Oleh Raisa*

Bagi Ibuk, yang terpenting bukanlah beras yang menggunung di lumbung. Bukan pula sapi gembala yang gemuk-gemuk. Ibuk meletakkan masa depan Tari di atas segala apa. Ibuk tak peduli meski memperjuangkan itu adalah sebuah episode bertaruh yang amat sangat.

Aku tak mengerti perihal cita-cita Ibuk. Sejak sulungnya, Jati, mendadak  berhenti sekolah, Ibuk tak lagi peduli pada apapun kecuali Tari. Ia hanya berbicara pada Tari. Ia hanya tersenyum pada Tari. Jati pernah bercerita padaku perihal Ibuk.

“Rasanya seperti tak ada aku di rumah, To.”

Aku hanya tersenyum. Aku paham benar. Meski Jati adalah seorang pemain Tong Setan yang menebar rajah hampir di seluruh tubuh, ia masih sulung yang berbakti. Ia minum arak hampir setiap hari. Nikotin tak pernah lepas dari bibir. Tapi baginya, Ibuk tetap nomor satu.

Aku juga penggemar Ibuk nomor satu. Aku hidup bersama Ibuk, Tari, dan Jati sejak kecil. Bapak sudah lama tak ada. Tidak, Bapak tidak mati. Bapak menghilang. Setidaknya begitulah kata Jati di sela-sela igauan tidurnya. Bapak menghilang dalam malam yang hitam. Bapak membawa semua. Tabungan Ibuk, perhiasan Ibuk, celengan Jati, dan sepatu baru Tari. Setelah malam itu, Ibuk tak pernah lagi membicarakan Bapak. Tari menangis karena ia tak menemukan sepatunya. Jati mulai memanggil Bapak dengan celeng. Entah karena Bapak membawa celengan Jati pergi, atau karena memang Jati membenci Bapak. Foto keluarga di ruang tamu berganti dengan lukisan vas bunga.

Meski Ibuk tak lagi berbicara pada Jati, tetapi Ibuk masih setia memasak apapun untuk Tari dan Jati. Masakan Ibuk, kata Jati, benar-benar membuatnya jatuh cinta. Bahkan ia bersumpah, tak akan ia nikahi seorang gadis yang masakannya tak seenak masakan Ibuk meski Ibuk hanya bisa memberinya daging setahun sekali.

Aku tak terlalu sering makan masakan Ibuk. Ibuk akan meletakkan makanan di piringku hanya jika Tari tak menghabiskan makanannya.

Usia Tari sudah tujuh belas. Bagi anak seusianya, harusnya saat ini ia sudah duduk di sekolah menengah atas. Namun tidak dengan Tari. Ia masih baru masuk sekolah menengah pertama. Sejak Bapak pergi, Tari mulai malas belajar dan sekolah. Nilainya sangat buruk. Berkali-kali ia tak naik kelas. Ia hampir saja dikeluarkan dari sekolah, jika Jati tak datang ke ruang kepala sekolah dengan rajah dan otot demikian rupa yang sengaja ia pamerkan. Harapan Ibuk hanya Tari. Meski Tari jauh dari harapan.

*****

Jati bertengkar dengan Ibuk. Ibuk murka meneriaki Jati tepat di telinga. Pertama kalinya, demikian lamanya, sejak Ibuk terakhir kali berbicara dengan Jati. Jati menunduk, tak berani menatap Ibuk.

“Cukup sekali kau kecewakan aku, Jati! Permintaanku hanya satu, Jati. Aku ingin anakku-anakku berhasil. Jika kau tak bisa, maka jangan coba kau pengaruhi adikmu!”

Tari meringkuk di pojok dapur. Ia terisak. Karenanya, Jati begitu. Jati membujuk Ibuk supaya membiarkan Tari tak bersekolah. Semalam Tari menangis pada Jati tentang sikap Ibuk yang memaksa Tari sekolah. Tari juga bercerita tentang gunjingan tetangga sebab Ibuk yang tak kunjung membayar hutang. Ibuk memang kerapkali meminjam uang untuk keperluan sekolah Tari.

“Akan aku lakukan apapun demi Tari. Kau tak perlu menceramahiku tentang keputusan yang aku ambil,” lanjut Ibuk.

