MALANGRAYA DAN KEARIFAN LOKALNYA*

(Perkenalan awal)

Oleh: Kristanto Budiprabowo**

Kota bukanlah gedung-gedung, jalan-jalan, taman-taman, dan tempat-tempat hiburan, kota adalah tentang bagaimana kamu bersikap terhadap dirimu, orang lain, dan lingkungan alam disekitarmu. Karena dari situlah orang akan melihat kearifan, keagungan, dan keindahannya.

 

Malangraya dalam keutuhan peradaban

Pada saat saya menyadari bahwa saya dilahirkan di Malang, ada banyak hal yang melekat dalam diri saya yang kebanyakan daripadanya adalah berasal dari orang lain. Mula-mula orang menghubungkan saya dengan kondisi yang ada di Malang; suhu dan cuacanya, makanan-makanan khasnya, kesenian dan budayanya, tempat-tempat indah yang dimilikinya, dan tak jarang juga dengan Arema dan Salam Satu Jiwa nya yang terkenal itu. Kemudian tentu saja orang akan melihat bagaimana cara saya berada; mulai dari cara berbicara dan logat saya, cara bergaul dan berpenampilan, hingga cara saya melihat dunia ini secara utuh. Namun bukan itu semua diri saya, itu semua adalah apa yang orang lain lihat ada dalam diri saya sebagai seseorang dalam hubungannya dengan daerah asal saya, dan lantas orang membangun asumsi bahwa jika berhubungan dengan daerah tertentu maka seseorang pastilah begini atau begitu. Salah kaprah parah primitif yang aneh bin ajaib hingga sekarang masih terus saja sering digunakan orang untuk menilai diri orang lain dan bahkan menilai sebuah wilayah tertentu.

Melihat Malangraya yang paling adil adalah dengan melihat seberapa erat hubungan seseorang dengan kota dan wilayahnya itu, apa perasaan terbaiknya, keindahan yang paling membuatnya nyaman, dan segala sumber budaya yang telah terbukti menjadi sumber penghidupan bagi dirinya. Demikianlah, melihat sebuah kota termasuk kearifan lokalnya pertama-tama adalah dengan melakukan tindakan apresiatif. Suatu sikap mental yang melihat diri sendiri memiliki peran dan manfaat penting bagi orang disekitarnya, alam semesta yang disentuhnya, dan dunia ini secara keseluruhan. Lantas, kesadaran peran penting dan kemanfaatan itu diarahkan bagi sebuah wilayah tertentu sebagai satu yang paling berharga menopang hidupnya. Dalam bahasa Indonesia memang kita tidak memiliki padanan kata atau frasa yang mengandung makna lengkap dari tindakan apresiasi. Namun beruntung, kita memiliki bahasa Jawa yang lebih kaya kosa kata dan pemaknaannya. Dalam bahasa Jawa tindakan apresiasi dapat disamakan dengan frasa mawayu hayuning, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah tindakan mempercantik/memperindah kecantikan/keindahan. Jadi sesuatu itu pada mulanya dilihat dengan kekaguman sebagai cantik, indah dan berharga, lantas diri kita memposisikan diri sebagai peran dan manfaat dalam rangka semakin mempercantiknya, memperindahnya, dan semakin memberinya muatan agar menjadi berharga bagi kehidupan seutuhnya (diri sendiri, orang lain, dan alam semesta ini).

Mengumpulkan kearifan lokal itu mula-mula adalah dengan mengenali kearifan yang ada dalam diri kita sendiri masing-masing.

Siapa kita orang Malangraya ini?

Selain penting untuk terus berani terbuka terhadap fakta sejarah yang terus terkumpul dan ditemukan yang berasal dari nenek moyang kita tentang siapakah kita penghuni Malangraya ini, ada hal sederhana yang bisa dilakukan yaitu dengan cara melihat apa yang masih tersisa, apa saja yang masih ada dan berjalan baik yang sadar atau tidak berada di antara kita semua. Beberapa hal di bawah ini kiranya bisa menolong kita untuk melacak kembali siapa diri kita ini:

