Oleh: Denny Mizhar*

 

Aku tak merasa bersalah berniat mengikat semua tangan di bumi, demi impianku untuk menulis puisi.” (Celoteh Kaki, Rose Widianingsih)

 

1

Kutipan di atas berasal dari Suara Sunyi, buku Rose Widianingsih hasil kurasi Malkan Junaidi, penyair asal Blitar penulis antologi puisi Lidah Bulan. Mungkin tak banyak yang mengenal nama Rose Widianingsih, namun melihat frekuensi posting dan jumlah postingan di blog pribadinya, www.suarasunyi.blogspot.com, sangat sulit untuk tak mengakui betapa perempuan ini memang sangat produktif. Dari ratusan tulisan di blog tersebut, juga dari yang konon dikirim lewat email, Malkan memilih 72 judul saja, semua berbentuk puisi prosa, lalu dengan bantuan finansial dari beberapa teman menerbitkannya melalui Indie Book Corner.

Saya bermaksud menjadikan penggalan puisi ini pintu masuk karya-karya Rose Widianingsih yang lain, juga untuk secara spesifik mengetahui posisi puisi baginya. Bisa saya katakan, untuk sementara: bagi Sarjana Hukum Universitas Brawijaya Malang yang memilih berprofesi sebagai pengelola sebuah toko jamu tradisional di Pasuruan ini, menulis puisi adalah sebuah impian untuk menggumamkan hasrat yang terpendam. Rose, seperti tergambar dalam kutipan itu, bersedia mengikat tangannya di bumi demi menulis puisi, dan itu bukan sebuah kesalahan menurutnya, melainkan justru sebuah kesadaran.

 

Aku akan memotong hari ini, memendekkan jarak antara rumah dan pusat kota. Menyerah pada kegelisahan di sepanjang jalan, duduk  bersama keranjang-keranjang buah srikaya, nanas dan pepaya, mendengar kisah mereka tentang kebun dan burung-burung. Tuhan lalu-lalang dalam rahang-rahang yang berbeda, entah mana yang sebenarnya tuhan yang penyayang. Aku mencari tumit paling bersinar, kepadanya ingin kuserahkan semua kesia-siaan panjang yang menindih dadaku. Cinta berserakan di setiap langkah, tak terbaca.

(Sandal, Rose Widianingsih)

 

Rose Widianingsih mengadopsi objek-objek di sekitarnya untuk membangun struktur puisinya. Sandal misalnya. Bagi Rose, objek remeh macam itu bisa melampaui fungsi praktis dan kultural yang sehari-hari dibebankan padanya, misalnya melindungi telapak kaki dari kotoran dan benda-benda tajam, juga dalam situasi tertentu untuk menjaga kesopanan. Sandal menyimpan catatan historis yang khas tentang sebuah proses pencarian. Rose secara intens mendeskripsikan perjalanan sandal tersebut, apa yang mungkin dilihat, dipikirkan, dan diinginkannya. Deskripsi Rose bukan deskripsi lugas dan umum mengenai objek bernama sandal. Ini selaras dengan yang dikatakan Roman Jakobson (Terry Eagleton, 2006), bahwa sastra adalah jenis tulisan yang menyajikan ‘tindak kekerasan teratur terhadap ujaran biasa.’ Sastra mentransformasi dan mengintensifkan bahasa biasa, menyimpangkan bahasa secara sistematis dari ujaran sehari-hari. Juga merefleksikan pandangan Sapardi Djoko Damono (2012): pada pengalaman sehari-hari saja jika kita renungi akan kita temukan hal yang menarik dan kadang pelik, apalagi dalam masalah besar dan kompleks.

 

2

Tidak ada puisi dalam buku Suara Sunyi yang berjudul serupa dengan judul buku ini. Suara Sunyi agaknya adalah metafora dari keutuhan buku tersebut. Judul ini mengingatkan pada Nyanyi Sunyi, kumpulan puisi Amir Hamzah. Ada kemiripan antara Suara dan Nyanyi, keduanya sama-sama disandingkan dengan Sunyi. Tetapi Nyanyi dan Suara memiliki perbedaan makna yang signifikan. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko, 2006) Suara berarti bunyi, berbicara, perkataan, ucapan. Nyanyi berarti berdendang, berlagu, bersenandung. Sunyi memiliki arti hening, senyap, sepi, tenangSuara bisa jadi tak beraturan, sedang Nyanyi umumnya teratur. Keadaan sosial dan lingkungan alam yang berbeda pun ternyata berpengaruh pada bentuk pengucapan. Amir Hamzah, yang hidup di era sebelum kemerdekaan di mana belum banyak ruang tersentuh pembangunan dan modernisasi, bangunan puisinya cenderung naturalis dan romantis. Sementara Rose Widianingsih, yang hidup di era pembanguan dan modernisasi, menghasilkan puisi-puisi yang kental dengan nuansa urban. Puisi-puisi Amir Hamzah menjaga rima dan nada kata dalam setiap susunan baitnya. Sedang puisi-puisi Rose Widianingsih cenderung menghadirkan sunyi yang riuh, yaitu sunyi di mana bunyi-bunyi mencari celah untuk menemukan makna mereka.