“Sudahlah, Buk. Jangan memaksa. Jika memang tak bisa, tak apa. Tari bisa bekerja, Tari bisa ikut membantu kebutuhan keluarga,”

“Omong kosong, Jati. Akan kubuktikan pada lelaki yang menitipkan benihnya pada rahimku itu bahwa anak-anakku adalah anak-anak yang tak butuh sosok ayah. Tari pasti bisa sekolah sampai selesai. Tari pasti bisa membuat lelaki itu menyesal pergi dari rumah,”

Maka perdebatan itu berakhir dengan isak Ibuk yang berganti raungan. Isak Tari yang berganti senggukan. Isak Jati yang berganti umpatan.

*****

Seperti yang pernah kukatakan pada bagian kisah ini, Jati adalah seorang pemain sirkus. Tong Setan. Jika kau pernah berpikir bahwa menjadi pengendara motor Tong Setan adalah sebuah keterpaksaan dari himpitan lumbung,  tidak bagi Jati. Jati berhenti sekolah karena Tong Setan. Ia begitu jatuh cinta dan merasa moksa saat mendengar deru suara mesin motor yang berputar dengan kecepatan tinggi di dalam tong raksasa. Telinganya menjadi candu pada deru. Matanya menjadi candu pada kelamnya tong. Ketika ia memutuskan membakar seragam sekolahnya, pada pejam matanya, ia melihat Ibuk yang menangis dalam diam. Semakin ia terpejam, semakin bayangan Ibuk menyala-nyala. Ia hampir saja terjun kembali ke dalam api, namun telinganya memutar kembali suara deru Tong Setan yang begitu membuatnya lupa.

Sebab tak ada pengendara motor Tong Setan dengan tubuh bersih, maka ia putuskan menghiasi seluruh tubuh dengan rajah. Ada rajah bergambar Ibuk di punggungnya. Tukang rajah sampai terheran-heran ketika Jati membawa foto Ibuk dan memintanya menggambar Ibuk di punggungnya.

“Supaya aku ingat, bahwa aku harus selamat.” Begitu alasannya ketika semua orang bertanya mengapa.

Ibuk pernah melihat dirinya di punggung Jati. Ibuk tak sempat terkejut. Ibuk menahan tawa sebab bentuk hidungnya terlampau buruk di sana.

Ibuk tak pernah tahu Jati berhenti sekolah sampai suatu hari pada jam sekolah,  ia mendengar semua orang meneriakkan nama anaknya di arena Tong Setan. Ibuk terkulai lemas saat melihat buah hatinya berputar-putar gila di atas motor di arena Tong Setan.

Sejak saat itu, Ibuk berhenti bicara pada Jati.

*****

Tari hilang. Ia tak ada di rumah. Ia tak pulang dari sekolah. Ibuk mencarinya kemana-mana. Tapi Tari tak ada. Terakhir kali aku melihat Tari, ia pamit pergi ke sekolah. Hari itu ia tak diantar Jati. Tari menolak diantar sebab hari masih pagi dan ia ingin berangkat bersama teman-temannya. Teman-temannya tak tahu Tari kemana. Ada surat izin di kelas. Atas nama Ibuk. Tari izin sakit. Dibubuhkannya tanda tangan palsu Ibuk di akhir surat.

Mendung menggelayuti wajah Ibuk. Hujan di pelupuk matanya. Basah. Kehilangan adalah duka yang begitu akrab dengan Ibuk. Suaminya telah pergi. Sulungnya, meski tak pergi, ia tak lagi dapat diharapkan. Kali ini, harapan terakhirnya, untuk segala cita-cita yang pernah pupus, juga pergi.

Ibuk memukul-mukul dadanya dalam tangis yang begitu hening.

Barangkali puncak duka bukanlah isak. Namun hening yang begitu dalam, hingga air mata yang jatuh pun membentuk suara yang menggema.

“Gusti, jika hendak kau ambil raga ini, maka ambillah. Jangan engkau biarkan aku melihat semua kepergian yang muncul satu per satu,” kata Ibu di sela-sela hening.

Ibuk membuka laci meja. Dikeluarkannya kotak tempat ia menyimpan tabungan. Hanya ada beberapa lembar ribuan dan koin di sana.

“Tak cukup untuk melapor ke polisi,” gumam Ibuk.

Ia kembali hening dalam tangis.

