Kisah Trubadur Machiguenga

 Oleh: Misbahus Surur

  

Judul Buku    : Sang Pengoceh

Judul Asli       : El-Hablador

Penulis            : Mario Vargas Llosa

Penerjemah    : Ronny Agustinus

Editor             : Widya Mahardika Putra

Cetakan          : Pertama, Oktober 2016

Penerbit          : OAK, Yogyakarta

 

Seorang pengelana berkunjung ke Firenze, Italia, untuk melupakan negaranya. Secara tak sengaja matanya menangkap rangkaian foto yang menampakkan sepasang anak panah dan busur, dayung pahatan, serta sesosok manekin yang terbungkus jubah pintal (cushma) ala Indian Amazon pada sebuah galeri mini di sudut jalanan kota. Ia tahu, foto-foto itu tak lain adalah profil suku-suku rimba yang hidup di hutan belantara negaranya, Peru. Foto-foto itu merebut perhatian dan mengingatkannya pada kenangan saat berinteraksi dengan manusia, sungai, pepohonan, sampan dan gubuk-gubuk di pedalaman Amazon.

            Begitu novel Sang Pengoceh ini dibuka, melalui narasi pertautan ingatan manusia dengan kampung halaman, atau segala sesuatu yang pernah dekat dengannya. Ikatan yang hidup, memang kerap bertaut lebih kuat pada saat sama-sama berpapasan di lokasi yang jauh. Bab pertama novel ini nyaris seperti laporan jurnalistik, sebelum alur novel melompat ke belakang dan berselang-seling di antara dua wajah: pertama, cerita dari sudut orang pertama, baik ketika bercerita tentang dirinya maupun ketika mengisahkan karibnya, Saul Zuratas; sementara yang kedua, dirangkai melalui narasi-deskripsi yang lebih mirip teks-teks etnografi.

            Saul Zuratas, mahasiswa etnologi yang tertarik dengan dunia orang-orang rimba, dan kelak memilih hidup selibat dari dunia modern. Lantas dengan sepenuh hati hijrah menjadi bagian dari suku rimba. Ia menganjurkan bagi para etnolog, dan semua yang berkepentingan dengan kehidupan rimba, akan pentingnya memahami sekaligus sadar diri terhadap dunia suku-suku adat rimba itu dalam kaidah (hidup) mereka sendiri. Sekurangnya, kesadaran itulah yang juga diperjuangkan Saul dari dalam hutan Amazon pasca membaur dan menjalani kehidupan organis bersama suku Machiguenga. Mereka nyata-nyata menjalankan praktik-praktik elementer dan kehidupan ugahari yang kaya dengan kearifan lokal, kebudayaan indigenous, kendati cara pandang modern kerap menuduhnya barbar dan amoral.

Kehidupan nomaden suku Machiguenga yang berpindah dari tempat satu ke tempat lain berbekal pilar kepercayaan kosmologi—antara lain, keyakinan jika berhenti atau terlampau lama berdiam di satu tempat, bisa membawa petaka kejatuhan matahari dan kerusakan alam. Kosmologi ini menggambarkan tilas kebudayaan diaspora Machiguenga di seluruh hutan-hutan tropis Amazon. Namun kehidupan suku yang terus berpindah juga menandaskan kemunculan ”sang pengoceh” (si pengabar, trubadur). Perannya sebagai kurir antarkomunitas menjadi pengikat narasi kesejarahan dan penyampai kabar antarkeluarga suku yang terpencar di empat penjuru mata angin wilayah teritori mereka.

Sayangnya besar harga yang harus dibayar oleh suku-suku primitif seperti Machiguenga dari ancaman industrialisasi dan pembangunan, yang datang dari luar teritori mereka. Kecongkakan negara-negara maju dengan misi ”pem-Barat-an”-nya; invasi kapitalisasi hutan tempat tinggal; intimidasi kebijakan pemerintah yang bernafsu menertibkan suku-suku yang sudah punya peri kehidupan sendiri ini, dalam agenda akulturasi dengan dunia modern yang bagi mereka asing. Usaha memodernisasi cara-cara hidup tradisional mereka yang genuine itu, secara fisik di antaranya seperti anjuran memotong rambut, menghapus tato, hidup menetap di satu tempat, dan berpakaian layaknya orang-orang kota. Semua faktor di atas menjadi penyebab hancurnya tradisi dan laku hidup, bahkan ancaman bagi kepunahan mereka.

