DOA LITERASI

Ya Allah yang mahaliterati, bebaskan kami dari kebutaan atas huruf-huruf yang berhamburan saban hari. Biar kami melek apa yang ada di sebalik rentetan bunyi yang berdiam di ruas kitab atau ruang komunikasi. Biar kami tak sembarangan, dan sembrono mencatat dan mengalirkan informasi, yang datang dan pergi bak tsunami tak terpahami, yang kerap sekali mencipta kekeruhan dan keributan kehidupan di bumi. Biar kami tak gampangan dan entengan menghamburkan tulisan yang terkirim bertubi-tubi, yang serba remang sekali, yang acap palsu-imitasi atau benar-sejati, yang menggelontorkan kecemasan, kebingungan, dan gebalau di tiap sanubari.

Ya Allah yang mahaliterati, melekkan kami terhadap pilin-jalin huruf-huruf yang bertebaran di sana-sini di sekitar kami. Agar kami mampu melihat keaslian atau kepalsuan tulisan, yang menyerbu tak henti, yang bisa menghadirkan ketakpastian kehidupan bersama di bumi, yang bisa menjadikan hidup dipenuhi kegalauan tak terperi. Agar kami bisa memandang kebenaran atau kelancungan yang tersembunyi di ceruk tulisan yang berserakan mengitari kami.

Ya Allah yang mahaliterati, pahamkanlah kami, sadarkanlah kami, terhadap isi barisan huruf-huruf yang berderap kencang menyerbu tak henti di sepanjang hari. Biar kami sanggup mengerti maksud dan makna tulisan yang bergemuruh tak pernah sepi, yang membuat berisik kehidupan indah di bumi. Biar kami bisa membijaki faedah dan mudharat tulisan yang mengepung pikiran dan dada kami.

Ya Allah yang mahaliterati, literasikan kami, mampukan kami membaca dan menulis rapi maknawi. Biar terbuka jendela dunia, yang bersulur hingga sidratul muntaha, dan kami sanggup memandang keindahan bumi. Hingga kami terbebas dari tempurung keterbelakangan dan kekufuran kehidupan ini, yang sesungguhnya penuh rahmat ilahi.

Ya Allah yang mahaliterati, literasikan kami, sanggupkan kami mencerna dan menggunakan huruf-huruf terpuji. Agar kami sanggup merasakan keberkahan dan kenikmatan yang kau beri, yang kau taburkan dalam kehidupan bumi.

Ya Allah yang mahaliterati, literasikan kami, sadarkan budi, beningkan nurani. Biar kedamaian semesta bisa kami usahakan tak henti, dengan sari-sari literasi rabani. Biar kelancungan bisa terusir jauh sekali, tak bisa merusak keindahan hidup yang kau beri, yang sudag menghanyutkan kami ke dalam lautan harum surgawi.

Ya Allah yang mahaliterati, batinkan literasi di jiwa kami, kekalkan kesadaran naca-tulis di detak nadi kami, biar jiwa kami mampu merangkai tulisan yang serupa perahu Nuh yang menyelamatkan kehidupan bumi, yang kini sedang diharu-biru banjir bandang informasi tak pernah henti.

Ya Allah yang mahaliterati, pahatkan literasi di sepanjang takdir yang kau beri. Biar kedamaian semesta bisa kami usahakan tak henti dalam detak kehidupan insani. Biar semua manusia mampu mengusahakan kemuliaan diri, seperti terjanji dalam aksara-aksara kitab suci. Biar kelancungan dan kebohongan tak punya tempat di keindahan hidup yang kau beri, dan paras baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur tergelar di bumi.

 

DOA TOLAK BALA

Ya Allah yang maha-memahami, kami saksikan datang dampyak-dampyak suara kencang memburu kehidupan kami bak tsunami, menerjang palung-palung terdalam ruhani, menggelontori ceruk-ceruk hati yang berisi bening budi. Kami pun terpana, terkesima, lantas terbawa gemuruh arus suara tak tercatat garpu tala. Ooo…zaman apakah tengah tiba?!

Ya Allah yang maha-memahami, rupanya kini kami tengah tergiring memasuki zaman pasca-kebenaran, yang sanggup menyulap fantasi dan fiksi menjelma fakta memikat hati, lantaran dibungkus emosi tebal sekali, diikat janji-janji yang menotok nadi, dan dibentengi rasa benci menyaru angin surgawi, hingga meringkus kesadaran nalar terpuji, ikatan kebersamaan di bumi. Kami terkecup rupa-rupa kepalsuan dan kebohongan yang menyaru bidadari bersolek elok sekali. Hingga hilang kesadaran dan kejernihan budi. Hingga watak kami serasa sempoyongan dihantam badai kebencian yang berembus bertubi-tubi. Dan kami pun merayakan kebencian, kelancungan, dan muslihat keji tanpa tersadari. Oooo…perayaan dusta dan kepalsuan tengah digelar tanpa henti, dan serupa kurcaci tercokok hati.

Ya Allah yang maha-memahami, ajari kami mendengar suara keji yang lirih sekali, biar sanggup mencerna belati atau bunga surgawi sedang tumbuh di nurani kami: ajari kami membaca aksara durjana yang samar semata, agar mampu mengeja racun sianida atau cendana tengah merajalela di dada.

 

Djoko Saryono, Guru Besar Universitas Negeri Malang, Pelanggan Fanatik Kafe Pustaka dan Pembina Pelangi Sastra Malang