Untung Temanku

Oleh: M. Djupri*

Mobil patroli plat merah melaju dari arah barat. Kendaraan terbuka berbangku panjang itu berhenti di depan tiang lampu jalan. Seluruh penumpang di bak belakang: petugas ketertiban pemerintah kota dan Polisi berlompatan turun. Puluhan pasang sepatu kulit beralas karet tebal menghempas jalan beraspal.

Sepuluh waria lari tunggang-langgang. Tangan-tangan mengangkat rok setinggi paha, membawa sepatu hak tinggi dan tas cangklong. Menyelamatkan diri dari kejaran petugas. Mereka berlarian sipat kuping, dan waria juling berkacamata hitam terjebur di sungai. Dua petugas berkacak-pinggang di tepi sungai menyaksikan waria itu kedinginan memegangi sepatu, tas, dan wig. Tak ada gelagat aparat ketertiban kota yang berusaha menolong.

Bulan bundar bermuram durja. Awan putih berarak-arak perlahan meninggalkan rembulan sendirian di langit.

***

Tengah malam, saya berada di halaman sekolah, semasa SMA dulu, di Jalan Wijayakusuma. Tiga tahun saya pernah berlajar di sini, pagi sampai siang. Saya mengenal betul sudut-sudut dan lorong-lorongnya di dalam kompleks sekolah, dimana dulu Bung Karno dan Rudi Hartono – Soekarno muda dan maestro bulu tangkis kenamaan Surabaya – pernah sekolah di sini. Di hati kecil, saya merasa bersalah, setidaknya terhadap diri sendiri. Sebab di malam gelap begini berada di sini.

Namun rasa bersalah itu mengendur. Bukankah tak ada guru atau teman sekolah yang melihat saya. Malam itu bulan bersinar terang. Si bundar kuning tersenyum di balik daun-daun cemara yang tegak berdiri. Lampu neon penerang jalan raya menyinari orang-orang bersenda-gurau dan ngobrol.

Tengah malam itu, tiga orang teman mengajak saya ke mari, cuci-mata di halaman sekolah. Di tembok setinggi pinggang, pantat saya dudukkan. Sendirian. Tiga teman sedang asyik berbincang-bincang dengan lima waria berdandan mencolok.

Wah, Mas Mantoangin lama sudah lo nggak kemari? Kemana saja, mas. Sibuk ya?” tanya seorang waria bertubuh gemuk.

Di pagar sekolah, dari kejauhan saya pura-pura tidak mengenal waria gemuk yang berbicara dengan Mantoangin. Pandangan saya arahkan ke empat waria yang duduk di sadel sepeda-motor milik seorang pemuda.

“Saya jarang keluar malam,” jawab Mantoangin kepada waria berbadan gemuk.

Saya nikmati asap keretek. Asap kuhisap masuk mulut, dan kukeluarkan lewat lubang hidung. Dua temanku berjalan ke arah selatan. Menghampiri dua waria berdiri pasang aksi. Seorang waria memakai rok ukuran midi. Rok panjangnya seperti mau menyapu rumput. Warna rok midi itu mencolok disinari terang neon pinggir jalan. Waria satunya bercelana panjang bell bottom warna putih, baju panjang merah menyala. Suka juga, waria itu berpakaian dwi warna, warna bendera negara kita.

“Ayo main, mas…” ajak waria bercelana panjang bergincu merah tebal.

Dua temanku – kedua-duanya pelukis – saling memandang. Mereka tersenyum.

“Akh, nggak. Saya sekadar ingin omong-omong,” jawab Wamardi, temanku bertubuh jangkung.

“Kan lebih asyik jika omong-omong di kegelapan. Di sana…” kata si rok midi. Jari tangannya menunjuk tempat parkir kendaraan. Gelap memang di tempat itu, yang di siang hari tempat parkir sepeda-motor dan sepeda angin murid-murid SMA. Ada juga satu-dua sepeda pak guru diparkir di situ, di tempat parkir khusus.

Telinga saya jelas sekali mendengar pembicaraan dua waria itu. Benak saya berputar: “Asyik di gelap-gelap di tempat parkir?”

