Sebuah Tatapan
Karya: Doris Lessing dengan judul asli “The Stare”
Alih Bahasa: A Elwiq Pr

“Memandangnya,” ujar Helen. “Aku tidak bilang apa-apa, dan aku terus memandang.”

“Apa yang dia lakukan selanjutnya?” tanya Mary, mengamat-amati Helen sebagaimana yang selalu ia lakukan, seolah-olah Helen merahasiakan sesuatu atau lain hal.

“Kemudian dia menyerah,” kata Helen, dan tertawa. Tertawa, seperti biasa, membuat Mary tertahan, dan di saat itulah segalanya nampak mengemandang baginya, dan Helen kelihatan sedang mengingat-ingat sesuatu yang begitu nikmat, saat dia duduk sambil senyum-senyum.

Helen yang berasal dari Yunani ini adalah istri Tom, orang Inggris. Tom melihat perempuan itu di sebuah penginapan di Naxos, di mana Helen menanti Tom dan para wisatawan asing lain senyampang Helen membantu ini-itu mereka, dan Tom jatuh cinta dan membujuk Helen untuk boyongan ke Inggris bersamanya. Tidak ada ranah asing bagi Helen, sebab dia memiliki kaum kerabat masyarakat Yunani dan Cypriot di kota Camden, dan dia mengunjungi mereka setiap musim panas. Mary berkebangsaan Inggris istri Demetrios, dan dia bersama seorang kawan perempuannnya berlibur ke Andros manakala seorang pramusaji yang tampan di sebuah kedai berpemandangan laut jatuh cinta pada perempuan ini. Demetrios, juga punya kerabat di London. Sekarang dia menjadi seorang pramusaji di sebuah restoran Yunani bernama Argonauts; dan dia berniat segera memiliki restoran sendiri. Hendak ia beri nama Dmitri’s, sebab Dmitri adalah nama panggilan Mary untuknya. Saat ini mereka tinggal di dua ruangan di atas toko kelontong milik Tom suami Helen.

Dua wanita itu menghabiskan pagi bersama-sama, bergunjing atau belanja, tapi sekarang Helen punya bayi dan mereka selalu pergi ke Bukit Primrose dan duduk di sebuah bangku di bawah keteduhan bersama kereta bayi. Ada beberapa nyonya lain, keturunan Yunani dan Cypriot, dan di setiap pagi adalah benar-benar milik sebuah masyarakat kecil yang terdiri dari para wanita, namun Helen dan Mary dikenal sebagai dua kawan yang istimewa. Tak sedikit petang-petang mereka, dua kekawanan ini membuat kumpulan di kedai minum, warung makan, atau restoran. Mereka terdiri dari empat atau lebih orang yang bisa membuat mereka lepas dari Croydon yang membosankan, menjadi bagian dari orang-orang yang dengan mudah tertawa, atau mulai bernyanyi-nyanyi, dan siapa pun mungkin saja mengakhiri malam dengan menari-nari alami, bahkan berdansa di atas meja.

Mary mungkin tidak akan ke Yunani musim panas ini, mungkin dia akan bilang tidak pada Demetrios saat orangtua Mary ikut mendesak.

Hari itu Mary pulang dengan suasana hati bungah dan damai dan duduk di depan kaca riasnya dan memastikan pada dirinya sendiri. Dia selalu melakukan itu. Dia montok, cantik, dengan pipi kemerah-merahan, rambut ikal nan hitam, dan lesung pipit yang dalam di tempat yang tepat, dan Dmitri memanggilnya blackberry mungilnya. Pun dia punya mata bau-abu, dan Dmitri bilang bahwa matanya bukan mata orang Inggris yang dingin dia percaya Mary punya darah Yunani. Bola mata Dmitri yang hitam dengan mudahnya menyala, atau membara, atau sekedar menegur. Mary meletakkan lengan bawahnya di antara botol-botol kecil parfum, lipstik, pulasan kelopak mata, dan mencoba berbagai macam air muka. Dia memandang wajahnya lama tanpa berkedip dan tersenyum dan itu membuatnya ketakutan sendiri. Dia mengatupkan mata, sampai bisa melihat sebuah tatapan seperti yang ada dalam raut Helen, tapi gagal, karena Helen itu hanya nampak tersenyum. Mary mengagumi Helen. Lebih-lebih mengagumi kelembutannya. Sebab sesuatu yang disampaikan Dmitri, Mary segera pergi ke perpustakaan dan menemukan sebuah buku berjudul “Kumpulan dongeng Yunani untuk Anak-anak,” dan dalam buku itu ia membaca apa yang pernah diceritakan Helen suatu ketika, ribuan tahun yang lalu, ada seorang gadis yang jelita, dan orang-orang memulai pertikaian karena gadis ini. Di Yunani orang-orang tua menamai anak-anak perempuan mereka dengan sebutan Helen, seolah-olah nama itu hanya serupa Betty atau Joan. Helen kemudian mengatakan pada Mary bahwa Mary adalah nama Ibunda Tuhan, tapi Mary bilang dia tidak terlalu agamis.

