oleh: Tengsoe Tjahjono*

 

Tulisan Felix K. Nesi yang berjudul  “Membaca Jejak Sastra(wan) Kota Malang: Pentingkah?” (Radar Malang, 16 November 2014) sungguh menarik. Intinya untuk saat ini membaca jejak sastra(wan) kota Malang bukan hal yang sangat wigati. Menurut Felix ketimbang membuang energi untuk melakukan pembacaan dan penelusuran jejak, komunitas-komunitas sebaiknya dengan cara dan gayanya sendiri, menekankan pembelajaran secara lebih serius dan elegan dalam diri masing-masing individunya. Mencetak penyair, cerpenis, novelis, dan esais masih lebih penting untuk dilakukan oleh generasi ini.

 

Pikiran-pikiran Felix seringkali amat mengejutkan, dan acapkali tak terduga. Pernyataan-pernyataannya yang seringkali tidak linear, justru bisa menggugah dan membangkitkan kesadaran baru. Tentu saja demi dinamika ke depan, ke arah yang lebih baik. Namun, ada 3 kata kunci yang luput dipahami oleh Felix yaitu sejarah, pembelajaran, dan mencetak sastrawan.

 

Sejarah Sastra

Di mana posisi estetika sastra(wan) kota Malang saat ini? Untuk mengetahui posisi estetika tersebut, mau tak mau harus dilakukan pembandingan, baik secara diakronis maupun secara sinkronis. Secara diakronis berarti harus dilakukan pembandingan sastra antarwaktu: masa lalu dan masa kini. Dari situ akan terbaca gerak perkembangan estetika karya dan pertumbuhan aliran sastra. Bisa saja akan muncul penilaian bahwa  puisi-puisi yang ditulis penyair Malang sekarang ini sesungguhnya tak lebih baik atau justru lebih memukau dari karya Wahyu Prasetyo, penyair Malang tahun 1980-an. Nah, penilaian semacam itu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki pengetahuan cukup tentang jejak sastra di Malang. Jadi, sejarah sastra sebenarnya bukan hanya bicara masa lalu, namun juga keadaan masa kini, dan perspektif ke depan. Artinya, memahami jejak sastra sungguh masih diperlukan.

Tentu saja membaca jejak sastra(wan) di Malang bukan demi memuja-muja masa lalu, apalagi terjebak pada beliung romantisme kosong. Ibaratnya kita tidak ingin mengajak bangsa ini mengelus-elus Borobudur sambil berdecak kagum, namun bagaimana kita termotivasi dan terinspirasi menciptakan Borobudur-borobudur baru yang lebih mengagumkan lagi.

 

Pembandingan secara sinkronis adalah pembandingan antarkarya pada satu waktu. Rumah sastra Indonesia itu terbentang luas, bukan hanya di Malang. Estetika dan puitika sastra itu sudah sangat kaya dan beragam, walaupun kita tak harus terseret pada nafsu orisinalitas yang sesungguhnya hanya sebuah utopia belaka. Membaca posisi estetika dan puitika sastra Malang berarti membandingkannya dengan karya sastrawan lain di Indonesia. Maka, sudahkah kita memiliki budaya baca buku sastra? Ini pertanyaan bodoh mungkin, tapi belum tentu kita mampu menjawabnya. Kita suka menulis sastra namun tidak suka membaca sastra. Akibatnya daya ekspresi teks sastra yang kita tulis seringkali terkesan ketinggalan laju kereta api. Sudah sering ada acara bedah buku sastra di Malang, tetapi tak serta merta diikuti oleh semangat membeli buku yang diapresiasi.

 

Mengundang sastrawan nasional memang penting. Namun, jika kegiatan itu tidak mampu mendorong lahirnya karya yang lebih baik bagi sastrawan Malang, ya tak ada gunanya. Seperti pernyataan Felix kegiatan itu hanya akan membuat kita menjadi fans, yang lalu sibuk minta tanda tangan.

 

Kancah Sastra Nasional

Komunitas sastra di Malang tentu amat diperlukan bagi tumbuh-kembangnya sastra di Malang. Tugas komunitas sebaiknya bukan melakukan pembelajaran sastra, namun pendidikan sastra. Pembelajaran sastra hanya akan fokus pada transfer ilmu pengetahuan. Dan, itu bukan hal yang penting untuk melahirkan sastrawan andal. Sedangkan, pendidikan sastra akan mampu mendorong tumbuhnya pribadi unggul, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab dalam bersastra. Dari sanalah bisa diharapkan lahir sastrawan yang memiliki karakter pada setiap karya yang ditulis.

 

Dan, sastrawan juga tak bisa dicetak begitu saja. Sastrawan tak bisa dibentuk sebab ia pribadi yang unik. Dia lahir secara alami dari pergaulannya dengan lingkungan sastra dan buku, dengan komunitas yang hidup. Bahkan, negara pun tak mungkin mencetak sastrawan. Demikian pula perguruan tinggi.

 

Mengapa sastra(wan) kota Malang terkesan tidak diperhitungkan secara nasional? Jawabannya bisa bermacam-macam, bisa secara politis dan estetis. Secara politis persoalan yang muncul adalah siapa pemilik penerbitan, siapa redaktur budaya di setiap media masa, siapa kritikus sastranya, dan sebagainya. Mereka dengan kekuasaan yang dipunyai secara sadar atau tidak sadar telah  membangun selera puitika tertentu. Bisa jadi sastra(wan) kota Malang tak mampu (di)masuk(kan)  ke dalam wilayah estetika mereka. Belum lagi jika muncul politik ‘pertemanan’ di antara mereka. Maka, sungguh saya sering tak silau terhadap sebutan sastrawan nasional. Bagi saya, tak ada bedanya. Bedanya hanya satu: kami berada di tempat berbeda.

 

Sedangkan secara estetis, bisa jadi sastra kota Malang tidak menampilkan sesuatu yang baru, jika dibandingkan secara diakronis maupun sinkronis. Bentuk ucapnya hanya mengulang-ulang bentuk ucap yang sudah ada, sehingga tak bisa membuat pembaca masuk ke dunia asing yang menyenangkan. Oleh karena itu, sekali lagi, membaca teks sastra yang lain sungguh diperlukan untuk mengetahui kekayaan estetika dan puitika yang ada atau yang pernah ada.

 

Bagaimana sastra(wan) kota Malang ke depan? Geliat sastra(wan) kota Malang akan tampak jika sastra terus ditulis. Tentu bukan semata-mata ukuran kuantitas, namun juga kualitas. Saya selalu memiliki harapan untuk perkembangan sastra(wan) di Malang sebab masih banyak penulis hebat yang sungguh-sungguh menunjukkan bakatnya, misalnya saja Felix K Nesi, Dwi Ratih Ramadhani, Roro Ajeng Sekar Arum, dan sebagainya, walau mereka tak harus ber-KTP Malang. Sungguh, tak harus risau tak memperoleh predikat sastrawan nasional, sebab setiap karya sastra selalu memiliki pembacanya. Yang utama bahwa sastra terus ditulis di sini.

 

Seoul, 17 November 2014

*Sastrawan Indonesia Tinggal di Seoul Korea