Oleh Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat*

Bulan tidak tampak pagi ini.

Aku sangat suka bulan di pagi hari. Terlihat sangat pucat dan rapuh. Perubahan warna langit di sekitarnya mempertajam kepucatan warna peraknya. Terlihat indah luar biasa. Seperti sebuah obyek dalam lukisan. Mungkin karena sebentar lagi akan tidak terlihat makanya jadi indah. Barangkali sisa waktu yang singkat membuat keindahan terpancar dengan cara yang lebih intens. Setiap melihat bulan di pagi hari aku berpikir perpisahan tidaklah selalu harus diwarnai dengan kesan yang menyedihkan. Barangkali aku seorang dengan hati yang rawan dan sentimentil atau mungkin juga aku memang punya suatu perasaan tertentu terhadap sebuah perpisahan.

Bulan tidak tampak pagi ini.

“Tidak bisa tidur lagi?”

Aku sedang duduk di relung jendela, memandangi langit, ketika kulihat dia datang. Gaun tidur putihnya melambai-lambai. Betapa bagusnya seandainya dia menjadi bagian dari bintang-bintang itu. Sesuatu selalu kelihatan lebih indah jika dipandang dari kejauhan.

“Bukan tidak bisa tidur,” kataku, “hanya tetap bangun.”

Dia menyodorkan segelas minuman hangat. Ketika kuminum ternyata rasanya agak asam.

“Lemon peras dan madu. Untuk flumu,” katanya.

“Kurasa ini tidak manjur lagi untukku.”

“Biasanya selalu manjur.”

“Kalau flu aku minum winered wine lebih bagus, yang dipanaskan.”

“Seharusnya kau tidak minum itu.”

“Aku tidak punya waktu untuk sakit.”

Kudengar suara tawanya yang lembut.

Bulan benar-benar tidak tampak pagi ini. Bulan seperti seorang aktris yang sangat profesional. Kedatangan dan kepergiannya, kemunculan dan kelenyapannya sesuai benar dengan skenario. Dia begitu menghayati bagaimana dia harus tampil dengan glamour dan sangat menawan ketika sedang purnama. Dia juga meresapi benar bagaimana cara menghilang dengan begitu bergaya saat bulan mati. Entah apakah dia mendapatkan kebahagiaan dan ketenaran dengan membuat orang terpukau, terpesona dan terluka karena kedatangan dan kepergiannya.

“Kau menulis puisi tentang ini?” Aku bertanya. Aku tahu dia menulis puisi tentang apa saja. Tentang bunga dan capung, tentang sungai dan daun yang luruh, tentang hujan dan rumput, tentang semuanya.

“Apa?”

“Bulan di pagi hari.”

“Puisi rasanya tidak. Hanya percakapan dua orang dalam novelku. Seorang penjual kue serabi dan suaminya. Kau mau kukutip kata-kata mereka?”

“Tidak. Aku tidak membaca novel.”

“Sayang sekali,” katanya. Lalu dia melihat ke langit dan merenung-renung. “Tidakkah kau berpikir kalau bulan di pagi hari itu seperti menambahkan saus sambal di atas telur mata sapi?”

“Saus sambal di telur mata sapi?”

“Membuat perut mual.”

“Apa?”

“Ini menyedihkan, honey. Benar-benar menyedihkan. Tidakkah kau tahu? Memandang bulan di pagi hari. You are hopeless.”

Aku meminum minuman di gelasku. “Apa yang salah dari mengagumi sesuatu yang indah?”

“Karena bisa mengantarmu pada banyak hal.”

“Kurasa itu sesuatu yang menyenangkan.”

“Kurasa itu berarti masalah.”

Kulihat langit mulai menampakkan warna birunya dengan perlahan kecuali pada bagian timur karena warna matahari mengubah warna langit menjadi keemasan.

“Aku pergi hari ini.”

“Kau seharusnya tetap disini menjagaku.”

“Aku tidak bisa menjaga orang lain. Aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri.”

“Kau bisa menemani aku.”

“Setiap orang pada akhirnya harus seorang diri.”

“Kalau kau anakku kau tidak akan selalu pergi.”

“Aku selalu pergi karena aku bukan anakmu.”

“Aku berharap kau anakku.”

“I am not.”

Ayahku dan wanita ini bersahabat. Ibuku dan wanita ini hamil pada saat yang bersamaan. Ibuku berhasil melahirkan aku meski dengan susah payah tapi wanita ini sakit dan anaknya meninggal. Dia terlalu sakit untuk bisa mempunyai anak lagi. Ayahku bilang luka di hatinya karena kematian anaknya tidak pernah dapat disembuhkan. Aku selalu membuat wanita ini teringat pada anaknya. Tiap tahun, di hari ulang tahunku, sejak ulang tahunku yang pertama, dia mengirimkan hadiah untukku. Dan selalu disertai sebuah puisi. Selalu puisi yang sama setiap tahunnya.

I dreamt that I dwelt in marble halls

With vassals and serfs at my side

And of all who assembled within those walls

That I was the hope and the pride.



