Oleh: Djoko Saryono (Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang)

Sesuatu tema saya tulis dan saya sodorkan kepada pembaca karena saya mempunyai maksud tertentu. Bentuk cerpen lebih saya pergunakan sebagai cara langsung untuk memperlihatkan ketidakadilan. Untuk secara halus menyatakan gugatan saya, mengapa hal semacam itu bisa terjadi dan ada di dunia yang kita gumuli sehari-hari. Saya adalah pengarang. Saya adalah pengamat dan pemikir.[Huruf tebal dari saya]. Saya bukan pihak yang berwewenang atau berkuasa mengubah keadaan. Saya hanya bisa menunjukkan, bahwa ini ada atau itu terjadi. Apakah itu sesuai dan layak berlangsung di dunia kita. Dan apakah “pesan” yang terkandung dalam tulisan saya itu sampai ke tujuan, terbaca dan terpikirkan oleh mereka yang berwajib, itu tidak pernah saya ketahui maupun ramalkan. Tugas saya sebagai pengarang adalah menulis. Menulis yang selalu menyentuh hati saya, yang terpandang oleh mata saya dan dianggap oleh hati saya sebagai sesuatu yang dipilihnya. (Nh. Dini, Naluri yang Mendasari Penciptaan, dalam Proses Kreatif, Jilid 2, Pamusuk Eneste [editor], hlm. 140—141)

Itulah garis besar yang saya alami [baca: ketercelupan Nh Dini dengan cerita, kesenian, dan kebudayaan Jawa – DS], yang menjadi dasar atau latar belakang kecintaan saya akan “cerita-cerita”. Pertumbuhan yang selalu penuh dengan dialog bersama ibu, bapak dan kakak saya perihal dongeng atau cerita keluarga yang mereka tuturkan itu membikin saya merasa kaya. Semuanya seringkali saya ingat kembali, atau diingatkan oleh Ibu atau Kakak, sehingga menolong saya menulis tiga buku pertama dari lima seri “cerita kenangan”. Sebagai selingan, mengenai penyebutan cerita kenangan itu, seperti halnya dengan judul-judul lain, saya terpaksa tukar-menukar hingga lebih dari tiga surat dengan Penerbit Dunia Pustaka Jaya. Karena buku-buku itu bukanlah novel atau roman. Saya tulis dan kehendaki berupa kenangan, karena itu saya ambil dari sebutan di Barat souvernirs. Lepas dari soal meniru atau membikin terjemahan dari kata souvenirs, setiap orang apalagi pencipta, berhak menggunakan kata-kata “baru”. Terlebih lagi, jika itu berhubungan dengan hasil ciptanya sendiri. (Nh. Dini, Naluri yang Mendasari Penciptaan, dalam Proses Kreatif, Jilid 2, Pamusuk Eneste [editor], hlm. 134—135)

Nh Dini adalah diri yang mengelak atau melampaui. Mengelak atau melampaui konvensi umum dunia kesusastraan yang ditekuninya sekaligus kepastian dan kemapanan yang diberikan oleh tradisi dan budayanya. Secara jelas-tersurat dua kutipan di atas menunjukkan hal yang dimaksud. Pertama, dia memang mengaku sebagai pengarang meskipun pada saat yang sama menyatakan diri sebagai pengamat dan pemikir. Baginya dirinya sekaligus pengarang, pengamat, dan pemikir. Kedua, cerita-cerita yang dikarangnya dinyatakan bukan novel atau roman, melainkan cerita kenangan karena bersumberkan atau berisikan pengalaman-pengalaman dirinya sendiri yang kemudian dipadukan dengan hasil pengamatan dan pemikirannya atas sesuatu. Ketiga, dia mengaku menimba cerita-cerita yang dikarangnya dari pengalaman diri sendiri [bukan pengalaman orang lain] dalam mengarungi kehidupannya yang demikian panjang di tengah-tengah pelbagai habitus tradisi, seni, dan kebudayaan. Bila dicermati secara khusus, teknis, dan detail dapat diketahui bahwa semua cerita yang dikarang oleh Nh Dini baik cerita pendek maupun cerita panjang berupa [berbentuk] cerita kenangan yang bersumberkan dan berpangkal pada pengalaman diri sendiri dalam menjalani kehidupan yang panjang, yang disertai dan dipadu dengan hasil-hasil pengamatan dan pemikirannya atas sesuatu terkait dengan tema dan pesan karangannya. Meskipun bisa dimiliki oleh pengarang lain, hal tersebut merupakan keunikan atau kekhasan kepengarangan Nh Dini sehingga dia beroleh tempat jelas dalam jagat sastra Indonesia.