 

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas payah terik.

(Doa, Amir Hamzah)

 

Kita selalu boleh bertemu, duduk bersama di bangku-bangku taman yang hilang, di bawah lampu yang melongok ingin tahu, kenapa kita tampak begitu bahagia.

(Di Bangku Taman-Taman yang Hilang, Rose Widianingsih)

 

Kemiripan dua penyair beda generasi ini adalah pada ekspresinya yang tidak meledak-ledak. Keduanya tampak merupakan ahli puisi kamar, yaitu puisi yang lahir dari kontemplasi, narasi tentang relasi intens diri dengan sesuatu di luarnya (the other), yang dipresentasikan dalam jalinan diksi feminin; lirih dan lembut. Meski demikian saya mencatat Rose Widianingsih, tidak sebagaimana banyak penyair perempuan kontemporer, mampu keluar dari metafora-metafora beku dan klise. Bahkan reproduksi semantis dan pengasingan bahasa yang dilakukannya tergolong anomali.

 

Nama lain yang relevan disebut terkait isu kemiripan antar-karya adalah Sapardi Djoko Damono. Bandingkan dua puisi berikut.

 

Kota kami telah menyaksikan gedung-gedung dan pabrik- 

pabrik dibangun sampai tumpah-ruah keluar dari pinggir-

pinggirnya.

 

Dulu, kata dongeng itu, pernah ada sebuah danau agak di

pinggirnya tapi ia tidak ingat lagi kapan suasana yang mungkin

bisa menentramkan hati itu tak lagi ada.

 

Kota kami sudah mulai tua dan (Kau ini ada-ada saja!)

kawatir kalau bintik-bintik di seluruh permukaan kulitnya

itu semakin meluas sehingga tidak ada lagi burung yang suka

singgah padanya

(Kota Kami, Sapardi Djoko Damono).

 

Kota ini adalah tempat yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Mungkin pula sesungguhnya aku tak ingin menjelaskannya. Karena aku dan kota ini selalu bersama tanpa saling mencinta. Aku ingin meninggalkannya, dan kota tak bisa berpindah. Itulah nyatanya.

 

Aku selalu merasa seperti lumba-lumba yang terperangkap di gurun pasir, parahnya pula, tidak mati. Aku berani memastikan tak ada yang lebih sengsara dibanding menghabiskan waktu di tempat yang tak tepat.

 

Tapi sudahlah. Keluhan hanya lahan tandus yang akan menumbuhkan semak berduri, melukai kaki.

(Aku dan Kota Ini, Rose Widianingsih)

 

Keduanya sama-sama membicarakan kota. Bedanya Sapardi Djoko Damono menarasikan dengan sikap pasif perjumpaan dengan ruang bernama kota, bernostalgia melalui sebuah dongeng mengenai keadaan di masa lampau, lantas mengajukan kekhawatiran akan kemungkinan yang akan terjadi jika tak ada yang bertindak atas kondisi yang ada. Kota kami sudah mulai tua dan (Kau ini ada-ada saja!) // kawatir kalau bintik-bintik di seluruh permukaan kulitnya // itu semakin meluas sehingga tidak ada lagi burung yang suka // singgah padanya. Sedangkan Rose Widianingsih, walau pada intinya menyatakan ketidakberdayaan untuk mengubah keadaan, namun kemudian menutup narasinya dengan kepasrahan yang penuh kesadaran untuk menerima situasi-situasi tak romantis yang melingkupinya. Tapi sudahlah. Keluhan hanya lahan tandus yang akan menumbuhkan semak berduri, melukai kaki.

Selain itu, perbedaan ruang dan waktu agaknya menentukan ragam hasil eksekusi. Rose Widianingsih yang hidup dan tinggal dalam dunia modern menghasilkan puisi-puisi yang terasa nuansa keterasingan di dalamnya.

 

Dalam kamar mandiku selalu ada yang bernyanyi. Suaranya jernih, meski lagunya tak kumengerti. Nadanya sejuk, membuat siang jadi teduh. Saat hari buruk, suara itu serupa lolongan binatang buas. Entah kelaparan atau kesepian. Ketika aku mandi nyanyian itu tak juga berhenti. Aku mencoba mendengar apa yang diinginkannya, namun sia-sia. Seperti sebuah rahasia yang dimeterai mantra suci, seperti lenguhan hewan di rumah potong; nyanyian itu setia menggema tanpa makna.


