Puisi Merawat Kebhinekaan*

 Oleh: Tengsoe Tjahjono**

 

Akhir-akhir ini tema ‘merawat kebhinekaan’ begitu marak. Banyak acara, entah seminar, sarasehan, lomba menulis sastra, baca puisi, festival seni, dan sebagainya selalu mengangkat tema tersebut. Hal itu membuat saya kehabisan akal untuk menulis apa lagi sehubungan dengan tema ‘merawat kebhinekaan’ itu.

Oleh karena itu tulisan ini saya akan mulai dengan pertanyaan: Mengapa tiba-tiba sebagai bangsa kita disadarkan kembali akan kekuatan kata bhineka yang selama ini dipakai sebagai semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika”? Apa yang menjadi pemicu lahirnya upaya membangun kembali kesadaran bahwa kita ini bangsa yang bhineka?

Pluralitas dan keberagaman di Indonesia ini merupakan sebuah keniscayaan. Tak mungkin kita menolaknya. Pluralitas dan keberagaman itu merupakan sebuah aset bangsa. Keberagaman dalam segala hal, misalnya budaya, tradisi, seni, agama, kekayaan alam dan lain-lain, harus kita jaga dan rawat dengan baik. Sebab, tanpa dirawat dengan baik, keberagaman itu akan membawa kita pada perpecahan. Potensi perpecahan yang disebabkan oleh keragaman itu sangat tinggi kalau sebagai bangsa kita tidak mampu merawatnya dengan baik. Riak-riak perpecahan itulah yang akhir-akhir mengemuka dengan tensinya yang beragam, yang membuat kita lalu tersadarkan akan bahaya yang bisa muncul setiap saat oleh sebab keragaman yang tak terawat itu.

Sebelum saya bicara lebih jauh, saya ingin sedikit mengulik mengenai semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’. Semboyan tersebut sebenarnya telah ada jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka. ‘Bhinneka Tunggal Ika’ merupakan sebuah larik yang dijumpai dalam Kakawin Sutasoma,  yang ditulis dalam bentuk syair dengan memakai bahasa Jawa kuno. Kakawin tersebut merupakan karangan Mpu Tantular yang ditulis dengan memakai aksara Bali, sekitar abad ke-14.

Baris ‘Bhinneka Tunggal Ika’ tersebut terdapat dalam petikan pupuh 139 bait 5 yang bunyinya sebagai berikut.

 

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

 

(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Beranekalah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)

 

Pada masa abad ke-14 itu di Indonesia umat Hindu Siwa dan umat Buddha hidup berdampingan. Kakawin Sutasoma tersebut diciptakan demi mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Artinya, sejak dahulu Indonesia ini sudah dihuni oleh penduduk yang memiliki keyakinan atau iman yang berbeda. Namun, mereka berusaha merawat kebhinekaan tersebut lewat berbagai macam cara, salah satunya melalui pupuh yang terdapat dalam Kakawin.

Lalu, bagaimana kita sekarang? Saya ingin mengaji mengenai kita sekarang melalui puisi yang ditulis oleh para penyair.

Indonesia tidak lahir tiba-tiba. Bahkan, pada sekiuar tahun 1920-an hampir seluruh organisasi pemuda berbasis kesukuan, misalnya: Trikorodarmo yang kemudian menjadi Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun (Pasundan), Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, dan Jong Timoreesch Verbond (NTT). Mereka rata-rata berkumpul bukan demi kepentingan politik, namun lebih pada mempererat kerukunan dan persatuan dari pemuda satu wilayah atau suku serta demi upaya merawat dan mengembangkan kebudayaan mereka masing-masing.

Maka tidak heran ketika Muhammad Yamin menulis puisi tentang tanah air yang berjudul ‘Tanah Airku’ menyatakan secara implisit bahwa Sumatralah tanah airnya. Begitulah memang yang dirasakan para pemuda ketika itu.  Inilah kutipan salah satu bait puisi itu.

 

Sesayup mata, hutan semata

Bergunung bukit lembah sedikit

Laut disana, di sebelah situ

Dipagari gunung satu per satu

Adalah gerangan sebuah surga

Bukannya janat bumi kedua

Firdaus melayu di atas dunia

Sumatra namanya, yang kujunjungi

 

Namun, kesadaran lokalitas tersebut pada perkembangan berikutnya mengalami pergeseran luar biasa pada saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Okober 1928. Dalam Sumpah Pemuda dengan kesadaran penuh para pemuda yang tergabung dalam beberapa organisasi kepemudaan itu memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bukan bahasa lokal mereka masing-masing. Mereka berusaha merawat keberagaman bahasa dan kultur tersebut tanpa harus menonjolkan yang satu dan menenggelamkan yang lain. Pemilihan bahasa Melayu sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia merupakan upaya yang amat bijak.