Kerja kepengarangan Nh Dini yang secara serempak [simultan] memerankan diri sebagai pengarang, pengamat, dan pemikir [yang berarti transdisipliner] yang bertolak dan berpangkal dari pengalaman diri sendiri tersebut serupa kerja seorang autoetnografer sehingga [dalam tulisan ringkas ini] saya ingin menempatkannya dalam posisi seorang autoetnografer [saya pinjam dari khazanah ilmu sosial dan budaya]. Selaras dengan itu, cerita-cerita kenangan yang demikian detail, cermat, dan realistis yang dihasilkan oleh Nh Dini saya sebut sebagai teks atau narasi autoetnografi[s] meskipun pada umumnya khalayak sastra Indonesia menyebutnya otobiografi fotografis. Teks-teks autoetnografis Nh Dini terkesan sebagai hidden transcript [pinjam istilah James Scott] yang diposisikan sebagai bentuk perlawanan tekstual-simbolis atas ketidakadilan, kesewenang-wenangan, ketimpangan, dan ketidakmanusiwian yang menyentuh hati Nh Dini. Dalam cerita-cerita kenangan Nh Dini, perlawanan tekstual-simbolis itu didasarkan pada penegakan otonomi individu untuk berdaulat dan merdeka memilih dan menyatakan diri. Untuk memperjelas hal-hal tersebut, dalam tulisan ringkas-impresif ini berturut-turut dipaparkan ihwal (1) keberadaan dan posisi Nh Dini sebagai seorang autoetnografer, (2) cerita kenangan Nh Dini sebagai teks naratif autoetnografis yang berusaha menyungging budaya yang di-/ter-bentuk oleh perjalanan diri Nh Dini yang demikian panjang, (3) teks autoetnografis sebagai perlawanan tekstual-simbolis Nh Dini, dan (4) penegakan otonomi individu sebagai basis perlawanan tekstual-simbolis Nh Dini.

 

KEPENGARANGAN NH DINI SEBAGAI AUTOETNOGRAFER

Dalam khazanah metodologi kualitatif ilmu sosial dan budaya beberapa tahun belakangan (setidak-tidaknya 10 tahun terakhir) terus berkembang autoetnografi (autoethonopraphy). Ditilik dengan pengertian atau lensa pandang Basarab Nicolescu dalam Methodology of Transdisiciplinarity – Levels of Reality, Logic of the Included Middle and Compexity (2010:27), autoetnografi sudah melampaui bidang disipliner (beyond disciplines), bahkan melampaui bidang multidisipliner, sudah masuk bidang transdisipliner. Meskipun istilah autoetnografi ini dibentuk dengan memadukan istilah autobiografi (autobiography) dan etnografi (ethnography), pengertian atau konsep autoetnografi sudah melampaui paduan makna autobiografi dengan etnografi. Maknanya, autoetnografi bukan sekadar penjumlahan autobiografi dan etnografi, tetapi peleburan autobiografi dengan etnografi yang melahirkan autoetnografi. Mengapa demikian? Karena  “transdisciplinary (adalah) creating a unity of intellectual frameworks beyond the disciplinary perspectives(Stembers, 1990) atau “Transdisciplinarity concerns that which is at once between the disciplines, across the different disciplines, and beyond all disciplines. Its goal is the understanding of the present world, of which one of the imperatives is the unity of knowledge” (Basarab Nicolescu dalam Methodology of Transdisiciplinarity – Levels of Reality, Logic of the Included Middle and Compexity, 2010:27).

