oleh: Djoko Saryono

/1/

Lelaki gagah, berperawakan besar, dan berkulit langsat bernama Hazim Amir dilahirkan di Yogyakarta, 3 Agustus 1937 dan menutup usia di Malang pada tahun 1996 yang sepanjang usia berumah di Perumahan IKIP Malang, Jalan Muntilan 4 Malang (sekarang sudah menjadi sisi barat Graha Rektorat Universitas Negeri Malang). Mendiang Hazim Amir merupakan manusia unik multi-talenta, lintas sektoral, dan berdaya jelajah intelektual luas yang dimiliki oleh Universitas Negeri Malang. Dia mewakafkan atau menghabiskan hidupnya untuk menjelajahi bentangan aktivitas kehidupan yang demikian luas. Sebagai pribadi yang bernasab kyai terkemuka, dia menguasai bidang keagamaan meskipun jarang ditonjolkannya. Dia tampak lebih terpesona, menyukai, dan menjelajahi spiritualitas atau religiositas daripada formalisme agama. Sebagai pribadi yang secara intensif melibatkan diri sepanjang hidup dalam bidang kesenian dan kebudayaan, dia pemikir sekaligus pekerja budaya dan seniman yang tangguh dan terpandang. Dia menempuh jalan kesenian dan kebudayaan secara kafah dan bahagia tanpa terganggu oleh persepsi dan pandangan masyarakat yang kurang nyaman. Para pekerja budaya, pemikir seni, dan seniman Indonesia, misalnya Emha Ainun Najib, Suprapto Suryodarmo, dan Umar Kayam, menaruh hormat kepadanya. Sebagai pribadi yang menggumuli seni khususnya seni pertunjukan dan susastra, dia seorang pengayom kesenian, sutradara, dan penerjemah karya sastra yang tergolong ulung. Dia mendirikan dan mengelola kelompok Teater Melarat, ikut mendirikan Dewan Kesenian Surabaya dan Dewan Kesenian Malang di samping mengayomi berbagai kelompok kesenian rakyat/tradisional dan modern. Demikian juga garapan-garapan teaternya yang khas enak dinikmati dengan pilihan lakon-lakon yang bernas, sedang terjemahan-terjemahan karya sastranya sangat enak dibaca. Sebagai pribadi yang sadar mencemplungkan diri ke dalam dunia kesenian, dia juga seorang kolektor benda-benda seni dan benda-benda tradisi, misalnya lukisan, gentong, cikar, gebyog, dan guci-guci antik. Sebagai pribadi yang sangat menjunjung tinggi manusia, dia memiliki empati, simpati, dan pemihakan kepada kaum terpinggirkan, tertindas, dan termiskinkan secara sosial ekonomi, sosial politik, dan sosial budaya. Tak heran, dia mencintai bakul-bakul kecil dengan cara membeli dagangan mereka; memihak para pelacur dengan cara memberikan advokasi mereka; dan melindungi seniman-seniman tradisi dengan cara mendampingi dan mengunjungi mereka. Sebagai pribadi yang mencintai pemikiran, pengetahuan, dan keilmuan, dia akademisi cum intelektual organik yang selalu melibatkan diri di tengah persoalan masyarakatnya, membaca buku-buku dengan tekun sekaligus memutakhirkan ilmu dengan mengoleksi buku yang demikian beragam dan banyak, dan intensif memproduksi pemikiran yang kemudian disiarkan berbagai media, pertemuan ilmiah, dan penerbitan. Sebagai pribadi yang mengabdikan diri di dunia pendidikan, dia salah seorang pendidik profilik yang dimiliki oleh Universitas Negeri Malang: cara mengajarnya begitu dialogis, egaliter, dan humanis serta amat unik pada masanya tanpa kehilangan objektivitas kepada para mahasiswanya. Tak pelak, Hazim Amir merupakan manusia generalis yang memiliki daya jelajah perhatian, pemikiran, keilmuan, dan kiprah yang demikian luas.

Penulis menjadi moderator diskusi Bulan Bahasa 1995 di Auditorium IKIP Malang dengan narasumber Dr.Hazim Amir, M.A.

Penulis menjadi moderator diskusi Bulan Bahasa 1995 di Auditorium IKIP Malang dengan narasumber Dr.Hazim Amir, M.A.