*****

Kawanku tahu di mana Tari. Ia mengajakku menembus gang-gang kecil untuk menemukan Tari. Kau tahu, ini pertama kalinya aku pergi cukup jauh dari rumah. Semoga aku tak lupa jalan pulang. Kata kawanku, Tari tak pergi sendirian. Ia bersama tiga lelaki.

Aku semakin khawatir. Aku tahu dari televisi tetangga, bahwa perempuan tak akan aman jika bersama laki-laki. Mungkin sudah takdirnya. Seperti sebuah muatan plus dan minus. Ada tarik menarik.

Menemukan Tari bukan perkara mudah. Aku harus menyeberang jalan hingga berkali-kali. Padahal kau tahu betapa arogannya pengendara di jalanan.

Aku cukup lelah. Aku baru saja akan duduk istirahat, ketika kulihat Tari turun dari sebuah mobil. Aku hapal benar bahwa itu Tari. Ia hanya punya satu pakaian yang bagus. Yang ia kenakan saat ini.

Aku mengikuti Tari diam-diam. Aku tak ingin ia tahu bahwa aku menemukannya. Jika tidak, ia pasti akan lari dan menghindar.

Tari masuk ke sebuah bangunan yang sangat tinggi. Bangunan tua. Aku tak yakin ini adalah sebuah kantor. Untuk sebuah kantor, bangunan ini terlalu kumuh. Aku mengikuti masuk. Ah! Begitu pengap di dalam. Gelap dan pengap. Untung saja aku mampu melihat dalam gelap.

Tari naik ke lantai dua bangunan itu. Ia tak sendirian. Ia bersama tiga lelaki.

Apa yang ia lakukan di sini bersama orang-orang itu? Aku tak dapat menahan prasangka-prasangka yang muncul. Harusnya aku kemari bersama Jati. Harusnya aku menjemput Jati.

Jati pasti paham benar apa yang harus ia lakukan. Tak sepertiku yang hanya mampu mengikuti Tari diam-diam begini.

Lantai dua tampak sedikit lebih terang dari lantai satu. Ada banyak ruangan di sana. Ada banyak laki-laki yang berdiri menggunakan kaca mata gelap. Aku makin ngeri membayangkan Tari yang berada bersama banyak lelaki di sini.

Salah satu lelaki yang bersama Tari membisikkan sesuatu kepada lelaki berkacamata. Lelaki itu mengangguk. Ia lalu membuka pintu salah satu ruangan. Lelaki itu menggandeng tangan Tari dan membiarkan Tari masuk ke dalam ruangan.

Aku ingin mengikutinya. Namun semua akan kacau jika Tari mengetahuinya. Belum lagi laki-laki yang berjaga di depan ruangan itu. Meski rajahnya tak terlampau banyak seperti milik Jati, ia masih cukup menakutkan buatku.

Aku ingin berbalik ketika aku tak sengaja menginjak botol plastik minuman.

“Siapa itu!” Ah! Itu pasti suara penjaga. Aku memejamkan mata. Merapal doa yang sering kudengar dari Ibuk.

Lelaki itu berada tepat di belakangku.

“Siapa?” temannya bertanya dari jauh.

“Hanya anjing kampung ,” jawabnya. Ia berlalu.

Aku bernapas lega. Mengingat kehadiranku ternyata tak menjadi masalah, maka aku memutuskan untuk kembali mengintip Tari. Paling tidak menguping pembicaraan Sari di dalam, lewat celah celah pintu. Penjaga tak peduli kehadiranku. Aku bersyukur dipelihara oleh keluarga miskin yang tak punya cukup uang untuk membentuk buluku menjadi demikian rupa. Hingga kehadirankupun tak menjadi suatu apa. Dari balik pintu, aku mendengar sayup-sayup suara yang cukup familiar di telinga. Aku maju sedikit, memberanikan diri untuk memastikan.

Penerangan di dalam terlampau jelas untuk mengelabui mataku. Mimpi-mimpi Ibuk berganti mimpi buruk.

Kulihat Tari terbaring pasrah di atas meja.

Kulihat Jati menghitung uang sambil tertawa.

Kulihat lelaki memasang celana.

Kulihat Ibu di punggung Jati, menatapku penuh duka.

*) Penulis adalah mahasiswi UM asal Situbondo