Catatan Diskusi: Dari Musik ke Puisi

oleh: Sir Dandy*

 

Musim hujan kerap membuat kita malas untuk beranjak dari kasur, akan tetapi hal ini dimanfaatkan oleh Pelangi Sastra Malang yang juga bekerjasama dengan Komunitas Kalimetro dan Tera Kota untuk mengadakan diskusi bertajuk “Ngobrol Proses Kreatif & Pembacaan Puisi.” di Warung Kalimetro pada Rabu malam, 29 November 2017.

Melalui Nanang Suryadi, Ngobrol Proses Kreatif & Pembacaan Puisi kali ini mengundang Budhi Setiawan, penyair dari buku Sajak-Sajak Sunyi, sebagai pembicara serta didampingi oleh Denny Mizhar, penyair dan penjaga ‘terminal’ Pelangi Sastra Malang.

Denny Mizhar angkat bicara sebagai pengantar pada sesi awal Ngobrol Proses Kreatif & Pembacaan Puisi ini. Denny mengatakan, “Kecenderungan yang terdapat di dalam buku puisi Sajak-Sajak Sunyi lebih kepada religius. Bisa terlihat dari diksi-diksi yang digunakan; seperti doa, wirid, iman, dan sebagainya.

Tugas menyair ialah serangkaian hal yang dapat membawa pembaca masuk ke dalam alam perenungan yang berujung kepada Langit. Hal inilah yang coba diungkapkan oleh Denny Mizhar melalui pengalaman membaca buku Sajak-Sajak Sunyi.

Budhi Setyawan atau akrab dipanggil dengan panggilan Buset ini berbicara panjang lebar mengenai proses kreatif dan jalan kepenyairan yang ia pilih. Awal mula proses kreatifnya, Buset ialah seseorang dengan ketertarikan pada dunia musik, terlihat dari penampilannya yang ala Rocker. Tak hanya menceritakan awal mulanya memasuki dunia perpuisian, Buset juga memberikan beberapa pengalaman dan wawasan bermusiknya.

Karena sulit mencari teman untuk bermain musik dan faktor jarak serta kemacetan lalu-lintas di Jakarta, maka mulai berkurang bermusik dan malah vakum. Saya berpikir ada yang harus saya kerjakan secara sendiri dari hobi saya, maka saya mulai lebih serius menulis,” terang Buset.

Tahun 2006 menerbitkan dua buku puisi KEPAK SAYAP JIWA dan PENYADARAN. Tahun 2007 menerbitkan SUKMA SILAM. Pada era ini Buset mulai berkenalan dengan penyair-penyair dalam pertemuan di PDS HB Jassin TIM Jakarta dan acara sastra di beberapa tempat. Kemudian beberapa puisi mulai dimuat beberapa media massa.

Judul dari buku puisi ketiganya, Sajak-Sajak Sunyi, mendapat kritik di beberapa pertemuan dengan alasan pemilihan nama yang tidak puitis. Alasan Buset memberikan judul buku puisi ketiganya ini dengan nama Sajak-Sajak Sunyi adalah hal ini merupakan sebagai ikhtiar doa. “Penamaan Sajak-Sajak Sunyi ini merupakan ikhtiar bagi saya. Saya kuliahnya hanya sampai S2, ikhtiar doanya adalah Sajak-Sajak Sunyi jika disingkat menjadi S3,” ungkap penyair asal Purworejo ini sambil memecah tawa seisi ruang.

Ada beberapa nama besar juga yang memberikan perhatian sebagai pemantik untuk proses menyair Buset, salah duanya ialah Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi. Sutardji Calzoum Bachri yang akrab dipanggil Tardji, memberikan beberapa masukan kepada para penyair muda saat itu melalui ruang puisi yang ia hadirkan di dalam Harian Indo Pos. “Tardji mengatakan ketika nulis mestinya mulai serius, arahnya seperti apa, dan menjadi seperti apa,” ungkap Buset.

Lebih jauh lagi, saat Umbu Landu Paranggi menghubungi Buset melalui telepon ketika Buset telah mengirimkan puisinya ke Harian Bali Pos. Buset yang heran ketika itu mendapatkan telepon dari penyair dengan gelar Presiden Malioboro. Umbu memberikan nasihat kepada Buset, “Pertama, seorang penyair harus totalitas menulis puisi sampai berdarah-darah. Kedua, seorang penyair harus berani waras dalam kegilaan dan berani gila dalam kewarasan. Ketiga, untuk kamu sebagai orang Jawa, menulis yang basisnya dari budaya Jawa diolah dengan kekinian dan tafsir yang lebih baru,” kenang Buset saat menceritakan persentuhan pertamanya dengan Umbu.

Setelah Buset menceritakan banyak pengalamannya dalam proses menyair, Nanang Suryadi yang juga dikenal sebagai penyair dan pelopor Cyber Sastra, menutup sesi pertama dari acara yang bertajuk Ngobrol Kreatif & Pembacaan Puisi ini dengan menceritakan pengalaman membaca Sajak-Sajak Sunyi dan memberikan kritik langsung kepada Buset dengan harapan membangun.

Sesi kedua, para hadirin silih berganti ke atas panggung membacakan puisi-puisi dari Sajak Sunyi. Mulai dari Faris Naufal Ramadhan, Nanang Suryadi, Denny Mizhar, dan hadirin lainnya. Pembacaan terakhir dari Buset yang membacakan dua puisi pilihannya sekaligus menutup acara ini.

 

*Mahasiswa FISIP UMM, Penulis serta pecinta Puisi