Bongkar Hasrat Berkuasa!

Judul Buku : Membongkar Rezim Kepastian
Penulis : Dr. Haryatmoko
Penerbit : Kanisius
Cetakkan : Maret, 2016
Tebal : 158 halaman
ISBN : 978-979-21-4561-8
Peresensi : Ardi Wina Saputra*

Saat berkampanye, banyak politisi yang menawarkan kepastian pada masyarakat melalui janji dan langkah langkah yang dipaparkan. Sebenarnya apa itu kepastian? Mengapa orang begitu tergila-gila pada kepastian? Sindhunata mengatakan bahwa kepastian merupakan jaminan yang dirindukan oleh setiap orang. Semakin dekat dengan kepastian, maka semakin percaya rakyat pada politisi tersebut. Kepastian seolah menjadi prasyarat mutlak dalam mencapai kenyamanan. Pertanyaan terakhir yang muncul adalah apakah benar kepastian menimbulkan kenyamanan? Nyatanya tidak! Kepastian malah menimbulkan stagnan! Menimbulkan sesuatu yang tetap sehingga meminimalisir perkembangan. Parahnya apabila kepastian ini ada dalam pikiran, maka sudah dapat dipastikan bahwa pikiran tersebut tidak dapat berkembang untuk menjadi lebih kreatif.
Tony Wagner dalam buku Global Achevment Gap mengatakan bahwa hasrat ingin tahu merupakan kunci negara utara berkembang lebih pesat. Oleh sebab itu, alangkah baiknya apabila hasrat ingin tahu ini digunakan untuk membongkar rezim kepastian dalam kekuasaan. Fakta tersebut direspons oleh Haryatmoko. Melalui bukunya yang berjudul Membongkar Rezim Kepastian, alumnus Universitas Sorbonne –Paris ini hadir dengan pemikiran para filusuf Perancis seperti Michael Focault, Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Paul Ricoeur, Gilles Deleuze, dan Jacques Derrida. Pemikiran tersebut dijadikan sebagai pisau analisis untuk membongkar rezim kepastian.
Hasrat Berkuasa
Secara umum, rezim kepastian dalam buku Haryatmoko dikaitkan dengan hasrat dan kekuasaan. Kepastian berkuasa tentu merupakan kepastian yang paling nyaman. Menurut Michael Focault, kekuasaan itu mempesona sehingga orang rela menderita demi kekuasaan. Dalam mencapai kekuasaan diperlukan modal berupa kapital-kapital untuk mewujudkannya. Bourdieu secara umum mengelompokkan empat kapital utama yang mempengaruhi pembentukkan kekuasaan yaitu (1) kapital ekonomi, (2) kapital budaya, (3) kapital sosial, dan (4) kapital simbolik. Kapital ekonomi diukur secara finansial, dan kapital ini merupakan kapital yang paling mudah dikonversikan dalam bentuk lain.
Sayangnya, kapital-kapital tersebut oleh masyarakat kelas atas sengaja dipantenkan atau dipastikan sehingga masyarakat kelas menengah dan kelas bawah akan kesulitan untuk mencapai kekuasaan. Contohnya adalah kapital budaya berupa pengetahuan. Bourdieu mengatakan bahwa sekolah merupakan reproduksi kesenjangan sosial. Cara membuktikanya cukup mudah, lihat saja prosentase latar belakang orang tua yang menguliahkan anaknya di jurusan favorit di kampus favorit. Jurusan tersebut pasti didominasi oleh orang-orang berlatar belakang menengah atas. Orang yang memiliki pengetahuan tinggi, akan memiliki kesempatan untuk berkuasa, sehingga jelaslah tujuannya agar kekuasaan yang diinginkan dapat dipastikan sejak dini.
