Judul        : Aloer-Aloer Merah
Penerbit   : Pelangi Sastra Malang
Penulis     : Ardi Wina Saputra

Cetakan    : 2017
ISBN         : 978-602-60790-3-9
Halaman  : 124 halaman
Peresensi  : Muhammad Rosyid HW.*

Kolonialisme sebagai sebuah tragedi kemanusiaan telah banyak menebarkan kekacauan, kegaduhan dan kerusakan yang begitu hebat. Secara fisik, penjajahan dengan instrument utama berupa perang telah memporak-porandakan bangunan kebudayaan manusia. Penaklukan sebuah bangsa oleh bangsa lain juga secara batin meluluhlantakkan dan menggempur perasaan manusia yang penuh kasih sayang dengan jerit pilu pembunuhan, ratap luka kekerasan dan borok perih kebencian yang demikian luar biasa. Kutukan dan kecaman dilontarkan banyak kalangan sebagai respon bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Salah satu cara untuk mengutuk kolonialisme adalah melalui karya sastra.

Banyak karya sastra mengisahkan kekejaman penjajahan dengan dampak sosial yang akut. Seperti novel Heart of Darkness karya Joseph Conrad yang menceritakan tentang penderitaan orang-orang Afrika yang diinjak-injak martabatnya oleh orang-orang Eropa. Multatuli juga menuliskan tentang rentenir-rentenir Belanda yang menghisap habis tanah dan keringat para petani di negeri ini dalam novel “Max Havelar”. Bahkan Pramoedya Ananta Tor menahbiskan Max Havelar sebagai buku yang membunuh kolonialisme karena mengangkat cerita yang revolusioner. Novel “Burung-Burung Manyar” karya Mangunwijaya juga bercerita tentang bahaya laten penjajahan yang menggerus nalar kemanusiaan hingga yang terjajah tak merasa dijajah ketika urat nadi kolonialisme telah begitu mengakar. Maka, karya-karya diatas berusaha untuk mengecam, mengutuk dan menghakimi bahwa penjajahan harus segera enyah dari sejarah manusia.

Kumpulan cerpen “Aloer-Aloer Merah” berada pada resonansi yang sama untuk melawan kolonialisme, namun berangkat dari unsur yang berbeda: psikologi manusia. Kejahatan penjajahan digambarkan dalam cerpen-cerpen yang mengisahkan bahwa perang telah mencetak derita batin manusia, menusuk jiwa yang merana dan menasbihkan nasib yang tak tentu arah. Karya ini semakin meneguhkan bahwa perang atas nama penjajahan layak dikutuk karena menimbulkan trauma dan gejala kejiwaan pada manusia.

Dengan berdasarkan riset dan wawancara, penulis kumcer ini berusaha menyajikan kepingan-kepingan peristiwa perang yang terjadi di Malang dan Surabaya pada kurun waktu perang kemerdekaan. Namun, Ardi W.S. tidak menyajikan data mentah risetnya dalam karya sastra an sich. Ia telah mengolah, meramu dan bahkan memberikan persepektifnya sendiri tentang perang pada masa itu. Seperti kata Kuntowijoyo bahwa penulis karya sastra berhak untuk mengadili dan menilai realitas sejarah dengan kaca mata penulisnya. Dalam hal ini, Ardi tidak hanya menuliskan tentang derita psikologi akibat peperangan namun ia juga menyisipkan pendapatnya bahwa perang adalah kejahatan kemanusiaan.

*****

Perlawanan akan kekejaman penjajahan dapat berupa balas dendam seperti yang tertuang dalam cerpen “Aloer-Aloer Merah”. Ladang Aloer atau selada adalah tempat Darto menghabisi para kompeni yang dulu telah membunuh dan memperkosa ibunya. Merah yang tersemat adalah simbolisasi merah darah bahwa dendam itu akan terus membara selama kompeni masih menduduki negeri ini. Selada juga sebagai penanda bahwa aromanya yang wangi adalah harum kemenangan, kebebasan dan ketentraman bagi yang terjajah ketika berhasil membalaskan dendamnya.