Seperti sebuah dongeng, Mary berpikir, betapa penuh keajaiban ketika Helen menyatakan iya kepada Tom. Lelaki itu baik, bukan lelaki buruk rupa. “Dia membuatku tertawa,” tutur Helen. Tapi sungguhkah dia kadang-kadang pernah merasa bosan terhadap lelaki itu?

Lalu apakah Dmitri masih mencintai Mary?

Malam itu, ketika Dmitri berguling mendekati Mary di tempat tidur, Mary bilang, “Tidak, aku merasa kurang enak,” mencoba membuat dirinya kedengaran seperti Helen ketika dia menggoda dan merajuk, tapi Mary tahu dia tidak berhasil. Mary tidak pernah bilang tidak sebelumnya: dia juga mensyukuri keriangannya di tempat tidur. Dmitri terkejut sebab Mary mengatakan itu seakan-akan dia minta cerai. “Ada apa denganmu?” Dmitri mendesak. Apa yang seharusnya suaminya tanyakan adalah “Apa yang telah aku lakukan?” walaupun Mary tidak tahu harus menjawab apa jika pria itu bertanya begitu. Mary memunggungi Dmitri, dia tahu-menahu saja bila ini amat melukai dirinya sendiri sebagaimana melukai Dmitri. Mary bisa merasakan suaminya sedang kebingungan, memandangi punggungnya dengan sakit hati. Dmitri menggumamkan sesuatu yang menyenangkannya tetapi dia tidak mendengar. Dmitri berbaring dan tetap terjaga dan Mary juga, tapi pura-pura terlelap.

Keesokan harinya Dmitri terus memandang dan melemparkan pandangan sarat tuduhan padanya. Ini terjadi pada hari Sabtu, dan malam itu dua pasang tamu pergi minum-minum di kebun kedai minum, dan kemudian makan malam di restoran di mana Dmitri menjadi pramusajinya, sedang malam nanti dia libur. Ada perempuan-perempuan yang kadang kala bekerja di sana sebagai pramusaji ketika mereka membutuhkan sedikit tambahan setelah tugas bebersih.

Semua orang mengenal Dmitri dan Mary, orang-orang melambaikan tangan atau uluk salam atau Dmitri dan Mary yang datang untuk menyanjung bayi yang sedang terlelap di dalam kereta. Mary melihat bagaimana tangan Helen menggelayut di lengan Tom dan dia tahu bahwa mereka akan bercinta beberapa menit sesampai mereka di rumah. Saat Demetrios dan Mary pulang, dia bilang pada Mary, “Aku harap kau tidak lagi merasa tidak enak malam ini.” Kecanggungannya berbalut nada sindiran, dan ini memudahkan Mary untuk bilang, “Mungkin iya mungkin tidak,” tetapi saat di tempat tidur Demetrios langsung menyergap Mary, Mary pun mencoba mengeluhkan hal ini pada diri sendiri, lagi pula tidak baik ia katakan bahwa dia merasa tidak menyukai ini saat nyata-nyata bagi mereka bahwa ia melakukannya. “Kapan kau akan memberiku anak?” Dmitri bertanya sesaat kemudian dan dia melakukan sesuatu yang membuat perempuan ini selalu gemetaran sekaligus bergelora: Dmitri menyelipkan cicin pernikahan untuknya dan dengan melingkari jarinya, seolah-olah pria ini berpikir telah melampaui semuanya. “Lihat saja,” kata Mary, menyadari dia tidak pernah memanas-manasi Dmitri seperti ini sebelumnya. Kemudian Mary menemukan dirinya seperti diperkosa. Tidak ada kata-kata lain untuk hal ini. Mary baik-baik saja dengan hubungan seksnya akhir-akhir ini, jadi Dmitri agaknya tidak tahu bahwa Mary terharu dan benar-benar luluh-lantah dan kemudian bisa dengan mudah mengatakan pada suaminya, “Ya, baiklah soal bayi itu,” seandainya Dmitri tidak bergumam di telinganya. “Anjing, aku mau bayi. Sekarang, bukan sepuluh tahun lagi.”

