Oleh: Prof Djoko Saryono

Saudara setumpah darah, sebangsa, dan sebahasa persatuan Indonesia.

Marilah kita hadirkan ingatan tentang peristiwa Kongres Pemuda II pada tahun 1928 silam, yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda laksana sejoli serasi [soul mate] yang saling membagi energi: energi cinta akan kebebasan, kemerdekaan, dan kedaulatan manusia. Energi cinta itu lalu menggerakkan manusia-manusia muda di gugusan wilayah jajahan Belanda, yang kemudian dianugerahi nama Indonesia, tempat kita sekarang tegak di ruang dan waktu jagat raya.

Maka Kongres Pemuda II adalah rahim kesadaran keindonesiaan dan Sumpah Pemuda adalah akte kelahiran kesadaran keindonesiaan kita. Para pemuda yang menggagas dan mengorganisasikannya ibarat dokter-dokter luar biasa yang membantu persalinan kesadaran keindonesiaan kita. Sedang para pemikir-penggerak-pejuang,yang mendapat berkah nama Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, Tjokroaminoto, Tan Malaka, Sukarno-Hatta, dan lain-lainnya, yang sejak sebelum Sumpah Pemuda telah tak kenal lelah menaburkan dan menebarkan kesadaran keindonesiaan dengan energi cinta tak tertala ibarat dokter-dokter pembenih, penumbuh, dan perawat kesadaran keindonesiaan.

Mereka semua ibarat para dokter dan paramedis yang sepenuh hati melakukan proses penyerbukan kesadaran keindonesiaan kepada semua manusia yang menghuni gugusan perairan yang ditebari pulau-pulau ribuan sehingga dalam batin mereka berbungalah imajinasi keindonesiaan; mekarlah imajinasi Indonesia.

Maka boleh dikata bahwa makrifat Sumpah Pemuda adalah lahirnya kesadaran keindonesiaan berkat energi cinta akan kebebasan, kemerdekaan, dan kedaulatan manusia yang turun-temurun menghuni perairan yang ditebari pulau-pulau indah memukau. Lahirnya kesadaran keindonesiaan itu kemudian melahirkan imajinasi (sosial-politik dan sosial-kultural, bahkan spiritual) keindonesiaan. Dan imajinasi keindonesiaan inilah yang begitu setia merawat, bahkan membesarkan kesadaran keindonesiaan kita.

Tanpa imajinasi keindonesiaan niscaya kita bakal tersekat-sekat atau terterungku di ruang tanpa jendela yang menghalangi kita untuk saling memandang dengan penuh cinta dan saling bertukar kata juga berjabat mesra: kita Indonesia! Berkat keberdayaan, kebangkitan, dan keberanian para pemuda-lah kesadaran keindonesiaan sekaligus imajinasi keindonesiaan bisa lahir selamat dari rahim Kongres Pemuda tahun 1928 dan bahkan kemudian disambut bahagia oleh manusia yang mendamba kebebasan, kemerdekaan, dan kedaulatan. Hal ini ditandai oleh akte kelahiran kesadaran sekaligus imajinasi keindonesiaan yang berwujud teks Sumpah Pemuda.

Dalam teks Sumpah Pemuda kita mendapati kesadaran sekaligus imajinasi keindonesiaan itu terbedakan, bukan terbagi, menjadi (1) kesadaran dan imajinasi ke-tumpahdarah-an, (2) kesadaran dan imajinasi kebangsaan, dan (3) kesadaran dan imajinasi kebahasaan persatuan.

Ketiga kesadaran dan imajinasi keindonesiaan tersebut dikemukakan dalam bahasa indah dan elok yang mengajak kita berkontemplasi dan berproyeksi. Inilah bahasa sosial-politik dan sosial-kultural yang puitis sehingga teks Sumpah Pemuda menjelma menjadi puitika Sumpah Pemuda; puitika kesadaran dan imajinasi keindonesiaan.

