Komunitas Pelangi Sastra Malang pada hari Minggu (27/9) ikut serta mendukung acara peluncuran buku Kitab Pentigraf: dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga. Acara yang diselenggarakan di Kota Malang, tepatnya kediaman Tengsoe Tjahjono selaku penggagas pentigraf sekaligus kurator dari beberapa penulis sampai ditentukan 46 penulis yang berasal dari kota yang beragam di antaranya, Kota Malang, Mojokerto, Nganjuk, Surabaya, Flores, Jombang, Jogja, Sidoarjo, Purwokerto, Bogor, Klaten, Cilacap, Salatiga, Blitar, Solo, Jakarta, Bandung, Madiun. Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB ini dipandu oleh Yusri Fajar (Dosen UB yang juga Aktif di komunitas pelangi sastra Malang). Hadir sebagai pembicara adalah Prof. Djoko Saryono (guru besar UM), Dr. Tengsoe Tjahjono (penggagas pentigraf dan kurator Kitab Pentigraf), dan Abdul Mukhid (penulis senior di Malang yang juga salah satu “pentigrafis”).

Dalam kesempatan ini, Prof. Djoko Saryono memberikan banyak masukan dan catatan penting untuk kelangsungan Kampung PENTIGRAF Indonesia yang di bentuk melalui media sosial Facebook, menarik apa yang disampaikan oleh beliau bahwa “penulis sudah mati, kritikus sudah mati, pembaca sudah mati” dari tiga hal tersebut yang hidup kembali bisa menjadi di antaranya.

Kitab Pentigraf bisa menjadi warna baru di dunia literasi yang diibaratkan Taman yang luas tumbuh beragam, pasti banyak perbedaan dan tidak lantas disamakan, seperti pohon yang tumbuh tinggi tak perlu ditebang atau tumbuhan lumut yang harus dimusnahkan. Terlepas dari keterbukaan taman ini, Prof. Djoko menegaskan tetap pentingnya mencegah tumbuhnya sejumlah hal, terutama kekerasan simbolik, yang meliputi ujaran kebencian, marginalisasi, dan stigmatisasi.

Dari perbincangan, didapati bahwa penulisan cerita yang hanya dikemas tiga paragraf itu menurut Ria Santati membuat kecanduan untuk ingin selalu menulis dan menulis lagi. Dalam acara ini, terdapat pembacaan dua Pentigraf, yang salah satunya akan ditampilkan lengkap di bawah. Pentigraf pertama yang dibacakan berjudul “Alea Ingin ke Surga” yang dibacakan oleh Ardy Wina Saputra, salah satu penulis pentigraf yang baru-baru ini juga menerbitkan novel Aloer-Aloer Merah (Penerbit Pelangi Sastra Malang, 2017).

“Alea Ingi ke Surga” selesai dengan tiga paragraf, yang memberikan kejutan kepada pembacanya, dan ke depannya Kampung Pentigraf Indonesia dapat memberikan suguhan yang lebih baik, tanpa adanya kerikil dalam proses penerbitan atau penulisan sehingga tidak lagi ditemui tulisan yang typo atau salah ketik dan sejenisnya yang terlewati oleh editor.

Acara yang berlangsung kurang lebih empat jam ini dibuka oleh penampilan musik Antok Yunus, Han Farhani dan Basuki, menambah kehangatan yang terjalin antara para perupa yang saling mendukung, juga ikut hadir dan terlibat siswa-siswi SMK 11 yang menyuguhkan musikalisasi puisi yang menjadi penutup dari acara peluncuran buku kitap cerpen tiga paragraf.

 

“Alea ingin ke Surga”

Hujan mulai reda, menyisakan basah dan dingin mulai membungkus malam. Di sudut sebuah ruko yang sudah tutup sejak senja tadi, laki-laki paru baya bersama anaknya berteduh beralas kardus-kardus bekas. “Pak, apakah ada kehidupan setelah kita mati?” Tanya si anak bernama Alea. Sang bapak menoleh. “Tentu saja, Nak,” jawabnya. “Apakah kehidupan disana sama seperti disini?” sang bapak diam sejenak, menggeleng, tersenyum. “Jika kita hidup sebagai orang baik, maka kitabakan tinggal di Surga.” Alea tampak berpikir, “Di Surga kita tidak akan kelaparan?” Lelaki paruh baya itu kembali menggeleng. Tersenyum. “Alea ingin ke Surga” imbuh Alea.

Siang itu, seperti biasa. Sepulang sekolah, Alea ngamen di lampu merah. Tapi nelum sempat bocah kelas dua SD itu mengumpulkan pundi-pundi rupiah, salah satu temannya mengabarkan bahwa kios bapaknya di angkut satpol PP. Alea pun segera berlari, tapi sebelum sampai di tempat, tangannya ada yang menarik, mengajak bersembunyi. Rupanya itu bapaknya. Mereka hanya bisa menatap pasrah saat kios yang di bangun penuhperjuangan itu, dihancurkan. Setidaknya mereka masih beruntung tidak ikut diangkut ke mobil petugas.

“Pak, Alea kedinginan,” ucap Alea lirih. Dipeluk tubuh putrinya erat. “Badanmu panas Nak.” Sebenarnya bukan hanya Alea yang demam tapi semenjak melarikan diri dari satpol PP siang tadi, lelaki paruh baya itu menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya. “Besok pagi-pagi, bapak akan belikan obat demam, Nak.” Alea menoleh. “Uang kita sudah habis beli makan, pak.”  Lelaki itu mendesah. “Ya, sudah tidurlah. Esok semua akan baik-baik saja.” Hibur sang bapak. “Semoga bangun nanti, kita sudah di Suraga ya, pak.” Malam semakin larut. Sepasang bapak dan anak itu terlelap berselimut koran. Esok paginya, pemilik Ruko menemukan dua orang saling berpelukan sudah tak bernyawa. (Zahra Vee)

Selamat membaca dan salam Literasi.