Oleh: Djoko Saryono*

Kapankah sebuah kota ditahbiskan lahir dan perlu diperingati hari kelahirannya? Beda dengan manusia, yang mudah diterka karena semua insan sepakat menggunakan saat kehadiran seorang manusia di dunia, biologis semata, titi mangsa kelahiran sebuah kota gampang-gampang susah dipastikan lantaran sekian banyak hasrat, motif, dan kepentingan pelbagai manusia berebutan: ada yang kultural, historis, sosial, yuridis-administratif,  dan tentu politis. Tak ayal, kelahiran sebuah kota senantiasa di bawah bayang-bayang aneka mitologi kendati cuma punya satu kosmologi. Begitu juga kota kita, Kota Malang tercinta, yang sekarang, ya hari ini, dirayakan dan diupacarakan amat meriah kelahirannya. Konon hari ini kota kita, ya Kota Malang tercinta, menapak usia 102 tahun. Tentulah tapak waktu ini atas dasar penetapan Malang sebagai kota praja oleh kolonial Belanda.

Apakah hal tersebut menandakan kota kita, ya Kota Malang tercinta, berinduk mitologi kolonial Belanda? Tentu saja bisa disebut begitu. Mythopoesis – pembentukan mitos kota kita – memang terkesan bersandar pada kolonialisme. Tak heran, ada sekelompok warga melihat ‘tempo doeloe’ Kota Malang sebatas masa kolonial Belanda. Lalu nama-nama jalan yang ada di Kota Malang diberi nama ‘tempo doeloe’nya pada masa kolonial: Jalan Retawu diberi sisipan Retawu Weg, Jalan Kawi diberi keterangan Kawi Weg, dan seterusnya. Tapi, kita juga tahu ada sekelompok warga yang mencari-cari ‘tempo doeloe’ Kota Malang begitu jauh ke masa-masa prakolonial: pada zaman monarki kecil sekitar tahun 760-an. Bahkan ada sekelompok warga lain yang mencari mitologi kelahiran pada mitologi lainnya. Bahkan pada ulang tahun lahir pada tahun 2016 diciptakan mitos baru berjuluk kota kreatif (mythopoesis baru). Begitulah di kota kita, ya Kota Malang tercinta, berseliweran dan berebutan pelbagai mitologi.

Pelbagai mitologi yang berseliweran dan berebutan di kota kita, Kota Malang tercinta, lalu mencari bahasa, lambang, dan ikon berbeda-beda. Dan sekarang, tatkala dirayakan dan diupacarakan begini meriah, sebuah ikon, lambang atau bahasa baru disematkan kepada ruang kota kita dan dunia-kehidupan di kota kita, yaitu Kota Malang sebagai kota kreatif bermartabat. Ini sebuah mitologi progresif-futuristik. Sebelum kota kreatif bermartabat, yang bisa jadi berakar pada pembangunanisme-kapitalistis, kota kita disemati mitologi kota bermartabat, kota bunga, kota kuliner, kota pendidikan internasional; bahkan jauh sebelum itu semua kota kita telah disemati lambang atau ikon kota wisata, kota pendidikan, dan kota industri yang masing-masing mengusung mitologi berbeda-beda. Maka, kota kita, ya Kota Malang tercinta, bagai kebun bunga yang penuh warna-wani mitologi. Indah bukan? Atau malah membingungkan?

Biar tak bingung, anggap saja memang kota kita punya pelangi mitologi berwarna-warni: mitologi monarkis yang nostalgis penuh glorifikasi; mitologi kolonial yang nostalgis penuh romantika; mitologi ekonomis yang futuristis penuh eforia; dan sebagainya.

Entah kenapa, pada perayaan dan upacara 102 tahun kota kita dan di tengah pelbagai mitologi beserta ikon dan jargon masing-masing, aku justru teringat guru seni musikku: Bapak Dirman Sasmokoadi yang telah menggubah mars Kota Malang, yang sudah jarang dihapal dan mungkin malah sudah dilupakan banyak warga dan pejabat kota kita, yang bagiku menggambarkan mitologi dan imaji yang spiritual-humanis-etis: Mars Malang Kota Subur. Setiap menyanyikan lagu Mars Malang Kota Subur anganku, bahkan jiwaku, serasa memasuki sebuah mitologi spiritual-humanis-etis-ekologis yang agung. Guruku Pak Dirman serasa menghunjamkan sebuah doa yang amat spiritual-humanis-etis-ekologis ke dalam batinku saban aku menghayati-memahami Mars Malang Kota Subur. Betapa tidak! Mari kita kenang dan dengarkan doa musikal atau musico-poetic Malang Kota Subur gubahan Pak Dirman: Betapa indah gemilang Kota Malang, kota di datar tinggi, sejuk, menarik hati, yang Brantas melintas berliku, yang tepi dilindung gunung, penuh pemandangan indah, Malang kota berkah…ya Malang kota harapan tiap insan… Simak, simak, betapa spiritual-humanis-etis-ekologis lirik gubahan Pak Dirman tentang Kota Malang laksana doa musico-poetic. Sungguh, di tengah seliweran pelbagai mitologi, pada umur 102 tahun hari ini, aku justru ingin kota kita, ya Kota Malang tercinta, menjadi kota berkah saja – seperti dikata Pak Dirman guruku tercinta. Ya, hari ini kuingin kota kita menjadi kota berkah yang indah gemilang, sejuk, menarik hati, penuh pemandangan indah, dan bisa memenuhi harapan tiap insan! Kota berkah yang memancarkan spirit spiritual-humanis-etis-ekologis! Peduli amat dengan segala ikon, jargon, lambang atau julukan kota kreatif, kota bunga, kota kuliner, kota wisata, dan lain-lainnya yang terasa cuma ekonomis-material-sosiologis!