Perubahan dari kesadaran lokal menjadi kesadaran nasional tampak dengan jelas dalam puisi panjang Mohammad Yamin berikut ini. Mohammad Yamin tak lagi memandang Sumatera sebagai tanah airnya, tetapi Indonesialah tumpah darahnya. Berikut ini beberapa bait yang dikutip dari puisi tersebut.

 

INDONESIA TUMPAH DARAHKU

Puisi Mohammad Yamin

 

Bersatu kita teguh

Bercerai kita runtuh

 

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung-gunung bagus rupanya

Dilingkari air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya

 

Lihatlah kelapa melambai-lambai

Berdesir bunyinya sesayup sampai

Tumbuh di pantai bercerai-cerai

Memagar daratan aman kelihatan

Dengarlah ombak datang berlagu

Mengejar bumi ayah dan ibu

Indonesia namanya,  tanah airku

 

Puisi ini dibuka dengan sebuah peribahasa: Bersatu kita teguh/ Bercerai kita runtuh. Peribahasa yang tidak asing bagi kita. Namun, secara pragmatis apa makna peribahasa tersebut dalam konteks keindonesiaan? Justru itu yang penting. Pertama, peribahasa tersebut menyiratkan bahwa bangsa ini beragam, oleh karena itu harus bersatu. Kedua, keberagaman itu aset, persatuan adalah daya. Dengan menyatukan segala keragaman yang kita miliki kita akan tumbuh menjadi bangsa yang berdaya di dunia ini. Jadi, Yamin sudah melihat keberagaman sebagai aset, sekaligus mengingatkan bahwa keragaman yang tidak diikat dan dirawat akan bisa menjadi bibit-bibit konflik.

Puisi-puisi Mohammad Yamin rata-rata cenderung memuja alam Indonesia, entah itu gunung, lautan, lembah, dan hutan. Kecintaan Yamin pertama-tama adalah pada alam Indonesia. Hal itu tidaklah salah, sebab bangsa asing datang ke Indonesia saat itu karena tergoda akan melimpahnya rempah-rempah, palawija, dan sumber daya alam lainnya. Kekayaan alam Indonesia yang mendorong kolonialisme menyerbu Indonesia ketika itu.

Berbeda dengan Yamin, Sanusi Pane menulis puisi tentang candi. Sanusi Pane tidak menulis puisi tentang keindahan alam, namun justru melukiskan candi sebagai bukti kemajuan peradaban manusia pada masa itu.

 

CANDI

Puisi Sanusi Pane

 

Engkau menahan empasan kala,

Tinggal berdiri indah permai,

Tidak mengabaikan serangan segala,

Megah kuat tidak terperai.

 

Engkau berita waktu yang lalu,

Masa Hindia masyhur maju,

Dilayan putra bangsawan kalbu,

Dijunjung tinggi penaka ratu.

 

Aku memandang suka dan duka

Berganti-ganti di dalam hati,

Terkenang dulu dan waktu nanti.

 

Apa gerangan masa di muka

Jadi bangsa yang kucinta ini?

Adakah tanda megah kembali?

 

Candi merupakan bangunan yang memiliki fungsi sebagai monumen untuk menghormati raja-raja. Oleh karena itu candi sering berfungsi sebagai makam raja.  Di sisi lain bangunan candi juga dipakai sebagai tempat ibadah pemeluk agama Buddha dan penganut agama Hindu. Dalam konteks sebagai warisan budaya yang harus kita rawat justru kekayaan arsitekturnya. Beberapa candi besar seperti Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, dan sebagainya dibangun dengan amat megah, cermat, teliti, sangat estetis, dan mewah, dengan mengandalkan prinsip-prinsip teknologi arsitektur yang luar biasa pada masanya. Arsitektur candi menjadi bukti betapa tingginya kebudayaan dan peradaban nenek moyang bangsa Indonesia. Jadi merawat candi sesungguhnya merupakan tugas kita sebagai bagian dari bangsa yang berbudaya dan tahu bagaimana cara menjunjung tinggi kekayaan bangsa yang agung itu.

Candi tak lekang dimakan waktu. Andaikan candi itu adalah Indonesia, maka Indonesia diharapkan tetap tegak berdiri walaupun badai persoalan sosial, budaya, dan politik melanda. Candi merupakan lambang kemegahan kebudayaan dan peradaban. Apakah kemegahan tersebut akan terus berlanjut atau justru pudar waktu demi waktu. Pertanyaan retoris pada bait ke-4: “Apa gerangan masa di muka/ Jadi bangsa yang kucinta ini?/ Adakah tanda megah kembali?” itu sangat ironis sebetulnya. Sanusi Pane menanyakan tentang eksistensi bangsa ini di masa depan. Mungkinkah kemegahan itu tetap bertahan, atau berkembang, atau luntur lalu tiada.