Sehubungan dengan itu, autoetnografi sering dimaknai atau dikonsepsikan sebagai kajian kualitatif ilmu sosial dan budaya yang bertolak dan berpangkal dari pengalaman diri sendiri yang bertungkus lumus dengan kebudayaan untuk memahami dan mendeskripsikan kenyataan sosiologis atau sosiokultural tertentu. Dalam hubungan ini perlu dicamkan benar bahwa autoetnografi bermula, berpangkal, dan bersumber pada pengalaman sendiri dan cerita pribadi, bukan pengalaman dan cerita orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk memahami dan memaparkan matra-matra kebudayaan yang sedang atau telah membentuk diri atau justru dibentuk oleh diri sendiri, yang menjadi kenyataan sosiologis atau sosiokultural. “Autoethnography begins with a personal story, in this case my strory about adoption and family”, ujar Sarah Wall dalam Easier Said than Done: Writing an Autoethnography (2008) yang memaparkan pengalamannya mengadopsi anak berumur 10 tahun menjadi bagian keluarganya. Lebih lanjut, tegasnya, dari pengalaman adopsi itu dipaparkan perubahan sosial yang mengikuti sebagai sebuah kenyataan soiologis. Ini menandakan bahwa hulu autoetnografi adalah pengalaman diri sendiri dan cerita pribadi dan muara autoetnografi adalah lukisan kenyataan sosiologis atau sosiokultural.

Sejalan dengan itu, autoetnografer (autoethnographers) bekerja dengan berfokus pada diri sendiri, budaya, dan tulisan deskriptif, naratif atau puitis. “Autoethnographers vary in their emphasis on auto- (self), -ethno- (the sociocultural connection), and -graphy (the application of the research process)”, tandas Sarah Wall (2008). Tidak mengherankan, seorang autoetnografer perlu berpikir serupa pengamat-pemikir budaya sekaligus menulis serupa pengarang; “thinking like an ethnographer, writing like a novelist”, jelas Carolyn Ellis dalam The Ethnographic I: A Methodological Novel about Autoethnography (2004:330). Pengalaman Ayu Sutarto (2006) menjadi seorang manusia Jawa sesungguhnya yang dituangkan dalam tulisan Becoming A True Javanese: A Javanese View Of Attempts At Javanisation (2006) menggambarkan cara kerja seorang etnografer karena bermula dari pengalaman dan cerita diri Ayu Sutarto, yang kemudian berproses menjadi manusia Jawa sejati (berbudaya Jawa), dan selanjutnya diangkan dalam tulisan naratif semi deskriptif. Demikian juga karya Sarah Wall (2008) berjudul Easier Said than Done: Writing an Autoethnography yang menceritakan pengalaman pribadinya mengadopsi anak berumur 10 tahun bisa menjadi contoh cara kerja seorang autoetnografer. Contoh lain cara kerja seorang autoetnografer yang menceritakan pengalaman pribadi di bidang pendidikan, kemudian berlanjut memaparkan kenyataan-kenyataan sosiokultural, dan selanjutnya dituliskan dengan gaya naratif dapat dicermati dalam Academic Autoethnographies: Inside Teaching in Higher Education karya Daisy Pillay, dkk (2016). Buku berjudul Music Autoethnographies: Making Autoethnography Sing/Making Music Personal (2009) suntingan Brydie-Leigh Bartleet and Carolyn Ellis juga menggambarkan dengan baik cara-cara kerja para autoetnografer musik.