Pagi harinya Mary tidak mengatakan satu katapun saat sarapan. Demetrios tidak peduli. Dia mengisi waktu dengan roti bakar dan selai dan kopi: dia tidak ke restoran sampai pukul sebelas. Ini adalah waktu yang paling baik bagi mereka dalam sehari, jam-jam sebelum Dmitri berangkat kerja. Mereka ngobrol atau tidak ngomong apa-apa dan membaca surat kabar, dan kadang-kadang kembali ke tempat tidur. Mary tahu bahwa ketika bayi hadir di antara mereka, setiap pagi tidak akan seperti ini lagi. Mary mengatakan hal itu pada suaminya, dan dia bilang, “Terus mau apa?” Tanggapan ini membuat Mary merasa Dmitri tidak mencintainya. Inipun berlangsung tidak sampai akhir sarapan, Dmitri menyadari kesunyiannya adalah sesuatu, dan lelaki itu mengangkat kepalanya dan memandang istrinya, lama dan pejal, dan Mary membalas dengan tatapan yang dingin. Dan kemudian Mary melakukannya terus, menggunakan tatapan tak berkedip yang telah ia praktikkan sebelumnya di depan kaca. “Ada apa?” tanyanya. “Apa …?” Mary tak mengatakan apa-apa lagi tapi duduk di depannya dan menatapnya. Ini membuat Dmitri menjadi liar, Mary bisa melihat, dan di dalam hati Mary merasa bergairah, Mary terharu, dan ia tak mengatakan satu patah katapun ketika lelaki itu terus-menerus membentak dan menuduh dan menanyakan apa yang istrinya pikirkan sehingga menjadi begitu, dan kemudian Dmitri meneriakinya “Anjing!” dan keluar rumah berangkat kerja.

Mary duduk dengan Helen di bagian luar sebuah kedai minum, di bawah sinar matahari, bersama bayi Helen di dalam kereta di antara mereka, dan Mary berpikir, aku benar-benar tidak keberatan memiliki bayi, dan lagi sudah semestinya. Aku akan meninggalkan pil anti-hamil itu dan lihat apa yang bakal terjadi. Tapi aku tidak mau menceritakan ini pada Dmitri, tidak sekarang. Dan aku tidak akan mengalah soal bayi itu.

“Berapa lama kau akan mempertahankan sikapmu?” tanya Helen, mencoba bertanya dengan suara biasa-biasa, tapi dalam pada itu Helen mengerti dan berkata, “O, itu tidak sulit – aku sendiri menyukai itu untuk sekedar tahu-menahu seberapa lama aku bisa menahannya. Sebab aku ingin menyerah sekaligus tidak ingin menyerah.”

