SPRITUALIME SEKSI

Judul Buku: Kumpulan Puisi: Arung Cinta
Penulis: Djoko Saryono
Tahun Terbit : 2015
Penerbit: Penerbit Pelangi Sastra dan Kafe Pustaka Perpustakaan Universitas Negeri Malang
Persesnsi: Royyan Julian*

 

Buku Arung Cinta karya Djoko Saryono dibuka dengan larik kenangan itu teramat hafal jalan(“Nasib Rindu, 1”). Sebagaimana Al-Fatihah dalam kitab suci, larik—sekaligus puisi—tersebut menjadi abstrak buku Arung Cinta. Puisi-puisi dalam buku tersebut merupakan narasi liris tentang kerinduan, kenangan, dan long distance relationship.

Puisi “Nasib Rindu, 1”, misalnya, menghadirkan semacam hipermemori dengan menggunakan nyaris semua jenis imaji. Aku lirik dapat merasakan seluruh kenangan bersama kekasihnya dengan detail seolah-olah ia sedang mengalami peristiwa itu. Menurut Maurice Merleu-Ponty, tubuh bukan hanya objek di antara objek-objek lain, melainkan objek yang sensitif terhadap semua rangsangan eksternal. Barangkali puisi tersebut semacam enskripsi dari seluruh stimulus yang diresepsi oleh aku lirik (objek).

Eros, dalam filsafat Yunani klasik, merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut cinta kepada kekasih. Eros didasari oleh motif estetis dan bersifat karnal. Namun, Platon mengoreksi bahwa eros tidak selalu identik dengan cinta badaniah. Keindahan sejati berakar dari kebenaran. Bila kebenaran dalam keyakinan filosofis Platon merujuk pada entitas yang idealis, maka cinta sejati pun semestinya juga tidak berasosiasi dengan materi jasadiah.

Puisi-puisi dalam buku ini mengimani cinta platonis. Karena itulah hubungan jarak jauh atau putus cinta bukan masalah. Bagi puisi-puisi Arung Cinta, sentuhan fisik bukan hakikat cinta. Dalam salah satu puisi disebutkan bahwa persinggungan raga adalah hubungan yang fana dan fatamorgana. Tidak heran jika puisi-puisi dalam buku ini mengglorifikasi kenangan dan kerinduan, sebab begitulah satu-satunya modus mempertahankan keberadaan cinta yang telah kehilangan statusnya.

Separuh pertama Arung Cinta berisi puisi-puisi yang (sepertinya) ditujukan kepada kekasih (‘k’ kecil). Separuh terakhir buku ini banyak berbicara tentang kecintaan kepada Tuhan (agape). Himne kepada Tuhan, dalam puisi-puisi tersebut—sebagaimana erosplatonis—tidak dimanifestasikan dalam ketaatan kasatmata (ibadah ritual). Devosi kepada Tuhan merupakan penghayatan kepada-Nya sebagai sang Cinta. Tentu saja menjadikan sang Mahacinta sebagai objek cinta menuntut cara yang berbeda dengan kaum syariah yang selalu menggunakan jalan hukum (syariah).

Perbedaan kedua jalan tersebut bisa ditarik pada sebuah premis: hukum mengikat, sedangkan cinta membebaskan. Penyimpangan (sebagai sebuah maujud kebebasan) dari ketaatan konvensional dalam buku ini, misalnya: ibadah bisa ditunaikan di kafe, bukan mesjid; ritual tidak hanya diwujudkan dengan mendaras kitab suci, tetapi juga kitab ‘tak suci’—yang diyakini sebagai bagian dari samudera ilmu Ilahi.

Selain itu, kecintaan kepada Tuhan, dalam buku ini, menuntut kebersihan hati dan perlakuan yang baik kepada sesama. Kecongkakan dinilai tidak mencerminkan karakter seorang pecinta. Mencintai Tuhan ditunjukkan dengan cara menjadi majnun kepada sesama manusia. Dalam khazanah kaum mistik, seluruh makhluk adalah embodiment dari sang khalik. Dengan demikian, dharma adalah bukti cinta kepada Pencipta.

Sejumlah puisi dalam buku ini mengaburkan eros dengan agape. Karena aktivitas membaca merupakan politik pembaca (context of justification), ketaksaan objek cinta yang dirujuk akhirnya membuat kita curiga: jangan-jangan puisi-puisi yang ditujukan kepada kekasih (‘k’ kecil) sebenarnya dimaksudkan kepada Kekasih (‘K’ besar). Narasi tentang Tuhan ditunjukkan dalam metafora-metafora feminin sebagaimana pujian terhadap tubuh perempuan.

Adakah yang seksi dalam spiritualisme? Bagi kalangan penyair mistikus laki-laki, Tuhan adalah pribadi yang feminin: Rahman, Rahim, Shekinah, Roh Kudus. Sudut pandang demikian akan membawa kita pada sebuah simpulan bahwa Tuhan dalam sejumlah puisi Djoko Saryono bukan objek cinta yang transenden, melainkan sosok yang amat dekat. Tuhan adalah Eros itu sendiri.

 

*Dosen di Universitas Madura
(sumber:http://julianroyyan.blogspot.co.id/2016_12_01_archive.html)