Oleh: Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, M.Pd*

 

Mahfud gelisah dengan kebanyakan karya fiksi Indonesia yang semakin jauh dari realita. Mahfud ingin mengangkat hal-hal di Jawa Timur sebagaimana adanya dan lugas. Kisah cinta antara Dawuk, lelaki buruk rupa, dengan Inayah, gadis  sholelah yang cantik, menjadi premis dalam novel Dawuk. Mahfud prihatin banyak peristiwa pedih menimpa rakyat kecil di dunia nyata tapi tidak sempat atau termarjinalkan oleh media massa pada umumnya.

Bedah novel ‘Dawuk’ karya Mahfud Ikhwan di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang pada tanggal Senin, 4 September 2017. Acara sore itu terselenggara atas kerjasama Pelangi Sastra Malang dan Penerbit Marjin Kiri. Mahfud Ikhwan, sastrawan asli Lamongan yang pernah diganjar penghargaan prestisius dalam kesusastraan Indonesia yaitu Pemenang Pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 dengan judul novel Kambing & Hujan.

Kini Mahfud Ikhwan baru saja menerbitkan novel baru dengan judul ‘Dawuk’. Novel ini juga mengangkat cerita tentang rakyat kecil yang tertindas dan berjuang mencari keadilan. Dawuk adalah nama tokoh utama dalam novel ini memiliki kehidupan keras.

Nanang B. Fauzi, Dosen Universitas Brawijaya sekaligus pembedah novel ini mengungkapkan gaya bercerita dalam novel ini cukup lugas dan romantis, apalagi penulisnya adalah penggemar film India sejati. Namun gaya romantic dalam novel ini berbeda karena lebih menonjolkan sisi melankolis. Novel ini mengambil sudut pandang orang lain yaitu Marko sebagai penutur kehidupan dan permasalahan tokoh utama. Latar cerita dalam novel ini di daerah pantura Lamongan, Jawa Timur. Kejelian riset yang matang ditunjukkan dalam penggambaran emosi, suasana dan kronologi kejadian dalam novel Dawuk ini.

Rosyid sebagai moderator yang sudah membaca semua karya novel Mahfud Ikhwan mengakui keunggulan novel Dawuk yaitu mampu menangkap semangat zaman. Novel Dawuk ini sebagai sindirian terhadap gejala-gejala kabar burung / hoax yang santer menjangkiti wacana masyarkat Indonesia. Mahfud pandai mengolah berbagai ujaran dengan riset yang jitu menjadi novel yang matang.

Mahfud mengakui hobinya mengumpulkan kaset-kaset musik India karena telah menjadi hiburannya sejak kecil sampai dewasa. Lagu-lagu itu selalu memunculkan kenangan-kenangan melankolis yang menjadi sumber inspirasinya dalam menulis. Mahfud melihat tidak semua manusia bisa memberikan perubahan karena berbagai hal, akhirnya manusia itu hanya larut dalam perubahan yang ada. Manusia yang bisa melewati perubahan adalah manusia yang mampu berubah. Dawuk menjadi menjadi semacam penebusan dengan pretensi paling kecil dari semua novel Mahfud yang cukup tebal halamannya. Mahfud kira novel Dawuk sedikit bisa melepas ketegangan dari semua novelnya yang kompleks. Mahfud sebenarnya rindu menulis cerpen tapi kesulitan karena terbiasa menulis novel yang panjang. Akhirnya Mahfud menulis cerita yang lebih santai dan pendek tapi tetap mengangkat isu terkini menjadi novel Dawuk. Mahfud mencoba mendekatkan tradisi literer tradisional dengan hal yang dekat dengan masyarakat yaitu tradisi gethuk tular alias cerita turun-temurun/mendongeng. Mahfud mengkritisi bahwa setiap cerita yang diwariskan itu selalu menyimpan lubang kebohongan. Semakin sering cerita itu diturunkan, maka lubang kebohongannya akan semakin banyak dan berlebihan. Nggacur, istilah dari Lamongan, artinya pembual yang berlebihan ini banyak ditemukan di masyarakat.

 

dimuat koran Surya: Rabu, 13 September 2017

*Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, M.Pd: Dosen Sejarah, Universitas Negeri Malang dan Aktif di Kegiatan Pelangi Sastra Malang