Oleh: Djoko Saryono*

1.       Secara harfiah dan umum istilah katastrof(i/a) [catastrophe] bermakna bencana atau puncak malapetaka yang secara niscaya mengakibatkan atau menyebabkan pelbagai keguncangan mahadahsyat terhadap tata atau keteraturan (great disruption of order), bahkan menimbulkan keterputusan (discontinuity), yang di dalamnya terkandung rangkaian krisis yang mulai terpetakan dan didapatkan jalan keluarnya. Sebelum digunakan di pelbagai bidang seperti sekarang, setahu saya, istilah katastrofi tersebut sudah dipakai oleh Aristoteles dalam buku Poetics yang terbit Abad III Sebelum Masehi. Dalam Poetics, sebermula istilah katastrofi digunakan untuk menyebut tahapan alur cerita drama tragedi Yunani setelah klimaks atau puncak konflik pada satu pihak dan pada pihak lain sebagai tanda berakhirnya cerita.

Dalam drama tragedi Yunani, katastrof ditandai oleh ditemukannya jalan penyelesaian (resolusi) atas klimaks atau puncak konflik pada satu sisi dan pada sisi lain lazimnya ditandai oleh matinya tokoh utama secara tragis dan atau traumatis sebagai bagian akhir cerita (yang merupakan puncak bencana dalam drama tragedi). Inilah yang disebut katastrofi atau denouement dalam struktur dramatik tragedi Yunani. Lihat saja lakon-lakon Sopochles, sang maestro drama-drama tragedi Yunani, semisal Oedipus Sang Raja, Oedipus di Colonus, dan Oedipus Berpulang, bahkan juga Antigone dan Electra: betapa tragis dan traumatisnya kematian sang tokoh utama Oedipus, bahkan jalan hidup Oedipus selain tokoh-tokoh lain terutama ratu Jocasta, Antigone, dan Eelectra. Struktur dramatik pentalogi tragedi masyhur tersebut sungguh-sungguh menyuguhkan rangkaian bencana dahsyat, mencekam, menegangkan, meremukkan, dan tragis yang harus dijalani dan dialami oleh Oedipus (selain Jocasta, Antigone, dan Electra, bahkan warga kerajaan Thebes) dengan akhir kematian Oedipus yang teramat menyesakkan dada dan traumatis. Namun, seiring dengan itu, kemudian kehidupan warga Thebes mengalami katarsis, yaitu sebuah pencucian diri yang membuahkan pembaharuan ruhaniah dan pelepasan diri dari ketegangan tak tertanggungkan.

2.       Sesudah itu, dengan makna relatif sejajar atau paralel, istilah atau makna katastrofi tersebut dipakai untuk menyebut bermacam-macam bencana mahadahsyat atau malapetaka tak tertanggungkan dan tak terbahasakan yang menguncang tata atau keteraturan alam semesta, bumi, ekologi, dan atau kebudayaan manusia. Misalnya, sekarang sudah makin lazim digunakan istilah katastrofi geologis (lihat buku The Archeological of Geological Catastrophes suntingan W.J. McGuire, D. R. Griffiths, P. L.  Hancock, dan I. S. Stewart, 2000, Geological Society, London), katastrofi kosmis (lihat buku Cosmic Catastrophes karya Clark C Chapman dan David Morrison, 1989, Springer; dan Cosmic Catastrophes: Exploding Stars, Black Holes and Mapping of Universe karya J. Craig Wheeler, 2007, Cambridge University Press), katastrofi alam [tsunami atau badai Tornado] (lihat buku Catastrophes!: Earthquakes, Tsunamis, Tornadoes, and Other Earth Shattering Disasters karya Donald R. Prothero, 2011, John Hopkins University Press, Baltimore), katastrofi lingkungan (lihat buku Encyclopedia of Disarters: Enviromental Catastrophes and Human Tragedies, 2008, Greenwood Press, London), katastrofi nuklir (lihat buku Crisis without End: The Medical and Ecological Consequences of the Fukushima Nuclear Catastrophe karya Helen Caldicott, 2014, The New Press, London), katastrofi iklim (lihat buku Surviving Climate Change: The Struggle to Avert Global Catastrophe suntingan David Cromwell dan Marx Levene, 2007, Pluto Press, London), katastrofi manusia [genosida] (lihat buku Great Catastrophe: Armenians and Turk in the Shadow of Genocide karya Thomas De Waal, 2015, Oxford University Press), dan katastrofi ekonomi dan finansial.