  1. Ciri pertama dari warga Malangraya adalah keragaman. Ada beragam: suku-bangsa, etnisitas, agama, tradisi budaya, asal daerah Nusantara, kebiasaan-kebiasaan atau adat, dan lain sebagainya yang telah begitu panjang dan dinamis bertransformasi saling menguatkan dan mengokohkan memberi dasar khas bagi gambaran tentang identitas diri orang Malangraya. Orang dari utara, barat dan timur yang masuk dan kemudian menetap di Malangraya adalah para penemu keindahan dan kedigdayaan kearifan Nusantara. Kerajaan dan kekuasaan silih berganti berada dan melewati Malangraya adalah bukti bahwa wilayah ini selalu menjadi tempat penting bagi segala kebutuhan kehidupan manusia membangun peradabannya. Sulit untuk memungkiri dasar identitas ini sekalipun hendak dipaksakan dengan kepentingan dan penyeragaman dari pihak manapun. Keragaman itu telah menjadi bagian dari darah dan daging penghuni Malangraya, telah menjadi tanah dan air Malangraya yang akan terus memberi jiwa kearifan bagi siapa saja.
  1. Bahasa Malangan dengan model walikan (mengucapkan kata dengan cara membacanya dari belakang) adalah lambang kelugasan penghuni Malangraya. “Kalau mau bilang iyo dia akan bilang oyi, kalau mau bilang tidak dia akan bilang kadit”. Sudah itu saja. Iya tidak mungkin berarti tidak, dan sebaliknya tidak sangat nggak masuk akal kalau disuruh diartikan sebagai iya. Orang Malang senang dengan lugas mengatakan apa saja di depan orang lain jika itu dianggap perlu, karena setelah itu, di belakang orang yang bersangkutan sudah tidak berguna lagi sebenar dan sepenting apapun yang kita omongkan. Kejujuran dianggap sebagai nilai terpenting dalam berkomunikasi yang efektif dan efisien. Basa-basi yang berlebihan, pergunjingan dan gosip itu dianggap kacangan; tindakan orang-orang yang belum memiliki kedewasaan mentalitas.

Memang ada masanya, bahasa walikan digunakan sebagai strategi mengelabuhi musuh dalam situasi perang, namun semangat penyampaian informasi yang lugas sudah terdapat di dalam semangat membangun kode bahasa ini. Oleh karena itulah orang Malangraya juga merupakan orang-orang yang sangat sensitif dengan ketidakjujuran yang berkelit dibalik basa-basi berlebihan, termasuk jika itu diekspresikan dalam bentuk keramahan. Keramahan yang ternyata merupakan bentuk dari usaha berkelit dari laku jujur atau berlaku curang, disebut nggapleki. Kenapa? Karena sekalipun masih kelihatan putih dari bersihnya singkong, orang sudah bisa mencium baunya dan melihat perubahan warna menjadi makin kabur dan gelap. Itulah nggapleki.

  1. Ciri ketiga dari para penghuni Malangraya adalah kesederhanaan; sesuatu yang berlebihan bukan menjadi minatnya. Usaha-usaha penyederhanaan dari kerumitan yang berlebihan tan mengurangi dan bahkan memperkaya maknanya adalah proyek utama sejarah tradisi budaya yang dikembangkan di Malangraya. Semua hal yang menjadi karya besar budaya Jawa, ketika memasuki Malangraya akan menemukan semangat penyederhanaan; wayang kulit, kethoprak, jaranan, gamelan, dan sebagainya, yang lantas dimanfaatkan untuk membangun inovasi baru yang lebih relevan dan kontekstual dengan situasi masyarakat dan situasi jaman.
  1. Ciri keempat yang merupakan bentuk dari kombinasi tiga nilai di atas adalah semangat kesetaraan diantara sesama penghuni Malangraya. Manusia dilihat sebagai manusia yang sama satu dengan yang lain. Itulah kodrat dasar yang harus dihormati siapapun; sesama manusia adalah sama-sama manusia setara dimuka apapun. Seseorang, dalam keadaan dan posisi apapun, dengan pangkat dan jabatan apapun, dengan aliran darah apapun, ketika berada dalam kesadaran sesama penghuni Malangraya, maka semua adalah sama. Mengistimewakan orang-orang tertentu karena jabatan atau status sosial dan nenek moyangnya, mengutamakan orang-orang karena perbedaan usia atau karena perbedaan jenis kelamin, adalah hal-hal yang sangat memuakkan dan kecenderungan terhadap pemuliaan terhadap hal itu mudah dicurigai sebagai kemunafikan atau istilah populernya ngathok; memposisikan diri di bawah dan siap menjadi wadah segala hal yang buruk dan menjijikkan saja.
  1. Sekalipun sering diliputi dengan dinamika konflik sosial seturut dengan pergolakan sosial politik, semangat Malangraya adalah semangat berdamai. Simbol-simbolnya tersebar dimana-mana diseluruh Malangraya. Masjid Agung berdampingan dengan gereja di alun-alun kota, Katedral dan Sabillilah yang terhubung oleh jembatan penyeberangan di Blimbing. Lihat patung Dwarpala tersenyum di dekat candi Singosari, dalam posisi taruh senjata Gadha dan gestur tubuh sambutan dalam damai. Namun simbol paling penting yang sangat dijunjung tinggi penghuni Malangraya adalah tidak usil; yaitu tidak senang melakukan hal-hal tidak perlu untuk mengganggu kenyamanan dan ketenangan orang lain. Tindakan usil selalu dikategorikan sebagai kurangnya pendidikan dan bahkan arogansi. Dalam psikologi sosial konteks Malangraya, semangat damai itu juga nampak dalam keberaniannya untuk selalu menyelesaikan masalah untuk menghindari masalah menjadi membesar dan lebih parah. Bukankah keberanian yang paling mendasar adalah hilangnya rasa takut, terutama takut untuk bertindak dengan cara-cara damai.