Mengapa Helen menghadapi segala sesuatu dengan begitu mudah? Dia berbicara seakan-akan segalanya bukan apa-apa, hanya sebuah lelucon. Mengapa aku tidak menjumpai kemudahan semacam itu? Mary berpikir saat dia duduk dalam diam dan muram, memandangi kaki kecoklatan yang jenjang milik Helen dan lengan coklat langsingnya, dan gaun hitam yang menempel pada tubuhnya, dan rambut hitamnya yang bersinar tergerai di bahu. Gaun itu akan nampak seperti karung bila kukenakan … Bayinya mulai merengek, dan Helen mengangkatnya, tak ada masalah lagi, nampak berat, dan dia menyanyi beberapa lagu nina-bobo tradisi Yunani dengan suaranya yang dalam lagi seksi. Bayinya berhenti menangis. Kepala kecil yang lunak beberapa inchi di dekat Mary, dan bau manis bayi yang mudah diakrabi membuatnya ingin menangis. O, tidak, Mary membatin, o, tidak –tetapi Helen dengan biasa-biasa saja mengangsurkan bayi dalam gendongannya dan berkata, “Aku ingin ke toilet,” dan langkah-langkah panjangnya menjauh, dengan gaun linen hitam melambai-lambai mengelilinginya.

Mary membatin, aku pikir Dmitri akan menyenandungkan lagu-lagu Yunani untuk bayi kami. Ketika Demetrios dan Helen berbincang dengan bahasa Yunani Mary mendengarkan dan Mary tidak berpikir bahwa itu hanya soal kebab dan taramasalata dan retsina dan segala macam yang mereka jumpai di sini di London tetapi tentang matahari di lautan teduh membiru dan batu-batu karang yang terpanggang dan pohon-pohon zaitun dan lagu-lagu. Selalu saja di saat dua orang Yunani berbincang bersama-sama Tom dan Mary – keduanya mengerti bahasa Yunani tidak lebih dari beberapa kata saja—bertukar senyum tahu sama tahu bahwa orang yang mereka kawini kadang-kadang terasa asing bagi mereka.

Mary tidak berbicara dengan Demetrios malam itu ketika dia masuk, sebagaimana biasa, terlambat, sedikit lewat tengah malam, namun Mary duduk di atas tempat tidur dan memandanginya ketika Dmitri terhuyung-huyung hilir mudik di dalam kamar dan menyumpah-serampah dan kemudian ganti baju dan selanjutnya meluncur di atas tempat tidur memunggunginya. Mary mengulurkan lengannya merengkuh Dmitri dari belakang dan melakukan apa yang Dmitri suka lakukan padanya, mengggigit-gigit kecil telinganya dan kemudian menciumi dan mencecapi lehernya. Pertama kalinya Mary melakukan apa yang baginya seperti melompati pagar dan menjumpai kegelapan tatkala ia telah mengambil kendali inisiatif, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya – dia cukup senang menjadi seseorang yang mengatakan iya – dan semacam ada dalam cetusan badai seks. Namun tidak selalu mulus: aku tidak akan membiarkanmu meraihku untuk membenarkan apa yang belum kuketahui alasannya, ujar Dmitri, mengusiknya –Mary membatin, tapi kemudian memandangi apa yang bisa membuat suaminya merasa menikmatinya lagi, atas kepekaan pria ini, mengejutkan Mary, bagaimana kau berpikir lelaki ini hanya sesosok manusia bawel dan kasar. Dmitri tahu istrinya akan malu, takut kalau-kalau Dmitri akan berpikir bahwa ia memohon-mohon untuk melakukan hubungan seks maka alih-alih mengubahnya menjadi semacam sebuah dekapan, dan itulah mengapa Dmitri membiarkan istrinya menduga-duga. Mary melihat Helen memberi sentuhan-sentuhan dan guncangan-guncangan kecil pada Tom yang nampaknya menjadikan keajaiban dan semacam rasa takjub di raut Tom, dan dia mencoba hal itu pada Dmitri, kaku, dan Mary berpikir bahwa ada sebuah malam akan mudah baginya meraih satu lengan milik suaminya dan kemudian ia berbahagia sampai pagi tiba, dan malam ini adalah sebagai hal yang tidak mungkin bahkan sekedar meletakkan tangannya untuk menyentuh suaminya, suaminya membiarkan ciuman dan kecupannya hampa.