Konsekuensi cara kerja seperti tersebut adalah bahwa seorang eutoetnografer perlu menjadi (a) seorang pengingat atau pencatat yang tekun dan baik atas pengalaman diri sendiri dan cerita pribadi baik bersifat emosional maupun empiris, (b) pengamat dan pencatat yang cermat dan rajin atas pelbagai matra sosiokultural atau budaya yang membentuk diri sendiri dan atau dibentuk oleh pengalaman diri sendiri dalam sepanjang atau fase tertentu kehidupannya, dan (c) pemikir dan penanggap yang jernih dan tangguh tentang pelbagai matra budaya yang telah membentuk dirinya atau dibentuk oleh dirinya. Di samping itu, tentu saja seorang autoetnografer harus mampu menjadi (d) seorang penulis yang fasih menurutkan dan menceritakan pengalaman diri sendiri dan cerita pribadi agar dapat tersungging atau terlukis budaya yang bertungkus lumus dengan dirinya. Untuk itu, seorang autoetnografer perlu memiliki (a) ketekunan merefleksikan, mengingat, mencatat, dan mengartikulasikan pengalaman-pengalaman dirinya sendiri dan cerita-cerita pribadinya di tengah habitus kehidupan berkebudayaan; (b) ketajaman dan kecermatan mengamati, menggali, menelisik, dan menyelidiki keadaan dan ekologi kebudayaan yang menjadi habitus kehidupannya sebagai kenyataan sosiologis; (c) ketangguhan dan kekokohan memikirkan, merangkaikan, menyimpulkan, dan memaknai hubungan-hubungan pengalaman diri sendiri dan cerita pribadi dengan kenyataan sosiologis kebudayaan yang bertungkus lumus dengan kehidupannya; dan (d) kefasihan dan kepiawaian menuliskan, menceritakan, dan memaparkan pengalaman diri sendiri dan cerita pribadi yang bertungkus lumus dengan kebudayaan sebagai kenyataan sosiologis. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa seorang autoetnografer merupakan sosok transdisipliner dan transdimensional yang memerlukan wawasan kecendekiawanan.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat diajukan pertanyaan di sini: dapatkah seorang Nh Dini diposisikan atau diperankan sebagai seorang autoetnografer, bahkan ditabalkan sebagai seorang autoetnografer? Tulisan ringkas-impresif ini berpendirian bahwa sosok Nh Dini dapat ditempatkan sebagai seorang autoetnografer yang telah memilih dan membaktikan hidupnya untuk mengingat dan mencatat pengalaman dirinya sendiri dan cerita pribadinya di tengah pelbagai interaksi kebudayaan yang membentuk dirinya atau dibentuk oleh dirinya, dan kemudian menuliskannya sebagai teks naratif tentang sesuatu atau memuat suatu tema dan pesan, dalam hal ini disebut oleh Nh Dini sebagai cerita kenangan. Pendirian itu didasarkan empat pertimbangan sebagai berikut. Pertama, dalam pengakuannya tentang proses kreatif yang termuat dalam Naluri yang Mendasari Penciptaan (2009) dengan tegas Nh Dini memaklumatkan diri, “Saya adalah pengarang. Saya adalah pengamat dan pemikir”. Dalam maklumat ini peran pengarang, pengamat, dan pemikir disandangnya secara serempak, paralel dengan peran seorang autoetnografer yang lazim di dunia ilmu sosial dan budaya. Dapat dibayangkan, setiap melukiskan pengalaman diri dan cerita pribadinya yang bertungkus lumus dengan pelbagai corak tradisi dan kebudayaan ke dalam karya tekstualnya, secara serempak Nh Dini bergelut dengan fakta, berimajinasi dengan bebas, berpikir dengan ketat, dan bernalar dengan persuasif selain memainkan perasaan hati. Jika kita baca secara cermat, detail, dan hati-hati bisa dikatakan karya-karya Nh Dini baik cerita pendek maupun cerita panjang yang disebutnya cerita kenangan selalu menampilkan jejak-jejak diri seorang pengarang sekaligus pengamat dan pemikir yang jeli dan cermat.