Penjelajahan perhatian, pemikiran, keilmuan, dan kiprah Hazim Amir yang demikian luas tersebut berhulu pada manusia pada satu sisi dan pada sisi lain terbuhul pada kemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan menjadi sumbu-utama perhatian, pemikiran, dan tindakan Hazim Amir. Dalam karya puncaknya berupa disertasi bertajuk Nilai-nilai Etis dalam Wayang dan Pendidikan Watak Guru (1984) yang visioner dan otentik tergambar gamblang keyakinan Hazim Amir akan arti penting manusia dan kemanusiaan dalam kehidupan dunia. Demikian juga dalam percakapan pribadi, dialog perkuliahan, dan tulisan-tulisan lepas (berupa artikel dan makalah) terpancar kuat keyakinan Hazim Amir bahwa manusia merupakan makhluk luhur, mulia, dan agung karena menjadi khalifah Tuhan sekaligus hamba Tuhan di muka bumi selain memiliki otoritas sebagai individu yang merdeka di bumi. Di sinilah kemanusiaan menjadi amat fundamental dan sentral dalam derap kehidupan manusia. Kemanusiaan harus menjadi batu penjuru dan titik-tuju perhatian, pemikiran, dan tindakan manusia dalam ranah-ranah kehidupan yang semakin beraneka ragam dan kompleks. Oleh karena itu, kemanusiaan perlu selalu dipantau dan diperiksa kondisinya pada satu sisi dan pada sisi lain perlu selalu dijaga dan dilindungi keberadaan, kedudukan, fungsi, dan perannya dalam pelbagai ranah kehidupan manusia. Pelecehan, penistaan, dan lebih-lebih penindasan manusia dan kemanusiaan membuatnya geram, misalnya hal ini tampak pada makalah bertajuk Kesenian Rakyat: Dalam Kondisi Kemanusiaan yang Brengsek Ini Bagaimana Ia Harus Hidup? yang dibentangkan dalam Sarasehan Kesenian Rakyat, Parade Seni W.R. Soepratman (Mei 1995) dan Sasakku Sayang, Sasakku Malang yang dibentangkan dalam Seminar Nasional Masa Depan Pariwisata Lombok di Mataram (April 1994). Lakon-lakon yang disutradarai dan dipentaskannya, antara lain Dalam Bayangan Tuhan (Arifin C. Noor), Aduh (Putu Wijaya), danKisah Kebun Binatang (Edward Albee), mencerminkan kegalauannya akan kondisi kemanusiaan dan masa depan kemanusiaan yang berada di bawah bayang-bayang ancaman. Sikap, tindakan, dan perilaku sehari-harinya di dunia pendidikan, kesenian, kebudayaan, masyarakat umum, dan lain-lain secara tegas memancarkan penghormatan, pemuliaan, dan pengagungan kepada manusia dan kemanusiaan. Sebagai contoh, di tengah kegiatan rutinnya berjalan kaki pagi hari, pada suatu pagi dia singgah ke rumah saya dengan menenteng pisang ranum yang katanya baru dibeli dari seorang penjaja buah-buahan yang sudah tua dan memikul dagangannya. Dengan kata lain, dia membeli pisang karena berempati kepada lelaki tua penjual buah-buahan, bukan karena membutuhkan pisang! Oleh karena itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Hazim Amir merupakan seorang humanis tulen/par excellence yang memiliki cadangan energi kemanusiaan melimpah pada satu sisi dan pada sisi lain stamina perjuangan kemanusiaan yang tangguh.

Perhatian, pemikiran, dan tindakan kemanusiaan Hazim Amir diartikulasikan secara reflektif, eseistis, puitis, dan persuasif. Tulisan-tulisan Hazim Amir yang merekam perhatian dan pemikiran kemanusiaannya cenderung reflektif, eseistis, dan puitis yang otentik dan visioner, tidak argumentatif dan konvensional. Dalam disertasi Nilai-nilai Etis dalam Wayang dan Pendidikan Watak Guru dia menulis:

Hari ini, subuh 1 Oktober 1984, saya mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Mahaesa, yang telah membangkitkan saya dari kejatuhan saya yang menuntun sukma, jiwa, dan raga saya untuk menyelesaikan penulisan disertasi ini dengan sebaik-baiknya. (hlm. Iv)

Pada bagian lain disertasinya dia menulis:

Pendidikan watak memegang peranan penting dalam hidup manusia oleh karena ia berfungsi sebagai wahana pembentukan kepribadian etis manusia dan ia berfungsi sebagai wahana pembentukan kepribadian etis bangsa (hlm. 259).