Tiga tahun saya memarkir sepeda jengki merk Phoenix, yang dibelikan bapak di Pasarturi saat naik kelas. Sepeda buatan RRT biasa saya taruh di situ berderet dengan sepeda-motor. Jumlah sepeda-motor jauh lebih sedikit dibanding sepeda kayuh.

Di tempat gelap itu terdengar suara cekikikan. Tak lama kemudian, seorang waria muncul mengebasi rok midinya. Kulihat lelaki merogoh dompet, menyerahkan dua lembar uang kertas ke tangan waria.

“Sabtu malam Minggu besok, ke sini lagi, lo, ya,” katanya.

Saya teringat masa lalu. Dulu, bukan uang yang kuberikan kepada Pak Ngatimin, penjaga parkir di sekolah, melainkan karton manila tertera nomor dan stempel sekolah.

Waria dan si pemuda meninggalkan halaman parkir.

“Jangan melamun!” tegur Mantoangin mengejutkan saya.

“Tidak. Saya lihat bulan kok bundar benar,” jawabku sekenanya.

Waria yang tadi bicara dengan Mantoangin memerhatikan saya, dan ia mendekati. Dia tampak mengingat-ingat. Saya tersenyum, dia membalas.

“Sepertinya, saya pernah kenal sampèan, ya. Tapi di mana? Lupa saya,” kata si waria.

Mantoangin memandangi saya. “Lho, sudah kenal?” katanya.

“Saya, Tikno. Sutikno. Sampèan ‘kan Cak Untung, arèk kidul kali,” jawab saya.

Tidak lagi bisa berpura-pura, dan saya perhatikan wajahnya berseri-seri mendengar nama saya sebutkan. Mantoangin semakin tidak mengerti. Dia heran, mengapa saya memanggil: Untung – lengkapnya: Untung Surapati – padahal dia memanggil: Tèsi. Itulah nama samaran Cak Untung di malam hari.

Wah, kamu sejak tadi kok pura-pura tidak kenal,” kata waria.

“Maaf, saya lupa,” jawabku berbohong. Lalu saya keluarkan sebungkus kretek. Dia mengambil sebatang. Tangan Mantoangin cekatan menyalakan korek dan disodorkan ke depan bibir bergincu itu. Cak Untung menikmati asap rokok.

Lo, kamu sudah kenal toh sama Tèsi?” tanya Mantoangin membuang penthol korek di rerumputan.

“Kenal semasa kecil,” jawab saya, “dulu saya pernah ke rumah Cak Untung, e, Tèsi, (saya tunjuk dia) diajak Usman.”

Usman adalah teman saya di Sekolah Rakyat, juga teman SMP. Rumah dia di selatan kali mir, yang kami sebut kidul kali. Sedang sebelah timur kali dinamai ètan kali, kulon kali untuk barat sungai, dan lor kali bagi yang tinggal di sebelah utara sungai.

Tidak saya sangka, dalam perkembangan hidup selanjutnya, ternyata Cak Untung jadi banci, bencong atawa waria (wanita pria) alias wadam (wanita adam). Dulu kuketahui bahwa Cak Untung adalah wèdokan ludruk yang pentas di gedung ludruk Kapaskrampung. Dia punya anak dua dari pernikahannya dengan Sumirah, perempuan asal Duduk Sampean, Lamongan.

Dandanan Cak Untung jika pentas di panggung mirip perempuan asli. Penampilan dia menawan dan membuat kagum banyak laki-laki. Dialah satu-satunya sri panggung Sandiwara Ludruk “Gaya Baru” yang digandrungi banyak laki-laki.

Kami – anak-anak lor kali – senang nonton ludruk di Kapaskrampung. Saya paling suka duduk dekat penabuh gamelan. Sesekali jika tidak ada pengawas galak berkumis lebat tebal – kini disebut Satpam (Satuan Pengamanan) – saya masuk ke kamar rias. Dan nonton pertunjukan dari sisi kiri atau kanan panggung.

