Sosok Kiai dalam Simpul-Simpul Puisi dan Etnografi; Sebuah Tinjauan*

Oleh: M. Rosyid HW**

Membaca kumpulan puisi “Hadrah Kiai” karya Raedu Basha ini, penulis seperti memasuki labirin waktu, merentangi satu masa ke masa lain, bergerak dari satu periode ke periode lain untuk berenang di atas luas samudera keberkahan yang mengalir dari sumber-sumber air yang berupa keagungan nama kiai, kemuliaan sikap dan tutur kiai, kegigihan dakwah kontekstual yang diusung para kiai dan keabadian tinta kiai dalam ragam buku dan kitab.

Puisi-puisi dalam buku ini dapat dilihat melalui perspektif yang bermacam-macam. Dapat dilihat dengan teropong sejarah sebagai bagian dari proses dakwah keislaman atau islamisasi yang bermula dari ulama-ulama dari Jazirah Arab yang secara intelektual ataupun biologis turun temurun dalam urat nadi ulama Nusantara. Bait-baitnya syarat akan nilai-nilai dan sumber uswah yang diusung para kiai hingga kita mampu melihat dan meneroka bagaimana pandangan hidup kiai dari zaman ke zaman melalui kaca mata Islamic studies. Syair-syairnya juga bisa dianalisis sebagai mercusuar kebudayaan pesantren karena melalui metafora, diksi dan kejelian kosakatanya, Raedu menggambarkan kebiasaan, hasil karya hingga tradisi yang melekat di dunia pesantren.

Figur ‘Kiai’ dari zaman dahulu hingga sekarang dipotretnya tidak hanya dengan jarak yang begitu dekat dan akrab namun juga melalui metode riset yang ketat (setidaknya menurut amatan penulis) Sebagaimana pengakuannya dalam “Sekapur Sirih”, ia berusaha mendekati ‘kiai’ melalui jalan puisi dan etnografi untuk menjawab kegelisahannya sendiri bahwa keduanya mampu bersatu padu untuk menghasilkan sebuah bentuk estetik baru dalam jagat perpuisian.

Mengutip pendapat Geertz (2002: 8-9), antropologi –dalam hal ini etnografi sebagai cabangnya–sangat cenderung berada dalam ranah wacana “kesastraan” ketimbang dalam ranah “ilmiah”. Etnografi yang merupakan hasil kontruksi dari sang etnografer tentang kehidupan orang-orang sebagai usaha menafsirkan makna dari perilaku orang dalam kehidupan sehari-harinya dengan mengacu pada adanya kategori-kategori kebudayaan yang diproduksi, dirasa, diatfsirkan oleh orang-orang tersebut. Meminjam pengertian diatas, Raedu mendedah Kiai dan Budaya Pesantren hingga ke akar-akarnya melalui metode etnografi. Maka, dengan pengamatan yang amat jeli, ia menggulirkan sebuah karya etnografi Kiai dan Budaya Pesantren yang berupa ramuan kata dan kalimat berbentuk puisi.

Etnografi sebagai sebuah cabang keilmuan merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan secara mendalam untuk mengungkapkan maknanya. Tujuan utamanya adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandangan hidup asli (Spradley, 1997: 3) agar dapat memperoleh penjelasan pandangan mereka tentang dunia mereka (Malinowski, 1922:25). Maka, jelaslah, bahwa Raedu Basha dalam mengungkapkan Kiai dan dunia yang melingkupinya mempunyai sebuah misi untuk memahami Kiai tidak hanya sebagai seorang individu tapi juga sebuah institusi sosial yang mempunyai daya spektrum yang begitu luas yang menjangkau wilayah emosional, moral, intelektual, dan spiritual dalam masyarakat (Jamal D. Rahman dalam penutup buku ini menyebut kiai sebagai lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan lembaga social).

Layaknya seorang santri kalong, Raedu menelusuri indahnya Islam Nusantara, mengecup tangan satu kiai ke kiai lain untuk menuntut ilmu dan barokah, berjalan dari satu pesantren ke pesantren lain untuk meneropong kebudayaannya. Seperti yang ditegaskannya dalam puisi “Hadrah Kiai” bahwa bersama ciuman takzim dan aroma serban para kiai, ia merangkai kitab puisinya laksana sebuah kitab manakib ulama’. Maka, jika Jacobson (1991: 8) menyatakan bahwa, setiap etnografi selalu mempunyai sudut pandang atau perspektif. Sudut pandang santri-lah yang dipakai Raedu untuk merangkai puisi-puisi etnografnya.