I had riches too great to count, could boast

Of a high ancestral name

But I also dreamt, which pleased me most

That you loved me still the same.

Dia selalu memanggilku Almira, nama yang dia siapkan untuk anak perempuannya, bayinya yang meninggal itu kembar laki-laki dan perempuan, padahal namaku bukan Almira. Kepada semua orang dia mengenalkan aku sebagai Almira, puterinya. Menurutku itu memalukan. Mengakui puteri orang lain sebagai puterinya. Tapi dia tidak kelihatan merasa malu.

Ibuku menyuruhku mengunjunginya paling tidak sekali dalam setahun. “Bersikaplah manis padanya. Selalu jaga tata krama. Dia menaruh hormat hanya pada orang yang tahu bagaimana menjaga sikap.” Begitu pesan ibuku setiap aku mau mengunjunginya. Kurasa ibuku akan pingsan seandainya tahu aku memanggil wanita itu dengan kau saja dan bukannya anda. Kepada ibuku wanita itu selalu berkata “ Almira is really a sweetheart.” Dan ibuku tentu saja percaya.

Wanita itu berlidah tajam. Dia tidak pernah kesulitan mengatakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Dia tidak pernah berkata kasar tapi mengatakannya dengan cara yang membuat orang merasa telah melakukan perbuatan yang tolol. Waktu umurku lima belas tahun, dan sedang mengunjunginya selama dua minggu, suatu hari aku bertemu seorang anak laki-laki yang menjengkelkan. Begitu menjengkelkannya hingga aku terdorong untuk memukulnya. Waktu aku pulang dengan baju penuh lumpur wanita itu memandangiku tanpa mengatakan apa-apa.

Aku yang tidak mau dikatakan berbuat hal yang konyol berkata, “ Aku memukul orang yang pantas dipukul.”

“Seorang raden ajeng tidak berbuat seperti itu.”

“Aku bukan raden ajeng.”

“Apakah itu pantas disyukuri?” Dia mengucapkan pertanyaan itu dengan raut wajah yang menurutku lebih menjengkelkan dari raut wajah Mr Bean ketika menyebabkan kesusahan orang lain.

Saat semuanya baik-baik saja dia adalah seorang wanita yang manis. Tapi ketika ada yang tidak beres hal pertama yang dia lakukan adalah melihat apa penyebab ketidakberesan itu dan memastikan orang yang melakukannya bertanggungjawab. Kurasa dia adalah jenis orang yang membuat orang lain enggan berurusan dengannya.

Dia adalah gabungan yang aneh dari intelektualitas, selera humor yang sarkastis dan keinginan yang kuat untuk membekukan waktu. Dia lulusan sebuah perguruan tinggi di Inggris, menguasai beberapa bahasa dan sangat suka membaca buku tapi dia masih memakai kebaya sutera dan kain batik dan masih menempatkan dirinya dalam posisi konvensional sebagai seorang wanita.

Dia menetapkan standar yang tinggi atas segala sesuatu. Tata kramanya tidak ada cacat celanya. Dan itu bukan tanpa sebab. Ayah dari kakek buyutnya adalah raja yang pernah berkuasa di sebuah monarki kecil di tanah Jawa. Aku pernah iseng memasukkan nama ayah dari kakek buyutnya itu ke search engine Google dan mendapat ulasan yang panjang lebar tentang seorang pria yang dilukis sedang duduk di singgasana. Rumah yang ditempati keluarga wanita itu sebenarnya adalah rumah pemberian pria itu kepada salah satu puterinya. Berada di dalam rumah itu membuatku merasa mendengar bunyi gamelan ditabuh dengan irama yang menghanyutkan dari sebuah lagu dari masa yang jauh.

“Kenapa kau selalu pergi?”

“Because I have to.”

“Apakah kau tidak mencintaiku?”

Suatu hari wanita itu memberiku hadiah kalung dari berlian dan ruby, aku lahir di bulan Desember dan birthstone untuk bulan Desember katanya adalah ruby. Aku yang merasa tidak melakukan hal yang layak membuatku diberi hadiah semacam itu tentu terheran-heran. Wanita itu berkata “Seorang wanita harus memakai perhiasan terutama ketika dia memasuki usia dimana dia sudah pantas menerima lamaran pernikahan.”

“Apa kau juga mau mengatur pernikahanku?” Meski tidak terlalu terkejut aku merasa itu adalah sebuah kekurangajaran. “Itu tindakan kriminal.”

“Tidak. Hanya memastikan kamu tampil sebagaimana yang seharusnya.”

“Kau melakukan ini karena aku puteri ayahku?”

“Sebagai pribadi kau istimewa.”

“Kau mencintai ayahku?

“Tentu saja.”

“Kenapa tidak menikah dengannya?”

Dia memandangiku seolah pertanyaan itu sangat aneh. “Kenapa aku harus menikah dengannya?” Dia memperlihatkan raut muka heran. Lalu kerutan di alisnya menghilang. “Aku menaruh rasa hormat pada ayahmu. Jangan merusaknya dengan sebuah kata yang tidak tepat penggunaannya.”

