Oleh YUSRI FAJAR

(Penulis dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya)

Surga yang tak Dirindukan 2 karya Asma Nadia sebagai karya sastra telah merebut hati para pembaca sebelum diangkat ke layar lebar. Bagi mereka yang penasaran dengan gambaran visual dari film itu tentu akan memilih datang ke Bioskop untuk mendapatkan jawaban dari imajinasi mereka saat membaca. Bagi seseorang yang mengkhawatirkan hasil pembacaan mereka terhadap novel tersebut mengalami distorsi, maka dia akan memilih tak menonton. Namun, tampaknya para pembaca novel lebih banyak menonton filmnya dari pada tidak. Pembaca novel yang berjumlah banyak adalah aset bagi film Surga yang tak Dirindukan 2 yang digarap sutradara Hanung Bramantyo. Asma Nadia sebagai penulis yang juga sukses menginspirasi sineas merupakan aset penting bagi kesuksesan sebuah film yang diangkat dari karya sastra. Pilihan mengangkat novel Asma Nadia ini tentu sudah melalui pertimbangan yang tidak hanya komersial, mengingat novel bertema poligami ini berpotensial menarik perhatian penonton jika diadaptasi ke layar lebar.

Fenomena relasi karya sastra dan film yang telah lama terjadi ini bisa diibaratkan percintaan yang saling mengisi, namun kadang dipenuhi tegangan karena film selalu tak bisa bersetia seratus persen pada karya sastra. Lihatlah misalnya novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka yang juga difilmkan dan mendapatkan sambutan luar biasa dari penonton. Di dalamnya kita juga bisa melihat persamaan dan perbedaan antara novel dan filmnya. Hamka bagaimana pun adalah sastrawan yang dikenal luas oleh pembaca sastra di tanah air, dan novelnya tersebut adalah karya yang dipandang masterpiece. Meski novel itu telah lama ditulis, namun filmnya yang baru dirilis 2013 begitu diminati. Di Indonesia hingga hari ini telah begitu banyak film adaptasi dari karya-karya sastra. Yang masih hangat, penonton juga bisa menikmati adaptasi novel dari penulis ternama, Sapardi Djoko Damono, yang berjudul Hujan Bulan Juni. Kedepan tampaknya masih akan ada berbagai film adaptasi lagi.

Ketika datang ke Bioskop untuk menonton Surga yang tak Dirindukan 2, saya sudah menyiapkan diri untuk kecewa. Tentu saja, jika saya berharap bahwa novel ini akan diangkat oleh hanung Bramantyo secara persis, maka saya pasti akan kecewa. Justru yang bagi saya menarik dari film adaptasi adalah sejauh mana kreativitas sineas dalam mengadaptasi karya sastra ke dalam film yang dia garap. Menurut Krevolin film adaptasi yang sukses, bisa dievaluasi dari sejauh mana film tersebut mampu merepresentasikan esensi, ruh dan jiwa novel asli (2003) Krevolin menegaskan bahwa kunci adaptasi yang sukses bukan terletak pada transkripsi secara harfiah dan setia terhadap materi sumber yang dalam banyak hal mustahil dilakukan. Teks asli hanya untuk memulai dan memberi inspirasi. Sehingga penonton yang berharap akan mendapatkan kesamaan persis antara film novel Surga yang Tak Dirindukan 2 dengan novelnya perlu berpikir dan menata harapan ulang. Novel yang berkisah tentang poligami ini menghadirkan konflik yang begitu kompleks. Meski tema yang sama pernah digarap oleh novelis Habiburrahman El-Shirazy dalam Ayat-Ayat Cinta dan sukses difilmkan, tema poligami tampaknya terus menginspirasi dan menjadi sumber yang terus mengalirkan inspirasi untuk ditulis.

Salah satu kreativitas Hanung Bramantyo yang bisa dilihat adalah dalam mengonstruksi ending film Surga yang tak Dirindukan 2 secara berbeda dari apa yang disuguhkan Asma Nadia dalam novel. Dalam bagian akhir novel Asma Nadia masih menggambarkan kondisi Arini yang tengah didera penyakit kanker stadium 4 yang masih hidup di rumah sakit. Asma Nadia menulis kalimat akhir dalam novel ini,”Kelopak mata Arini Berkedip”. Kita sebagai pembaca tidak mendapatkan informasi lanjutan apakah Arini akan meninggal atau tidak. Namun di dalam film, demi untuk menghasilkan efek dramatis Arini (Laudya Cynthia Bella) digambarkan meninggal di rumah sakit dan Hanung Bramantyo menunjukkan di akhir film Pras (Fedi Nuril) bersanding bersama Meirose (Raline Shah) dengan pakaian pengantin. Pilihan close ending ini tentu menjawab rasa penasaran pembaca novel yang masih menyimpan pertanyaan apakah Meirose akan menikah dengan dokter keturunan Indonesia Hungaria, Dr. Syarif, yang telah menyatakan cinta pada Meirose, ataukah Meirose akan kembali pada Pras. Fenomena ini menegaskan bahwa keaslian sesuai teks (fidelity) yang diadaptasi bukan lagi menjadi pertimbangan utama, tapi justru pada bagaimana menghadirkan bentuk baru dengan kreativitas bagus dan menarik.