Perempuan itu diam sepanjang malam, padahal dia tidak tidur, dan esok harinya ia melewati jam sarapan. Dan sekarang ia merasa ketakutan. Dia menatap suaminya ketika suaminya memalingkan matanya tapi kadang-kadang pandangannya serupa tatapan keheranan, marah dan cemas. Selain rasa takut bahwa ada rasa kecewa dalam diri Mary, dan kecewa akan segala apa yang ada pada suaminya, seperti sebuah perasaan merasa bersalah ada padanya, semakin kuat setiap menitnya, sebab apa yang ia lakukan sudah terlalu jauh. Dmitri seharusnya bersikap baik padanya, Dmitri seharusnya menciumi tangannya dan membasahinya dengan airmata dan memohon maaf.

Malam itu Mary dengan hati-hati pura-pura terlelap ketika suaminya datang dari restoran. Mungkin Dmitri akan menciumnya: dia selalu melakukan itu, saat Mary sudah tidur. Mary akan mengulurkan lengannya dan menarik suaminya dalam dekapannya. Tapi Dmitri tidak menciumnya.

Pagi berikutnya saat sarapan Mary mendapati dirinya duduk di sana, dengan raut tatapan seperti piringan radar mengikuti suaminya mengelilingi ruangan. Nampaknya Dmitri tidak sedang memperhatikan istrinya. Mary membatin, dia bodoh. Hanya karena aku tidak memasang senyum di wajahku dan aku tidak berbicara — tapi aku sama saja di dalamku, bukan? Saat itu Dmitri menghentak-hentakkan kakinya di lantai dan mengetuk-ketukkan jarinya pada sesuatu. Dmitri memandang seolah-olah Mary mengutuknya. Dmitri meninggalkan kopinya dan membanting pintu keluar rumah. Pagi selanjutnya Mary bangun sebelum Dmitri bangun, dan ini soal sedikit saat untuk melewati tempat tidur tanpa harus “menjaga penampilan,” begitulah yang sekarang ia pikirkan, tapi Dmitri terduduk di atas tempat tidur dan Mary mengatur wajahnya sehingga ia menatap suaminya dari sudut pandang yang paling rendah. Dmitri berteriak, seolah-olah dia baru saja mimpi buruk, dan kemudian dia mulai tergagab-gagab, “Kau perempuan keji, Mary. Kau seorang perempuan yang benar-benar keji.” Malam itu Dmitri menghela nafas saat tidur dan mengerang dan memekikkan apa yang kedengarannya seperti kutukan dalam bahasa Yunani. Semua itu hal yang menakutkan bagi Mary. Dia bisa membunuhku, Mary membatin, dan, tidak, dia tidak akan dekat-dekat sehingga membuat segalanya menjadi mengerikan kecuali memutuskan, aku akan menghentikan ini semua. Cukup. Tapi dia tidak bisa menghentikannya. Sebuah tatapan sarat tuduhan penuh permusuhan telah melekat erat pada wajahnya. Dan dia berpikir, namun bukankah awalnya semua itu demi sebuah alasan yang baik?

Dan hari-hari pun berlalu. Pada suatu malam ketika empat orang jalan bersama Mary berharap Helen dan Tom tidak memperhatikan dia mengabaikan Demetrios dan bahwa Demetrios melakukan sesuatu untuk menghindari tatapan mata istrinya. Namun Helen memperhatikan, segalanya baik-baik saja.

Hari berikutnya Mary bertanya kepada Helen, “Berapa lama kau terus menatapnya dengan cara semacam itu?”

“Aku tidak pernah bertahan lebih lama dari satu hari. Ya, aku mencintainya, bukan?” Dia kedengarannya sedikit mengelak.

Sekarang sudah tiga minggu sejak Mary memulai terapi ini. Dia merasa gila karena gugup, dan dia tidak keluar ke mana-mana lagi kecuali duduk meratap, dan kemudian duduk dalam diam, menatap, tidak pada Dmitri, sebab dia tidak ada dihadapannya, tapi pada dinding. Dia tidak tahu apa yang terjadi, kecuali sebuah kekeliruan. Dia sudah kehilangan suaminya? Dia tidak datang sampai jauh malam, sebab dia mabuk-mabukan. Saat Dmitri terantuk-antuk di dalam ruangan ia menyumpah-nyumpahi istrinya – dalam bahasa Yunani. Kemudian pada suatu malam dia tidak pulang.