Kami, anak-anak kampung, senang bila Cak Untung bermain sebagai Marlena, istri muda Pak Sakerah. Suaranya lembut dan merdu cocok dengan peran sebagai istri muda, yang begitu aleman di depan mbuk Sakerah, istri tua Pak Sakerah. Mandor pabrik gula yang berani melawan Belanda dan mati di tiang gantungan.

Adegan nuk-manukan antara Marlena dan Brudin, juga paling saya sukai. Sebab adegan berikutnya, berlanjut dengan Pak Sakerah melarikan diri dari penjara atas laporan orang yang baru dimasukkan bui bahwa keponakannya yang berbuat kurang ajar terhadap bibinya sendiri. Si keponakan yang jatuh cinta dan main gila, membuat Pak Sakerah marah, dan berakhir Brudin tewas di ujung celurit pamannya. Pak Sakerah berkumis lebat itu berkaos strip merah-putih di balik baju dan celana hitamnya. Suaranya keras seperti halilintar di musim hujan.

Itu kesan saya tentang Cak Untung alias Marlena di masa lalu. Kabar selanjutnya, tak saya tahu bersamaan “Gaya Baru” bubar setelah gedung pertunjukan itu dibongkar berganti menjadi gedung percetakan awal mesin offset masuk ke Surabaya. Menurut cerita Usman, sejak gedung ludruk dibongkar, Cak Untung bersama istri dan dua anaknya kembali ke desa langganan banjir, jadi petani. Dia sudah tidak ngludruk lagi.

Malam itu saya benar-benar merasa heran. Setelah lebih sepuluh tahun tak pernah bertemu, kini Cak Untung alias Marlena alias Tèsi sering berada di Jalan Wijayakusuma, Kayoon (Kayun), Jalan Slamet, California – sebutan untuk tepi sungai di belakang Rumah Sakit Simpang, seberang asrama KKO – setelah waria itu terusir (tepatnya: diusir) dari kawasan Darmo Permai.

Saya ingin banyak bertanya tentang istri dan dua anak perempuannya kepada Cak Untung, tapi tertahan di tenggorokan. Tidak sampai hati kutanyakan. Mulutku terkunci tidak bertanya ini-itu – mungkin bagiku biasa – tapi bisa saja membuat tersinggung Cak Untung.

Dua temanku masih ngobrol dengan waria berok midi dan waria bercelana panjang putih baju merah.

“Sekarang Prita itu di mana?” tanya Mantoangin.

“O, sekarang dia enak, mas. Di Jakarta buka kapsalon dan ikut Grup Fantastic Doll. Dia sering pentas, menari ular. Tari perutnya ‘kan bagus, apalagi dia cakep,” kata Cak Untung.

Mantoangin manggut-manggut mendengar succes story tentang Prita di Jakarta. “Kalau Siska, Sirce, Wanda, Nora…?”

Mulutku terngaga mendengar sederet nama meluncur dari mulut Mantoangin. Nama itu hafal di luar kepala temanku, sementara asing di telingaku.

“Siska di Ancol, sekarang. Sirce di Tugu Monas. Wanda dan Tera, menurut cerita Tera minggu lalu, praktik di Malang…” jawab Cak Untung.

“O..” kata Mantoangin.

Di Kota Malang, kabarnya, juga ada likuran waria sering berkumpul di alun-alun Tugu, depan Balai Kota Pemerintah Daerah Kotamadya Malang, sebelah barat Stasiun Kereta Api Kota Baru.

“Kalau sampèan sendiri?” saya memberanikan diri buka mulut.

Cak Untung menyedot rokok, dan membuang puntung di tanah. “Siang hari, saya di kapsalon. Malam hari, ya begini ini, bertemu teman-teman. Saya ini ‘kan sudah old crack. Sebagai waria sudah kalah dengan yang muda. Daripada kesepian, ya di sini lebih menyenangkan,” tuturnya.

Saya terharu mendengar jawaban seperti itu. Saya menyesal mengapa tadi bertanya. Tidak kutahan saja di tenggorokan. Saya perlihatkan wajah dalam keadaan tersenyum, agar ia tak tersinggung atas kelancangan mulutku.