Kekayaan alam dan kekayaan budaya luar biasa kita miliki. Keberagaman sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kebudayaan menjadi milik kita yang tidak kecil jumlah dan jenisnya. Adakah hal-hal itu bisa memperkuat eksistensi kita sebagai bangsa, atau justru membuat kita hancur karena pertikaan dalam konteks mengunggulkan keakuan kita sebagai pribadi maupun kelompok.

Chairil Anwar menulis sebagai berikut.

 

PRAJURIT JAGA MALAM

Puisi Chairil Anwar

 

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

 

Dalam merawat keragaman atau kebhinekaan itu diperlukan bangsa yang bermata tajam atau awas,  mengerti dengan jelas mana perilaku yang akan mengikis kebersamaan atau mana tindakan yang berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Indonesia memerlukan pemuda-pemuda yang lincah dan orang-orang tua yang kokoh memperjuangkan dan menjalani hidup dalam keberagaman itu.

Dengan tegas Chairil menulis: Aku suka pada mereka yang berani hidup/ Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam. Baris-baris jelas menggambarkan bahwa Indonesia ini memerlukan pemuda yang tidak lemah, memiliki semangat, mau bekerja keras, tidak mudah menyerah, tidak lari dari kesulitan, memiliki inisiatif dan berjiwa kreatif, dan sebagainya, dalam menjaga kekayaan dan keragaman segala aspek yang ada di Indonesia.

Bisa jadi sumbangsih kita tidaklah spektakuler, hanya sederhana saja. Namun, partisipasi sederhana itu akan mampu membuat Indonesia ini tetap berdiri kokoh ketika dihantam segala macam jenis cuaca.

 

SELAMAT PAGI INDONESIA

Karya: Sapardi Djoko Damono

 

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk

dan menyanyi kecil buatmu.

aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,

dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam

kerja yang sederhana;

bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan

tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.

selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,

di mata para perempuan yang sabar,

di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;

kami telah bersahabat dengan kenyataan

untuk diam-diam mencintaimu.

pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu

agar tak sia-sia kau melahirkanku.

seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam

padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.

aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,

merubuhkan kesangsian,

dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng

kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman

yang megah,

biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu

wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,

para perempuan menyalakan api,

dan di telapak tangan para lelaki yang tabah

telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

 

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil

memberi salam kepada si anak kecil;

terasa benar : aku tak lain milikmu..

 

Setia kepada Indonesia berarti kita harus bekerja untuk Indonesia. Kerja, kerja, kerja begitu yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo. Kita bekerja bukan semata-mata demi kepentingan kita dan keluarga kita, kita bekerja sebenarnya adalah untuk Indonesia. Dengan sangat tepat Sapardi menulis: aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,/ dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam/ kerja yang sederhana. Spirit seperti ini sebenarnya yang akan membuat para pekerja tidak melakukan penyimpangan pada kualitas kerjanya dan penyimpangan dari segi keuangan. Kerja untuk Indonesia berarti kerja untuk bangsa, untuk negara, dan untuk kemakmuran rakyat sebagai wujud solidaritas dan cinta.

Indonesia selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,/ di mata para perempuan yang sabar,/ di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan, begitulah yang dirasakan Sapardi. Perasaan seperti baru bisa hadir jika kita sungguh-sungguh mencintai Indonesia. Ibu Pertiwi ada di mana-mana, terlebih pada diri orang yang menderita.

Oleh karena itu Indonesia harus diolah secara benar di tangan orang benar. Jika itu bisa dilakukan maka kerisauan dan kegalauan Mustofa Bisri berikut ini tidak harus terjadi.

 

NEGERIKU

Puisi Mustofa Bisri

 

mana ada negeri sesubur negeriku?

sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung

tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung

perabot-perabot orang kaya didunia

dan burung-burung indah piaraan mereka

berasal dari hutanku

ikan-ikan pilihan yang mereka santap

bermula dari lautku

emas dan perak perhiasan mereka

digali dari tambangku

air bersih yang mereka minum

bersumber dari keringatku

 

mana ada negeri sekaya negeriku?

majikan-majikan bangsaku

memiliki buruh-buruh mancanegara

brankas-brankas ternama di mana-mana

menyimpan harta-hartaku

negeriku menumbuhkan konglomerat

dan mengikis habis kaum melarat

rata-rata pemimpin negeriku

dan handai taulannya

terkaya di dunia

 

mana ada negeri semakmur negeriku

penganggur-penganggur diberi perumahan

gaji dan pensiun setiap bulan

rakyat-rakyat kecil menyumbang

negara tanpa imbalan

rampok-rampok diberi rekomendasi

dengan kop sakti instansi

maling-maling diberi konsesi

tikus dan kucing

dengan asyik berkolusi

 