Yang memberi kekuatan pada semangat damai Malangraya adalah rasa seperasaan dan kesatuan sebagai bagian dari satu masyarakat yang sama. Sejak agresi awal Mataram dan kemudian bersama Belanda memasuki Malangraya, kesatuan itu teruji. Tanpa mempersoalkan agama, etnisitas, asal daerah, semua orang yang merasa tinggal di Malangraya bahu membahu berusaha mempertahankan wilayahnya. Semangat kesatuan yang mengutamakan damai ini meresap kuat dalam sanubari penghuni Malangraya, bahkan ketika mereka sudah meninggalkan Malangraya. Dalam banyak peristiwa genting, ujian terhadap hal ini terus terjadi. Namun semangat “Satu Jiwa” sesama penghuni Malangraya yang saat ini diwakili oleh semangat suporter Arema terus menjadi cara membanggakan untuk menunjukkan identitas diri.

  1. Progresive. Ketika Belanda datang ke Malang dan menjadi bagian dari perkembangan peradaban masyarakat, mereka melihat sebuah semangat yang kemudian dijadikan motto kota “Malang Nominor, Sursum Moveor” yang terjemahan bebasnya dapat diartikan sebagai pindah ke Malang untuk menjadi naik/maju. Dengan semangat itulah penataan kota dibuat sedemikian lengkap. Ada jalur-jalur trem (kereta penghubung antar wilayah), angkutan massal juga sejak dulu terkenal tertata paling rapi dan melayani masyarakat hampir 24 jam. Kreativitas dalam segala bidang juga mengikuti semangat menjadi maju itu; pendidikan, budaya, kesenian, hingga olah raga selalu menghasilkan orang-orang terbaik dan memberi keharuman bagi nama Malangraya dan bahkan Indonesia di dunia internasional.

Dari keenam hal diatas setidaknya nampak bagaimanakah sebenarnya karakter dasar manusia-manusia Malangraya yang menghidupi dan mempertahankan wilayah lengkap dengan seluruh aspek kehidupannya. Melalui karakter seperti itulah kita selanjutnya bisa memetakan dengan lebih jeli dan tepat bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada di Malangraya. Setidaknya dari 6 hal ini kita telah memiliki dasar apresiasi terhadap kearifan lokal yang ada di Malangraya, yaitu mula-mula adalah kearifan orang-orangnya mensikapi realitas kehidupan. Bayangkan kalau thema-thema inilah yang selalu menjadi fokus pemberitaan, penulisan, penelitian, dan penerbitan buku-buku, maka peradaban kemanusiaan yang menjadi impian bersama tentu tidaklah terlalu mustahil untuk diwujudkan.

