Kisah Para Pecinta Buku

Judul                            : Rumah Kertas
Penerbit                       : Marjin Kiri
Penulis                         : Carlos Maria Dominguez

Penerjemah                  : Ronny Agustinus

Cetakan                       : September 2016
ISBN                           : 978-979-1260-62-6
Halaman                      : 76 halaman
Peresensi                     : Muhammad Rosyid HW.*
Sejarah peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari para pecinta buku-buku. Potret kisah para pecinta buku inilah yang dituliskan Dominguez dengan sangat detail dan mendalam. Mulai dari bagaimana mereka meluangkan waktu membaca buku, mengatur keuangan untuk membeli buku baru, cara memperlakukan buku, hingga menata buku dalam rak-rak lemari perpustakaan. Membaca novel ini, pembaca akan digiring untuk menghayati cinta yang tulus terhadap buku, cinta sejati yang setulus-tulusnya. Berikut resiko, peluang, keuntungan dan kerugian menjadi seseorang yang terobsesi dengan buku.

Novel ini dibuka dengan narasi yang menghentak kesadaran bahwa buku akan mampu merubah jalan hidup seseorang. Pergumulan dengan buku akan membuat sesuatu hal yang luar biasa dalam mengarungi kehidupan. Kisah-kisah para tokoh nampak sederhana dengan ‘kegilaan’ imajinasi yang melompat-lompat namun memberikan kesan kuat bahwa buku adalah produk revolusioner.

Seorang professor sastra harus tewas tertabrak mobil karena membaca puisi di tikungan jalan. Profesor pangajar bahasa kuno mati saat kepalanya tertimpa buku lima jilid di perpustakaannya sendiri. Seorang lagi jatuh dari tangga hingga patah kaki ketika mencoba meraih sebuah buku di rak perpustakaan yang begitu tinggi.  Karena buku, banyak orang kehilangan kesadaran dan mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Bahkan, professor sastra tersebut, Bluma Lennon, dikisahkan membaktikan seluruh hidupnya untuk sastra dan tewas direnggut oleh sastra pula.

Berawal dari kematian Bluma inilah, dan pengiriman sebuah buku aneh karya Joseph Conrad, keseluruhan cerita dalam novel ini dirangkai. Karya yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol ini berkilauan dengan taburan nama-nama sastrawan dunia terkemuka berikut dengan karya-karyanya. Nama-nama seperti William Faulkner, Emily Dickinson, Pablo Neruda terselip di antara kalimat-kalimat yang mengisahkan buku-buku dan penggilanya. Hal ini menunjukkan kehidupan Dominguez yang sangat menggandrungi sastra dan buku dengan jangkauan bacaan yang begitu luas.

Dominguez dalam novel ini mengisahkan seorang tokoh bernama Delgado yang berprofesi sebagai bibliofil (kolektor buku) yang menghabiskan empat sampai lima jam sehari untuk membaca buku. Ia bekerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tidak enteng tanggung jawabnya. Tapi sepanjang waktu itu yang ia rindukan hanyalah pulang ke perpustakaannya dan melahap buku-buku. Ia mengoleksi sekitar delapan belas ribu buku yang terus ia tambah koleksinya. “Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka,” ucap Delgado saat ditanya tentang buku-bukunya. (hal. 26)

Seorang tokoh lainnya, Brauer, diceritakan lebih “gila” dalam mencintai buku-buku. Pegawai Kementrian Luar Negeri ini menghabiskan seluruh uangnya untuk membeli buku. Seluruh rumahnya semuanya berisikan kertas-kertas buku. Buku-buku bertumpukan di ruang tamu, kamar tidur, dan bagasi mobil. Ia rela tidur di loteng rumahnya dan meminjamkan mobilnya ke temannya hanya agar koleksi bukunya mampu tertampung dan mendapatkan ruang. Bahkan, ia memasang rak-rak buku di dinding kamar mandi kecuali di tembok tempat air memancar.  Dengan koleksi dua puluh ribu buku, ia membaca buku setiap hari tanpa waktu jeda sedikitpun. Seorang pembaca adalah pengelana dalam lanskap yang sudah jadi. Dan lanskap itu tak berkesudahan. (hal. 30)

Dominguez juga menceritakan dalam novel ini bagaimana menyusun buku-buku dengan baik sesuai dengan klasifikasinya. Klasifikasi buku tidak melulu tentang penulis buku yang berasal dari daerah sama, tapi juga mempertimbangkan penerbit dan keterkaitan sanad (hubungan guru murid). Ia sangat meperhatikan bagaimana karya satu berpengaruh terhadap karya yang lain. Perdebatan antar penulis tentang sebuah wacana juga menentukan apakah dua buah buku diletakkan berdekatan atau berjauhan. Dalam novel ini ia menggambarkan, “Pedro Paramo dan Rayuela sama-sama karya sastrwan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Sarmiento layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espinola, Benedetti, dan Felisberto Hernandez.” (hal. 39)

Sejarah telah membuktikan bahwa perkembangan kebudayaan tidak bisa dielakkan dari proses penerjemahan teks-teks. Pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1998, sastrawan Portugal Jose Saramago, pernah mengatakan bahwa “Sastrawan dengan bahasanya menciptakan sastra nasional. Sastra dunia diciptakan oleh penerjemah.” Tentunya, novel terjemahan ini hadir dengan harapan akan memperkaya khazanah kesusastraan di Indonesia ini.

Bahasa-bahasa terjemahan dalam novel ini berhasil menyuguhkan lanskap budaya yang terasa akrab bagi publik sastra Indonesia. Disinilah kejeniusan dan keahlian Ronny Agustinus sebagai penerjemah karya sastra. Persis seperti yang diungkapkan Novalis, pujangga Jerman dari aliran romantik yang memberi rumusan yang canggih dan dalam tentang penerjemah sastra: Der Ubersetzer ist der Ditcher des Ditchers yang artinya penerjemah adalah penyairnya penyair, atau pujangganya sang pujangga. Karena tak semua penerjemah mampu menghadirkan nuansa sastrawi dalam terjemahannya.

*Penikmat Sastra, tinggal di Malang

(Resensi ini dimuat di Solo Pos pada Minggu 06 November 2016)