Kekuatan Tawa dalam Cerita Kundera

 Oleh Misbahus Surur

 

Judul Buku    : Laughable Loves

Pengarang      : Milan Kundera

Penerjemah    : Lutfi Mardiansyah

Cetakan          : Pertama, April 2017

Halaman         : viii + 196 hlm

Penerbit          : Papyrus Publishing, Jogjakarta

 

Hanya ada sebuah garis tipis antara yang mengerikan dan yang komikal

(The Art of The Novel, hlm. 184)

Kelucuan kadang tak hanya dipantik oleh perilaku bodoh yang tak tersadari atau ungkapan (dan tingkah) konyol yang muncul dari seorang pelawak, tetapi bisa juga datang dari fenomena lain: misalnya keberanian menertawai kebenaran dan hal-hal (yang dianggap) tak bermasalah. Cara menertawai model yang kedua sering dipraktikkan, salah satu di antaranya, oleh Milan Kundera dalam hampir seluruh prosa-prosanya. Eksplorasi tragika, degradasi eksistensial, dan kemuraman (diri) dalam kadar berlebih memang kerap mengundang dan mengandung kejenakaan sendiri.

Ikhtiar menertawai yang (dianggap) benar dan final tersebut juga menjadi visi serta kelebihan penulisan Laughable Loves: kumpulan cerita dengan latar asmara (percintaan) berbalut derita. Tapi, cara menertawai khas Kundera adalah sesuatu yang dekat dengan pikiran: kecerdikan menertawainya. “Ketika manusia berpikir, Tuhan tertawa,” ungkapnya dalam sebuah pidato saat menerima Jerusalem Prize. Karena itu,—kata Kundera masih dalam pidato yang sama—seni novel pun jatuh ke dunia sebagai gaung tawa Tuhan.

Ramuan ketiga cerita dalam buku ini jelas merupakan perpaduan antara melankolia, tragika dan humor, yang disajikan khusus bukan karena kesedihan dekat dengan kelucuan. Melainkan karena peristiwa dalam balutan melankolia (asmara) di tiga cerpen dalam buku ini betul-betul menyebabkan lahirnya komedi (joke).

Seorang dosen sejarah seni, di suatu hari—bersamaan dengan datangnya honorarium pemuatan artikelnya dari sebuah surat kabar—menerima sebuah surat berisi permintaan mengulas artikel. Artikel yang hendak dimintakan ulasan kepadanya, baginya tak lebih sekadar kumpulan kata-kata yang dicampur-aduk tanpa kontinuitas dan pemikiran orisinil penulisnya. Karena alasan akademis dan kualitas tulisan artikel yang buruk ini, si dosen bersikukuh menolak memberi ulasan.

Mulanya ia menolak dengan memberi penjelasan secara halus, sebelum akhirnya melakukan sejumlah kebohongan, fitnah juga tuduhan palsu pada Zaturecky (si peminta ulasan)—sebuah tindakan yang tak direncanakannya—akibat si penulis artikel yang tidak hendak ingin kalah alias ngotot, terus meminta ulasan. Penolakan itu membawanya pada situasi sulit hingga terjungkal dari profesinya sebagai dosen, di samping menjadi penyebab perpisahan dengan pacarnya.

Sebuah konsekuensi dari keteguhan atas persoalan yang awalnya tampak sepele. Seolah-olah—untuk meminjam kalimat tamsil seorang profesor di cerita ini (hlm. 40)—“masa lalu bisa menjelma sesuatu yang dengan mudah disusun menjadi biografi seorang negarawan yang dicintai, sama mudahnya belaka dengan mengubahnya menjadi biografi seorang kriminal”.

Pada cerita kedua berjudul Simposium, kisah dituang ke dalam lima babak, yang sepertinya agak dekat dengan model dalam salah satu antologi cerita Rashomon-nya Akutagawa Ryunosuke. Meski kisah ini sendiri, aku Kundera, sebagai ikhtiar memarodikan dialog Plato. Ada sebuah peristiwa “tragedi percintaan” yang sedang didiskusikan secara hangat dan agak panjang, lalu ditangkap oleh beberapa tokohnya dengan versi mereka masing-masing. Saat kisah asmara mengalami peristiwanya yang khusus, dan mendapatkan penilaian dari berbagai sudut pandang karakter-karakternya, puncaknya terbentuklah sebuah kisah jenaka (joke).

Sementara kisah ketiga adalah usaha membangun cerita dengan basis “kenangan akan cinta” oleh dua orang yang pernah saling mencintai, yang belasan tahun kemudian bertemu kembali dalam situasi yang sama-sama tidak lagi punya pasangan, di tengah ancaman penuaan. Mereka sama-sama tak lagi muda dengan tanda-tanda penuaan di sana-sini, tapi diam-diam masih saling mengingini (diletupi gairah yang diam-diam masih saling menghasrati) meski dibungkus oleh kesungkanan.

Di sinilah kelucuan-kelucuan itu mulai tampak. Masa muda dengan gairah yang meledak-ledak nyata telah memudar. Kini, di tengah hambatan penuaan fisik yang mereka persoalkan, keduanya masih saling memaui. Yang komikal (joke) terbentuk dari selubung ketakutan pada hal-hal fisik yang mereka alami, di tengah sisa harapan dan keinginan.

Ketiga cerita ini pada dasarnya adalah gambaran tokoh-tokohnya yang—dengan situasi asmaranya masing-masing—“terjebak” pada kesemrawutan faktor-faktor di luar diri/ boyaknya realitas sosial (akumulasi dari realitas yang melingkupi dan mengejek tokoh-tokoh utamanya). Sebuah realitas sosial yang—kalau boleh dibilang—dekat dengan situasi tokoh dalam novel-novel Franz Kafka. Apalagi, tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen Kundera ini bukan pahlawan melainkan orang-orang biasa yang mewakili individu dari sebuah masyarakat.

Laughable Loves adalah kumcer yang mulanya terdiri dari 10 kisah, yang lantas dieliminasi sendiri oleh penulis novel The Joke ini menjadi hanya 7 cerita (dalam buku ini hanya diterjemahkan tiga buah cerita saja). Kumcer ini punya latar kisah cinta yang dirajut dengan komposisi gelak tawa, yang lantas disajikan dalam kedalamannya masing-masing.

Inilah cerita yang menyajikan daya tarik gurauan dengan ukuran bentuk (alur, arketip) dan takaran (tempo, koherensi cerita)-nya yang sudah sangat dipertimbangkan Kundera. Kenapa menggunakan joke (kejenakaan)? Sebab, kata Kundera, fanatisme dan skeptisisme absolut pun sama bahayanya. Guna melawan keduanya, ia kembangkan “gelak tawa” dengan berbagai variasi dan ukurannya ke dalam hampir seluruh cerita dan novel-novelnya, termasuk dalam kumcer ini.

Misbahus Surur, esais dan pengajar di Fakultas Humaniora, UIN Maliki, Malang

Dimuat Jawa Pos Minggu, 28 Mei 2017