Karya : Felix K. Nesi*

 

Tiap kali selesai membaca tulisannya, saya ingin membuat sebuah karya yang membuat saya lebih terkenal lagi. Oh, saya memang sudah terkenal. Sudah pernah diberi penghargan oleh bapak presiden sebagai penulis berbakat. Sudah dua kali memenangkan sayembara menulis tingkat nasional. Tapi berhadapan dengan tulisannya, saya selalu merasa kecil.

“Itu sirik. Sirik itu dosa.”

Saya benci tatapan penghakiman, apalagi hanya dari dalam cermin. Dan saya tidak sirik. Kami berteman – walau tidak begitu baik – dan lewat media sosial kami sering berbagi kisah. Tentang anjing yang mati atau istri yang matre. Bahkan ketika ia memboyong keluarganya ke Malang – demi mendapatkan kota yang lebih sejuk dan tenang untuk menulis – ia mengabarkan.

“Tapi bagaimana kamu bisa lebih terkenal lagi kalau orang seperti dia masih ada?”

“Bagaimana orang bisa memuja kamu kalau dia masih ada?”

Saya sering diganggu pikiran untuk menghilangkan saja orang itu. Tapi kau tahu, membunuh orang yang kita benci selalu hanya dalam khayal.

Tapi suatu hari ia menghubungi saya dan itu membuat khayalan saya semakin mendekat. Ia menunjukkan foto sebuah buku tentang perjalanan kuliner seorang wartawan. Saya memang tak melihat ada yang menarik dari buku itu kecuali perut gendut si wartawan di gambar sampulnya. Wartawan kok gendut!

Saya bertanya kenapa.

“Kau tahu, di kota ini hanya ada dua toko buku. Yang satu lebih banyak menjual alat tulis kantor daripada buku bacaan. Yang satu lagi penuh buku-buku mainstream, novel teenlit, buku motivasi dan lain-lain. Yang beginian tak ada.”

Saya bilang itu yang akan saya lakukan jika saya mempunyai toko buku. Kuliner adalah tema yang mengabaikan perikemanusiaan dan tak layak dikonsumsi.

“Di buku itu, orang hanya mau pamer kalo dia punya duit yang banyak dan bisa beli ini-itu. Kasian ‘kan jutaan orang miskin negeri ini yang hanya bisa makan apa yang ada?”

“Bukan. Dia memamerkan kekayaan kuliner nusantara.”

“Itu hanya pembelaan diri dari judgment moral hati nurani.”

“Ah. Saya tak ingin berdebat.”

“Lalu?”

“Buku ini, teman lama yang nulis. Kamu tolong carikan buat saya. Nanti minggu depan, saya ada acara di Singapura. Nanti saya singgah ke kotamu.”

Mendengar kata ‘Singapura’ hati saya makin teriris. Gila penulis itu. Ngomong pergi ke Singapura kayak ngomong mau ke toilet.

“Loh, apa untungnya buat saya?”

“Saya bawakan ole-ole dari Malang. Mau keripik apel?”

“Mainstream. Saya gak kayak kamu: pencinta makanan!”

Ia tertawa.

“Ya sudah. Saya bawakan topeng malangan buat hiasan dinding.”

Saya luluh. Ia tahu yang saya mau. Selain itu, ia akan singgah: ia hanya sedang mendekatkan dirinya ke khayalan saya. Maka saya carikan buku itu sambil sesekali dengan agak ragu mencari tahu cara-cara membunuh.

Beda dengan cara membunuh, buku itu memang sangat sulit dicari. Tapi sama seperti cara membunuh, saya menemukannya. Khayalan saya semakin terang. Tak sampai seminggu kemudian, ia bilang mau datang.  Saya bilang, di tanggal begitu saya sangat sibuk.

“Wah, ayolah. Ketemu teman. Cuman sebentar.”

“Tapi sudah ada acara.”

Ia tak menyerah dan menyebut sederatan ole-ole lain lagi. Berarti takdir telah memutuskan bahwa rencana saya memang harus saya lakukan. Dan dalam keadaan tertentu, saya memang mudah dibeli. Saya batalkan acara saya memberi lokakarya penulisan di sebuah perguruan tinggi. Panitia acaranya memohon-mohon, tapi tetap saya batalkan.

“Ini sudah sebar undangan.”