Dalam makalah berjudul Kesenian Rakyat: Dalam Kondisi Kemanusiaan yang Brengsek Ini Bagaimana Ia Bisa Hidup?, dengan meminjam ekspresi-ekspresi naskah drama, puisi, dan petikan fiksi, dia menulis begitu reflektif dan puitis:

Hidup kita yang panjang, kata Arifin, ternyata tidak membuat kita makin memahami arti hidup, tidak memahami kehendak Tuhan atas hidup ini:

Beratus-ratus tahun sudah
Kita tak pernah istirah
Betapa panjang ini perjalanan
Betapa panjang bayangan Tuhan
Betapa menyilaukan cahaya Tuhan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
(Arfin C. Noer, Dalam Bayangan Tuhan)

Hidup kita yang panjang, menurut Surachman, tidak membuat kita bertambah dewasa:

Jauh nian perjalananmu…
Tapi tidak juga kau tambah dewasa
(Surachman R.M., Suatu Hari di Musim Dingin)

Hidup kita yang panjang, kata Pablo Neruda, membuat kita makin lama makin bodoh. “Kita tak pernah lagi membuat pertanyaan-pertanyaan.” Kita menjadi bodoh, kata Emha, karena kita hanya mengulangi hal yang sama sela-ma ini, mengulangi kesalahan yang sama (Ambang).

Demikian juga tindakan-tindakan Hazim Amir yang menggambarkan kiprah dan perjuangan kemanusiaannya diartikulasikan secara reflektif dan etis dengan keindahan laku yang diyakininya manusiawi. Hal ini tampak pada kebiasaannya beranjangsana atau bersilaturahmi kepada para seniman, sahabat, dan kawan-kawan diskusinya. Demikian juga terlihat dalam sambutan dan penerimaannya kepada sahabat-sahabatnya. Pada masanya, kegalauan hidup Emha Ainun Najib beserta keluarga diberi empati dan simpati yang mengesankan. Sahabat-sahabatnya seperti Suprapto Suryodarmo, Halim HD, Fadjar Suharno, dan lain-lain diterima di rumahnya dan dijamu dengan kehangatan sebagai keluarga, tanpa berhitung soal waktu dan makanan. D. Zawawi Imron, sahabatnya yang kyai dan penyair terkemuka, selalu dijamu setiap bertandang ke Malang; tak jarang mereka berdua berapresiasi puisi semalam suntuk: Zawawi membaca puisi-puisi kesayangannya dan Hazim Amir mengulas beralaskan pandangan kemanusiaannya. Menurut Hazim Amir, mereka semua adalah manusia yang harus diperlakukan sebagai manusia, diperlakukan setara sebagai sesama manusia, akademisi cum intelektual tidak boleh jumawa dengan ilmu dan posisi sosialnya, dan yang merasa manusia biasa tidak boleh merunduk-runduk menghamba kepada manusia yang merasa lebih tinggi. Hal tersebut harus dikerjakan oleh setiap manusia yang menjunjung kemanusiaan meskipun harus melalui jalan berkelok dan memutar. Berkata Hazim Amir dalam disertasinya, “Untuk sampai kepada sesuatu tujuan, terkadang kita perlu menempuh jalan memutar, demikian kata Albee dalam dramanya yang amat terkenal Kisah Kebun Binatang (The Zoo Story)…. Untuk sampai pada tujuan akhir studi saya, yakni pengkajian tentang nilai-nilai etis dalam wayang dan pendidikan watak guru, saya harus menempuh jalan memutar yang panjang.” (hlm. vi).  Hazim Amir memang tidak memuja linieritas dan kelugasan dalam mengartikulasikan pemikiran dan tindakan kemanusiaannya. Yang penting di sini pemikiran dan tindakan kemanusiaan dapat diartikulasikan secara efektif dan etis dengan penuh penghormatan kepada manusia dan kemanusiaan.

 

