Mengeja Anarkisme

Judul Buku    : ABC Anarkisme

Penulis            : Alexander Berkman

Penrbit           : Daun Malam

Cetakkan       : Januari, 2017

Tebal              : 253

Peresensi        : Ardi Wina Saputra*

 

Saat duduk di bangku sekolah dasar, salah satu cita-cita yang ditanamkan berkali-kali di kepala anak adalah kelak jika mereka dewasa akan menjadi dokter. Mengapa harus jadi dokter? Karena dokter uangnya banyak, bahkan bisa naik helikopter. Itu prespektif anak-anak yang dibentuk oleh orang-orang di sekelilingnya. Memang benar, menjadi seorang dokter tidak ada ruginya dan bahkan mulia karena dapat menyembuhkan masyarakat. Dokter juga bergaji besar dan sekolah di kedokteran pun juga harus merogoh kocek teramat dalam. Itulah sebabnya, banyak orang bercita-cita menjadi dokter, bukan menjadi tukang sampah. Mengapa tukang sampah yang mengambili dan membersihkan sampah selama ini dipandang sebelah mata? Tentu karena bayaranya kecil, identik dengan kemiskinan dan kurang terdidik (uneducated).

Padahal ini salah besar! Jasa dokter dan tukang sampah sebenarnya sama. Dokter bekerja untuk menyembuhkan orang sedangkan tukang sampah berjasa untuk mencegah penyakit. Berkat jasa merekalah, sampah-sampah rumah tangga yang ada dalam rumah kita terbuang dan terdaur ulang di tempat pembuangan sampah. Sekarang coba kita bayangkan apabila tukang sampah tidak ada, sampah-sampah itu akan menumpuk dan menimbulkan penyakit. Apakah kita mau mengolah dan mendaur ulang sampah kita sendiri di tengah kesibukan dan pekerjaan yang begitu padat? Ini tentu menjadi permenungan bagi kita. Itulah sebabnya jasa tukang sampah teramat dibutuhkan. Seandainya saja tukang sampah ini memiliki bayaran yang besar, pasti banyak anak yang bercita-cita menjadi tukang sampah. Hal itu membuktikan bahwa sebuah profesi hanya diukur dengan nilai semata, bukan dari dampak pada hasil pekerjaan itu sendiri. Pola pikir sederhana inilah yang perlu diubah, direkonstruksi menjadi baru. Terkadang proses rekonstruksi membutuhkan revolusi atau gerakan masif, jika sudah demikian maka para penggeraknya disebut sebagai golongan anarki.

Alexander Berkman, melalui bukunya bertajuk ABC Anarkisme mengatakan bahwa kata anarkisme telah mengalami pergeseran makna. Bahkan, orang yang tahu pun sengaja diam saja atau pura-pura diam agar posisinya tetap aman. Bagian awak buku ini mengatakan bahwa dua orang filusuf, Marx dan Engels mengatakan bahwa anarkisme merupakan kelanjutan dari sosialisme.  Jadi dapat disimpulkan bahwa anarkisme itu adalah kondisi yang lebih indah daripada sekedar adil. Para kaum kapitalis seringkali mengidentikkan anarakisme ini dengan tindak primitif seperti kekerasan, tawuran, demonstrasi dan segala bentuk kriminil lainnya. Padahal tidak! Sama sekali tidak! Alarian anarkisme  lebih condong pada kebebasan diri satu sama lain. Dalam anarkisme, kebebasan dan hak setiap orang diakui serta dihargai. Tidak ada yang mendominasi dan didominasi, tidak ada yang menindas dan ditindas, terlebih tidak ada yang menguasai dan dikuasai.

Orang yang berbadan besar tidak berhak mengganggu orang yang berbadan kecil. Orang pintar tidak berhak mengakali orang bodoh, dan orang berharta tidak berhak mengatur ngatur semaunya sendiri. Anarkisme mengajarkan bahwa semua orang itu harus saling membantu, kerja bakti, tolong menolong untuk mewujudkan hak dan kewajibannya masing-masing. Anarkisme juga menyadarkan bahwa manusia bukanlah hewan, manusia masih punya akal dan budi. Brain reptile yang ada dalam tempunrung otak manusia tidak mungkin liar tak terkendali. Pada dasarnya manusia tidak mungkin saling bunuh membunuh jika tidak saling dirampas hak dan kewajibannya. Orang yang hidup damai berdampingan serta saling menghargai apakah mungkin bisa saling membunuh? Selama tidak ada konflik, selama tidak ada pemberangusan hak satu sama lain, maka itu semua tidak perl terjadi.

