Oleh: Felix K. Nesi*

Dalam tulisannyaberjudul Pelangi Sastra Malang (MalangPost, 30 Maret 2014),Abdul Malik menceritakan secara runtut sejarah berdirinya Pelangi Sastra Malangsebagai komunitas dan perjuangan orang-orang di dalamnya beraktivitas. DennyMizhar, salah satu penggerak Pelangi Sastra Malang dalam tulisan tersebutmenyebut dirinya sebagai generasi yang terputus. Maka untuk membuat dirinya taklagi terputus dari jejak-jejak sastra(wan) di Malang, ia sangat serius membacajejak pendahulunya.

 

Disebutkan, setelahmengumpulkan sekian banyak bahan kepustakaan pada tanggal 24 Desember 2011,tiga tahun yang lalu, Pelangi Sastra Malang bekerjasama dengan Titik Sastramenggelar diskusi bertajuk Membaca Jejak Sastra di Kota Malang di UniversitasMerdeka Malang. Acara tersebut menghadirkan A Elwiq Pr, Prof. DjokoSarjono, wartawan dan penyair Kholid Amrullah sebagai pembicara. Sejak hariitu, kita dapat melihat, tiap geliat sastra di Kota Malang seolah berpusat padamembaca jejak sastra.

 

Terbukti dari sekianbanyak agenda diskusi sastra, hal-hal yang berkaitan dengan membaca jejakseolah menjadi fokus. Sebut saja diskusi Membaca Dinamika Kesusastraan di KotaMalang di Sawojajar, acara peringatan Ratna Indraswari Ibrahim dan sebagainya.

 

Pentingkah?

Ada sangat banyakkomunitas ‘berbau’ sastra di Kota Malang hari ini. Sebut saja yang seringmelakukan kegiatan adalah Pelangi Sastra Malang, Celoteh, Malang Menulis, LembahIbarat, Malam Puisi Malang, Titik Sastra, dan sebagainya. Belum lagiorganisasi-organisasi yang terbentuk di kampus-kampus seperti UKMP UM, MatapenaFIB UB, Perspektif UB dan komunitas lain yang masih belum terbaca. Namun diantara sekian banyak komunitas, saya berani mengatakan, tak ada satupun sosokorang maupun komunitas yang karyanya melejit dan bisa mengangkat nama KotaMalang ke ranah nasional. Tak ada yang bisa dibanggakan sebagai sastrawannasional setelah Ratna Indraswari Ibrahim.

 

Kita mungkin mendengarbeberapa orang akan menyebut nama Mashdar Zainal untuk menjawab hal tersebut.Namun Mashdar Zainal tak bisa masuk hitungan. Ia tak bersentuhan dengan Malangdan penulis-penulis Malang. Mungkin hanya sesekali singgah. Dwi Ratih Ramadhanimasih belum membuktikan apa-apa hanya dengan cerpennya masuk Kompas danmengikuti proyek penulisan di penerbit Gramedia. Secara organisasi, FIB UB danUKMP yang suka mengundang sastrawan nasional dalam kegiatannya: mengundangtokoh hanya membuat kita menjadi fans. Tak menambahkan apa-apa dalam kekaryaankita.

 

Maka kembali kepertanyaan apakah penting membaca jejak sastra(wan) di Kota Malang? Membacajejak sastra(wan) di kota Malang bukanlah hal mendesak untuk dilakukan hariini. Ketimbang membuang energi untuk melakukan pembacaan dan penelusuran jejak,komunitas-komunitas sebaiknya dengan cara dan gayanya sendiri, menekankanpembelajaran secara lebih serius dan elegan dalam diri masing-masing individunya.Mencetak penyair, cerpenis, novelis, dan esais masih lebih penting untukdilakukan oleh generasi ini.

 

Berapa banyak agendasastra di Malang yang menekankan proses belajar secara serius? Beberapa kalipara pegiat sastra hanya berkumpul dan membaca puisi atau cerpen. Tak adaproses diskusi lanjutan seolah karya yang mereka bacakan adalah final. Mereka memujitulisan temannya secara subyektif dan gampang sekali menerbitkan buku seolahbuku tak pernah terbuat dari pohon. Mereka melagukan puisi di panggung lalupuas dalam tingkatan euforia dan katarsis tertentu.

 

Dinamika sastra sepertitersebut di atas, sesungguhnya sangat gawat! Bagaimana tidak? Anak-anak muda lebih serius mencarijejak sejarah ketimbang melakukan hal dari dirinya demi sesuatu yang membangundinamika hari ini. Lebih berfokus pada pencarian dinamika masa lalu sementaramelupakan bahwa dinamika hari ini juga perlu dibangun adalah situasi gawat yanghanya akan mengantarkan mereka pada romantisme masa lalu. Bahwa Malang pernahpunya si A dan si B yang karyanya sangat hebat. Jika sampai pada situasiromantisme ini, sastra Malang sesungguhnya sedang berada pada situasi gawatyang serius.

 

Situasi serius yangjika tak ditangani segera hanya akan membawa sastra Malang pada kehancuran. Mungkindi generasi sesudahnya, ketika Malang telah penuh penulis yang karyanya bukanlagi karya ecek-ecek dan namanya diperhitungkan di kancah nasional sebagaipenyumbang yang memperkaya kesusastraan Indonesia, barulah membaca jejak perludilakukan. Yang mendesak saat ini bagi komunitas sastra maupun individu pegiatsastra kota Malang: belajar menulis lebih giat!

 

*Bergiat di Titik Sastra Universitas Merdeka Malang

(Sumber: Radar Malang, 16 November 2014)