Lho, ini juga sudah siap jika dipenjara. Si mahasiswa ini mungkin tak tahu bahwa Tetralogi Pulau Buru menjadi novel yang sangat berkelas karena ditulis di penjara pengasingan.

Sehari sebelum hari yang sudah ditentukan, si penulis menanyakan alamat rumah saya.

“Loh. Mau ke rumah? Rumah sangat ramai. Jangan ke rumah.”

“Kenapa?”

“Pokoknya ramai.”

Ia tak tahu bahwa saya tak ingin polisi menemukan mayat di rumah saya. Maka ia sebutkan satu nama kafe.

“Hotel saya di dekat situ.”

Saya setuju. Maka malam itu, saya siapkan apa yang ia inginkan. Saya juga siapkan apa yang saya inginkan.

Besoknya, saya sengaja datang lebih awal. Tempat itu lumayan berkelas, dan yang paling penting, tidak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah orang berduit yang tak masalah menghabiskan uang ratusan ribu hanya untuk ngemil. Saya cari letak kamera pengaman; saya duduk di tempat yang aman.

Sampai hampir sejam duduk di situ, ia tak juga berkabar. Saya hubungi teleponnya.

“Saya sedikit telat,” katanya. “Tapi Rio sudah di situ. Sudah ketemu?”

“Hah? Rio siapa?” saya mencari-cari.

Seorang yang sedari tadi beberapa kali berbicara dengan pelayan, berjalan ke arah saya dan menyalami saya. Saya tutup telepon. Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Rio si penulis muda yang juga akan berangkat ke Singapura. Saya pikir ia pelayan. Ia bercerita tentang bagaimana ia sangat mengidolakan saya sehingg butuh beberapa waktu lama untuk berdiri dari kejauhan dan memastikan bahwa itu saya. Saat itu saya tidak curiga apa-apa. Saya memikirkan kembali rencana saya yang kelihatannya akan jauh dari apa yang saya bayangkan.

Rio terus bercerita tentang bagaimana ia bangga bisa berjumpa dengan saya. Sesekali ia mengambil gambar saya. Keringat mengalir di dahi saya walau AC membuat udara menjadi dingin. Saya belum sempat memikirkan kemungkinan ada orang ketiga dalam pertemuan kami.

Rio yang melihat saya sibuk dengan pikiran saya sendiri menawarkan untuk minum. Saya tak berencana minum. Saya berencana membunuh.

“Pesan apa saja. Saya ikut.”

Ia pergi memesan dan saya masih mengatur ulang rencana. Beberapa saat kemudian ia kembali ke tempat duduk dan meletakkan dua gelas minuman untuk kami berdua. Saya masih menimbang segala kemungkinan dengan cermat. Ia bertanya ada apa.

“Ah, tidak ada apa-apa. Lama benar ya orang ini?”

Ia tersenyum.

Untuk menyamarkan kegelisahan, saya pura-pura mengambil minuman. Ia bercerita entah apa. Saya meneguk. Ia tiba-tiba diam dan menatap saya. Satu teguk. Dua teguk. Ia mendekatkan wajahnya ke arah saya.

“Maaf Pak Faisal. Maaf. Saya hanya disuruh.”

Wajahnya sedingin es. Saya mengerutkan kening saya. Saya berhenti minum.

“Apa ini?”

“Reaksinya cepat kok Pak. Bapak harus mati.”

Pembunuh macam apa yang mengaku? Sakit apa orang ini? Saya perhatikan minuman saya. Saya jilat-jilat bibir saya sendiri. Mencecap. Tak ada yang aneh.

“Kata Pak Wawan, kalau Bapak masih hidup, beliau akan susah berkembang.”

Hah? Sialan orang itu! Jadi masalah buku dan ke Singapura hanya kedok?

Saya mencecap lagi. Kok tak ada yang terasa aneh? Saya ingin bertanya namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dari sudut ruangan. Kami terkejut dan sama-sama menoleh. Seorang perempuan muda – yang belakangan menjadi fenomenal – telah terjatuh usai menyeruput kopinya. Seperti ikan; menggelepar.

 

Malang, 2016

 

*Mahasiswa Universitas Merdeka Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang. Buku kumpulan cerpennya “Usaha Membunuh Sepi” akan segara terbit.