Puisi-Puisi Achmad Fathoni; Dawai Asmara Senja

MENJADI PELANGI 

mari menjadi pelangi bersamaku
tapi tak ada jaminan untuk kita akan selalu nampak
karena mendung dan hujan tak selalu hadir di sekitaran senja
sering kali waktu lebih dulu berputar hingga tak ada ruang bagi kita nampak
atau malah kita akan terlupakan nantinya jika semusim ini tak ada hujan

tapi jika kau mau
alangkah baiknya kau menjadi jingga dan aku kuning
agar sedikit mirip warna kita
lebih semampai diri kita beriringan
tapi masih ada yang ku takutkan
apakah warna merah tak resah melihat kita
atau mungkin hijau akan padam nantinya
melihat kita yang sedang bermesraan
kupikir kita urungkan saja menjadi pelangi
kita bukan bagian dari mereka
kita hanya sehelai kisah yang mencari tempat untuk bercerita
agar tak mati kisah kita

Pernah dimuat di Radar Mojokerto, 21 Februari 2016

 

RINDU YANG MENJADIKANNYA ABU

langkahnya tak kunjung henti
sampai pada waktu yang tak kunjung tiba
garis demi garis dibuat ‘tuk sekedar menandai
tentang rindu yang menjadikannya abu
perkara yang lebih rumit
ketimbang semburatnya pekat kopi
ia tak lagi mampu mengangkat kedua kakinya
serong ke kanan ataupun ia bawa ke belakang
sedangkan ia sedang belajar
bagaimana menggerakkan tangan
mengangkatnya hingga ke pipi
lalu ia lekas pergi meninggalkan aroma mawar
kupikir tak sengaja tertinggal
sedangkan daun selalu lebih unggul dalam hal menunggu
entah itu hujan atau matahari yang ia tunggu

Pernah dimuat di Radar Mojokerto, 20 Maret 2016

 

DAWAI ASMARA SENJA

adakah ruang kecil untuk kami bertanya
melihat segi yang tak berbentuk serupa denganya
adakah rindu kecil untuk kami berselimut
merintihkan tangis yang tak berpola seperti maut
juang yang tak lagi kudengar di kaki mereka
patah-patah di setiap tangkai daun keringnya
sejajar dengan angin yang memaksa jatuh dan terluka

adakah anda dalam bijak yang tak selaras
beri kami waktu untuk sedetik menghitung luka derita
sediakan ruang kecil ‘tuk kami berupa ganas
mendawaikan asmara senja dalam liku belukar tangis
mendawaikan segelintir kasih malaikat bersayap daun kering
ataupula mendawaikan doa selepas sujud tak bersiku di ujung malam

Pernah dimuat di Radar Bojonegoro, 27 Maret 2016

 

TUTURKAN BUNDA

bunda-bunda
anakmu t’lah lalai nan pilu
tuturkanlah pada anakmu ini
tentang kelahiran dan mati sejenaknya dulu

bunda-bunda
ada kalanya anakmu menadah tangis
menyimpan rindu rapuh akibat senja
anakmu ini bunda, sudah lalai

adakah mau bagi bunda tuturkan?
sampaikanlah tangis bunda
hingga doa yang bunda baca selapas maghrib
akulah bunda t’lah jauh darimu
semenjak subuh tak lagi menginjak dahi anakmu

Pernah dimuat di Malang Post, 3 Januari 2016

 

PUISIKU DI TUMPUKAN JERAMI

aku akan sulit menemukanmu di sini
pada tumpukan yang terlalu kacau
terlalu banyak tumpukan jerami
berserakan. hancur. rusuh. berantakan
sulit aku mendengarmu membacanya
lihatlah aku, kebingungan
mataku tak cukup mampu melihatmu
lihatlah aku, kau dimana?
jangan lagi sembunyi di sana
begitu sulit bagiku menemukanmu
mendengarmu membaca puisi di tumpukan jerami
sulit. resah menunggumu

Pernah dimuat di Suara Karya, 12 Maret 2016

Lahir di Bojonegoro. Saat ini tinggal di kota Malang dan bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang.