Oleh: Muntaha Mansur*

Genangan awan di langit mengandung rintik hujan yang siap turun segera. Di musim yang tak terprediksi seperti akhir-akhir ini, hujan bisa turun kapan saja. Orang-orang ahli bisa meramalkannya, tapi tidak sepenuhnya bisa memastikan. Kadang kala mereka mengatakan hari ini cerah dan berawan. Namun, angin dan hujan tiba-tiba datang. Alam punya bahasanya sendiri. Yang seringkali, segudang teori dan ilmu tidak mampu berbicara dengannya.

Meski hari sudah siang, langit mendung membuat suasana layaknya pagi buta. Aku berharap mendung hanya mendung. Bukan menjelma rinai hujan. Orang akan malas keluar kalau hujan datang. Apalagi akhir-akhir ini jalanan kerap tergenang air.

Siang itu aku duduk sendiri di beranda kedai kopi yang masih sepi. Cemas pada datangnya hujan yang bakal memperpanjang sepi. Aku sih berharap hujan akan turun jika kedai sudah ramai. Dengan begitu, pengunjung akan berlama-lama di kedai dan memperbanyak pesanan.

Mendung mengingatkanku pada emak di kampung yang selalu was-was menunggui padi yang dijemur. Biasanya emak akan membakar bawang putih ditusukkan ke lidi dan ditaruh di halaman. Sapu lidi juga dimekarkan di halaman dengan posisi terbalik. Emak akan duduk di beranda Musholla depan dapur sambil komat-kamit membaca Alamtaro[i]. Percaya atau tidak, apa yang dilakukan emak seringkali berhasil. Langit yang gelap tiba-tiba tersibak cerah nan terik.

Namun, tetap saja hujan bisa turun kapan saja. Tanpa permisi pada petani yang mengharap terik. Bagi petani seperti emak, padi yang kering ibarat air segar di tengah-tengah panas yang kehausan. Hutang bibit dan pupuk, juga hutang belanja sudah menunggu untuk dilunasi.

Padi hasil panen tidak dijual semuanya. Emak dan Bapak masih memegang pesan kakek kalau makanan yang terbaik itu dihasilkan oleh jerih payah dari tanahmu sendiri. Makanya di dapur keluarga ada lumbung untuk menyimpan padi yang kering sebagai persediaan makan keluarga dan sebagai tabungan. Kalau-kalau ada yang mendesak butuh uang, bisa dipenuhi dari persediaan padi yang ada tanpa bingung mencari hutangan.

Aku bersyukur emak termasuk petani yang punya lahan cukup luas warisan keluarga. Banyak tetangga kami yang tidak punya tanah dan hanya mburuh tani dengan dibayar menggunakan bawon[ii] ketika masa panen tiba. Ada juga tetangga jadi petani gurem yang sebelum masa panen tiba sudah harus membeli beras buat makan keluarga. Padi hasil panennya sudah terjual semua untuk membayar hutang dan biaya tanam lagi.

Cerita tentang petani itu sederhana. Saking sederhananya sampai tak bisa dipahami dengan baik oleh pemerintahnya. Mereka mungkin lupa, apa yang mereka makan itu kiriman dari kampung. Dari tanah-tanah di desa yang diolah para petani.

Waktu pertama kali diterima kuliah. Aku dipesani panjang lebar oleh emak yang memang sangat akrab denganku. “kuliah seng bener. Seng rajin. Wis le, cukup emak ae seng ngrasakne sengsorone dadi petani. Koe ngger, tak kuliahne adoh-adoh nang Malang. Ojo nganti muleh dadi petani,”[iii] pesan Emak. Aku tidak tahu mengapa emak sampai berpesan seperti itu.

Dari media, aku pernah membaca kalau petani akan makin habis. Lahan-lahan pertanian menyempit. Berubah menjadi taman bermain, hunian, gedung-gedung pertemuan, hotel, juga pabrik. Orang-orang juga lebih mencita-citakan jadi pegawai, karyawan, atau pedagang. Dibanding jadi tani.

Begitu juga dengan emak. Tempo hari emak menelfon. Memintaku untuk pulang kampung saja. Masih ada tanah yang bisa dijual untuk mendaftarkanku jadi Pegawai Negeri Sipil di Kementrian Agama. “Le, muliho. Bapak mari ketemu Kaji Syafi’i. Pak Kaji siap mbantu nglebokno koe nang Kemenag Kabupaten. Wes tutupen ae kedai kopimu. Mosok adoh-adoh tak sekolahne nang Malang kok mbukak warung”[iv] ujar emak tempo hari.