Kenapa begitu? Karena kota berkah adalah ‘penubuhan’ sifat-sifat ketuhanan. Bagiku, yang spiritual-humanis-etis-ekologis berpangkal pada sifat cahaya ketuhanan: bukankah ekologi bersifat rabani?; bukankah etika atau akhlak pesan utama agama?; bukankah humanitas merupakan pijaran cahaya ketuhanan?; dan bukankah spiritualitas adalah jiwa ajaran agama-agama? Bukankah ini semua sungguh agung, luhung, dan luhur, ? Kalau kota kreatif? Kalau kreatif di situ cuma ditautkan dengan industri atau ekonomi, bukankah hal itu hanya urusan material-fisikal belaka! Kalau kota kuliner? Aha…bukan hal itu urusan perut dan lidah semata, muskil sampai dada dan kepala! Kalau kota bunga? Memang di situ ada nuansa ekologi, tapi bukankah bunga kerap barang mati, minimal cepat gugur, kendati bisa punya daya hidup?! Kalau kota cerdas? Tentulah berkenaan dengan kepala dan ceruk entitas ada manusia, tapi hanya sebagian unsur humanitas belaka. Lha dalah! Kalau kota bermartabat, yang beberapa waktu lalu gencar digaungkan di kota? Memang ada percik-percik spiritualitas dan humanitas di situ, namun bukan inti-sumbu keadaban yang spiritual-humanis, hanya unsur entitas saja. Wela…lalu bagaimana? Ya, kuingin kota kita kota berkah karena di situ mencahayakan ketuhanan; mencahayakan karunia Tuhan; karena di situ terkandung salam dan doa yang selalu dirapalkan manusia. Bukankah yang spiritual-humanis-etis-ekologis merupakan altar cahaya karunia Tuhan?; lapak bagi berkah Tuhan? Bukankah salam dan doa merupakan jalan cahaya menuju sumber cahaya, menuju pusat cahaya mahacahaya, yang tak lain tak bukan adalah Tuhan sarwa sekalian alam? Kota berkah adalah kota cahaya ketuhanan.

Lantas apakah ikon dan julukan kota kreatif harus dibuang, padahal sudah diupacarakan dan dirayakan besar-besaran dengan biaya mahal? Lantas kota kuliner, kota bunga, kota wisata, dan julukan lain harus disingkirkan, padahal sudah dimaklumkan kepada khalayak dengan penuh gegap gempita? Tentu saja tak harus, meskipun bisa saja atau boleh-boleh saja. Paling afdol, agar semua eforia, glorifikasi dan hagiografi tak sirna sia-sia, semua mitologi (mitos) beserta lambang, ikon, dan julukan masing-masing ditata begitu rupa sehingga membentuk sebuah tatanan indah. Tatanan indah seperti apa?

Marilah sebuah kota, termasuk kota kita, ya Kota Malang, kita bayangkan atau metaforkan sebuah ruang yang ditumbuhi sebatang pohon rindang yang kokoh karena berakar tunjang yang menghunjam dalam ke bawah. Dengan kata lain, kota berkah ibarat sebatang pohon rindang; kota kita, ya Kota Malang, sebagai kota berkah adalah sebatang pohon rindang. Batang pohon atau pokok pohon yang besar-menjulang dapat diibaratkan kota berkah; spiritualitas, humanitas, etika, dan ekologi ibarat akar-akar tunjang yang menghunjam-dalam dan mencengkeram sehingga batang atau pokok pohon (ya kota berkah itu) tetap tegak berdiri dihempas badai dan sanggup hidup ratusan tahun. Batang atau pokok pohon yang besar-menjulang tentu memiliki banyak cabang, dahan, dan ranting, yang menjadi tempat bergantung rimbun daun-daun dan lebat bebuahan. Nah, mitos beserta ikon-lambang-julukan kota kreatif, kota cerdas, kota kuliner, kota bunga, kota wisata, kota pendidikan, dan lain-lain hanyalah cabang dan dahan pohon. Jadi, pelbagai identitas dan julukan tersebut hanyalah manifestasi unsur-unsur kota berkah; atau kota berkah merangkumi entitas dan identitas kota cerdas, kota kreatif, dan seterusnya. Bukankah tampak agung dan indah tatanan demikian? Maka kuingin kota kita menjadi kota berkah: sebatang pohon rindang yang ditopang pokok pohon (berupa kota berkah) yang memiliki cabang dan dahan bermacam-macam (berupa kota cerdas, kota kreatif, dan seterusnya). Semoga kota kita, ya Kota Malang, menjadi kota berkah. Semoga Kota Malang menjadi kota cahaya ketuhanan. Dirgahayu kota kita!

Malang, 1 April 2016

*Guru Besar Universitas Negeri Malang dan Budayawan Kota Malang