Melalui judul-judul dalam kumpulan puisi ini, Raedu membangun sebuah wasilah atau perantara untuk dapat terhubung dengan para ulama’ yang akan dituliskannya.Wasilah tersebut menjadi titik tolak untuk mengeksplorasi nilai-nilai estetik puisinya, walaupun wasilah tersebut dapat berbentuk kenyataan atau hanya sebagai metafora saja. Sebuah pendekatan subjektifitas, yang menurut penulis bahwa wasilah tersebut adalah sebuah pendekatan yang lazim dalam riset etnografi. Semisal, Siti Jenar dengan gerbangnya, Ahmad Dahlan dengan Mataharinya, Kiai Hasyim Asy’ari dengan tahlilnya, Kiai Maksum dengan Kitab Tasrifnya, Kiai Bisri dengan kitab tafsirnya, Pesantren Sarang dengan Langgar Petengnya, Kiai As’ad dengan terompahnya dan lainnya-lainnya. Hal ini tercetak jelas dan mencolok dalam puisi berjudul “Ziarah Walisongo” dimana Raedu melukiskan pengalaman puitiknya dengan menziarahi makam para wali untuk menggali daya kreatifnya dalam menulis bait-bait puisi.

(sunan ampel)

Tak pernah sepi pembaringan muliamu, sunan

Peziarah mengerumuni teduh nisan

Menabur kembang-kembang firman

Guguran kamboja mewangi ayat-ayat di pucuk zaman

Gema nafiri mengaroma doa suci

Dicucup oleh mereka rumput-rumput basah halamanmu

Lalu dalam dada bengawan menderas

Mengalir sepanjang surat al-ikhlas

Mengalir sepanjang surat al-falaq

Mengalir sepanjang surat an-nas

Juga ke surat yasin yang tak habis tuntas

Dari hilirnya bagimu untuk hidup mereka sendiri

(hal. 14)

 

Setidaknya, melalui keterbatasan penulis, ada dua hal yang perlu diketengahkan untuk digarisbawahi dalam membaca kumpulan puisi ini; budaya literasi di pesantren dan perlawanan terhadap radikalisme. Dapat diambil sebuah garis tengah bahwa Raedu berusaha meneladani para kiai dari zaman ke zaman, namun ia mengaitkan nilai hikmah tersebut dengan fenomena keberislaman sekarang dengan semangat kontekstual untuk menuju islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Budaya Literasi Pesantren

Ditengah arus generasi milineal yang serba instan dalam memahami agama. Hal ini juga menjadi kegelisahan yang disuarakan Raedu dalam puisinya. Bahwa ulama-ulama terdahulu berasyik masyuk dengan kitab-kitab, mengarang buku-buku dan mengajarkannya dengan telaten kepada santri-santrinya. Mereka adalah pengarang-pengarang kitab berbahasa Arab walaupun mereka adalah orang-orang Indonesia. Sebut saja Nassaihul Ibad dan Kasyifatus Saja karya Nawawi Al-Bantani, Tasrifan kitab shorof masyhur karya Kiai Maksum Jombang, Tafsir Ibriz karya Kiai Bisri Mustofa dan masih banyak lagi. Tidak seperti ustadz-ustadz sekarang yang menulis sepenggal kalimat berbahasa Arab saja terdapat kekeliruan. Hal ini membuktikan bahwa Islam di Nusantara ini dibangun diatas pondasi intelektual yang kokoh. Dibangun diatas kitab-kitab yang berjilid-jilid, bukan teriakan dan hasutan hingga demo yang berjilid-jilid.

Santri-santri dalam mempelajari agama dididik untuk memahami ilmu-ilmu keislaman dengan pemahaman yang mendalam. Mereka harus istiqomah dan tekun dalam meniti jembatan keilmuan islam. Mereka belajar langsung dari kiai-nya yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas sampai kepada Rasulullah. Raedu juga mengkritik tentang para muslim yang tidak belajar dari kitab dan buku para ulama terdahulu, melainkan belajar dari tafsir terjemahan instan. Bagaimana para santri belajar di pesantren digambarkan dengan indah di puisi ini.

Narasi Gandul Makna Miring

Di langgar pesantren

Kiai menggelar pengajian bandongan

Santri-santri mencatat kitab kuning

Gaya gandul yang ditulis miring

Disana pun otong ikut mengaji

Asyik khusyuk dalam lafdzi dan maknawi

Melawan Radikalisme Agama

Diantara kekaguman yang disematkan Raedu terhadap figur-figur kiai, puisi-puisinya juga memotret fenomena-fenomena keberislaman dan keberagamaan yang terjadi di era sekarang. Bahwa beragama tidak hanya sebagai dimensi individual tetapi juga berdimensi sosial yang ia metaforkan sebagai “salat sosial”. Puisinya menyatakan bahwa Islam bukan hanya tentang symbol-simbol seperti dahi hitam, celana cingkrang, atau cadar  pekat, akan tetapi islam adalah agama yang penuh esensi dan subtansi. Ia juga memintal benang merah tentang bagaimana berdakwah dengan amar ma’ruf nahi munkar yang sesuai dengan ajaran Kiai Hasyim Asy’ari. Ia mengkritik dakwah yang menggunakan kemarahan, teriakan dan paksaan.