Mustofa Bisri sebagai penyair merasa terpanggil untuk menulis puisi kritis ketika perahu Indonesia dikemudikan secara salah oleh para elite politik dan para pemangku kebijakan, ketika kekayaan alam Indonesia hanya dimiliki oleh segelintir orang dan rakyat dibiarkan hidup di bawah garis kemiskinan. Apa yang ditulis Mustofa Bisri terasa sangat satir dan pedih, tapi itulah kebenaran yang memang harus dikabarkan. Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak mencintai Indonesia, tetapi hanya mencintai dirinya sendiri. Negeri yang makmur justru amat menyakitkan dalam puisi di atas, mirip-mirip dengan cantik itu luka.

Di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti dalam puisi di atas, kebhinekaan juga tidak akan pernah dirawat, sebab pluralisme dan keragaman justru sulit dijinakkan ketika penyimpangan akan terus dianakpinakkan. Lain halnya jika Indonesia ini hanya diisi oleh satu jenis manusia saja. Dalam keseragaman manusia akan lebih mudah diarahkan dan dibentuk, daripada dalam keragaman.

Pertanyaannya ialah apa yang harus kita lakukan untuk merawat keberagaman dalam dunia yang serba materi dewasa ini, di mana orang lebih banyak memikirkan diri dan kelompoknya daripada berpikir atau bekerja bagi kepentingan orang banyak. Yang harus kita renungkan adalah: 1. Tuhan itu satu dan milik semua bangsa. Beribadah dan berdoa menurut iman kepercayaan masing-masing merupakan wujud kecintaan pada Sang Pencipta dan sesama; 2. Ekspresi cinta akan Tuhan dan sesama bisa berupa solidaritas bagi yang berkekurangan serta cinta lingkungan hidup dan negara 3. Indonesia yang beragam dalam alam dan budaya merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan, kita dipanggil untuk merawatnya; serta 4. Sebagai bangsa kita harus bersatu untuk membangun Indonesia adil, makmur, dan beradab dengan mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam, sumber daya manusia dan kebudayaannya.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan mengenai bagaimana merawat kebhinekaan melalui puisi yang ditulis para penyair. Puisi sebagai bagian dari karya sastra lebih banyak melakukan gerakan moral. Semoga melalui tulisan para penyair tersebut tumbuh kesadaran, sekurang-kurangnya bagi saya pribadi, bahwa keberagaman yang kita punyai sebagai bangsa ini harus tetap kita jaga dan rawat sebab hal itu merupakan aset yang tak ternilai harganya.

Untuk mengakhiri tulisan saya ini saya ingin mengutip lengkap puisi D. Zawawi Imron berikut ini.

 

INDONESIA TANAH SAJADAH

Puisi D. Zawawi Imron

 

Sebelum kita lahir kedunia ini

Rahmat Allah telah menjelma di air susu dada ibu

Lalu kita diturunkan pada sebidang tanah air

Yang membentang dari Aceh hingga Papua

Itulah Indonesia

 

Yang gunungnya biru berselendang awan

Ada hamparan padi menguning keemasan

Serta pohon kelapa yang melambai di pinggir pantai

Indahya tanar air kita

 

Sepotong surga yang diturunkan Allah ke bumi

Kita minum air indonesia menjadi darah kita

Kita makan buah-buahan dan beras Indonesia menjadi daging kita.

Kita menghirup udara Indonesia menjadi napas kita.

Kita bersujud di atas bumi Indonesia

 

Bumi Indonesia menjadi sajadah kita.

Suatu saat nanti kita mati

Kita akan tidur pulas dalam pelukan bumi Indonesia.

Daging kita yang hancur

Akan menyatu dengan harumnya bumi Indonesia.

 

Tanah air yang indah

Harus diurus dengan hati yang indah

Hati yang taqqorub kepada Allah

Kalau Indonesia ingin tetap indah

Harus diurus dengan ahlak yang indah

 

Tanah air adalah ibunda kita

Siapa mencintainya

Harus menanaminya dengan benih-benih kebaikan dan kemajuan.

Agar indonesia yang indah semakin damai dan indah.

 

Tanah air adalah sajadah

Siapa mencintainya

Jangan menciprati dengan darah

Jangan mengisinya dengan fitnah, maksiat dan permusuhan.

 

Tanah air Indonesia

Adalah sajadah

Tempat kita bersujud kepada Allah

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

 

Sekian. Terima kasih.

 

 

Surabaya, 12 Oktober 2017

 

*Tulisan ini dibacakan oleh penulis saat acara Anugrah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur 2017

** Peraih penghargaan Anugrah Sutasoma untuk buku puisi Kitab Puisi Meditasi Kimchi (Penerbit Pelangi Sastra)