Tidak berhenti pada industrialisasi, ancaman dari arah lain, berupa penetrasi agama dan keilmuan yang dilakukan para misionaris (memurtadkan mereka dari keyakinan nenek moyang); para linguis (yang mengacak-acak bahasanya); serta para etnolog (menerjemahkan laku keseharian mereka dalam karya akademik) juga tak kalah sengit. Inilah di antara babak-babak ambiguitas yang dibabar serta disuguhkan Llosa di lembar-lembar novel setebal 374 halaman ini.

Di antara yang menarik dari novel ini memang perihal investigasi kehidupan suku-suku adat di rimba Amazon dengan lingkungannya: pepohonan, sungai, hewan darat dan airnya, kosmologi, mitos beserta dunia ganjilnya, yang digambarkan secara hidup berkitar di sekeliling suku Machiguenga. Kekuatan sekaligus kesunyian alam dengan keanekaragaman firdaus flora dan fauna, folklore sekaligus alam irasionalnya juga digurat tak kalah apik dan memikat.

Si Saul, oleh kekuatan pesona orang-orang rimba kepadanya selama membaur mula-mula karena disiplin etnologi dan berkat tompel di mukanya, membuatnya merasa senasib-sepenanggungan: lahirnya solidaritas individu. Lantas, pesona alam dan tradisi suku yang dibaurinya tampak memberi penyadaran baru, yang lebih dalam ketimbang kerja etnologi, misi kaum agamawan dan kerja para profesional lainnya.

Cerita tentang Saul atau Si Muka Tompel (Mascarita), yang terpesona hutan Amazon, tempat hidup keluarga-keluarga suku Machiguenga di pedalaman Peru, dan pada akhirnya menjadi pengoceh inilah yang menjadi objek cerita dalam novel Llosa, peraih nobel sastra tahun 2010 itu. Cerita berkembang menyajikan dunia sehari-hari suku-suku rimba, di antaranya Machiguenga, lengkap dengan kosmologi, cara mencari makan gaya subsistence-nya, adat-istiadat, dongeng serta kepercayaan-kepercayaan gaib yang diyakini mereka.

Secara sambil lalu, novel ini saya pikir mengarah pada perdebatan antara paradigma yang mensubjekkan manusia dalam diskusi Cartesianisme (humanisme) vis a vis gagasan subjektivitas alam. Terlebih, karena humanisme di masa kini juga turut mempengaruhi kelahiran ilmu-ilmu yang terlampau agresif memperlakukan alam. Keprihatinan Saul akan fenomena ini tertuang dalam kalimat: “Atas nama ilmu pengetahuan, konsekuensi kerja para etnolog serupa dengan aktivitas para penyadap karet, penebang pohon, perekrut tentara, serta orang-orang mestizo yang “membinasakan” sebagian besar suku-suku.” Ketimbang memaksakan cara pandang atau nalar dari luar yang memenetrasikan cara hidup bobrok (kapitalisme) dunia modern, Saul lebih memilih tetirah ke dalam rimba dan hidup membaur menjadi bagian dari suku Machiguenga.

Walhasil, selain membaca kisah dalam bentuk novel, buku ini juga memberi kita pengetahuan perihal praktik etnografi, wawasan antropologi serta jurnalisme sastrawi, barangkali juga sub kajian trans-modernisme. Untuk beberapa bidang yang baru saja saya sebut, buku ini layak dibaca karena menyuguhkannya secara prosaik.

*Misbahus Surur, esais, mengajar di Jurusan Sastra Arab, UIN Maliki, Malang

 (Terbit di Jawa Pos, Minggu, 18 Desember 2016)