Pelbagai istilah frasal tersebut menggambarkan malapetaka atau bencana mahadahsyat yang berdaya merusak, menghancurkan, meruntuhkan, dan atau memunahkan. Bidang ilmu geologi, astronomi, klimatologi, dan ilmu lingkungan sekarang paling serius memakai istilah atau makna katastofi untuk menyebut bermacam-macam malapetaka atau bencana kosmis, galaksi, bumi, dan lingkungan yang luar biasa dahsyat yang mengakibatkan guncangnya atau rusaknya tata atau keteraturan kosmis, alam semesta, bumi, dan atau lingkungan; menciptakan ketidaksetimbangan, ketakselarasan atau kekacauan, bahkan berdampak menghancurkan, meruntuhkan, dan atau memunahkan tata-semesta (kosmologi), tata-bumi, tata-lingkungan, tata-sosial, dan bahkan tata-kebudayaan. Mungkin dalam imajinasi kita, sebuah katastrofi geologi, katastrofi bumi, dan katastrofi ekologis-lingkungan seperti perang Baratayudha: bukan hanya menghancurkan semesta, tetapi juga membinasakan kehidupan semua makhluk di bumi.

3.      Temuan-temuan kajian bidang geologi, astronomi, ekologi, arkeologi, mitologi, naratif, dan bahkan juga sejarah kebudayaan dan peradaban yang semakin banyak telah menggambarkan atau menginformasikan malapetaka luar biasa atau bencana kosmis-ekologis-lingkungan mahadahsyat yang sudah berkali-kali terjadi dan berlangsung sepanjang sejarah (umur) alam semesta khususnya bumi (lihat informasi dalam buku-buku yang sudah disebut di atas). Secara ringkas hal tersebut dapat disebut katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan. Hal tersebut sudah beratus-ratus kali terjadi dan berlangsung dengan tingkat atau skala kedahsyatan dan kerusakan berbeda-beda dalam sepanjang umur jagat raya yang sudah jutaan tahun; dan terbukti jagat raya atau bumi kita tidak hancur lebur dan luluh lantak untuk kemudian berakhir (kiamat) begitu saja, melainkan memulai kembali dan memperbaharui diri secara evolutif-kreatif-inovatif

Buku The Upside of Down: Catastrophe, Creativity, and the Renewal of Civilazation karya Thomas Homer-Dixon (2006, Island Press, Washington0) dan buku Encyclopedia of Disarters: Enviromental Catastrophes and Human Tragedies (2008, Greenwood Press, London) memberikan ilustrasi bagaimana katastrofi merusak, menghancurkan, dan atau meruntuhkan bagian-bagian tertentu dari alam semesta (planet), bumi, dan ekologi-lingkungan sekaligus memunahkan atau membinasakan manusia beserta kebudayaan dan peradabannya untuk kemudian menumbuhkan diri, memperbaharui diri, dan membangkitkan diri kembali. Setelah mengalami katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan, sudah tentu pertumbuhan kembali dan pembaharuan diri (bagian-bagian tertentu) jagat raya atau bumi memakan waktu lama pada satu sisi dan pada sisi lain juga berbeda-beda (tidak sama) dalam rentangan umur jagat raya atau bumi. Hal tersebut tampaknya merupakan perintah historis kehidupan alam semesta, bumi, dan lingkungan pada satu sisi dan pada sisi lain merupakan perintah historis kemanusiaan, kebudayaan, dan peradaban.