Bundar kuning masih sendiri di langit. Awan putih sesekali menghalangi pandanganku karena menutupi bulan. Awan-awan itu bergegas minggir, dan cahaya bulan kembali bersinar terang. Deru sepeda-motor membisingkan telinga. Rem mobil sesekali berderit saat  berbelok di perempatan jalan. Berbelok tajam melesat ke arah utara.

Lelaki penjual rokok terkantuk-kantuk di dalam rombong. Penambal ban tidur pulas di bangku panjang dekat tabung angin. Di seberang jalan, di kantor dinas penerangan instansi militer, dua bintara dan seorang prajurit tengah main catur untuk membunuh kantuk. Prajurit dengan dua strip merah di lengan menunjukkan posisi raja yang terjepit.

Saya perhatikan, Mantoangin dan Wamardi masih asyik ngobrol dengan dua waria.

“Ayo main dong, mas. Masa’ sejak tadi ngobrol tak ada habisnya. Apa nggak capek,” waria berbaju merah itu bicara.

“Besok saja, saya kemari. Malam ini badan agak loyo,” Mantoangin memberi alasan.

Bo’ong. Paling-paling besok nggak ke sini lagi,” sahut waria berok midi berkaos lengan panjang.

Mobil sedan putih pelan-pelan dan berhenti di pinggir jalan. Seorang waria berlari kecil mendekati. Penumpang mobil tak ada yang turun. Hanya kepala yang muncul dari sela-sela jendela.

“Lena, Tati… ini lho Om Yus,” teriak waria yang tadi berlari kecil. Suaranya bernada bariton.

Dua waria yang dipanggil – Lena dan Tari – tampak girang. Mereka berdua meninggalkan kedua temanku.

Wah, di-booking…” ucap Cak Untung.

Dua waria masuk ke dalam sedan. Sebelum mobil distater, dua waria itu melambaikan tangan ke arah Cak Untung dan kami.

Daag…

Daag…” balas Cak Untung melambaikan tangan kanan.

Sedan meluncur ke selatan dengan kencang.

Bulan di langit tetap sendirian. Udara malam mulai menusuk tulang. Kami berempat pamit. Saya lihat Mantoangin merogoh saku celana. Selembar kertas Limaribu Rupiah diserahkan Untung. Waria itu tampak senang.

“Terima kasih, Mas Mantoangin. Apa tidak pulang sama saya saja?” kata Cak Untung riang.

“Lain kali saja…” jawab Mantoangin penuh arti.

Kami meninggalkan halaman sekolah. Dua sepeda-motor melaju di aspal hitam ke selatan. Pohon-pohon flamboyan membisu. Waria di atas becak cekikikan digoda anak muda bersepeda-motor trail. Sepeda-motor kami terus melaju. Bulan bundar ikut pula berjalan.

Di belakang punggung Mantoangin, saya berpikir tentang sejatinya temanku. Dia sudah beristri, cantik lagi, dan punya anak enam orang. Sulungnya, mahasiswa perguruan tinggi negeri, hampir lulus. “Mengapa dia tertarik waria? Apa pula yang dia perbuat di tempat gelap dengan waria itu? Biseks-kah dia?” saya bertanya dalam hati. Di atas sepeda-motor, di belakang jaket Mantoangin, saya tetap tak berani bertanya.

Pikiran saya meloncat ke masa kanak-kanak. Menonton pertunjukan sandiwara ludruk di Kapaskrampung. Beralih ke temanku, Cak Untung. Mengapa ia tidak bergabung dengan grup ludruk Mandala di Jakarta. Mengapa lebih senang berdiri menunggu lelaki di halaman sekolah di malam hingga larut.

Saya tetap tak mengerti. Pikir saya di benak: tentu dia sudah lupa gending Jula-Juli atau Walang Kèkèk. Padahal suaranya merdu. Tentu Cak Untung juga lupa dengan tari remo dan kidungan. Saya lihat, dia memang sudah berubah.