/2/

Pemikiran besar tentang manusia dan kemanusiaan yang melahirkan mazhab pemikiran dan gerakan humanisme dapat diusut muasalnya sejak zaman kuno di berbagai gugusan kebudayaan dan peradaban. Namun, kesadaran manusia tentang fundamental dan sentralnya manusia dalam kehidupan di dunia pada satu sisi dan pada sisi lain kesadaran manusia yang menempatkan manusia sebagai subjek kehidupan baru berkembang pada abad-abad masehi. Tumbuh berkembangnya kesadaran tersebut tidak serta-merta menumbuhkembangkan dan menyuburkan penghormatan, pengagungan dan pelindungan terhadap manusia dan kemanusiaan. Nasib dan kondisi manusia dan kemanusiaan sebagai subjek kehidupan mendayung di antara berbagai karang halangan yang tampak pada berbagai petaka dan nestapa yang silih berganti menimpa manusia dan kemanusiaan. Berbagai bentuk dan tipe pengingkaran, penistaan, dan penindasan terhadap manusia dan kemanusiaan terus-menerus terjadi sekalipun gerakan kemanusiaan atau gerakan humanisme terus-menerus digelorakan. Oleh karena itu, perjuangan menegakkan, menghormati, mengagungkan, dan melindungi manusia dan kemanusiaan memang tidak mudah dilakukan. Di sinilah Hazim Amir menyadari betapa berat dan berkelok-keloknya perjuangan menempatkan manusia sebagai subjek kehidupan sehingga dia memilih jalan menikung, bahkan memutar dalam merealisasikan tindakan berkemanusiaan. Bagi Hazim Amir, banyak pegiat gerakan kemanusiaan terserang oleh miopia dan fatamorgana: seolah-olah jalan lurus, mulus, dan lugas telah terbentang untuk menempatkan manusia sebagai subjek kehidupan dan kemanusiaan sebagai entitas kehidupan manusia di dunia.

Pada masa belum tumbuh berkembangnya kesadaran tentang manusia sebagai subjek dan kemanusiaan sebagai entitas kehidupan manusia, keberadaan dan kedudukan manusia tergulung oleh mitologisme dan religiosisme. Dalam kebudayaan dan peradaban mitis, manusia tidak memiliki otonomi dan otoritas, tidak mempunyai kemerdekaan dan kedaulatan, sehingga tidak berposisi sebagai subjek dalam dunia. Individuasi tidak terjadi sehingga manusia tenggelam dalam tatanan kosmologis yang serba mitis. Di sini kemanusiaan tidak berarti yang berakibat manusia berada di dalam ketidakberdayaan, kebodohan, dan kekolektifan pasif di samping kehilangan tindakan bertujuan dan mengalami kehampaan makna. Pendek kata, manusia mengalami dehumanisasi secara sistemis dan kultural. Akan tetapi, ketika telah tumbuh dan berkembang kesadaran tentang manusia sebagai subjek dalam dunia dan kemanusiaan sebagai entitas kehidupan di dalam dunia, dehumanisasi tetap terus-menerus terjadi. Sejak fajar abad modern atau abad pencerahan sampai sekarang pada Abad XXI ancaman terhadap manusia dan kemanusiaan semakin bertubi-tubi dan menjadi-jadi sehingga kelangsungan hidup manusia, bukan hanya kebebasan manusia, berada dalam ancaman serius. Ancaman serius ini bukan hanya berasal dari pihak-pihak yang memang tidak setuju atau menolak otonomi dan otoritas manusia di dunia, yang menempatkan manusia sebagai subjek dalam dunia, dan mengagungkan kemanusiaan dalam kehidupan dunia, tetapi juga dari pihak-pihak yang justru menjadi elemen penting gerakan kemanusiaan atau gerakan humanisme. Dengan semangat hendak membebaskan manusia dari kungkungan dogmatis agama [yang begitu traumatis bagi orang-orang Eropa], kaum pergerakan kemanusiaan atau humanisme justru terperosok ke dalam pemikiran dan tindakan menghilangkan Tuhan dalam kemanusiaan sehingga muncul fenomena kemanusiaan tanpa Tuhan. Di sinilah berkembang humanisme sekular dan humanisme ateistis yang menceraikan kemanusiaan dari ketuhanan pada satu sisi dan pada sisi lain meniadakan ketuhanan di dalam kemanusiaan. Di samping itu,  dengan semangat menegakkan, menjunjung, dan men-sentral-kan kemanusiaan dalam kehidupan, kaum pergerakan kemanusiaan atau humanisme justru terjerumus ke dalam tindakan-tindakan tidak berkemanusiaan. Niat-niat, metode-metode dan strategi-strategi gerakan humanisme untuk menegakkan dan melindungi manusia dan kemanusiaan justru terjerumus ke dalam niat, metode, dan strategi tidak berkemanusiaan. Sebagai contoh, niat, metode, dan strategi membudayakan dan memberadabkan manusia dan menyebarkan kemanusiaan di dunia Timur atau Selatan (baca: non-Eropa) oleh orang-orang Eropa justru melahirkan kolonialisme yang notabene mencampakkan harkat dan martabat manusia. Niat, metode, dan strategi membela dan melindungi manusia dan kemanusiaan dari hegemoni atau dominasi multidimensional oleh kelompok tertentu justru menumbuhsuburkan terorisme, yang notabene menggilas manusia. Demikian juga fasisme, totaliterisme, diktatorialisme, dan anti-humanisme justru muncul akibat semangat berlebihan mendesakkan kemanusiaan dengan metode dan strategi yang tidak menghargai harkat dan martabat manusia. Di sinilah muncul fenomena kemanusiaan tanpa manusia. Baik kemanusiaan tanpa manusia maupun kemanusiaan tanpa Tuhan merupakan lubang hitam gerakan kemanusiaan atau humanisme yang bertitup di berbagai belahan dunia. Dalam keadaan seperti ini terjadilah krisis kemanusiaan; manusia justru mengalami dehumanisasi; bahkan kemanusiaan mengalami kematian, kata F. Budi Hardiman dalam buku Humanisme dan Sesudahnya (Kanisius, 2012). Bagi Hazim Amir, hal tersebut merupakan bukti bahwa kondisi kemanusiaan begitu brengsek, seperti terlihat dari judul tulisan Kesenian Rakyat: Dalam Kondisi Kemanusiaan yang Brengsek Ini Bagaimana Ia Bisa Hidup? (1995).

Hazim Amir berpandangan, dengan beracuan spiritualitas atau religositas Islam yang diyakininya, gerakan kemanusiaan atau humanisme pertama-tama harus menempatkan manusia sebagai khalifah Tuhan di dunia pada satu sisi dan pada sisi lain manusia sebagai hamba Tuhan di dunia dan di seberang dunia. Otonomi dan otoritas manusia di dunia tidak boleh hanya disekularasi atau ditambatkan pada dunia semata, tetapi juga harus ditransendensi atau ditinggikan menerobos batas-batas dunia mencapai Tuhan. Di sinilah Hazim Amir meletakkan kemanusiaan dengan kehadiran Tuhan dan manusia sekaligus. Saya ingin menyebut pemikiran Hazim Amir ini dengan istilah humanisme transendental, sebuah humanisme yang meletakkan kemanusiaan dengan kehadiran Tuhan dan manusia secara serentak karena posisi manusia di bumi sebagai wakil Tuhan sebagai pemelihara bumi sekaligus makhluk Tuhan yang selalu merindukan pulang kepada Tuhan.  Hal ini menunjukkan bahwa humanisme transendental ala Hazim Amir berbeda dengan humanisme ateistis, humanisme sekular, dan humanisme religius serta humanisme universal yang justru telah menimbulkan dehumanisasi, merendahkan harkat dan martabat manusia, dan bahkan mencerabut manusia sebagai subjek di dunia. Humanisme transendetal ala Hazim Amir menempatkan manusia sebagai subjek di dunia yang memiliki otonomi dan otoritas di dunia. Sebagai subjek di dunia yang otonom dan otoritatif urusan dunia, manusia memiliki batu-penjuru kemanusiaan dan titik-tuju ketuhanan. Dalam posisi dan kewenangan seperti ini, manusia memiliki kemampuan mengembangkan potensi-potensi dan bakat-bakatnya sebagai manusia selama hidup di dunia sekaligus mempunyai tugas dan kewajiban memelihara kelangsungan semesta selama hidup di dunia. Untuk menyebut hal ini, Hazim Amir sering menggunakan ungkapan budaya Jawa mamayu hayuning bebrayan dan mamayu hayuning bawana(memperindah keindahan kehidupan bersama manusia dan memperindah keindahan semesta). Dengan demikian, dalam humanisme transendental ala Hazim Amir, manusia bertugas meningkatkan secara berkelanjutan keindahan kebersamaan hidup manusia sekaligus keindahan semesta karena dalam kondisi demikian potensi dan bakat manusia dapat berkembang untuk kelangsungan hidupnya, kemanusiaan dapat dihormati dan diagungkan, dan kehidupan manusia dapat dijalankan secara berkemanusiaan.

