sesorikku, juga darah, enzim-enzim, getar, dan nafas

hingga tak kudapati seruangpun dalam tubuh dan ruhku, kecuali di situ ada namamu

hingga tak kau jumpai dalam diriku selain dirimu

hingga tak lagi kubedakan antara kau dan aku

karena kita adalah satu

Metafora alam dalam cinta sudah terlalu sering menghiasi puisi, sebagaimana juga puisi Masaly di atas. Barangkali jika eksplorasi manunggaling ‘aku’ dan ‘kau’ di atas bisa didalami dan lebih disublimasikan, puisi Masaly akan memiliki ciri tersendiri.

Gaya puisi liris Masaly bisa dilihat juga dalam puisi Derawan (hal. 108) karya Naila Ali. ‘Aku’ liris dalam puisi dilanda cinta dalam latar alam yang makin memperindah kejatuhcintaan itu.  Kita bergenggam tangan, mengepakkan suka cita/ di geladak kamar/Hingga fajar/Kali pertama aku berdebar membiru dera/ Bertatap matahari terbit, memperlihatkan pasir membelah/ Angin seakan bersimpuh, menengadah/ Aku dahaga, mendamba kita masih bergenggam tangan saat matahari terbenam/ Dahagaku meraup segala indah di tanah seberang/. Dalam puisi ini Naila jelas menggambarkan harapan-harapan pada alam untuk bersinergi dengan hatinya yang tengah berusaha menyemaikan cinta. Keindahan alam diharapkan menjadi ilustrasi estetis berdampak psikologis pada dua sejoli.

Sementara itu, Dalam Bulan Terjebak Reranting (hal. 128) Widianti mendeskripsikan bagaimana ‘aku’ tak mampu menepis rayu ‘kau’ yang mengacu kepada ‘bulan’, entitas alam mayapada. Penanda ‘Bulan’ di sini bisa saja diinterpretasikan sebagai bulan secara an sich yang memiliki keindahan-keindahan sebagai bagian dari kosmos, namun juga bisa dimaknai sebagai simbol ‘kekasih’ yang dirindukan. Simile yang sering ditemukan dalam puisi-puisi liris tergambar jelas dalam puisi Widianti ini, seperti dalam baris Engkau serupa bulan sipusipu dan baris engkau menyerupa pula emas yang kemudian dipadukan dengan narasi bagaimana aku merespon keindahan ini melalui ungkapan perasaan ‘aku’. Tahukah engkau/aku menangkapmu dalam paras ragu/.

Puisi Widianti Bulan Terjebak Reranting memiliki kemiripan dalam gaya ungkap dan unsur alam yang digunakan untuk membangun puisi, dengan puisi Lyla Ratri yang berjudul Siluet Pagi. Jika Widianti menggunakan ‘bulan’ sebagai titik kencenderungan ‘cinta’ sang ‘aku’, Lylya menggunakan keindahan pagi. Dalam kontemplasi yang melibatkan keagungan alam sebagai bagian keagungan Tuhan, manusia memang seringkali terpana dengan apa yang dilihatnya dengan mata hatinya.  

                        Mega disepuh jingga

di ujung cakrawala

sasandara pulang

bagaskara tandang

 

aku yang tak habis-habis

merindumu

tegak terbakar di getar takbir

bersimpuh luluh di gigil tahlil

tengadah pasrah di desah tasbih

 

Sementara itu, Khalid Amrullah menuangkan perasaan cintanya pada ibu. Dalam puisi berjudul Meski Aku tak Pernah Meminta (hal.74) posisi ibu begitu sentral dan penting dalam memengaruhi ‘aku. Antara ‘aku’ dan ibu (nya) seperti ada benang yang menghubungkan hingga dialog antar hati bisa dilangsungkan. Dalam bait-bait puisi ini, ketulusan cinta ibu paralel dengan upaya ‘aku’ untuk menunjukkan cintanya. Ada kesadaran yang terpatri dalam hari bahwa ibu adalah salah satu muara cinta besar di antara cinta yang lain. Ibu dalam pandangan ‘aku’ sering menjadi tempat mengadukan dan mengalirkan seluruh dinamika suka dan duka. Puisi liris Khalid ini diakhiri dengan bait yang menggambarkan bagaimana perasaan ‘aku’ terbawa sedemikian rupa dalam bakti yang harus dihaturkan. Di sudut hati kuucap janji/diujung kembara aku kembali/bersimpuh rapuh di telapak kakimu/. Ibu adalah wanita yang bagi Khalid tak boleh dilupakan.

Sosok wanita yang memiliki idealisme untuk menjunjung cintanya pada perjuangan mencapai kebenaran dan keadilan tertuang dalam puisi-puisi Muklish Imam Bashori. Mukhlish melalui puisinya membangun citra wanita perkasa yang tak mau ditaklukkan begitu saja. Puisi-puisinya yang berjudul Catatan Terakhir Seorang Martir, Rapsodi Marsina, Soneta Kota Pertempuran  menarasikan peran-peran perempuan dalam konstalasi kehidupan yang membawa para perempuan ini dalam resolusi tragis.

Membaca Sulfatara adalah membaca pelangi tema dan gaya. Realitas kreatif berpuisi ini sejalan dengan spirit pluralitas ‘Pelangi Sastra Malang” (dalam Puisi). Dengan penyair yang memiliki akar dan asal berbeda, mayoritas dari luar Malang, warna pelangi puisi itu tercermin dalam antologi ‘Sulfatara’. Dan identitas kota yang dibentuk berbagai subjek, adalah identitas yang dinamis yang akan tetap memengaruhi karakteristik puisi terkini, dan barangkali juga puisi akan datang.

 

 

 



[1] Tulisan ini hanya untuk bahan diskusi dalam bedah buku antologi puisi ‘Sulfatara’ di Perpustakaan Kota Malang, 6 Januari 2013.

[2] Pengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya Malang