 

Malangraya dan kearifan lokalnya

Dilihat dari kondisi demografisnya Malangraya adalah kelengkapan habitat yang paling ideal bagi kehidupan segala jenis makhluk hidup. Kekayaan sumber-sumber airnya tidak ada yang menandingi, ditopang oleh hembusan abu vulkanik yang rutin diguyurkan dari gunung Semeru, Bromo, dan Kelud di sebelah Barat. Kemanapun angin berhembus, dalam volume kecil atau besar, abu vulkanik itu secara teratur menyuburkan bentangan lahan luas di Malangraya ini. Sejak jaman purbakala para penghuni Malangraya tahu bagaimana membangun tempat tinggal. Mereka selalu mempertimbangkan dari mana matahari terbit dan kemana tenggelam. Bagian gunung mana yang indah untuk selalu dipandang dan bagian mana yang selalu menghadirkan pesona panorama cahaya hasil dari dinamika rutin perubahan hari dan musim secara alamiah.

Aliran-aliran air sungai selalu menjadi saksi bisu bagaimana nenek moyang kita dulu cukup mampu menemukan kehidupan yang sejahtera jika tinggal di dekatnya, karena dari sitilulah segala kebutuhan air bisa terpenuhi. Karena banyaknya aliran sungai besar, sedang dan kecil, hingga peruntukan sungai kadang dipilahkan. Satu yang paling disakralkan untuk dijaga kebersihannya untuk keperluan harian keluarga; air minum, memasak, dan mencuci sayur mayur dan kebutuhan keluarga lainnya. Sementara aliran sungai yang lain disepakati untuk menjadi tempat mengalirkan segala hal kotor yang akan terurai oleh alirannya.

Angin laut dan angin gunung yang silih berganti menandai pergantian musim adalah gejala alam yang paling nampak nyata di Malangraya. Karena wilayah ini sekaligus memiliki keduanya. Udara yang dihembuskannya selalu memberi kesegaran baru. Sewaktu saya kecil orang masih terbiasa menentukan masa-masa tertentu dengan melihat arah angin dan suhu udara. Apalagi jika tanda itu dihubungkan dengan adanya migrasi burung dan binatang lain, menjadi aktifnya binatang tertentu, dan sebagainya, maka akurasi prediksi akan datangnya musim tertentu selalu mudah ditebak, bahkan mudah untuk diajarkan kepada anak-anak.

Karena kondisi demografis seperti itulah maka tanah-tanah di Malangraya adalah tergolong yang paling subur untuk melakukan usaha pertanian dan perkebunan. Ditopang oleh mudahnya menafsirkan musim yang akan tiba, segala jenis tanaman yang perlu ditanam di masa-masa tertentu dengan begitu juga bisa ditetapkan. Selain itu, kekayaan mineral dalam bumi sempat mencatatkan wilayah Malang sebagai tempat pengolahan emas terbaik di seluruh negeri. Intinya adalah, dengan kondisi alam yang melimpah kekayaan sumberdayanya itu Malangraya menghasilkan banyak sekali orang-orang kreatif yang memiliki keahlian dibidang ketrampilan dan pengelolaan sumberdaya alam. Bahkan karena kondisi yang sangat memudahkan tersebut, maka hal itu memberi cukup waktu bagi penghuni Malangraya untuk membangun dunia keilmuan yang sangat disegani. Tak sedikit diceritakan bagaimana para calon raja di tanah Jawa ini harus melalui masa pendidikan keilmuan di sekitar Malangraya ini.

Sebelum kemudian dideskreditkan oleh sistem pendidikan modern sebagai tempat klenik mistis yang tidak akademis, wilayah di Barat, di lereng-lereng gunung Kawi adlah tempat dimana orang menimba ilmu, membangun pengetahuan. Wilayah itulah yang menghasilkan kecerdasan pada tokoh yang mestinya menjadi ikon emansipasi yaitu Ken Dedes. Kepandaian keilmuan yang mereka miliki hingga kini masih bisa kita lihat dalam hal bagimana mereka menjagai sumber air, membangun desa dengan menyesuaikan kontur tanah yang ada, dan melindungi keanekaragaman hayati yang ada. Kondisi alam adalah sumber terpenting yang bisa kita gunakan sebagai ukuran sederhana seberapa arif kehidupan masyarakatnya. Kondisi alam jugalah yang menentukan seberapa banyak pelajaran penting yang bisa dipetik oleh penghuninya untuk membangun kehidupan yang arif.