Tahlil Fadhilah Bagi Kiai Hasyim Asy’ari

“kiai, kami bisa saja tinggalkan salat ritual,

Saat menjalani salat sosial” (Hal. 41)

“sebagian kamu pula menghitamkan jidat

Sebagai tanda sering sujud sering salat

Celana jingkrang sembahyang subuh tanpa kunut

Wajah-wajah perempuan ditutup cadar pekat

Kami berbaris di jalan raya sembari mengutuki penguasa

Berteriak takbir sembari menggoreng isu social

Berkoar allahu akbar kemudian menghajar

Inilah suara agama sesungguhnya

Syariah kaffah Negara islam harus berdiri

Menegakkan khilafah”

Kukata

“apakah amar makruf dengan cara mungkar? Tidak

Apakah nahi munkar dengan cara meninggalkan makruf?

Tidak (Hal. 41)

Figur-figur ulama’ yang dijadikan bahan oleh Raedu sangat mewakili dilihat dari kacamata zaman, poros keilmuan, ataupun organisasi masyarakat. Yang pertama, karena ia merentangkan garis sejarah keilmuan islam mulai dari ulama pertama yang berdakwah di bumi nusantara hingga para kiai yang masih hidup di zaman sekarang. Yang kedua, ia menjelajahi ragam keilmuan yang menjadi spesialisasi para ulama’ terdahulu; seperti kefakihan Fansuri, kesufian Raniri, shorof-nya Kiai Maksum Jombang, tafsir-nya kiai Bisri Musthofa, kemanusiaannya Gus Dur, kegigihan Kiai Ahmad Dahlan, Yang ketiga, walaupun banyak kiai dari Nahdlatul Ulama’ yang ditulis di dalam kumpulan puisi ini, setidaknya Raedu juga menuliskan tentang pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan sebagai bentuk penghormatan terhadap para kiai.

Nama-nama kiai yang tersebar di kumpulan puisi ini menurut penulis tidak hanya berdiri sendiri sebagai sebuah entitas tunggal. Namun, ada keterkaitan hubungan antara satu kiai dengan kiai lainnya entah karena hubungan biologis, satu nafas dakwah dan keilmuan hingga hubungan guru murid. Seperti Kiai Nawawi Al-Bantani yang mempunyai murid bernama Syaichona Kholil Bangkalan. Dari Syaikhona mempunyai murid Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahan, Kiai Ihsan, Kiai Wahab dan lain-lain. Raedu sebagai penulisnya juga berusaha untuk membangun jembatan personal dengan para kiai tersebut secara emosional, intelektual, ataupun spiritual dengan menelusuri jejak historis mereka, membaca karya-karya mereka atau menziarahi pemakaman mereka.

Kenapa puisi-puisi dalam buku ini nampak ‘matang’ dan istimewa dalam jagat perpuisian modern Indonesia. Yang pertama yaitu Raedu Basha adalah seorang santri yang begitu mengenal latar kebudayaan pesantren, maka ia menulis apa-apa yang ia ketahui dan mengelaborasinya dengan cermat. Yang kedua adalah ia tumbuh dan belajar di pesantren yang sangat menjunjung sastra, literasi dan kepenulisan (telah banyak riset yang mengangkat komunitas sastra di Pesantren An-Nuqayyah Sumenep). Yang ketiga, berlatar belakang pendidikan Antropologi, ia mengeksplorasi bentuk estetik puisi yang berasal dari riset dengan metode-metode etnografis.

Mari menabuh genderang hadrah untuk belajar hikmah dan kearifan para ulama’ Islam Nusantara. Mari bernyanyi dan bersenandung dalam nyanyian rahmat penuh religiusitas dan spiritualitas dalam kumpulan puisi ini.

 

Daftar Referensi

Raedu Basha, Hadrah Kiai, Yogyakarta: Ganding Pustaka, September 2017.

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Akar Pembaruan Islam Indonesia, Jakarta: Prena Media Group, Januari 2013.

Toha Machsum, “Identitas dalam Sastra Pesantren Jawa Timur”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol 19, No. 03, September 2013.

Toha Machsum, “Kepengayoman terhadap Sastra Pesantren di Jawa Timur”, Meta Sastra, Vol. 6, No. 1, Juni 2013: hal 90-100

Imam Setyobudi, “Etnografi dan Genre Sastra Realisme Sosialis”, Asintya, Volume 1, No. 2 Desember 2009

 

*Disampaikan dalam bedah kumpulan puisi “Hadrah Kiai” karya Raedu Basha di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, 06 November 2017 oleh Pelangi Sastra Malang

**Penulis tinggal di Malang dan bergiat di Pelangi Sastra Malang