(Koran Tempo-Minggu, 14 Desember 2014)

Racun Tikus

 

Boleh kau suatu hari

Bertandang ke petak terakhir

Dekat waduk bikinan lurah

 

Om Gabriel dan

Usi Ta’neo

Tentu menebar racun di situ

 

Buat kau pengerat padi

Dan jagoan-jagoan hutan

Dan babi lupa pulang

Yang mengkhianati Tuannya

 

Ini obat pelemas

Dari ujung akar cendana

Pucuk pertama pepaya

Kulit pohon lontar

Rumah lebah hutan

Dan jampi mantri kerajaan Insana

 

Agar tak lincah kau berlari

Agar tak kuat kau bernapas

 

“Hanya sebatang padi Tuanku

Untuk lima biji mata

Dan istri yang mengandung”

 

Tapi anak kami banyak

Sulung mau jadi pastor

Yang bungsu belum jua merangkak

 

Tapi kau tak berbalas lagu

Pada orang dengan pentung

Maka larilah kau, Tuan

Sekencangnya larilah.

 

2014

 

 

Pesan Kakek

 

Datanglah di musim penghujan, Emanuel

Usai ibumu membakar almanak dan

Ayahmu mengerami kalong.

Padang hijau berembun

 

Sapi tambun menari

Kunang-kunang menyanyikan lagu tidur

Bagi laki-laki yang mencintai malam

Dan di puncak bukit itu

 

Tak ada yang lebih lembut daripada

Sabda pejantan yang tak kita pelihara

Dan beberapa pesta dansa

Bagi makan malam ksatria

 

Kau boleh membakar singkongmu sendiri

Atau percaya pada cita-cita dan

apapun yang tak pernah dituliskan tuhan.

 

Ia menandai kalender

Dengan lagu natal dan darah anak domba

Sebab

Mimpinya kerap setandus ladang

Sedang hujan terlalu cepat pergi

Dari sabana yang

Menyediakan tempat tinggal

 

Malang, 2014

 

Felix Nesi, lahir di Nusa Tenggara Timur, Agustus 1988. Kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Titik.