Kapital sosial juga menentukan selera atau hasrat. Untuk mempertahankan kekuasaan, hasrat juga diperlukan. Hasrat mempengaruhi pola konsumsi seseorang. Dalam mengkonsumsi sesuatu, kelas menengah atas cenderung bukan hanya berdasarkan kebutuhan melainkan berdasarkan cara mempertahankan kelasnya. Baudlliard mengatakan bahwa hasrat untuk mengkonsumsi suatu barang biasanya dilakukan setelah orang tersebut memperoleh pengaruh manipulasi tanda. Model iklan yang berprofesi sebagai public figure cenderung memiliki dampak yang besar dalam manipulasi tanda. Contohnya ketika seorang model cantik menggunakan pemutih wajah dan wajahnya tampak cerah berseri, maka orang berbondong-bondong untuk memperoleh produk tersebut. Padahal, tanpa menggunakan produk itu, kulit si model sudah cantik jelita.
Menindaklanjuti hasrat dan pola konsumerisme yang dibongkar oleh Baudlirad, filusuf Perancis lain yaitu Gilles Deluze menawarkan analisis filsafat hasrat yang mendobrak psikoanalisis. Psikolog oleh Delluze diangap sebagai imam yang harus mempertobatkan pasiennya. Pasien dalam psikoanalisis merupakan orang yang hasratnya tidak sesuai dengan konsensus masyarakat. Sayanganya konsesnsus sengaja dibuat kaum kapitalis, untuk mempertahankan kekuasaannya. Delluze memberikan kesempatan kedua bagi orang yang memiliki hasrat liar untuk dapat menyalurkan hasratnya karena sebenarnya dari keliaran itu muncul ide serta gagasan baru. Pisau analisis yang digunakan adalah schizo-analisa. Secara garis besar schizo-analisa ini mengarahkan pada perwujudan hasrat tidak mengekang, tetapi memproduksi sesuatu yang baru dan berbeda serta mewujudkan imajinasi. Contoh riilnya adalah tidak jarang kita melihat sebuah pertunjukan yang menarik lalu mengatakan bahwa pertunjukan itu adalah pertunjukan gila. Diksi “gila” sengaja kita pilih karena kita terlalu takjub. Terdapat sebuah unsur pembaharuan yang ditemukan dalam kegialaan. Apabila Schizo-analisa ini dikaji lebih dalam maka akan banyak orang gila yang terselamatkan. Mungkin saja keberadaan mereka mampu menggususur kompetensi para penguasa yang terkungkung dalam kepastian berkuasa.
Bagian akhir buku ini membahas tentang dekonstruksi Jacques Derrida. Dekonstruksi ternyata mampu digunakan untuk memberantas terorisme. Pemikiran para teroris berangkat dari pemikiran otoriter, menjadikan norma yang diketahui sebagai satu-satunya kepastian yang dianggap benar. Menurut Voltaire, fanatisme merupakan ramuan dua unsur yaitu takhayul dan kebodohan. Dianggap bodoh karena pengetahuan yang hanya satu telah dipatenkan dan menguasai dirinya. Focault menambahkan bahwa pengetahuan mengandung klaim yang menganggap dirinya benar. Oleh sebab itu, Derrida hadir untuk memberantas semua kepastian dan kebenaran sepihak tersebut. Langkah untuk melakukan dekonstruksi ada tiga yaitu (1) mencatat semua penafsran, (2) menunjukkan secara umum bagaimana penafsiran itu bertentangan, dan (3) menunjukkan bahwa konflik konflik yang bertentangan itu menghasilkan penafsiran lain. Berbagai pemikiran Perancis beserta pisau analisis, dilengkapi dengan contoh-contoh riil pengaplikasiaanya telah disajikan dalam buku ini. Sekarang semua bergantung pada pembaca, apakah masih tetap patuh pada jeruji rezim kepastian atau justru mulai memiliki hasrat untuk mencongkel gembok jeruji kekuasaan yang membelenggu? Silahkan gunakan saja pisau analisisnya!

 

*Ardi Wina Saputra, Penulis Buku Kumpulan Cerpen “Aloer-Aloer Merah” Penerbit Pelangi Sastra, 2017. Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Kerap Bergabung dengan kegiatan Pelangi Sastra Malang.