Sesaat setelah puitika Sumpah Pemuda dibacakan, dilantunkan pula untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya yang sanggup mengilhami dan menggerakkan kita semua. Itulah musikalitas Sumpah Pemuda. Tak heran, lagu Indonesia Raya laksana ari-ari dari jabang bayi kesadaran dan imaji keindonesiaan yang terbungkus teks Sumpah Pemuda; lagu Indonesia beserta teks Sumpah Pemuda laksana Sukrasana dengan Sumantri dalam kisah pewayangan kita; keduanya saling mencintai, mustahil saling melarai.

Maka boleh kita berkata bahwa teks Sumpah Pemuda beserta lagu Indonesia Raya merupakan puitika dan musikalitas kesadaran dan imajinasi keindonesiaan kita. Mengingat tugas puitika dan musikalitas itu mendedah relung terdalam sanubari manusia, maka puitika dan musikalitas kesadaran dan imajinasi keindonesiaan pun menghunjam ke palung sanubari tiap manusia Indonesia. Ketika kita kini senantiasa merayakan Sumpah Pemuda berarti kesadaran dan imajinasi keindonesiaan masih mukim di palung sanubari kita manusia Indonesia.

Di palung sanubari kita harus telaten dan penuh kecintaan merawat kesadaran keindonesiaan kita. Merawat kesadaran keindonesiaan kita ibarat melayarkan bahtera raksasa – serupa bahtera Nuh dahulu kala – ke tengah samudra luas tak terkira yang menaklukkan segala pandang mata dan mencipta utopia kaki-kaki lengkung cakrawala yang menjadikan mata terpana selain selalu berkarib dengan segala gelombang badai yang acap sukar diduga dahsyat atau nikmatnya.

Untuk itu, kita harus rajin mengubah-ubah arah layar agar bahtera keindonesiaan kita – serupa bahtera Nuh dahulu kala – bisa melaju menuju dermaga tujuan. Selain itu, kita memerlukan mualim dan kelasi bahtera yang tak pernah jeri dengan segala terpaan badai dan gunung-gemunung gelombang samudra yang selalu menyapa ribuan kilometer pantai Indonesia.

Bahtera keindonesiaan kita membutuhkan mualim dan kelasi yang berani tetap berada di dalam bahtera kendati terancam karam diterjang badai atau diombang-ambingkan taufan yang sukar diterka sembari menyelamatkan seluruh penumpang bahtera. Untuk itu, perawatan kesadaran dan imajinasi keindonesiaan kita memerlukan keberdayaan, keberanian dan kebangkitan mualim dan kelasi untuk melayarkan bahtera ke-tumpah-darah-an, kebangsaan, dan kebahasaan persatuan hingga mencapai dermaga yang dicita-citakan.

Saudara setumpah darah, sebangsa, dan sebahasa persatuan.
Karena itu, marilah kita sebagai bagian mualim dan kelasi keindonesiaan selalu menggunakan bahasa keberdayaan, keberanian, dan kebangkitan dalam merawat kesadaran dan imajinasi keindonesiaan kita. Tinggalkanlah bahasa keterpurukan, ketakberdayaan, apalagi bahasa kepengecutan dan kemarahan dalam merawat keindonesiaan kita.

Marilah kita semua berdaya, berani, dan bangkit melawan segenap taufan badai dan gelombang yang mungkin mengaramkan atau menghancurkan bahtera keindonesiaan kita agar Indonesia sebagai tumpah darah jangan sampai terpecah; Indonesia sebagai bangsa jangan sampai rebah; dan Indonesia sebagai bahasa persatuan jangan sampai kalah. Ayo kita rawat keindonesiaan! Ayo kita lajukan bahtera keindonesiaan – serupa laju bahtera Nuh dahulu kala. Ayo kita lantunkan seelok dan seikhlas mungkin puitika dan musikalitas Sumpah Pemuda yang bersukma keindonesiaan kita. Ayo kita rayakan Sumpah Pemuda untuk menaburkan puitika dan musikalitas keindonesiaan kita. Sekian. Terima kasih.

Malang, 28 Oktober 2015

*Kepala Perpustakaan UM