Maka jika belakangan Kota Malang dicanangkan sebagai kota pendidikan adalah sesuatu yang sangat masuk akal. Karena dasar pendidikan yang hendak dibangun itu telah tersedia yaitu dalam hal  bagaimana Malangraya ini baik alam dan seluruh penghuninya ditempatkan sebagai sumber ilmunya. Selain itu, sebagai tempat yang nyaman untuk menempuh ilmu, secara otomatis hal itu sejak dulu menarik perhatian banyak orang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu disini. Perjumpaan lintas budaya dan tradisi tidak terelakkan dan bahkan disyukuri sebagai bentuk baru untuk hidup terbuka dan berwawasan yang luas. Kalau setidaknya kita bisa menelusuri seluruh data yang ditinggalkan dalam candi-candi dan prasasti-prasasti yang masih tertinggal, kita pasti akan tertegun betapa peradaban sebuah masyarakat di Malangraya ini jatuh bangun bergumul dan berpikir untuk semakin hari semakin menemukan bentuk terbaiknya. Begitulah pentingnya ilmu dan pendidikan dalam semangat masyarakat Malangraya. Dia tidak tergantung pada pendidikan formal saja, karena ruang-ruang belajar yang sesungguhnya adalah ketika dekat dengan alam dan berjumpa langsung dengan segala makhluk yang ada.

Yang terakhir yang bisa ditengarai sebagai wujud kearifan lokal malangraya adalah dalam hal mendarah dagingnya kesadaran pluralisme. Karena berasal dari kesadaran personal, seperti telah disebutkan diatas, masyarakat secara arif memberi ruang-ruang yang sangat terbuka dan lengkap bagaimana keberagaman yang dimiliki itu menjadi sumber penting bagi kemajuan dan perkembangan masyarakat. Dari situlah kita bisa melihat dengan sangat jelas fungsi penting tradisi budaya yang berbasis pada komunitas terkecil di kampung-desa-dusun yang ada. Hingga kini, pertanyaan “darimana asalmu? Atau “tinggal dimana?” adalah pertanyaan-pertanyaan uang berhubungan dengan identitas seseorang dalam hubungannya dengan semangat hidup komunitasnya. Karena pada dasarnya penghuni Malangraya adalah orang-orang gunung, yang melihat medan berliku naik turun adalah keseharian yang menyenangkan, maka identitas diri berbasis pada komunitas terdekat itu meneguhkan karakter orang gunung yang menghormati kemerdekaan namun yang menjunjung tinggi kebersamaan sekaligus. Demikianlah pluralisme seperti air yang setiap hari kita minum atau seperti darah yang terus mengalir dalam nadi masyarakat Malangraya.

Tentu saja apa yang disebutkan diatas adalah bagian kecil dari keseluruhan thema yang bisa diangkat menjadi subyek pembicaraan tentang kearifan lokal. Namun bayangkanlah, jika segala tulisan, artikel, berita, buku dan hasil penelitian didasari oleh kesadaran tentang betapa berharganya, betapa indahnya, betapa pentingnya kondisi alam yang secara teratur menghidupi penghuninya itu terpelihara. Maka karya seni adalah ekspresi keindahan terbaik yang dekat dengan kecintaan pada pemberi hidup melalui alam itu. maka pendidikan adalah perjumpaan akal sehat manusia bersama manusia lain yang berbeda dalam usahanya untuk memaksimalkan hubungan harmonis segala makhluk hidup dengan kekayaan segala sumber daya yang diberikan alam. Maka masa depan peradaban adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan kreasi baru yang berwawasan luas yang meninggalkan warisan berharga bagi para generasi penerus nanti.

Nah, siapakah yang akan menjadi pewarta-pewartanya? Terutama dan yang utama adalah kita semua yang sekarang ini menjadi penghuni Malangraya. Semakin banyak orang mencintai daerahnya dengan apresiasi yang mendalam, semakin sebuah daerah itu memperlihatkan kebesaran kearifannya.

Malang, 24 Februari 2017

*Disampaikana pada agenda Pembinaan Sanggar Sastra Pelatihan Penulisan Esai Bagi Siswa SLTA di Malang – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Balai Bahasa Jawa Timur Tahun 2017
**Kristanto Budiprabowo adalah budayawan tinggal di Malang dan Presidium Jaringan Gusdurian Jawa Timur