Karya: Felix K. Nesi*

Pertama kali bertemu dengan orang-orang yang menulis untuk menjadi penulis – atau setidaknya untuk disebut demikian, saya shock setengah mati. Mereka bicara tentang kondisi kebangsaan, teori sastra dan hal-hal lain yang membuat kegiatan menulis tiba-tiba serumit usaha untuk memenangi pilkada.
Saya memang suka menulis. Sejak SMA, saya sudah sering mengikuti lomba menulis puisi, dan selalu kalah. Tapi saya tak pernah memikirkan caranya menang, karena saya lebih suka menulis daripada menjadi juara lomba. (Mungkin itu sebenarnya hanya alasan pembenaran saya pada kepala saya yang selalu tertunduk malu setiap kali pemenang lomba penulisan puisi di SMA adalah bukan saya). Saya suka menulis, apalagi pada saat saya sedang menggelisahkan sesuatu. Setidaknya itu terjadi hanya sampai saya bertemu dengan orang-orang yang menulis untuk menjadi penulis ini.
Perkenalan dengan mereka saya anggap sebagai satu dari sekian banyak kesialan tak terduga dalam hidup saya. Mereka terlebih dahulu mengenal saya dari akun facebook. Kau tahu, facebook dan media sosial lain adalah buku harian tanpa kunci dan kau bebas menulis apa saja di sana. Saking bebasnya, kadang kau lupa, bahwa orang-orang lain pun bebas membaca apapun yang kautulis.
Di hari itu, saya baru saja ditinggalkan Rini, seorang foto model yang sudah saya pacari tiga bulan. Minggu-minggu pertama kami pacaran, semuanya terasa indah. Lama-lama, entah setan apa yang merasuki kepalanya, ia mulai sering mengoceh dan menggerutui hal-hal yang menurut saya tidak begitu penting. Bahkan suatu hari, saat kami keliling kota mencari makan malam yang romantis, ia ngomel-ngomel sepanjang jalan dan menyebut pemerintah kota tak serius menangani masalah anak yang makin hari makin banyak berkeliaran di jalanan.
“Mungkin anak-anak itu punya jiwa seni. Pengen bebas.”
“Jiwa seni apaan. Iya kalau anak punk, pengen bebas, anti-kemapanan. Atau pengamen jalanan, pengen ngelatih insting musikal di jalanan. Yang saya maksud itu anak-anak tak terurus yang berdiri di perempatan jalan sambil tepuk-tepuk tangan minta duit.”
“Sama aja, anak jalanan ‘kan?”
Heh, hati-hati ya pake sebutan anak jalanan? Itu cap negatif dari orang-orang kelas menengah sok kayak kamu dan pemerintah yang gak becus urusi mereka.”
Trus?” saya mulai bingung dengan pembahasannya.
“Kalau pengennya anak-anak itu gak lagi di jalanan, ya jangan sebut mereka anak jalanan dong.”
Trus mau disebut apa?” saya makin bingung.
“Anak lupa rumah kek, apa kek gitu. Malah bangga namai mereka anak jalanan. Huh. Dijadikan judul sinetron lagi.”
Trus?” saya bertanya dengan nada penyerahan diri.
“Terus-terus aja daritadi, nabrak, Bego! Mikir dong, mikir!” ia menunjuk-nunjuk jidatnya sendiri dengan telunjuknya.
Yang paling membingungkan adalah kenapa ia membahas hal tak penting seperti itu. Bagi saya, yang penting untuk kami bahas adalah bagaimana hubungan kami selanjutnya; bagaimana kami mesti memberitahu orangtua kami tentang rencana kami ke jenjang yang lebih jauh. Apalagi dengan begitu banyak perbedaan. Namun, ia selalu menyebut perbedaan kami sebagai pemanis hubungan : “Biar ada greget-nya. Biar kisah kita kayak di film-film.”
