Mata Air (Cover Depan)Judul:
Kumpulan Puisi Mata Air
Penerbit:
Aditya Media & Pelangi Sastra Malang Publishing
Cetakan 1, Maret 2015
Tebal:
xii + 150 halaman

Oleh: Ahmad Fatoni

Substansi kumpulan puisi ’’Mata Air’’ lahir sebagai salah satu jihad kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan di tengah pembangunan yang angkuh dan keras kepala. Kau tahu, mata air desa menjelma air mata warga lantaran penguasa kehilangan jalan pengabdian bagi sesama mereka lebih percaya pengusaha durja berdencing harta ketimbang masa depan manusia yang memerlukan cinta (hal. 32).

Begitu, antara lain, kegeraman Prof Djoko Saryono, satu di antara 61 penyair yang mengirimkan puisinya kepada Komunitas Pelangi Sastra Malang untuk disertakan dalam Kumpulan Puisi ’’Mata Air’’. Melalui gerakan kesusastraan, guru besar Universitas Negeri Malang tersebut meneriakkan spirit perlawanan terhadap perselingkuhan para penguasa dengan para pemilik modal yang telah merampok akses warga sekitar atas sumber mata air di Gemulo, Cangar, Batu.

Bahkan, eksploitasi lingkungan tidak hanya menimpa sumber mata air Gemulo, namun juga merembet ke area lain. Saluran pembuangan air kian menyempit, sungai-sungai tercemar limbah, debit air terus menurun, dan air bersih makin sulit didapat merupakan fakta telanjang karena ulah pembangunan yang tak terkendali. Petakanya, dampak perusakan cagar alam yang sedemikian rupa itu menjadikan rakyat kecil sebagai tumbal.

Jamak dimaklumi, rakyat kecil selalu tak berdaya bila harus berhadapan dengan persekongkolan penguasa-pengusaha. Hal itu bisa kita baca dari ratapan lirih Lisfy Nael F. dalam puisi ’’Air Mata Air’’: suaraku telah sumbang/ bersama pohon-pohon yang tumbang/ gemercikku tak lagi terdengar riang/ kalahku dengan suara tawa bulldozer/ yang membuat gigilku meriang (hal. 76).

Menurut Denny Mizhar, selaku koordinator penerbitan buku ini, substansi kumpulan puisi ’’Mata Air’’ lahir sebagai salah satu jihad kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan di tengah pembangunan yang angkuh dan keras kepala (hal. iv). Karena itu, kumpulan puisi yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Air Sedunia, 22 Maret 2015 lalu, bersepakat menyuarakan keprihatinan.

Satu contoh keprihatinan tampak jelas dalam puisi ’’Mata Air’’ karya Nanang Suryadi: mata airmu adalah air mata yang tak habis-habisnya/ menangisi peradaban yang rakus mengusirmu ke kehausan tak berkesudahan.

Puisi tersebut sangat menyentuh dan punya kepentingan yang amat vital. Terlebih Nanang Suryadi menutup puisinya dengan ratapan: karena cinta adalah mata air/ jangan kau melukainya/ karena ia akan menjelma air mata/ jagalah dengan sepenuh jiwa (hal. 88). Lewat karya-karya dalam buku ini, kita masih sangat berharap bahwa puisi dapat dijadikan pistol perlawanan.

Pistol untuk mencorongkan peluru kepada siapa pun pemangku kebijakan negeri ini yang pura-pura tuli dan buta mata hatinya. Dalam kumpulan puisi ini terasa betul perjuangan setiap penulisnya untuk melegitimasi diri sebagai ’’penyair’’ yang tak sekadar bermain kata-kata sembari duduk di istana retorika. Seorang penyair senyatanya memang mengajak pembaca, selain demi mengakrabi pesona kata-kata, untuk menyelami hingga ke ceruk terdalam kehidupan.

Dari sana pembaca dapat belajar ihwal kehidupan itu sendiri. Puisi tak sepantasnya bila sebatas nyanyian yang lahir dari kepedihan jiwa atau senyuman bibir belaka. Demikian kata Kahlil Gibran. Itu sebabnya, melalui untaian puisi, getir seorang penyair bukan lagi menjadi kegundahan personal.

Pembaca turut pula merasakan denyut batin sang penyair ketika harus melihat sekaratnya nilai-nilai kemanusiaan karena perilaku culas para penjilat, pengkhianat, dan sebangsanya. Melalui kata-kata, seorang penyair juga dapat mengaduk-aduk emosi perlawanan tanpa batas.

Kemampuan penyair dalam menelanjangi paradoks, lalu mengubahnya menjadi senjata perlawanan itu, disebut antropolog James Scott sebagai weapon of the weak (senjata kaum marginal). Dalam buku ini dapat kita simak, misalnya, kutipan puisi Denny Mizhar bertajuk ’’Umbul Gemulo’’: dalam bening air aku meronta/ dalam doa aku melawan (hal. 29).

Sangat boleh jadi, perlawanan seorang penyair hanyalah utopia yang mencoba mencorongkan mata batinnya untuk masa depan. Setidaknya, menipisnya rasa empati yang berwujud dalam pelbagai bentuk penindasan memudahkan penyair untuk mengawinkan kata-kata dengan kekuatan imaji yang luar biasa tajam dan dahsyat.

(*)