Adaptasi bisa saja menambahkan dan mengurangi dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti simplifikasi plot, penciptaan situasi dramatik, dan lain sebagainya. Hutcheon mendefinisikan adaptasi sebagai proses penyesuaian dan interpretasi teks terdahulu ke dalam teks baru (2006). Kita bisa melihat lagi misalnya dalam film ada adegan dengan latar yang berbeda. Di novel, Arini datang ke Budapest dan sangat ingin bertemu Arini. Sebelumnya Arini telah melihat blog Meirose yang telah berada di Budapest. Ketika Arini berada di masjid di Budapest dan berjumpa dengan komunitas muslim di sana, Arini tidak bertemu dengan Meirose, padahal Arini sangat ingin bertemu dengannya. Dalam film, kita sebagai pentonton bisa melihat pertemuan Arini dan Meirose di Budapest pertama kali terjadi di Masjid tersebut. Pemampatan peristiwa atau penyiasatan alur panjang dari sebuah novel ini lazim dilakukan dalam film mengingat film dibatasi oleh waktu. Pertemuan Arini dan Meirose yang dikonstruksi Hanung Bramantyo terjadi di Masjid juga terlihat dramatis. Latar masjid yang dipilih untuk mempertemukan mereka terkesan memberikan kesan sebagai pertemuan yang terjadi tanpa pengedepanan konflik. Kedua perempuan ini berjumpa kembali dalam suasana yang saling ‘memahami dan menerima’, sebagaimana keduanya berusaha menerima realitas sebagai istri Pras, lelaki yang mereka berdua cintai.

Selain kreativitas Hanung yang menghadirkan nuansa yang berbeda dari novel, tentu ada banyak hal yang dipertahankan, seperti narasi besar dan tema dari novel yaitu tentu kisah poligami dalam keluarga. Hal yang mungkin dipandang kecil dalam film namun menjadi adegan yang membuat film Surga yang tak Dirindukan makin terasa mengaduk-ngaduk perasaan adalah ketika Nadia (Sandrinna Michelle) dan Akbar (Keefe Bazli), keduanya adalah anak Pras dari Arini dan Meirose, berdialog tentang ayah mereka. Dalam novel Asma Nadia mengisahkan Nadia dan Akbar berdebat tentang ayah mereka. Nadia berkata pada Akbar bahwa ayahnya bernama Pras, bukan Syarif. Sementara Akbar bersikeras bilang ayahnya adalah Syarif. Dalam film adegan yang terjadi di jalanan samping rumah Meirose ini digarap oleh Hanung dengan dramatis. Baik Sandrinna dan Keefe bisa beracting seakan-akan mereka memang serius berantem, berdebat, berkonflik tentang siapa sebenarnya ayah mereka.

Latar Budapest juga tervisualkan dalam film secara superior. Ibukota Hungaria yang berarsitektur indah membuat penonton terpesona karena keindahannya. Budapest adalah kota eksotik di mata penonton-penonton Asia yang belum pernah ke sana. Sudut-sudut Budapest seperti tak lepas dari intaian kamera Hanung Bramantyo. Shots dan angles didominasi latar Hungaria hingga akhir film. Yang menarik adalah latar kultural juga dihadirkan secara menarik. Istilah-istilah bahasa Hungaria yang ditulis Asma Nadia dalam novel juga mendapat perhatian dari Hanung Bramantyo dalam film ini. Gambaran komunitas muslim Hungaria yang juga menjadi bagian penting dari film adalah bagian dari upaya menangkap ruh narasi Asma Nadia dalam novel yang memang ingin menunjukkan kilau mutiara multikulturalisme di negeri Eropa Timur itu.

Seperti juga film Ayat-Ayat Cinta yang menuai kritik karena persoalan tema poligami, Surga yang tak Dirindukan 2 juga bisa dinilai mengkomodifikasikan tema sensitif poligami. Mungkin sebagian besar kaum perempuan memang tak mau dimadu. Bagaimana mungkin cinta harus dibagi, bisakah perasaan seorang perempuan berdamai dengan rasa cemburu, bahkan iri hati di antara sesama istri-istri yang bersuamikan seorang lelaki. Namun, saya melihat ketika di bioskop jumlah kaum hawa menonton banyak. Mungkin mereka sekedar ingin menonton film, sementara dalam kehidupan nyata mereka berharap suami mereka tak melakukan poligami. Poligami cukuplah dalam novel dan film, mungkin begitu batin mereka.