Aloer-aloer disisi-sisinya mulai berwarna merah. Aku telah menggalikan tanah untuk mengubur jasadnya disini. Tepat di tempat ibuku yang dulu kelelahan menanam aloer diperkosa lalu dibunuhnya habis-habisan sepuluh tahun silam. (hal. 9)

Adapula yang memberontak dengan bunuh diri agar tak dijadikan gundik oleh si Tuan. Seperti dalam cerpen “Gundik”, Suratni rela memilih untuk menenggak racun dan sekarat dengan mulut berbusa daripada dijadikan Gundik oleh seorang penjajah. Bunuh diri adalah salah satu cara singkat mengakhiri hidup daripada harus menanggung penderitaan yang menyedihkan dengan hidup bersama para penjajah.

Kematian juga menjadi jalan terakhir bagi para tokoh dalam cerpen ini ketika penderitaan telah tidak dapat ditangguhkan. Berpuluh-puluh tahun memendam gejolak perih penjajahan di ulu hati mengantarkan tokoh itu pada gerbang kematiannya sendiri. Seperti terungkap dalam cerpen “Kutukan”.

Namun aku sadar bahwa Sulastri tetaplah seorang manusia yang punya batas kesabaran. Batinnya tidak kuat, jiwanya lemah. Tak sanggup itu semua, dia memilih mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Bunuh diri dengan tali sampurnya sendiri di ranjang pengantin kami…(hal. 43)

Latar bahasa juga dielaborasi penulis kumcer ini untuk menunjukkan rentang sejarah dimana sebuah peristiwa terjadi. Beberapa kosa kata bahasa Belanda bertaburan tidak hanya sebagai penanda zaman kolonial tapi juga tata letak dan nama jalan di kota Malang. Seperti contoh Burgemeester (walikota), Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), Coenplein (Alun-alun Tugu), stasiun spoor (stasiun kereta), Semeroeplein (Kawasan Jalan Semeru Malang), Rowplan (Rencana Tata Kota), Whelminastraat (Jln. Dr. Cipto), Ardjoenastraat (Jalan Arjuna). Hal ini tak lepas dari beberapa daerah di Malang dan Surabaya yang masih melestarikan beberapa warisan sejarah masa lalu.

Peristiwa-peristiwa sejarah telah menjadi inspirasi dari kumpulan cerpen ini, terutama dalam kaitannya dengan penjajahan. Dalam buku “Budaya dan Masyarakat”, Kuntowijoyo menjelaskan bahwa ada tiga respon dalam menulis sastra berdasar kisah sejarah; mencoba menerjemahkannya dalam bahasa imajiner, menanggapinya dengan pikiran penulis sendiri, dan menciptakannya kembali sesuai pengetahuan dan imajinasi penulis.

Maka berdasarkan ketiga kategori tersebut, kumpulan cerpen “Aloer-Aloer Merah” ini mencakup ketiga hal tersebut secara komprehensif karena beberapa faktor. Pertama, Ia mengisahkan tentang sejarah perang melawan kolonialisme sekitar tahun 1945-an berdasarkan hasil riset yang dikemas dengan daya kreatif penulis. Kedua, Ia menceritakan tentang respon dan reaksi manusia akan kekejaman perang dan kolonialisme melalui resistensi humanisme yang tergambar melalui konflik batin, kemeleratan hingga kematian sebagai tanggapan atas peristiwa sejarah kolonial. Ketiga, cerita ini dapat menjadi gambaran betapa perang dan kolonialisme telah menghancurkan sisi-sisi psikologis manusia dan berdampak begitu nyata terhadap luka kemanusiaan. Maka, jalin kelindan antara sejarah dan sastra dalam kumpulan cerpen ini menjadi satu kesatuan simbolis yang secara utuh mengutuk segala bentuk penjajahan di muka bumi.

*M. Rosyid HW aktif menulis cerpen, esai dan resensi buku di berbagai media. Saat ini tinggal di Kota Malang.

*Pernah dimuat di Jawa Pos Radar Malang, Minggu 3 September 2017