Oleh: Denny Mizhar

Bermula dari komunikasi saya dengan mas Asrie Trisnady lewat watshapp, bahwa ia akan ke Malang untuk silaturrahmi. Maka kita bersepakat membuat ruang pertemuan di bawah pohon beringin depan perpustakaan Universitas Negeri Malang. Kami memberi nama DOA ruang pertemuan tersebut. Saya menghubungi Prof. Djoko Saryono, mas Kristanto Prabowo, Noerman, Bejo Sandy, dan Elyda untuk bergabung dengan kami. Sambutan bahagia dari mereka membuat kami senang. Saya yang bergiat di Pelangi Sastra Malang  menghubungkan David Ardiyanta pengelola Kafe Pustaka untuk bersepakat membuat ruang pertemuan di bawah pohon. Berharap akan tercipta Rabu yang indah di bawah pohon Beringin di depan perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Log Sanskrit akan datang bertiga yakni Asrie Trisnady, Bonnil dan Rahul, mas Kristanto pekerja budaya juga aktivis Gusdurian Jawa Timur, Elyda yang aktif di Teater Komunitas, Bejo Shandy yang aktif di Celoteh dan Noerman musisi muda kota Malang memiliki beberapa kelompok musik Psycoetnyc dan Jomblo Ensembel bertemu. Kami dibantu sastrawan Achmad Fathoni juga penyair Alra Ramadhan. Meski Prof. Djoko Saryono tidak bisa hadir tapi beliau mengirimkan tulisannya untuk dibacakan. Tulisan Prof. Djoko Saryono menjadi pengikat ruang pertemuan kami yang kami beri nama DOA.

Begini tulisan Prof Djoko Saryono dengan judul “Melangitkan Diri di Bumi: Yang Indah dan Yang Suci”:

Di manakah kediaman sejati kita yang berjuluk manusia?;di manakah kediaman abadi kita yang bertajuk manusia? Bumikah? Dalam ilmu saja, semisal geologi, dikatakan bahwa kita, ya manusia, adalah makhluk asing atau pendatang di bumi. Kita hanya makhluk ‘allien’ di bumi. Bahkan semua agama dan keyakinan manusia senantiasa mengatakan bahwa bumi bukan kediaman sejati dan abadi manusia. Kediaman sejati dan abadi kita sering dimetaforkan atau diimajinasikan ada di langit tinggi, yang tak berbatas, melampaui segala bahasa dan angan manusia.

‘Tempat tinggal’ sejati dan abadi manusia sering dilambangkan langit tinggi sehingga ajaran agama dan keyakinan yang suka cita dipeluk manusia selalu mengatakan: “manusia diturunkan ke bumi”. Maka bumi adalah kediaman sementara manusia: bumi hanya ‘rumah singgah’ manusia. Tersebab bumi cuma kediaman sementara dan rumah singgah saja, maka manusia pada suatu ketika harus pulang ke kediaman sejati dan abadinya. Manusia harus ‘muleh mula mulanira’.

Di tengah bermilyar satelit, planet, dan bintang-bintang yang tersebar di antara galaksi-galaksi, yang demikian patuh, rajin, dan tekun mengorbit pada sumbu masing-masing, yang memerlukan waktu dari hari sampai ribuan tahun cahaya, sungguh betapa sebentar saja manusia berdiam di bumi, betapa sejenak belaka manusia bertempat tinggal di bumi. Tak heran, sesungguhnya bumi hanya halte di tepian jalan, tak kediaman sementara, juga tak rumah singgah. Maka tinggal manusia di bumi hanya setegukan air di tenggorakan, berdiam manusia di bumi ‘mung saderma mampir ngombe’ (kata orang Jawa). Sesudah itu, sebentar minum air kehidupan bumi, manusia – ya kita sekalian – segera pulang ke kediaman sejati dan abadi manusia. “Kita harus cepat pulang”, kata sebuah lagu populer Indonesia.