4.  Berbagai informasi geologis, astronomis, ekologis, arkeologis, historis-kultural, mitologis, dan atau naratif memperlihatkan bahwa katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan telah menimbulkan rangkaian tragedi kosmis-ekologis-lingkungan (sekaligus rangkaian trategi kemanusiaan). Seperti rangkaian tragedi lakon drama Yunani yang bersifat siklis, rangkaian tragedi kosmis-ekologis-lingkungan tersebut berlangsung secara siklis, yaitu sebuah kejadian berangkai-ulang (simak buku The Cycle of Cosmic Catastrophe karya Richard Firestone, Allen West, and Simon Warwick-Smith, 2006, Bear and Company, Vermont). Disebut demikian karena dalam sepanjang umur alam semesta terutama galaksi dan bumi (yang sudah terentang jutaan tahun) sudah pernah terjadi berbagai macam malapetaka atau bencana kosmis-ekologis-lingkungan mahadahsyat tak tertanggungkan dan tak terbahasakan yang bukan hanya membuat (a) kolapsnya dan luluh lantaknya bagian-bagian alam semesta, bumi, ekologi, dan lingkungan, melainkan juga (b) kolapsnya dan musnahnya beratus-ratus kebudayaan dan peradaban di pelbagai penjuru dunia atau bumi; dan bahkan (c) punahnya pelbagai golongan manusia (bisa ras, etnis, dan lain-lain) yang menghuni muka bumi atau malah umat manusia pada umumnya.

Tiga hal tersebut senantiasa bertali-temali sehingga katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tidak melulu menempuh jalan tunggal (singularitas) pada satu sisi dan pada sisi lain selalu menimbulkan dampak multi-wajah, multi-arah, dan multi-sektor yang saling berkaitan erat [terutama antara alam semesta (bumi), kebudayaan, dan umat manusia]. Sekadar contoh, katastrofi supervulkano gunung Toba tua (74.000 tahun lalu) bukan hanya meruntuhkan atau merusak tata alam semesta, melainkan (secara serempak) juga menghancurkan atau memunahkan kebudayaan dan manusia di berbagai belahan dunia. Demikian juga, sekadar contoh yang dekat dengan kita, katastrofi letusan vulkanik Gunung Tambora (1815 M) bukan hanya menguncangkan keteraturan tata-alam secara global, melainkan juga telah membinasakan atau memunahkan manusia dan kebudayaan di sekitarnya (terutama manusia dan kebudayaan Bima/Mbojo, bahkan juga pertambangan-purba emas di sekitar wilayah Batu Hijau yang sekarang menjadi Newmont-Sumbawa).

Selain daya dan kemampuan alam semesta terutama bumi  ‘menyembuhkan diri sendiri’ secara alamiah-organik, daya dan kemampuan manusia [terutama adaptabilitas, agilitas, imajinasi, dan kreativis-inovasi manusia] yang tersisa dalam katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tersebut akan sangat menentukan munculnya, tumbuhnya, bangkitnya, dan atau berkembangnya kebudayaan dan peradaban baru sesudah terjadinya tragedi kosmis-ekologis-lingkungan. Di sinilah kita dapat menyaksikan siklus hancur-bangkitnya dan punah-tumbuhnya umat manusia atau golongan manusia beserta kebudayaan dan peradabannya. Dengan cukup gamblang hal tersebut sudah dipaparkan dalam buku The Upside of Down: Catastrophe, Creativity, and the Renewal of Civilazation karya Thomas Homer-Dixon (2006, Island Press, Washington) dan buku Encyclopedia of Disarters: Enviromental Catastrophes and Human Tragedies (2008, Greenwood Press, London). Kedua buku tersebut secara analitis telah memaparkan betapa tiap-tiap katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan atau bencana mahadahsyat senantiasa mengakibatkan tragedi kebudayaan dan manusia pada satu sisi dan pada sisi lain kreativitas-inovasi manusia yang masih tersisa (tak ikut punah) menentukan pembaharuan, pertumbuhan, dan perkembangan kebudayaan dan peradaban baru.