“Apa yang terjadi denganmu dan Dmitri?” tanya Tom, saat berjumpa Mary di jalan. “Kalian sedang bertengkar?”

“Bukan begitu.” Ujar Mary sambil tersenyum, ketika dia merasa hidupnya berkeping-keping.

Di tempat tidur malam itu dia mengulurkan lengannya memeluk suaminya yang sedang mabuk, dari belakang, dan mengusap-usap dan berkata, “Ayolah, Dmitri, jangan merajuk begitu.” “Enyah kau ke neraka!” dia berteriak, dan menggerutu berisik, dengan cara yang membuat Mary membencinya, dan kemudian Dmitri terlelap dengan segera.

Ketika pagi datang Mary bangun dan meloncat dari tempat tidur dan menyiapkan sarapan, dan ketika lelaki itu keluar menuju kamar mandi, siap-siap mengenakan jaketnya untuk pergi, Mary menahannya di pintu dan berkata, “Aku menyiapkan sarapan yang baik untukmu.”

Seketika Dmitri tertawa, tapi tawa itu seperti gonggongan anjing, dan dia menggoyang-goyangkan jarinya pada Mary dengan sindiran yang canggung dan bilang, “Kamu sedang bicara. Kau tidak menggunakan kata-kata denganku, jadi diamlah. Aku tidak ingin mendengarmu.” Dia berlalu.

Mary pergi di mana Helen sedang bersama bayinya. Dia sedang ada dalam kelompok para nyonya dan bayi-bayinya. Mereka semua tertawa-tawa dan berbincang dan melambung-lambungkan bayi mereka. Benar-benar Helenkah itu? Dia sakit atau apa? Dia nampak kurus, dan bahkan lusuh, dengan gumpalan payudara sedang dalam masa menyusui. Dan saat Mary berdiri memandangi Helen, berpikir, tapi ini bukan sebagaimana Helen yang biasanya. Dia berpikir hari-hari ini Dmitri kelihatan di matanya sebagai seorang lelaki gemuk yang canggung dengan wajah kemerahan khas pemabuk. Mary pergi bergabung dan mendapati Helen tidak memberikan tempat di bangku panjang itu untuknya. Mary mendesaknya untuk mendapatkan tempat, dan keberadaannya membuat satu demi satu para wanita itu meninggalkan tempat tersebut dan mendorong kereta dan kursi bayi mereka.

Saat itulah Mary mengisahkan pada Helen rangkaian ceritanya, dan dia tahu dia kedengaran seperti perempuan kurang waras. Helen mendorong keretanya ke depan dan ke belakang. Dia mendorongnya satu arah, mendencing-dencingkannya ke atas dan ke bawah, menarik kembali mendekati dirinya, mendencingkannya dengan jeda cukup lama, penuh perasaan, dan mendorongnya ke depan lagi, dan bagi Mary ini semacam pengakuan bahwa kereta bayi ini menjadi bagian dari yang mendengar dan menilainya.

“Kau mempertahankan sikapmu itu sampai tiga minggu?” tanya Helen dengan cara baru, dengan wajah dingin tidak menyenangkan, tidak cantik lagi. Mereka duduk di bangku kayu yang kotor di luar kedai minum yang membutuhkan sapuan cat, dan tidak menarik lagi, walaupun ada pohon-pohon kecil menjulang di sisi-sisi pintu. Pohon-pohon itu membutuhkan air dan mereka diselimuti debu.

“Tom bilang Demetrios terlalu mabuk saat bekerja kemaren. Dia akan kehilangan pekerjaannya jika dia tidak berhati-hati.”

Kata-kata, “Tapi kau yang memberiku gagasan ini” tidak bisa tersampaikan dengan lidahnya. Mary bertanya pada dirinya sendiri – dan dia tercekat rasa gugup bahwa ia kelihatannya dalam keadaan tak berkutik – mengapa aku melakukan apa saja yang ia katakan?

“Kau sebaiknya mencoba berbaikan dengannya,” ulas Helen, dan dia beranjak dari bangku itu dan pergi dengan bayinya, bahkan tanpa senyuman untuk Mary atau kata-kata, “Sampai jumpa besok.”