Sebab itu, seperti diri kita selalu pulang ke rumah ragawi kita di bumi setiap hari, setiap waktu diri kita selalu harus pulang ke kediaman sejati dan abadi manusia di langit tinggi. Di situlah ‘muleh mula mulanira’; di situlah ‘sangkan paraning dumadi manungsa’. Maka, kediaman sejati dan abadi itu sering dilambangkan sebagai sidratul muntaha, sebuah tempat agung yang indah dan suci: dilambangkan puncak pohon bidara yang dedaunannya semua makhluk semesta. Untuk mencapai tempat itu, diri kita harus senantiasa melakukan perjalanan cahaya, perjalanan mendaki, perjalanan membubung ke tempat teramat tinggi di mana sidratul muntaha terletak. Maka kita harus senantiasa melangitkan diri di bumi: kita harus selalu membubungkan diri di bumi ke langit maha-tinggi: kita harus saban waktu mentransendensi diri di bumi. Berkendara apakah diri kita harus melakukan perjalanan cahaya ke langit maha-tinggi yang agung, indah, dan suci? Dengan apakah kita melangitkan diri di bumi menuju sidratul muntaha, puncak pohon bidara? DOA…ya DOA.

DOA dengan penuh keheningan, kelembutan, dan kehalusan mengubah diri ragawi-badani kita menjadi diri ruhani-spiritual sehingga kita sanggup melakukan perjalanan cahaya, mendaki ke langit tinggi, karena jalan cahaya menolak segala yang badani-ragawi semata. Maka doa menggambarkan kebersujudan, keberserahan, ketundukan, kerundukan, kerelaan, dan keikhlasan kita menyirnakan diri ragawi-badani, meninggalkan materi, demi perjalanan cahaya menuju langit maha-tinggi, mendaki mencapai sidratul muntaha yang ditaburi sifat agung, indah, dan suci. Doa merupakan sarana manusia melangitkan diri di bumi demi bertemu keagungan yang indah dan suci.

Segala yang membawa diri kita ke dalam kebersujudan, keberserahan, ketundukan, dan kerelaan total sehingga terhanyut, bahkan tergulung di dalam keheningan dan kebeningan, dalam perjalanan cahaya menuju langit tinggi dapat diibaratkan, bisa diumpamakan, sebagai DOA. Musik yang membawa diri kita terhanyut dan tergulung ke dalam keheningan dan kebeningan dapat disebut musik yang doa. Di sini musik hanyalah perantara, cuma media, untuk mengejawantahkan DOA. Musik yang doa tentulah bertaburan keindahan untuk menggapai kesucian karena semua doa selalu suci dan indah: tak ada doa yang tak suci dan indah. Sebab, keagungan yang disangga yang indah dan suci merupakan sifat-sifat ilahi. Bukankah ilahi merangkumi nama-nama indah sekali. Di sinilah kita bisa menyaksikan jalan cahaya yang indah untuk mencapai kediaman suci. Semoga musik yang doa, yang memantulkan keindahan dan kesucian dapat tersaji dalam pertunjukan ini. Dengan demikian, kita telah melangitkan diri di bumi dengan indah dan suci.

“Tak ada doa yang tak suci dan indah” ungkapan Prof. Djoko Saryono seirama dengan yang kami harapkan pada pertemuan di bawah pohon yakni DOA dengan medium apapaun yang dimiliki oleh penyaji. Ada yang menarik peristiwa di bawah pohon depan perpustakaan Universitas Negeri Malang, serangga di pohon-pohon berbunyi, ada sound scape yang berirama teratur seperti mengikuti ruang yang kami ciptakan.