Sejak itu aku tahu bahwa penyebab, rupa dan perwujudan cinta itu bisa begitu partikular di dunia ini.

“Apakah kau tidak mencintaiku?” Dia mengulang pertanyaannya.

“Barangkali aku memahami cinta seperti caramu memahaminya,” kataku, “maka dari itu aku selalu harus pergi meninggalkanmu. Kau selalu membiarkan orang yang sangat mencintaimu pergi meninggalkanmu, kan? Seharusnya kepergianku bukan sebuah masalah.”

Beberapa tahun setelah anaknya meninggal, suatu pagi wanita itu bangun, mengepaki barangnya lalu pergi dari rumah suaminya dan kembali ke rumah keluarganya. Ketika suaminya menjemput dia cuma berkata, “Aku adalah ketidakadilan bagimu.” Mereka berpisah tanpa sebuah perceraian.

Pria itu sangat mencintainya dan selalu berbuat baik kepadanya. Tetapi bahkan seorang pencinta yang paling gila sekalipun tidak selalu bisa bertahan menghadapi sebuah kesendirian. Dua tahun kemudian pria itu menikahi seorang wanita dan memiliki anak darinya. Sempat kusangka itu akan membuatnya kehilangan rasa hormatnya kepada pria itu untuk selama-lamanya tapi ternyata dia tetap datang menemani pria itu dalam acara-acara keluarga, menghadapi semua orang dengan gayanya yang elegan dan bersikap sebagaimana layaknya seorang puteri. Menurutku dia wanita paling tolol di dunia.

“Sebuah kepergian selalu adalah sebuah masalah, Almira.” Dia memandang langit yang mulai terlihat berwarna biru. “Aku tidak pernah yakin apa kau akan pulang.”

“Selama ini aku selalu pulang.”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Itulah kenapa kita punya rasa kekhawatiran.” Dia menyentuh ujung rambutku yang bergelombang dan kucat warna cokelat. “Kau tidak tahu apa yang kurasakan saat melihatmu pergi.”

“Aku bisa pergi saat kau tidur.”

Padahal aku tidak pernah bisa tinggal bersamanya. Aku selalu ingin pulang kepadanya namun begitu sudah melihat wajahnya aku ingin segera pergi.

“Kau tahu kenapa aku selalu ingin pergi?”

“Karena kau tidak cukup mencintaiku untuk bisa tinggal bersamaku?”

“Karena kau seperti ayahku. Kau bicara seperti caranya bicara. Kau berpikir seperti caranya berpikir. Kau bahkan benci telur mata sapi seperti dia membencinya. Barangkali semua itu yang menyebabkan kalian menjadi sahabat, bahwa kalian sangat mirip satu sama lain. Tapi itu juga yang menyebabkan aku tidak bisa tinggal bersamamu sekaligus juga tidak bisa benar-benar meninggalkanmu.” Aku mengusap bibir gelas dengan jariku. “Aku membicarakan ini dengan profesorku. Katanya itu adalah perasaan seorang anak. Aku tidak mengerti. Aku kan bukan anakmu.”

Dia tidak mengatakan apa-apa. Langit sudah cukup terang sehingga warna biru langitnya sudah benar-benar dapat terlihat. Udara pagi membuat hidungku lega dan kepalaku menjadi ringan. Mungkin fluku telah dikalahkan oleh perasan lemon dan madu.

“Akan kubuatkan sarapan,” katanya ketika langit telah benar-benar terang. “Seseorang tidak seharusnya pergi dengan perut kosong. How would you like your eggs?”

“Sunny side up, please.”

“Aku sangat heran dengan selera makanmu itu.”

Aku tertawa.

Bulan tidak tampak pagi ini dan kurasa itu bukanlah sebuah masalah yang perlu dibesar-besarkan.

Catatan:

1. Puisi dalam cerpen ini dikutip dari lagu I dreamt that I dwelt yang terdapat dalam salah satu cerpennya James Joyce.

2. Pernyataan tentang cinta dikutip dari buku Bermain-main Dengan Cinta karya Bagus Takwin. Kutipan lengkapnya adalah Ada cinta di dunia itu universal; tetapi seperti apa cinta dan dari mana asalnya itu partikular

3. How would you like your eggs? adalah pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh pelayan restoran ketika seseorang memesan sarapan dengan menu telur mata sapi (Eil de Boeuf) Merupakan pertanyaan untuk menanyakan tingkat kematangan kuning telur yang diinginkan

4. Sunny side up adalah telur mata sapi yang dimasak dengan cara telur dipecahkan di atas penggorengan, telur tidak dibalik, kuning telur masih utuh dan masih encer di dalam. Supaya tidak terlalu mentah kuning telur ini sering diperciki minyak atau lelehan mentega.

Cerpen ini dimuat di Majalah Horison edisi Pebruari 2011

*Penulis Tinggal di Kota Malang