Dari Ludruk ke Puisi*

Oleh: Yusri Fajar**

 

Relasi antar genre seni mencerminkan inspirasi pada dasarnya lahir dalam ruang kreatif yang tidak terisolasi. Seni teater bisa memberi inspirasi bagi dunia sastra dan, sebaliknya, sastra dapat memberi inspirasi bagi seni teater. Misalnya, lakon pertunjukan teater diadaptasi dari cerita pendek. Sementara, ada karya sastra yang proses kreatifnya dipengaruhi oleh peristiwa teater. Saya melihat relasi tersebut juga tercermin dalam buku kumpulan puisi penyair Mojokerto, Dadang Ari Murtono, yang bertajuk ‘Ludruk Kedua’ (Penerbit Basabasi Yogyakarta, Desember 2016). Dadang merepresentasikan kesenian Ludruk dan dinamikanya melalui puisi-puisinya. Peacock (1968) menyebut Ludruk sebagai ‘proletarian drama’ (drama rakyat). Di Mojokerto hari-hari ini, fenomena Ludruk masih ditemui dan pentasnya sering digelar hingga kampung-kampung.

Menonton ludruk secara langsung membawa pengaruh berbeda dengan membaca dunia ludruk dalam puisi. Tanggapan dan persepsi yang berbeda bisa muncul ketika kita melihat peristiwa ludruk dalam puisi dan ketika kita ketika berhadapan langsung dengan gambaran visual pertunjukan ludruk di panggung dan kehidupan para pelakunya. Jika penonton dan atau penulis puisi bersosialisasi cukup intensif dengan ‘orang-orang ludruk’ maka gambaran refleksi sosiologis ludruk akan terasa lebih kuat terpahat dalam puisi karena kehidupan di atas panggung dan di luar panggung dimaknai secara  utuh. Sementara pengalaman membaca peristiwa ludruk dalam puisi membawa kita pada imajinasi ludruk yang digambarkan melalui bahasa majas, citraan, narasi singkat, serta bentuk lirik dan dramatik puisi. Kita juga dihadapkan pada fragmen-fragmen ludruk yang didesain secara estetik dalam kepadatan baris dan bait.

Sebagai penyair yang lahir dan tumbuh di Mojokerto pada tahun ketika ludruk telah lama sekali lahir, Dadang dalam puisi dan kata pengantar ‘Ludruk Kedua’ seperti menuturkan keterasingannya dengan kesenian yang hingga kini masih bertahan ini. Ketidakakraban dengan dunia ludruk ini, saya kira juga dialami oleh para sastrawan dan para generasi muda yang hidup di jaman di mana industri dan produk-produk budaya kapitalis merajalela dan membayangi kehidupan mereka. Selain karena hegemoni produk seni ‘modern’, ketidaktertarikan dan keengganan atas bentuk ekspresi kesenian ‘tradisional’ seringkali turut memperparah ketidakakraban itu. Dadang menulis dalam pengantar ‘Ludruk Kedua’: “Saya hanya tahu kata ludruk meski di kampung tempat tinggal saya, beberapa kali digelar pentas ludruk. Saya kadung terjebak pada pandangan bahwa ludruk itu ndeso dan tidak menarik”. Dadang yang sebenarnya dilingkupi peristiwa ludruk saja bisa merasa demikian, apalagi jika memang seseorang tidak lahir dan tumbuh dalam lingkungan dunia ludruk, yang telah membentuk etos proses kreatif serta kehidupan sosial Ludruk. Menyadari dan mengamati gelombang modernisasi, peneliti Ludruk, Henri Supriyanto (2001) menuturkan teknologi komunikasi canggih seperti radio, televise, CD dan VCD telah merebut dan mengubah sikap penonton ludruk untuk lebih memilih di rumah dari pada menuju gedhongan atau tobong ludruk. Apalagi di era media sosial yang dipenuhi godaan kenyamanan ruang yang lebih individual.

Melalui ‘Ludruk Kedua’, Dadang sesungguhnya berusaha untuk ‘mendekatkan diri’, menginterpretasi ludruk sekaligus mengidentifikasi dirinya sebagai pengarang yang memberi perhatian pada ludruk dengan cara ‘mempuisikan’ dunia ludruk. Lebih jauh, saya berasumsi bahwa identifikasi itu pada prosesnya dipengaruhi oleh refleksi identitas dirinya, sebagai pengarang yang tumbuh dan berkembang di wilayah yang selama ini masih diwarnai kehidupan dan perrtunjukan ludruk. Proses ini dengan demikian memberikan asumsi bahwa Dadang tak menggali inspirasi dan melahirkan puisi dengan cara mengasingkan dirinya dalam kamar atau alam sepi.