Bunyi serangga ikut berkalaborasi bunyi dengan Log Sanskrit, komposisi pembuka mengalun indah, musik klasik India: Asrie Trisnady dengan Sitar, Rahul dengan Tabla dan Bonnil dengan Tampura. Komposisi mereka berjudul “Todi” bercerita tentang wanita berada di antara pohon yang hijau di tengah hutan yang sedang memuja keindahan. Bunyi dari Sitar, Tampura dan Tabla dari Log Sanskrit membawa penikmat memasuki kesunyian dan harapan-harapan akan doa yang dilantunkan. Hening, indah dan suci mengalir membuat rongga-rongga dalam tubuh longgar, tenang dan ada perasaan yang dibawa ke alam bunyi  oleh Log Sanskrit memberi energi bahagia. Hingga komposisi pertama berakhir.

Berlanjut dengan Noerman lewat Saxophonenya membunyikan doa. Saling sahut menyahut antara bunyi alat musik dari Rahul dan Bonnil dengan Noerman sedang Asrie Trisnady berpindah membuyikan dengung-dengung dari besi serupa mangkok. Ritmis, harmoni, dan indah. Saya menggantikan Prof. Djoko membacan tulisannya ditemani bunyi-bunyian. Seperti orang bertapa saya duduk di tengah-tengah alat-alat musik yang berbunyi dan alam yang mengikuti. Selepas saya membacakan tulisan Prof. Djoko Saryono ada bejo Sandy dengan untaian bait-baitnya. Saya kutipkan salah satunya, yang berjudul “Topo Broto”:

            Menyepi, merenung…

            Raga terdiam dirinya…

            Nafas perlahan saja langkahnya…

            Mengalir susuri tiap jengkal ruang indra…

            Menyepi, merenung…

            Pada waktu yang seakan terhenti…

            Pada waktu yang dibuat berhenti…

            Pada peristiwa yang berjalan liar…

            Menyepi, merenung…

            Batin melihat pada yang tersirat…

            Batin melihat pada yang hening…

            Badin menangkap pada yang tercecer…

            Menyepi, merenung…

            Batin memilah di antara kalah…

            Batin menimbang di antara bimbang…

            Batin memilih pada ikhlas…

           (Malang, 4 April 2013)

Suasana ruang di bawah pohon beringin seakan terhenti, sunyi memasuki diri melangitkan diri, berdoa dan berdoa. Kata-kata Bejo Shandy dibacakan dengan penuh penghayatan dengan penuh keindahan. Bunyi masih belum juga berhenti, tubuh Elyda mengembang dan bergerak. Tubuh Elyda menyambut dengan bunyi yang lahir dari tubuhnya serupa kata-kata “betapa doa memancar pada setiap daun-daun yang bergerak, batu-batu yang diam, angin yang tak pernah sama tertempel di kulit, hingga bulan-bintang yang terlampau jauh. Pada musik doa melayang sebegitu romantis. Mengulum batin yang mabuk hingga tubuh terlalu bising untuk diam. Terberkatilah dari surga yang paling surga untuk segala yang mengalir doa”. Begitu narasi dari tubuh Elyda. Ruang kata, bunyi dan tubuh menjadi doa. Tempat bertapa melihat diri yang fana, melonggok langit yang kekal dengan menitipkan harapan-harapan dengan kesucian yang indah berpadu dengan mesrah di bawah pohon Beringin. Angin yang mencipta gemerisik dedauan juga turut serta, serangga yang melantunkan doa dengan bunyi dari tubuhnya. Hingga ruang doa akan berakhir dengan ditutup oleh mas Kristanto Prabowo, ada doa-doa serupa anggur yang memabukkan pada jamuan siang, ada harapan-harapan yang suci pada kedamaian. Dan lantunannya ditulis oleh mas Krintanto Budiprabowo disarikan dari ruang yang kami ciptakan, berjudul DOA SIANG (di bawah pohon Beringin):

untuk daun-daun yang sedang berguguran
untuk segala macam serangga yang bernyanyi
untuk hembusan angin
untuk kebahagiaan dan sujud kita semua
agar terus begitu dan selalu …

mari kita berdoa

 

Dan doa kami berakhir, semoga sampai pada pemilik diri kita, semoga terkabulkan harapan-harapan kami. Juga jagat semesta menjadi indah dan suci.

Malang, 31 Maret 2016