Saya jadi mengerti, ia sebenarnya mengkhayalkan sebuah kisah cinta yang “greget dan kayak di film-film”. Maka ketika ia bilang ingin mengakhiri hubungan kami, saya pikir, itu suatu tahapan dari semua khayalannya tentang greget; tentang kisah cinta yang “kayak di film-film”. Sepasang kekasih putus, tapi pada akhirnya mereka kembali bersatu lagi dan membangun sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah. Romantis kan? Maka saya iyakan saja proposal putus itu lalu menunggu dengan sabar; mengira-ngira waktu yang tepat agar saya bisa datang kembali seperti ksatria berkuda dalam film-film kolosal.
Tak perlu waktu yang lama untuk menunggu saat yang tepat menjadi ksatria. Hanya lewat tiga minggu, ia menekan tombol suka pada beberapa foto lama saya di instagram. Saya pikir, inilah waktu yang tepat; sepertinya dia mulai merindu.
Saya pinjam sepeda motor teman saya dan langsung mendatangi rumahnya di Sawojajar sana. Meski jalanan cukup macet di malam minggu yang penuh bintang itu, saya tak sedikitpun mengeluh dan sesekali mendendangkan lagu yang tidak begitu saya hafal.
Sesampainya saya di rumahnya, sungguh saya tak pernah menyangka, namun kisah saya malam itu sama seperti kisah dalam lagu lama yang fenomenal. Dari depan rumahnya, saya melihat ia duduk berdua dengan seorang pria. Mereka saling bercanda dengan mesra. Ia cubit; ia peluk, meski saya tahu kalau mereka tak mungkin berciuman di teras rumah yang benderang itu.
Malam itu saya pulang dengan hati sangat terpukul. Sepanjang jalan saya berusaha menguat-nguatkan dada saya. Namun di dekat Stadion Gajayana, saya menyerah. Saya menepikan sepeda motor saya dan mulai menangis meratap-ratapi nasib saya. Di tempat itu, saya lalu membuat sebuah puisi tentang sakit hati dan kehilangan yang sangat panjang, dan masih akan terus panjang, seandainya sepasang manusia yang sedang kasmaran tidak menyela saya dengan bertanya: Dimana tempat paling asyik untuk pacaran di malam minggu?
“Kami baru datang ke Malang. Kami tak tahu mau kemana.”
Saya menyuruh mereka pulang saja karena sebentar lagi hujan badai akan melanda kota ini. Mereka menatap saya dengan heran lalu menunjuk cahaya bulan yang berpendar di antara rimbun mahoni. Dari celah dedaunan, bintang bertaburan dan badai tak mungkin datang malam ini. Saya bilang saya tak tahu dan tak mau tahu. Mereka lalu meninggalkan saya dengan tatapan sinis. Saya mengunggah puisi saya itu di facebook, lalu pulang ke rumah kontrakan.
Tapi sepanjang malam itu saya hampir tak bisa tidur. Oh, bukan tak bisa tidur karena mengenang perempuan sialan itu – saya sudah memutuskan untuk menyebut Rini sebagai perempuan sialan – tapi karena handphone saya terus berbunyi sepanjang malam. Puisi yang saya tulis di dekat stadion itu ternyata telah beredar dengan sangat cepat. Awalnya hanya disebut bagus oleh seorang adik kelas saya. Lalu disebut sangat bagus oleh temannya lagi. Lalu dibagikan oleh seorang lain yang kelihatannya berteman dengan temannya adik kelas saya. Lalu dibagikan lagi oleh ibu dari anak yang membagikan itu dengan catatan di atasnya : “Puisi yang sangat menyentuh di malam minggu yang romantis.” Seorang guru Bahasa Indonesia yang kebetulan berteman dengan ibu yang membagikan puisi saya itu, membagikan lagi puisi itu ke beberapa grup penulisan dan disebut sebagai “ungkapan hati yang jujur dengan pilihan diksi dan struktur puitika yang ketat.”
Saya tak mengerti tentang semua omong kosong itu tapi baru jatuh tertidur saat adzan subuh terdengar. Pagi harinya, bayangan Rini – perempuan sialan itu – seolah datang dan mengikat tubuh saya lekat dengan tempat tidur. Saya tak ingin bangun lagi dan menghadapi kenyataan bahwa Rini telah benar-benar meninggalkan saya; kenyataan bahwa ia telah menemukan seorang jagoan India yang datang ke hatinya dengan tarian dan pantun-pantun romantis; dan saya hanya pecundang yang harus menerima kekalahan.