Di samping itu, dalam tiga bukunya yang sangat impresif, yaitu Guns, Germs, and Steel (2013), Collapse (2014), dan The World until Yesterday (2015), Jared Diamond telah mengisahkan secara mengesankan perkara jatuh-bangunnya dan punah-tumbuhnya beratus-ratus kebudayaan dan peradaban di bumi karena katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan pada satu sisi dan pada sisi lain daya dan kemampuan manusia membangun, membangkitkan, (dan kemudian memajukan kembali) kebudayaan dan peradabannya melalui pelbagai revivalisasi, revitalisasi, atavisasi, rejuvinasi, dan kreasi-inovasi kebudayaan dan peradaban. Temuan Jared Diamond dalam Collapse (2014) memperlihatkan bahwa lima faktor yang lazim meruntuhkan atau menumbangkan kebudayaan dan peradaban adalah (a) kerusakan alam dan lingkungan, (b) perubahan iklim bumi, (c) pengaruh peradaban musuh, (d) pengaruh peradaban sahabat, dan (e) yang terpenting tanggapan masyarakat terhadap masalah alam semesta dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa siklus tragedi katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan selalu berkorespondensi dengan tragedi manusia sekaligus tragedi kebudayaan dan peradaban di samping selalu diikuti oleh transformasi alam semesta (bumi, ekologi, lingkungan, dan lain-lain) sekaligus transformasi manusia beserta kebudayaan dan peradabannya. Di sini seperti terbentuk dialektika antara penghancuran dan pembaharuan, perusakan dan pemulihan, pemusnahan dan pertumbuhkembangan bagian-bagian tertentu dari alam semesta, bumi, dan lingkungan sekaligus manusia beserta kebudayaan dan peradabannya.

5. Sejalan dengan itu, dapat dikatakan di sini bahwa katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tidak pernah berlangsung singular, linier, dan mengikuti hukum kausalitas tunggal; melainkan berlangsung secara sirkular-siklis dan multi-kausalitas. Hukum linieritas, singularitas, dan kausalitas-tunggal tampaknya tidak berlaku dalam punah-tumbuhnya dan runtuh-bangkitnya kebudayaan dan peradaban yang ada di sepanjang sejarah bumi dalam kaitannya dengan katastrofi kosmis-ekologis. Sejarah kebudayaan dan peradaban manusia tidak pernah lurus dan tunggal maju ke depan (linier, singular, dan progresif); tetapi justru selalu penuh tikungan tajam (linguistic turn) dan bahkan terpatah-patah (diskontinu) dan menyebar secara acak (multipolar, multiversal).

Dalam sepanjang kehidupan bumi kita dapat menemukan tikungan-tikungan dan patahan-patahan sejarah kebudayaan-kebudayaan dan peradaban-peradaban besar-ternama yang dikenal oleh manusia (diskontinuitas kebudayaan dan peradaban sekaligus multipolaritas—multiversalitas siklus kebudayaan dan peradaban). Demikianlah, sekadar contoh, kita bisa menemukan tikungan tajam dan patahan sejarah kebudayaan dan peradaban di Sumeria, Persia, Yunani, Cina, Timur Tengah, Eropa, Amerika Latin (Aztec, Maya), dan lain-lain. Tikungan tajam dan patahan-patahan sejarah kebudayaan dan peradaban tersebut senantiasa meninggalkan puncak-puncak pencapaian kebudayaan dan peradaban, yang sekarang lazim kita kemodernan (modernitas). Hal ini mengimplikasikan bahwa masing-masing kebudayaan dan peradaban di bumi, sebelum tumbang-tumpas dihempas katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan, selalu memiliki kemodernan (modernitas) masing-masing, yang bisa mirip, bisa pula berbeda. Oleh karena itu, dalam sepanjang umur kehidupan alam semesta (bumi), sesungguhnya dapat kita temukan pelbagai kemodernan kebudayaan dan peradaban (modernitas) sehingga di bumi terdapat multi-modernitas (bukan mono-modernitas), trans-modernitas, multi-versalitas (bukan uni-versalitas) dan transversalitas.