Airkah yang bernyanyi, gayung, sabun, atau gantungan baju? Tak ada yang mengaku, pun tak ada petunjuk. Hingga suatu hari nyanyian itu berhenti, tak ada penjelasan, tak ada jejak. Aku jadi tak bisa bertanya-tanya lagi, hanya tersisa gelisah dan basah. Bahkan api tak mampu mengeringkan air mata. Dan kau jadi tahu; bisa saja kehilangan sesuatu yang tak pernah dimengerti, kehilangan masa lalu dan hari esok, kehilangan wangi busa sabun di tubuhku, kehilangan usapan tangan
Ibu di keningku. Tak ada yang istimewa, hanya sesuatu yang biasa, seperti siulan air mendidih, aku hanya merasa mataku sedikit dahaga.

(Nyanyian Kamar Mandi, Rose Widianingsih)

 

Kamar mandi yang secara umum merupakan sesuatu yang akrab dengan manusia, menjadi asing karena adanya suara nyanyian dari entah apa atau siapa di dalamnya.  Ini mengingatkan pada apa yang diungkapkan Erich Fromm (Martinur, 2005)  bahwa modernitas akan menjadikan manusia teralienasi dari dirinya sendiri, sesama, masyarakat dan produk ciptaan mereka.

 

Adapun dari segi pemilihan kata, saya menduga Rose Widianingsih pernah mampir ke sajak-sajak Afrizal Malna. Ini terlihat dari diksi yang kerap digunakan: kamar mandi (puisi Nyanyian Kamar Mandi, Rumah Tubuhku, dan Sandal dan Air Seni), api (puisi Kisah Angin dan Makhluk Tak Bernama), dan tubuh (puisi Perempuan yang Melukis Kekasihnya, Celoteh Kaki, dan Kotak Pos Tua), diksi yang sama yang juga kerap digunakan Afrizal.

 

Dalam rumah juga ada sebuah meja sedang melukis wajah-wajah penuh tanda tanya. Tubuhku masih utuh, masih seperti sebuah rumah dan akan selalu begitu. Buku-buku berjatuhan dari atapnya, mengusir sepatu-sepatu dari rak di dekat jendela, lalu bersandar di ambang jendela, menunggu malam mengisahkan keraguan. Tapi tubuhku masih terus mencoba membangun altar dari doadoa dan asap dupa.

(Rumah Tubuhku, Rose Widianingsih)

 

Sepatu di kakiku, pemberianmu. Jam di tanganku, pemberianmu. Kaos oblong, jaket, celana di tubuhku, pemberianmu. Selimut, kalung di leherku, pemberianmu. Tas yang aku pakai, pemberianmu. Aku telah menerima kasih sayang langit dan pohon-pohon hijau. Tapi aku tak pernah memberikan apa-apa lagi pada diriku. Lalu sepi mulai duduk di sampingku, ia memakai pakaian, jam tangan, dan sepatuku juga. Wajahnya mirip dengan wajahku. Lalu sepi mulai ikut tidur bersamaku. Ia bertanya, kemana aku menyembunyikan diriku sendiri. Aku bilang, ia aku sembunyikan di balik punggungmu. Lalu sepi mengambil bantalku. Semuanya, segalanya, perlahan-lahan merembes ke dasar lantai kamar. Dinding kamar bertambah lembab seperti suara baling-baling kipas angin. Titik-titik air membayang di tembok. Catnya mengelupas. Aku seperti sudah tertidur dalam cermin berair. O, jiwa, aku ingin mengenalmu. Datanglah, pulanglah walau kepalamu penuh dengan api. Walau tanganmu penuh dengan pecahan kaca. Jam 7 pagi nanti, nanti, aku akan mandi. Mesin pompa telah berdesing bising mengisi bak mandi. Jam 7 pagi nanti, nanti, kau akan temukan kesetan yang basah di depan pintu kamar mandi. Pintu kamar mandi yang berwarna putih. Putih. Putih. Putih.

(Pintu Kamar Mandi Berwarna Putih, Afrizal malna)

 