Kedua, dalam berkarya Nh Dini selalu bermula, berpangkal, dan bersumber pada pengalaman dirinya dan cerita hidupnya sendiri, sebagaimana pernyataannya, “Itulah garis besar yang saya alami [baca: ketercelupan Nh Dini dengan cerita, kesenian, dan kebudayaan Jawa – DS], yang menjadi dasar atau latar belakang kecintaan saya akan “cerita-cerita”. Seperti tecermin dalam tulisan Naluri yang Mendasari Penciptaan, bahkan Nh Dini merupakan seorang pencatat pengalaman diri dan cerita hidupnya sendiri yang tekun, detail, dan berdaya tahan luar biasa selain seorang pengarsip catatan yang baik. Tidak heran, ketiga, Nh Dini menyebut teks-teks naratif yang digubahnya sebagai cerita kenangan, dan malah menolak sebutan novel atau roman yang disematkan oleh orang lain. Dalam bahasa atau budaya Indonesia, cerita kenangan sering bersulih dengan berita kenangan, yang membayangkan peristiwa nyata dan pengalaman diri sendiri pada masa lalu, sehingga teks-teks naratif Nh Dini selalu memercikkan perbauran antara cerita dan berita, antara imajinasi dan sofistikasi pikiran, antara fakta yang ketat dan fiksi nyang metaforis, antara observasi yang cermat dan figurasi bahasa yang hidup. Kalau dibaca dan diresapi secara reflektif malah dapat dikatakan di sini bahwa semua teks yang digubah Nh Dini pada dasarnya merupakan cerita kenangan, mulai teks yang digubah pada zaman Orde Baru seperti Sebuah Lorong di Kotaku, Pertemuan Dua Hati, dan Langit dan Bumi Sahabat Kami sampai teks yang digubah pada zaman pascareformasi seperti Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (cerita kenangan kedua belas), Dari Parangakik ke Kampuchea, Dari Fontennay ke Magallianes, La Grande Borne, dan Argenteuil. Bahkan Pada Sebuah Kapal dan Tirai Menurun yang diakui sebagai novel ‘beneran’ yang bagus di dalam perbendaharaan sastra Indonesia masih terasakan kental dan tebal nuansa pengalaman dirinya sendiri, cerita kenangannya sendiri.

Oleh karena itu, keempat, karya-karya Nh Dini berupa teks naratif yang ditulis pada masa Orde Baru dan masa pascareformasi senantiasa menampilkan kesinambungan, keterkaitan, keterjalinan, dan hubungan erat serta keserupaan antara satu dan yang lain. Dengan kata lain, antara satu karya dan karya lain Nh Dini bukanlah sebuah patahan cerita kenangan, patahan pengalaman dirinya sendiri. Dalam bahasa lebih akademis, bisa dikatakan, seluruh karya Nh Dini yang notabene cerita kenangan memiliki hubungan intertekstualitas yang sangat kuat dan lekat. Hubungan intertektualitas yang kuat dan lekat tersebut berporos pada (a) pengalaman faktual yang diingat dan dicatat dengan detail dan cermat, (b) hasil-hasil pengamatan yang tekun dan cermat sepanjang perjalanan diri Nh Dini, (c) deskripsi-deskripsi pikiran dan gagasan yang tajam tentang sesuatu yang terkait dengan tema, misalnya kesetiaan berumah tangga, makna lembaga perkawinan, nasib kesenian tradisi Jawa, dan ketidakadilan gender dan sosial, dan (d) imajinasi, figurasi bahasa, dan gaya penuturan yang realis(tis), detail, bahkan “njelimet” dan terkesan lamban pergerakan ceritanya. Keempat hal tersebut senantiasa tersungging atau terlukis jelas-tegas dalam cerita-cerita kenangan yang sudah digubahnya, sejak Sebuah Lorong di Kotaku sampai Pondok Baca Kembali ke Semarang. Ini semua merupakan konsekuensi logis kepengarangan Nh Dini yang paralel dengan seorang autoetnografer, bahkan peran Nh Dini sebagai autoetnografer.

 

Cerita kenangan Nh Dini adalah perjuangan menegakkan otonomi individu, dalam hubungan ini otonomi perempuan, untuk memperoleh kedaulatan dan kemerdekaan memilih dan menentukan diri dan kehidupannya sendiri.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adams, Tony E., Stacy Holman Jones, dan Carolyn Ellis. 2015. Autoethnography. Oxford: Oxford University Press.

Dini, Nh. 2009. Naluri yang Mendasari Penciptaan. Dalam Eneste, Pamusuk (Editor). 2009. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Longo, Mariano. 2015. Fiction and Social Reality: Literature and Narrative as Sociological Resources. Wey Court East: Ashgate Publishing Limited.

Spivak, Gayatri Cakravorty. 2003. Death a Discipline. New York: Columbia University Press.

Waugh, Patricia. 2001. Metafiction: The Theory and Practice of Self-Conscious Fiction. London: Routledge Ltd.