Menurut Hazim Amir, masalah-masalah kehidupan manusia di dunia yang mengancam dan menghilangkan kemanusiaan pada umumnya bersumbu pada masalah-masalah etis sehingga kemanusiaan berentitas etika dan moralitas pada satu sisi dan pada sisi lain manusia berkemanusiaan bermakna menjadi manusia etis dan bermoral. Dalam pandangan Hazim Amir, berbeda dengan pandangan umum yang berkembang di Eropa, etika dan moralitas berjalinan erat dengan religi, filsafat, dan estetika; tidak ada etika dan moralitas tanpa religi, filsafat, dan estetika (lihat Nilai-nilai Etis dalam Wayang dan Pendidikan Watak Guru, 1985, 35). Di sinilah dapat diperluas paham kemanusiaan Hazim Amir: kemanusiaan berentitas etika-moralitas, religi, filsafat, dan estetika sehingga menusia berkemanusiaan bermakna menjadi manusia etis, manusia religius/spiritual, manusia filosofis, dan manusia estetis. Manusia etis adalah manusia yang senantiasa menempatkan setara sesama manusia; manusia spiritual adalah manusia yang senantiasa memiliki kesadaran melampaui batas-batas material atau duniawi; manusia filosofis adalah manusia yang senantiasa sanggup merenung secara mendalam dan menampilkan keutamaan, tidak memuja-muja kedangkalan dan materialitas; dan manusia estetis adalah manusia yang senantiasa sanggup menyuguhkan dan menampilkan keindahan dalam perasaan, pemikiran, dan tindakan. Menurut hemat saya, inilah substansi manusia transendental, kemanusiaan transendental, dan humanisme transendental yang dipikirkan dan dipraktikkan oleh Hazim Amir.

Untuk menjadi manusia transendental yang menumbuhsuburkan kemanusiaan transendental, manusia harus memiliki persepsi sejati yang akan membuahkan realitas sejati. Dikemukakan dalam Nilai-nilai Etis dalam Wayang dan Pendidikan Watak Guru, realitas sejati yang diolah oleh intelegensi sejati akan membuahkan pengetahuan sejati; pengetahuan sejati diolah oleh rasa sejati akan membuahkan kesadaran sejati; kesadaran sejati yang diolah oleh sukma sejati akan menghasilkan keadilan sejati dan kesucian sejati; kesucian sejati dan keadilan sejati akan mampu membuahkan kebenaran sejati; kebenaran sejati akan menjadi landasan tumbuhnya keyakinan sejati, watak sejati, sikap sejati, kebijaksanaan sejati, dan tindakan sejati untuk melangsungkan hidup, mempertahankan hidup, dan mengembangkan hidup bersama di alam semesta. Lebih lanjut, hal tersebut dapat menjadi sumber menyempurnakan hidup. Hidup yang sempurna adalah hidup sejati dalam arti berada dalam keagungan sejati, kabahagiaan sejati, kemerdekaan sejati, keindahan sejati, dan keabadian sejati. Menurut Hazim Amir, manusia transendental adalah manusia yang sudah menjadi hidup sejati; sudah mengalami keagungan sejati, kebahagiaan sejati, kemerdekaan sejati, keindahan sejati, dan keabadian sejati. Di sinilah dapat dikatakan bahwa kemanusiaan transendental adalah kemanusiaan yang mampu merayakan hidup sejati; kemanusiaan yang mengagungkan, membahagiakan, memerdekakan, memperindah, dan menjadikan abadi manusia. Bila pemikiran dan tindakan manusia justru menegasikan hal-hal tersebut, maka pemikiran dan tindakan tersebut melanggar prinsip dasar kemanusiaan transendental pada satu sisi dan pada sisi lain melecehkan manusia transendental. Sayang, menurut pengamatan Hazim Amir, zaman sekarang justru mengemuka krisis kemanusiaan transendental: kondisi kemanusiaan transendental demikian brengsek dan busuk. Apakah Anda ingin meneruskan dan mengembangkan warisan pemikiran dan tindakan Hazim Amir ini dalam rangka menegakkan humanisme transendental, merayakan kemanusiaan transendental, dan mewujudkan manusia transendental di tengah kondisi pasca-humanisme (post-huamnism) di mana manusia sebagai subjek sudah berubah menjadi objek semata, bahkan manusia telah menggadaikan dirinya kepada komputer sehingga komputer menjadi diri kedua (second self) sebagaimana dikatakan Sherry Turkle dalam The Second Self: Computer and Human Spirit?

 

 

(Catatan: Esai pengantar ini merupakan penghayatan dan pemahaman saya selama bergaul dan berdiskusi bersama Hazim Amir, penyerapan dan penyimpulan perbincangan Hazim Amir dalam berbagai kesempatan yang saya dengarkan, dan pemahaman atas tulisan-tulisan Hazim Amir yang dapat saya jangkau).