Namun dering handphone memaksa saya bangun dan menjawab telepon. Itulah bagaimana saya berkenalan dengan orang-orang di hadapan saya saat ini; yang sejak tadi berbicara tak putus-putus tentang bagaimana harusnya kita menulis agar menjadi penulis yang baik.
Awalnya saya senang bahwa ada yang menyukai apa yang saya tulis. Lama-kelamaan, seperti yang saya katakan di awal, saya menyesal, mengapa di pagi itu saya bangun dan menjawab telepon. Saya menyesal mengapa saya harus menulis puisi dan mengunggahnya ke facebook. Bahkan saya menyesal telah disakiti oleh Rini – perempuan sialan itu.
Kami janjian bertemu di sebuah kafe dan dari antara mereka, seorang lelaki kurus-jangkung, yang sejak tadi terus makan kentang goreng sambil membelai-belai rambutnya yang keriting bertanya di mana saya belajar berpuisi.
“Di komunitas apa?”
“Saya tidak masuk komunitas apa-apa.”
Ia terdiam.
“Harus punya ya, Kak?” saya bertanya.
“Oh, tidak. Tidak harus. Tapi, untuk meningkatkan kualitas tulisanmu, sebaiknya ikut komunitas.”
Saya berpikir sejenak. Teman-temannya yang lain sedang sibuk dengan handphone mereka masing-masing.
Ku–, kualitas tulisan saya masih belum bagus ya, Kak?” saya bertanya dengan tergagap.
“Oh bukan itu,” ia menatap saya dengan sungguh-sungguh. “Tapi di hari-hari begini, kau mesti punya komunitas.”
“Kenapa?”
“Oh, ini Indonesia. Kau belum tahu dunia penulisan di Indonesia itu seperti apa.”
Lalu ia secara panjang lebar menjelaskan tentang dunia kepenulisan Indonesia, tema-tema yang dianggapnya seksi seputar lokalitas atau masalah-masalah sosial.
Usai menjelaskan semua itu, ia menatap saya dan tersenyum, dan bertanya apakah saya mau menjadi bagian dari komunitas sastra yang diasuhnya. Saya hanya ingin pulang dan tidur.
“Oh, saya belum ada pikiran ke sana, Kak.”
“Oh, tidak apa-apa. Tapi yang penting, kamu belajar dengan baik. Baca yang banyak. Baca teori sastra, terlebih tentang bagaimana pengalaman puitika…” ia lalu kembali memulai kotbahnya yang panjang tentang teori-teori menulis dan bagaimana menjadi penulis yang baik.
Saya terdiam demi tata-krama pergaulan, tapi sesekali melirik jam dinding yang tergantung di dekat meja kasir dan diam-diam mengenang Rini – perempuan sialan itu. Apa yang ia lakukan sekarang? Apakah ia sudah makan? Saya bosan mendengarkan, tetapi lelaki di depan saya itu terus mengoceh. Saya hanya ingin pulang dan tidur. Saya hanya ingin menulis; mengeluarkan apa yang ada dalam kepala saya tanpa peduli pada semua teori omong kosong tentang bagaimana seharusnya kita menulis. Saya hanya ingin menulis. Titik.
Tepat saat lelaki jangkung itu mengakhiri kotbahnya, saya pamit.
Lho, mau ke mana?”
“Pulang.”
“Jangan dulu. Kita ‘kan lagi tungguin Rini.”
“Rini siapa, Kak?”
“Rini Amalia.”
Napas saya tertahan.
“Yang dari Sawojajar itu?”
“Iya, Sawojajar.”
Jantung saya hampir berhenti.
“Yang foto model itu?”
“Iya, pacar saya. Kok kamu kenal? Dia lagi mau bahas peran pemerintah dalam…”
Sepertinya saya telah pingsan.
Kafe Pustaka, 16 April 2016
Felix K. Nesi, sedang menyiapkan kumpulan cerpennya berjudul Usaha Membunuh