Menjadi terkenal dan sukses di usia muda, adalah impian setiap orang. Namun, tak semua manusia bisa menikmati kesuksesannya dalam lini masa kehidupannya. Adakalanya jauh setelah meninggal, seseorang menjadi terkenal jauh setelah meninggal, salah satunya adalah Nicholas Rodney “Nick” Drake.

Inilah kisah kehidupan seorang musisi folk dari tanah Britania, yang muncul dalam bedah buku “Nick Drake : Sebuah Biografi” karya Patrick Humphries yang diselenggarakan Gubuk Cerita, Pelangi Sastra Malang dan beberapa penjual buku indie dalam  acara SERIKAT LITERAT di Semeru Art Gallery, Kota Malang, Kamis (11/8/2017)

Bedah buku ini menghadirkan Samack, pengelola distribusi rekaman musik dan Kelana Wisnu, perwakilan Yayasan JungkirBalik Pustaka,  sebagai pembicara. Serta Han Farhani sebagai moderator.

Diawali oleh Kelana Wisnu, bedah buku dimulai dari pengungkapan alasan Yayasan JungkirBalik Pustaka menerbitkan biografi Nick. Kisah hidup Nick adalah daya tarik utama, dimulai dari masa kecilnya yang dilahirkan di Burma (Myanmar) 19 Juni 1948, di akhir perang dunia kedua, dari keluarga pengusaha kayu masa kolonial. Pada tahun 1950, ia dan keluarganya pulang ke Inggris. Mendapat pengaruh dari kedua orang tuanya yang aktif di dunia musik serta kakak perempuannya yang berkarir sebagai artis televisi, Nick Drake mulai mempelajari piano dan mengkomposisi musik di usia kanak-kanaknya.

Memasuki sekolah menengah dia mulai mempelajari clarinet dan saksofon, serta membentuk band bersama temannya yang bernama ‘ The Perfumed Gardeners ’ di tahun 1964. Di akhir masa sekolah dia muali mendalami gitar.

Karir music Nick Drake mulai mekar saat ia  berkuliah di jurusan Sastra Inggris, Cambridge University pada 1966. Kegandrungannya akan sastra berpengaruh terhadap penciptaan lirik-lirik lagunya. Bahkan di hari  kematiannya, ditemukan buku “Mite Sifsifus” karya Albert Camus disampingnya, yang ditengarai menginspirasinya untuk bunuh diri, (salah satu mitos yang berkembang tentang dirinya)

Kehidupan Nick Drake di masa muda berbanding terbalik dengan kesuksesannya dimasa kini. Alih-alih terkenal dan menjadi pebicaraan di media masa. Nick Drake justru menarik diri dari hingar-bingar media. Dengan idealismenya dia menjadi anti sosial, menghindari wawancara bahkan menolak untuk melakukan tur untuk albumnya. Dia mencitrakan dirinya sebagai orang yang misterius namun sebenarnya dia ingin terkenal, ujar Kelana Wisnu.

Sedangkan Samack mengungkapkan, Nick Drake menjadi inspirasi bagi beberapa musisi dimulai pada tahun 1980-an. Apalagi setelah peluncuran lagu persembahan untuk Nick Drake “Life in a Northern Town” dari grup musik The Dream Academy di tahun 1985. Band lain yang terpengaruh Nick Drake  adalah  The Cure .

“Robert Smith selaku punggawa The Cure, menamai bandnya kaerena terilhami lirik lagu Nick Drake “Time Has Told Me” (“a troubled cure for a troubled mind”), jauh setelah kematiannya pada dini hari 25 November 1974”, ujar Samack.

Sejak saat itulah Nick Drake menjadi dikenal oleh Masyarakat. Seiring ditemukannya internet dan musik digital, nama Nick Drake semakin terkenal, bahkan salah satunya menjadi soundtrack film The Royal Tenenbaums di tahun 2001.

“Karena sifatnya yang tertutup, serta sedikitnya info tentang Nick Drake, mulailah muncul bermacam mitos tentang Nick Drake, diantaranya rumor kematiannya yang dianggap bunuh diri, asal usul asbabun nuzul penciptaan lagu-lagunya, bahkan sampai pada kisah cintanya” tambah Samack.

Diakhir bedah buku, Kelana menayatakan bahwa Buku Nick Drake tidaklah menjelaskan bagaimana seseorang musisi meraih kesuksesan, buku ini adalah penjelasan  bahwa seorang musisi juga mengalami kegagalan dan memiliki banyak persoalan hidup. “Mitos-mitos yang menyelimuti Nick Drake berhasil diklarifikasi dalam buku ini, agar kita tahu musisi juga manusia” pungkas Kelana.

 

Asyrofi Al- Kindy (Mahasiswa Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang & Bergiat di UKM Penulis UM)

*Tulisan pernah dimuat di Citizen Reporter Harian Surya edisi Rabu 16 Agustus 2016