3

Kebanyakan bentuk puisi Rose Widianingsih adalah puisi prosa, yaitu (mengutip dari Wikipedia) poetry written in prose instead of using verse but preserving poetic qualities such as heightened imagery, parataxis and emotional effects. Yakni puisi yang alih-alih menggunakan bait, ditulis dalam bentuk prosa, tetapi dengan tetap menjaga kualitas puitis seperti tamsil yang ditinggikan, parataksis, dan efek-efek emosional. Raflesia Arnoldii salah satu contoh.  Puisi terpanjang di buku ini yang berkisah tentang seorang Ayah yang memiliki kegemaran menanam bunga. Di mana pun ia menanam bunga, termasuk di tubuh anak-anaknya. Salah satu anaknya, aku lirik, tubuhnya ditanami bunga pula, namun bukan bunga yang lazim, bunga yang indah warna dan harum baunya, melainkan bunga yang warna dan baunya tak menarik. Hal yang ironisnya dianggap sebagai aib oleh sang ayah, sebagai kegagalan yang memalukan dari pekerjaannya, dan menyebabkan keputusan ekstrem pengusiran aku lirik. Walau awalnya terpukul dan sedih tak terkira, namun setelah mendapati dirinya seiring waktu tumbuh jadi bunga yang eksentrik, aku lirik akhirnya malah merasa bangga, gembira bahwa yang menanam bunga di tubuhnya adalah Ayahnya, dan itu ia ceritakan pada semua yang terkagum-kagum melihatnya. Inilah puisi prosa. Ada kelonggaran naratif sekaligus intensitas dalam mengelola makna bunga Raflesia Arnoldii. Kebermaknaan kita temui bukan pada akrobat metafora, melainkan dalam keutuhan puisi tersebut, dalam produksi kreatif tamsil Raflesia Arnoldii. Ada pelajaran dari bangunan alegorisnya, yaitu sesuatu menjadi bermakna saat orang memberikan cara pandang yang berbeda, bunga rafflesia menjadi bernilai ketika kategori ‘bernilai’ diperluas dari sekedar berwarna indah dan berbau harum menjadi yang bentuknya megah dan tak ada yang menandingi.

 

4

Suara Sunyi adalah keheningan yang menukik ke dalam, kesibukan memungut teks-teks yang ada di sekitar, lantas mengonstruksinya menjadi gumaman panjang. Suara Sunyi adalah pembenturan aku lirik dengan kenyataan umum, usaha keras dalam proses memahami aku yang lain (the other). Kesalahan Yang Sempurna merupakan refleksi dari usaha dan proses ini. Mengisahkan cahaya yang jatuh cinta pada bumi, namun merasa seluruh usaha merebut perhatian bumi tersebut sia-sia. Dalam keputusasaannya ia bertemu para penanam padi. Mereka menyarankannya untuk tinggal selama semusim saja agar mengetahui bahwa bumi peduli pada setiap usaha, bahwa orang hanya harus bersabar untuk sementara waktu untuk membuktikan hal itu. Namun, mengingatkan pada kisah legendaris umat nabi Musa yang seolah tak pernah puas dengan segala jawaban ketika bertanya, cahaya itu mengutuk para penanam padi tadi, membunuh mereka dan bersumpah bersedia menjadi ular, makhluk paling hina, tanpa kaki, tanpa tangan, tak bisa terbang, kehilangan cahaya, jika dan hanya jika apa yang mereka katakan itu benar. Akhirnya apa yang diinginkan terkabul. Cahaya itu menjadi sosok ular, selalu dikejar-kejar oleh bangsa manusia, dan satu-satunya yang memberikannya suaka adalah bumi, sosok yang dulu ia pikir mengabaikan cintanya. Ia bahagia dalam wujudnya yang baru. Sebuah kebahagiaan yang sunyi karena is sendirilah dan bumi yang dapat memahaminya.

 

5

Setiap karya punya alamatnya masing-masing, ke mana akan berumah dan ditemukan maknanya. Begitu pun Rose Widianingsih, sosok yang cenderung menghindar dari keriuhan dunia literer, walau beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa koran lokal dan nasional, adalah penyair yang menurut saya matang dan dalam peta kepenyairan Jawa Timur menyumbangkan warna yang khas. Sebagai penutup saya hadirkan saya hadirkan bait terakhir dari puisi Aku Belum Membacamu.

 

Penaku terjatuh di pangkuanmu, juga semua kata yang diucapkan air mata.

 

 

 

Daftar Pustaka

Damono,  Sapardi Djoko, “Kolam” Editum, 2009 Ciputat

Eagleton, Terry “ Teori Sastra; sebuah pengantar konprehensip

Endarmoko, Eko, “ Tesaurus Bahasa Indonesi

Hamzah, Amir, “Nyanyi Sunyi” Dian Rakyat, 2008 Jakarta

Jurnal Kritik “Teori dan Kjian Sastra”, Nomer 3 Tahun 2012 Jakarta

Malna, Afrizal, “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”, 2002 Jogjakarta

Satya, Widodo Martinus, “Cinta dan Keterasingan Dalam Masyarakat Modern: Kritik Erich Fromm terhadap Kapitalisme”, Narasi, 2015

Widianingsih, Rose, “Suara Sunyi” Indie Book Corne, 2014 Yokyakarta

 

*Pegiat Komunitas Pelangi Sastra Malang