Pertanyaan di kepala mendadak buyar. Saya lihat mobil patroli melaju dari arah selatan. “A, kasihan,” pikirku. Waria-waria tunggang-langgang mengangkat rok tinggi-tinggi. Menjinjing sepatu, tas, dan wig. Menyelamatkan diri dari razia petugas kotamadya dan Polisi. Malam itu, saya lihat puluhan waria lari kencang, menghindar kejaran petugas. Seorang waria berkacamata gelap terjebur di Kali Surabaya. Petugas berkacak-pinggang di tepi kali. Waria itu menggapai-nggapaikan tangan dengan memegangi tas dan wig. Tak jauh dari Kali Surabaya, di rumah dinas Jalan Walikota Mustajab atau pojok Jalan Sedapmalam, dua petugas jaga terkantuk-kantuk. Sementara pak walikota tengah bersenggama dengan istrinya di atas tempat tidur berpegas empuk. Mentul-mentul.

Di langit, bulan bundar tampak murung, kemudian tersenyum. ◙

 

Catatan:

sipat kuping: kencang

nyapa (bahasa Jawa): menegur

som-som: sombong

wedokan: lelaki yang memerankan pelaku wanita

cekikikan: tertawa

aleman: minta disayang

mBuk (bhs Madura): ibu

nuk-manukan (bhs Madura): bermesraan

bo’ong: bohong

succes story: kisah sukses

booking: pesan

old cracks: pemain kawakan, gaek

wig: rambut palsu

mentul-mentul: mendal-mendal.

 

M. DJUPRI

dilahirkan di Surabaya,15 Desember 1952 dan meninggal dunia di Kota Malang pada 22 Juli 2013.  Pernah kuliah di Jurusan bahasa Indonesia FKSS IKIP Negeri Surabaya, 1973-1975, dan tidak tamat. Semasa belajar di kampus Ketintang mendapat ilmu dan mengenal dosen-dosen yang juga sastrawan dan pengamat/kritikus sastra, yaitu Suripan Sasi Hutomo (1940-2001), Budi Darma, Gatut Susilo Sumowijoyo, dan lain-lain.

Semasa kuliah mulai senang menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Dimuat di Surabaya Post,Jawa Pos, Surya, Bhirawa, Liberty, Bintang Baru, Bali Post, surat kabar kampus Media Airlangga, Salemba Universitas Indonesia, Sinar Harapan, Suara Karya,Pikiran Rakyat, dll.

Semasa muda aktif di bidang seni dan kepemudaan di Beengkel Muda Surabaya (BMS) bermarkas di Aktif di grup kesenian dan kepemudaan Bengkel Muda Surabaya yang bermarkas di kompleks Balai pemuda.Di BMS ia mendapat pengalaman berorganisasi dan berolah seni, diantaranya dari Bambang Sujiyono (1949-2009), Akhudiat, Basuki Rachmat, Arthur Jon Horoni, Anang Hanani,dll. Di kompleks cagar budaya itu juga mengenal pelukis dan perupa antara lain M Daryono, OH Supono, Amang Rahman (1931-2001), Krisnha Mustajab, Rudi Isbandi, Nuzurlis Koto, Makhfud, Dwijo Sukatmo, dan lainnya. Juga mengenal sastrawan Muhammad Ali (1927-1998) dan Gatut Kusumo. Juga aktif di grup sastra 6 Januari 73 Art bersama Ismoe Rianto, Toto Sonata, Amamng Mawardi, dan Suharmono Kasiyun

Pernah aktif sebagai wartawan di tabloid Mingguan Mahasiswa, kemudian berganti Mingguan Memorandum pimpinan Agil H Ali almarhum. Pernah pula mendirikan majalah kebudayaan umum TREM bersama Nurinwa Ki S Hendro winoto, Peter A Rohi, Husen Mulahele  dan Saiff Bakham. Pernah aktif sebagai redaksi suratkabar harian Suara Indonesia di Malang selama sebelas tahun, dan di Tabloid Teduh, Surabaya.

Tahun 1983 tinggal di Kota Malang bersama istri, Hardini Irawati dan dua anaknya, Fajar Agastya dan Bama Budi Darma.