Buku ABC Anarkisme sungguh mengeja anarkisme dengan teramat gambalang, pembaca seolah dibukakan matanya agar bukan hanya melihat dengan mata kepala tapi juga mata hati. Kebebasan dan kesetaraan hak asasi manusia diperjuangkan untuk melindungi manusia satu sama lain dari hal-hal sewenang-wenang. Manusia tidak bisa memilih dilahirkan dalam status sosial yang seperti apa, tapi manusia berhajk untuk hidup dan mengembangkan potensinya semaksimal mungkin agar dapat bermanfaat pula bagi sesamanya.

Ketika sesseorang dilahirkan dalam keluarga yang memiliki status sosial tinggi, maka sebenarnya orang tersebut memiliki akses untuk menjadi orang yang status sosialnya tinggi pula. Kenyamanan, kemapanan, serta hak untuk memperoleh pendidikan dengan mudah diadapatkannya. Ketika ia beranjak dewasa, maka ia disekolahkan di universitas favorit dengan jurusan favorit yang hanya orang orang tertentu saja yang bisa menggapainya. Akibatnya setelah ia menjadi dewasa, maka kewajibannya adalah mempertahankan legitimasi itu dan meneruskan kembali apa yang dilakukan oleh orang tuanya kepada anaknya kelak. Hal ini sebagai salah satu strategi pemertahanan kekuasaan. Lalu bagaimana dengan nasib orang yang dilahirkan dengan status sosial ekonomi rendah? Apakah mereka bisa bernasib seberuntung anak yang dilahirkan dalam status sosial ekonomi tinggi?

Faktanya, mereka perlu usaha lebih untuk bertahan hidup. Pagi hari yang seharusnya digunakan ke sekolah harus digunakan untuk membantu orang tua ke sawah, ladang, atau turun ke jalan menjual koran. Jam sekolah pun terpotong. Waktu belajar bermain bersama teman-teman juga terpangkas habis. Sejak kecil mereka bukannya tidak bisa pintar, tapi tidak ada waktu untuk membaca. Bagi mereka bertahan hidup hari ini lebih penting daripada membaca untuk mempersiapkan pengetahuan di massa depan. Itulah sebabnya sejak kecil mereka dicap kurang cerdas, sehingga melanjutkan ke jengang menengah dan universitas yang notabene biasa-biasa saja. Bahkan tak jarang yang berhenti untuk sekolah aatu putus di tengah jalan hanya demi menjaga denyut nadi mereka tetap dapat berdetak hari ini.

Di kampus-kampus dan jurusan ternama memang benar ada anak dari golongan yang status ekonominya rendah bisa meraih prestasi dan diterima di kelas tersebut. Namun, itu hanyalah sepuluh persen dari total keseluruan mahasiswa. Jika memang kesetaraan dan kebebasan melakukan hak dan kewajiban sudah dilaksanakan dengan benar, maka jurusan jurusan ternama di sekolah hingga kampus ternama pun diisi oleh peserta didik dari beragam status sosial. Melihat fenomena fenomena ini, anarkisme diperlukan. Sekali lagi anarkisme diperlukan untuk mengubah pola berpikir msyarakat, bukan diperlukan untuk merusak fasilitas umum. Apabila ada pengerusakan dan pembakaran, itu semua dilakukan karena jalur pertama yaitu diplomasi sudah tidak bisa diteruskan, sehingga muncullah aksi-aksi kekerasan yang pada akhirnya menimbulkan korban. Namun alangkah baiknya pemikiran tentang kekerasan itu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Marilah bergerak secara halus sekaligus menjurus pada sasaran yang tepat. Membukakan mata manusia tentang anarkisme yang baik dan benar adalah salah satunya.

Buku ABC Anarkisme sendiri merupakan buku yang beraliran anarko. Buku ini diterbitkan dan diperbanyak atas dasar copy left, wujud perlawanan terhadap copy right. Copy left sendiri berarti bahwa para pembaca berhak untuk mengkopi, mencetak, menggandakan, hingga menyebarkan isi materi-materi dalam buku sesuai dengan kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini penulis tidak memikirkan untung rugi, karena tujuan penulis adalah agar bukunya dapat dibaca oleh orang-orang yang tepat. Agar bukunya brmanfaat dan dapat dipelajari oleh semua orang dari semua kalangan. Pergerakan seberanya bisa dimulai seperti yang dilakukan penulis dan penerbit buku ini. Oleh sebab itu, membaca ABC Anarkisme itu memerdekakan ruang waktu dan pemikiran.

 

*Ardi Wina Saputra adalah penulis tinggal di Kota Malang