Implikasinya, dalam sepanjang umur jagat raya ada beragam atau bermacam-macam modernitas baik secara historis-geologis maupun geokultural. Di sinilah kita bisa mengatakan ada modernitas Sumeria (Babylonia), modernitas Aztec, modernitas India Kuno, modernitas Cina Kuno, modernitas Yunani Kuno, modernitas Abbasiyah, dan lain-lain. Modernitas-modernitas pada masa lampau tersebut dapat disebut sebagai paleomodernitas [paleomodernity] (saya meminjam istilah dari John David Ebert, The Age of Catastrophe, 2012, hlm. 17), sedangkan modernitas-modernitas pada masa sekarang yang bertebaran di pelbagai penjuru bumi (yang tumbuh dan berkembangnya sesudah katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tertentu) dapat disebut sebagai transmodernitas [transmodernity] (saya pinjang istilah dari Enrique Dussel dan Maria Rosa Rodriques).

Sudah barang tentu modernitas kebudayaan dan peradaban yang dimaksud tidak sama dengan modernitas dalam pengertian-pemahaman kita sekarang (yang sangat bercorak eurosentris-kontinental, singular, linier, dan posivistis), tetapi masing-masing kebudayaan dan peradaban yang dimaksud dapat disebut modern. Tantangan dan tugas para ahli dan peneliti berbagai bidang ilmu (di sini geologi, astronomi, arkeologi, ilmu sejarah, antropologi, sosiologi, dan lain-lain) untuk menggali dan merumuskan sosok atau karakteristik modernitas-modernitas yang pernah ada di bumi kita. Di sinilah kita perlu membangun ilmu-ilmu baru (hybrid science) karena bidang ilmu lama yang sangat disipliner dan partikular tidak akan sanggup merumuskan secara komprehensif corak-corak modernitas di berbagai zaman dan tempat (tak heran Gayatri Spivak menulis buku The Death of Disciplines).

6. Berhubung kehidupan di bumi ini mustahil bermula dari creatio ex nihilo, ada kemungkinan besar bangkit-tumbuh-kembangnya kebudayaan dan peradaban tertentu setelah katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan didasarkan atas tapak-tapak atau tilas-tilas kebudayaan dan peradaban modern yang pernah ada sebelumnya di samping didasarkan atas kreasi-inovasi baru umat manusia. Di sinilah modernitas (puncak pencapaian) pelbagai kebudayaan dan peradaban yang pernah ada di bumi saling memberi kontribusi bagi kebudayaan dan peradaban bumi. Saling bergantung, saling pengaruh, silang budaya, dan saling menyerbuki (fertilisasi budaya) kebudayaan dan peradaban dalam rangka revitalisasi, rejuvinasi, atavisasi, revivalisasi, dan atau transformasi kebudayaan dan perabahan merupakan hal lumrah dan tak terelakkan dalam sejarah. Tidak ada kemurnian dan keaslian kebudayaan dan perabadan modern di pelbagai penjuru bumi. Meminjam konsep Jaques Derrida, semua modernitas kebudayaan dan peradaban selalu saling berkontaminasi sehingga tidak perlu dipulangkan kepada kemurnian dan keaslian. Jika ditelaah secara cermat, serat-serat atau sedimentasi-sedimentasi pelbagai kebudayaan dan peradaban tertentu dapat menginformasikan bahan-bahan “bangunan” kebudayan dan peradaban yang berkonstribusi membentuknya.

Saling-memberi, saling-menumbuhkan, dan saling-mewariskan itulah yang memungkinkan bangkit dan berkembangnya suatu kebudayaan dan peradaban setalah dilanda tragedi kosmis-ekologis-lingkungan. Di sinilah umat manusia tidak layak jumawa, angkuh, dan congkah, melainkan harus rendah hati dan saling-menghormati dan saling-menghargai. Untuk itu, pandangan-pandangan dan pikiran-pikiran yang condong merasa paling benar atau benar-sendiri harus ditolak. Kita harus menumbuhkan pikiran dan pandangan saling mengakui, saling menghormati, dan saling menghargai demi kelangsungan kehidupan di bumi agar tragedi kosmis-ekologis-lingkungan tidak memusnahkan umat manusia pada masa depan. Berani?

*Guru Besar Universitas Negeri Malang dan Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Malang