Aku bingung dengan Emak. Emak pernah dipesani untuk menjaga tanah dan tetap menjadi petani. Tapi, emak sendiri tidak mau melihat anaknya jadi petani. Membuka kedai kopi yang menyambungkan dengan petani pun emak juga tak merelakan. Malah Emak akan menjualkan tanahnya demi pekerjaan bernama PNS itu. Bukan salah emak. Emak hanya ingin anaknya tidak rekoso. “Masak iya, harus pakai nyogok segala dan jual tanah,” tanyaku dalam hati. Mau aku utarakan takut menyakiti.

Di beranda kedai kopiku yang masih sepi. Aku menimbang-nimbang jawaban yang pas untuk orang tuaku. Jawaban yang tidak membuat hati orang tuaku terluka. Dan bisa meyakinkan kalau pilihanku membuka kedai kopi itu tepat.

“Mak, kedai kopi ini bukan sekedar warung-warung kopi seperti di kampung. Tapi juga ada tempat baca, ruang diskusi. Dan kedai kopi ini memutus rantai penghisapan yang menyengsarakan petani kopi. Ada rantai solidaritas antara konsumen yang langsung dipertemukan dengan petani kopi. Sebentar lagi kedai kopi ini juga bakal ramai pengunjung,” aku sendiri sanksi, apakah emak akan menerima alasan yang seperti ini.

Dari tempat dudukku, di tengah percakapan kesendirian, aku melihat sosok perempuan mendekat dari kejauhan. Ia Sinta. Mahasiswi semester lima yang membuat hari-hariku di Malang semakin indah.

“Wih, juragan sedang menikmati kopi sendiri. Kok masih sepi, pada kemana?” tanya Sinta yang langsung mengambil kursi dan duduk di depanku.

“Yaa, masih belum pada datang. Biasanya, sore sampai malam baru agak ramai. Maklum lah, kedai baru. Makanya, ajakin temen-temen kamu nongkrong ke sini dong,” jawabku.

“Besok-besok deh, tadi pulang kuliah langsung kemari. Suntuk lama-lama di kelas,” ujarnya sambil tersenyum manis dengan dua lesung pipinya.

“Kopi Malangan yang ada apa juragan?” tanya Sinta.

Kedaiku memang sengaja menjual kopi Malangan. Kalaupun ada jenis kopi dari daerah lain, jumlahnya tidak banyak.

“Ada Arabica Tirtoyudho, Karlos, Kawi, Arjuno. Ada juga yang jenis Robusta. Robusta Jogomulyan. Ehm, kalau yang luar Malang boleh dicoba tuh Robusta lanang Gunung Wilis Madiun, rasanya sempurna, hehe.”

“Iya-iya yang dari Madiun. Oke deh, boleh tuh kopi madiun. Penyajiannya tubruk aja yaa, beneran enak kan?” balas  Sinta.

Aku masuk ke dalam kedai dan menggilingkan kopi yang dipesan Sinta. Tidak langsung menyeduh. Terlebih dahulu aku membawa kopi bubuk hasil gilingan ke beranda kedai. “Coba nikmati aromanya sambil pejamkan mata,” kataku sambil menyodorkan bubuk kopi di cangkir kepada Sinta.

“Ehm, sempurna, sesempurna orang Madiun,hehe” jawab Sinta sekenanya.

“Bilang aja pengen dapet kopi gratis,” selorohku sambil kembali masuk ke kedai.

Tidak lama kemudian aku keluar dengan membawa secangkir kopi dan dua toples kecil berisi gula merah dan gula putih. Aku duduk menghadap Sinta. Memandanginya menikmati kopi yang barusan ku racik.

Rintik hujan mulai turun. Beberapa anak muda berlari-lari kecil masuk ke kedai. Aku memang dari tadi menunggu pengunjung. Tapi tidak untuk saat ini. Ku ingin mendengar suara hujan yang jatuh di atap kedai berpadu dengan gesahan angina pada dedaunan, bersama Sinta. Tanpa lagu, tanpa suara. Nyanyian hujan membuat kami saling tersenyum dalam iramanya. Jawaban untuk emak di kampung, biarkan mengendap dulu.

Kali Metro, 14 Februari 2017 | 12.30

 

[i] Surat Al-Fiil

 

[ii]Pembagian upah menuai padi yang berdasarkan banyak sedikitnya padi yang dipotong dan dibayarkan menggunakan padi juga.

[iii] Itu bahasa Jawa yang terjemahannya,“Kuliah yang benar. Yang rajin. Sudah nak, cukup emak saja yang merasakan sengsaranya jadi petani. Kamu nak, dikuliahkan ke Malang, jangan sampai pulang jadi petani,”

[iv] “Nak, pulanglah. Bapak habis ketemu dengan Kaji Syafi’i. Pak Kaji siap membantu untuk memasukkan ke Kemenag Kabupaten. Sudah, tutup saja kedai kopi kamu. Masak jauh-jauh disekolahkan malah membuka warung,”

 

 

Muntaha Mansur: Pegiat Komunitas Kali Metro di Malang, FNKSDA Malang dan Jurnalis di Terakota.Id