Aku telah kehilangan Helen, juga, pikir Mary. Mary pergi menunggu di luar restoran di mana Dmitri bekerja. Suaminya punya satu jam waktu istirahat siang ini. Saat dia keluar Mary berlari padanya dan meletakkan tangannya di lengan suaminya dan berkata, “Dmitri, aku minta maaf, maafkan aku, Dmitri.” Mary menangis dan Dmitri memalingkan diri dan berujar, “Jadi kau meminta maaf dan hanya itu yang ingin kau katakan. Untuk apa itu semua? Aku ingin seorang anak, itu saja. Kau perempuan tidak baik, Mary.” Mary bisa melihat suaminya merasa ngeri tatkala memandangnya, sekejab, lelaki itu takut ada tatapan dingin penuh kemarahan muncul lagi di wajah perempuan ini. Dmitri mencoba melepaskan lengannya, tapi Mary menggenggamnya kuat-kuat dan berkata, “Tolong tolong tolong tolong, Dmitri.” Pria itu berdiri setengah membalikkan badan, dengan gugup menepis pandangan istrinya, menghindari matanya, yang menyusahkan hatinya. Mary berpikir, dia akan membenciku selamanya, tapi kemudian dia memohon, “Ayuk, Dmitri, pulang sekarang.” Keduanya berdiri rapat di lantai paving, dan orang yang hendak lewat menepi, dan Mary mendekap suaminya untuk kehidupan yang penuh cinta, untuk segala rupa yang ia rasakan, karena keadaan yang membelenggu. Mary berurai airmata, dan Dmitri merasa panas dan membara dan nggak keru-keruan.

Di rumah Mary mencoba mengajak suaminya ke tempat tidur, tapi Dmitri duduk menghadap meja dengan kedua tangannya menahan kepala. “Apa yang kau pikirkan sekarang?” Dmitri bertanya. “Kita akan bercinta dan kemudian mengakhiri ini semua?”

“Aku sudah berhenti minum pil, Dmitri.”

“Jadi kau sudah berhenti minum pil.”

“Mari ke tempat tidur, Dmitri.”

“Begitu saja caranya membuat bayi.”

Mary meraih kedua tangan suaminya dan mengangkatnya, dan Mary berpikir, tapi apa pernah aku memintanya ke tempat tidur sebelum ini? Dmitri membiarkan dirinya ditarik-tarik, dan bertumbukan dengan istrinya di tempat tidur. Dmitri menangis dengan airmata yang amat kesakitan. Mary telah mematahkan hatinya. Mary tidak merasakan apa pun, semacam getaran kedigdayaan kecil baginya atau rasa takut-takut yang menyenangkan karena permainan seks mereka. Dalam hati Mary bergumam, “Dia akan mengatasi ini, dia akan melupakan semua, dan kami akan kembali sebagaimana kami yang sudah-sudah.” Untuk sekarang kelihatannya bagi perempuan ini adalah memaknai bagaimana mereka selama ini begitu luarbiasa, dan perempuan ini tidak habis pikir mengapa dia mencampakkannya begitu saja.

Dalam pada itu yang pasti bukan persoalan bercinta, atau bahkan soal seks semata, sebab Mary menggenggam sebuah daging susut yang lemas mengecil, dan tidak pernah hal semacam ini terjadi sebelumnya.

“Jangan kau ulangi lagi,” Dmitri berkata, dengan suara gundah dalam kesengsaraannya yang baru. “Jangan begitu, ingat itu. Jika kau melakukannya aku akan membunuhmu. Aku akan minggat setelah itu dan tak akan pernah pulang, jadi jangan lakukan itu ya.”

Sang pria berbaring di tempat tidur, kali ini terlentang, tidak memunggungi. Sang wanita menyelusup di lengan prianya, berbaring sedekat mungkin. “O, Dmitri, aku minta maaf.” Perempuan ini menangis tapi merasa lebih enakan, karena dia memutuskan untuk mendengar apa saja yang suaminya ungkapkan tidak lain sebagai wujud sikap meminta maaf. Mary berkata pada dirinya sendiri, “Kami akan melupakan semua ini dalam satu-dua hari dan segalanya akan kembali sebagaimana sedia kala.”