Dadang sedikit banyak telah bersinggungan dengan ludruk. Namun demikian, setiap upaya merepresentasikan peristiwa, dalam hal ini peristiwa Ludruk, tak bisa dihindarkan dari distorsi. Kepadatan puisi, diksi dan bahasa majas, permainan rima, konstruksi bait dalam puisi, dan pemahaman serta ‘kepentingan’ penyair atas ludruk disadari atau tidak oleh Dadang telah mengonstruksi proses kreatifnya, menuntutnya untuk melakukan penyesuaian (appropriation), adaptasi kreatif, transformasi dan pemaknaan subtansial atas peristiwa ludruk yang kemudian terepresentasi dalam puisi. Jejak dalam proses kreatif Dadang sebagai upayanya menyerap sari pati dan semacam menuliskan kesaksian puitik ke dalam bait-bait puisi bisa dilihat dari beberapa hal terkait dengan cara Dadang mempuisikan ludruk, misalnya melalui penulisan kutipan-kutipan pernyataan aktor-aktor pertunjukan ludruk yang kadangkala dihadirkan dalam bentuk dialog, pesan kesan para penonton ludruk, narasi historis ludruk, mimikri sekaligus dekonstruksi parikan ludruk, hingga, suasana batin para pelaku ludruk. Dalam bait akhir puisi berjudul ‘Ludruk’, Dadang merefleksikan eksistensi ludruk yang penuh tantangan: sebelum pada akhirnya tobong/dikemasi, tiga penonton beranjak/pulang, dan kami kembali/pada takdir yang muram. Dalam puisi yang lain yang bertajuk ‘Peristiwa dalam Tobong’ Dadang menulis baris-baris yang menunjukkan kisah getir pagelaran ludruk: tidak aka nada lakon waktu itu/sebab tak satu pun tiket laku/seorang panjak kepala batu/telah meninggalkan tetabuhannya.

Dadang secara dominan menuliskan puisi-puisi dengan ‘persona’ orang ketiga sebagai pusatnya. Hal ini mengindikasikan Dadang berusaha menggambarkan peristiwa ludruk secara ‘berjarak’, sebagai ‘observer’ yang berada di luar ludruk, namun dengan teknik mata pengarang di atas langit kreatif sehingga Dadang seakan bisa melihat peristiwa-peristiwa ludruk baik di panggung dan di luar panggung dari ‘ketinggian’. Ia bisa dengan leluasa melihat, memilih dan menentukan bagian-bagian mana yang ia ingin puisikan. Dadang mengartikulasikan ‘suara-suara’ orang-orang yang secara nyata mengabdikan diri mereka untuk ludruk seperti pak Santik, pak Pono, cak Durasim, cak Markeso, dan para pelaku lain dalam ludruk seperti para tranvesti (wedhokan, waria). Dalam puisi bertajuk ‘Travesti’, Dadang menulis bait: ia mengangankan sebuah takdir/yang dipilihnya sendiri, yang tak/membikinnya merasa getir menitinya. Para pelaku ludruk hadir dalam puisi-puisi Dadang, menjalinkan eksistensi dan perkembangan ludruk di masa lalu dan masa kini, menghubungkan kehidupan pemain ludruk dan lakon yang diperankannya di atas panggung. Selain konflik batin para pelaku ludruk yang berperan dalam dunia ludruk tersebut yang dituangkan dalam baris-baris secara puitik, Dadang juga membawa kita pada suara dan citra tubuh lakon-lakon yang dimunculkan dalam pertunjukan ludruk yang dimainkan para pelaku Ludruk. Tokoh-tokoh dalam cerita Ludruk seperti bayan Sarmidin, Sutinah, lurah Bintoro, Jaka Paksi, Suminten, Sawunggaling, Jaka Kendil, dan bule-bule penjajah. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Dadang dalam beberapa bagian sangat dipengaruhi oleh lakon-lakon dalam ludruk yang dimainkan para pewaris aktif ludruk. Pesan-pesan seperti perlawanan terhadap penjajah kolonial, resistensi tokoh perempuan, dan perburuan cinta yang dianggap abadi, terlihat mewarnai puisi-puisi Dadang.

Gugusan bait-bait puisi yang dibangun Dadang Ari Murtono membentangkan masa lalu mulai ketika ludruk lahir dan saat ludruk berada dalam badai politik hingga era kekinian. Dadang melihat generasi sekarang lebih kenal dengan budaya harajuku dan berbagai varian budaya material Jepang. Dulu tokoh ludruk, Cak Durasim menyuarakan kritik pada penjajah Jepang: ‘bekupon omahe doro, melu nipon tambah sengsoro (bekupon rumah burung dara, ikut nippon tambah sengsara)’. Di zaman penjajahan dulu, Jepang mengeksploitasi Indonesia untuk kepentingannya. Orang-orang Indonesia banyak yang dimanfaatkan sebagai budak, baik budak seks maupun budak demi eksploitasi sumber daya alam. Berbeda dengan parikan cak Durasim di atas, dalam puisinya yang berjudul ‘Cak Durasim’ Dadang justru melihat fenomena bahwa ikut (budaya) Jepang akan bahagia dan bangga: ‘Bekupon rumah burung dara, cak/ikut nipon betapa kini kami bahagia/juga bangga/di gentengkali/tempat di mana namamu diangankan abadi/kami berdandan harajuku/menunggang Honda sampai Daihatsu/sedang orang-orang dalam dandanan lama melantunkan/jula-juli. Inilah salah satu kritik Dadang atas kegagapan generasi mutakhir yang terasa makin mangkir dari kesenian tradisional. Baris-baris puisi Dadang ini menunjukkan masa kini yang dipenuhi budaya impor dan gaya hidup bertiang kebendaan yang berkontestasi dengan tradisi yang dianggap lampau. Dalam refleksi keterasingan diri dan generasi, ‘Ludruk Kedua’ seperti menawarkan kesadaran puitik untuk kembali melirik ludruk dan mengingatkan kita akan industri budaya kapitalis yang hegemonik.

 

*Dimuat dalam Jawa Pos Radar Mojokerto, Minggu, 26  Februari 2017

**Dosen FIB UB, Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur