Sumber: Penerbit Pelangi Sastra

Judul Buku: Taténgghun
Penulis: Anwari
Penerbit: Pelangi Sastra
Terbit: September 2017
ISBN: 978-602-74629-9-1


Kata siapa bermain teater hanya sebatas panggung, penonton dan aktor? Seniman teater asal Madura, Anwari berani mendobrak sekat-sekat yang selama ini membatasi ruang gerak teater di masyaakat. Melalui tubuhnya, Anwari tidak hanya tampil sebagai aktor tapi juga sebagai penonton, sebagai naskah, dan sebagai seluruh elemen pementasan. Visi Anwari sangat jelas yaitu mendekatkan teater pada masyarakat. Teater bukan lagi momok atau barang aneh yang asing, teater adalah tubuh, gerak, dan laku hidup masyarakat itu sendiri. Taténgghun

Demi mewujudkan visinya, Anwari kembali menyublimasi tubuhnya sendiri. Kali ini dia tampil sebagai teks, sebagai bahan bacaan yang diambil, dibaca, dicorat-coret hingga dibanting oleh pembacanya. Karya sublimasi tersebut mewujud pada buku bertajuk Taténgghun. Afrizal Malna, berpendapat bahwa Anwari merupakan laboratorium teater yang hidup. Aktor ini seolah menghibahkan tubuhnya pada masyarakat untuk diteliti dan direspons sedemikian rupa. Proses kreatif Anwari, pengalaman demi pengalaman, kegagalan hingga keberhasilan, dan trik trik bermain teaternya diejawentahkan dalam Taténgghun. Melihat sublimasi tubuh Anwari itu, tentu saja banyak respons bermunculan.

Doni Kus Indarto, sutradara teater terkemuka, mencoba menganalisis tubuh Anwari menggunakan beragam pendekatan filsafat. Pendekatan utama yang digunakan adalah pendekatan Freudian yang menafsir tubuh manusia dalam dua fase yaitu fase the real dan fase termin. Fase the real merupakan fase saat bayi menjadi satu dengan ibu dan fase termin merupakan fase saat bayi tersebut memisahkan diri dari ibunya. Dalam fase ini, aneka proses simbolik terjadi. Ada proses yang menyenangkan tapi juga ada pula yang menyedihkan. Doni menangkap Anwari mengalami fase termin yang tidak menyenangkan sehingga respons respons yang ditunjukkan oleh tubuhnya merupakan respons pemenuhan dirinya untuk memperoleh kebahagiaan. Salah satunya adalah kuatnya Anwari dalam menampilkan pertunjukan yang keras karena sifat masokisnya, atau menikmati penyiksaan. Rasa sakit dan penyiksaan tersebut sesungguhnya merespons kejadian-kejadian di masyarakat yang sering kali dia temui lalu diekspresikannya melalui teater. Proses merespons pengalaman lingkungan dan mengekspresikanya melalui teater, sesungguhnya merupakan salah satu sifat dari teater antropologi.

Berbicara tentang teater antropologi, sejarahwan Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono mengatakan bahwa Anwari sesungguhnya sedang melakukan eksplorasi tubuh. Lingkungan yang ada di sekililing Anwari disublimasikan ke dalam tubuhnya dan dieksplorasikan untuk pertunjukan. Dampak dari hal ini adalah terbebasnya sekat antara masyarakat dengan para kreator pertunjukan. Perpindahan posisi yang dilakukan oleh Anwari dalam pertunjukanya, dari penonton ke panggung ke aktor terjadi sangat cair sehingga representasi sosio drama terjadi di sini. Teater yang diciptakan oleh Anwari bukan hanya sekedar teater aroma anggur buah yang penuh penghiburan. Teater Anwari merupakan teater penyadaran yang lebih menitik beratkan pada kegunaanya di masyarakat. Hal inilah yang dapat digunakan sebagai stimulus kesadaran bagi masyarakat untuk merefleksikan kehidupan dan permasalahan di sekelilingnya.

Pernyataan Dwi Cahyono tersebut diamini oleh Redy Eko Prasetyo, musisi sekaligus seniman yang aktif memasyarakatkan kesenian dari kampung ke kampung. Ready yang pernah berproses bersama Anwari mengisahkan bahwa ide serta visi Anwari untuk memasyarakatkan teater ini begitu luar biasa. Menurut Redy, masyarakat nusantara itu sesungguhnya memiliki DNA estetika yang tidak semuanya bangkit. Kesadaran masyarakat untuk mengapresiasi daerah setempat melalui cerita lisan  dan berbagai kearifan lokal lainya itu merupakan wujud nyata bahwa setiap masyarakat memiliki DNA yang sudah mendarahdaging pada dirinya. Permasalahan utama sekarang adalah bagaimana cara membangkitkan DNA itu kembali?

Anwari, sekali lagi melalui tubuhnya, mencoba mengeksplorasi kesenyapan kesadaran ini. Dia sengaja memilih tempat-tempat pertujukan yang beragam. Redy pernah mengiringi dan berproses bersama Anwari di Dasuk, Sumenep, tempat kelahiranya. Tempat itu sangat terpelosok dan hampir tidak terjangkau sinyal GPS, tapi semangat juang pementasan untuk mengekspresikan kondisi sosial msyarakat di sana sangatlah tinggi. Pertunjukan yang dilakukan pun sukses besar, wartawan lokal hingga nasional pun ilih berganti berdatangan meliput proses kreatiif hingga pertunjukan berlangsung. Seusai pertunjukan, nyawa berkesenian pun semakin tumbuh subur. Banyak orang yang terinspirasi pada pementasan ini. Ketika orang mulai sadar berkesenian dan mulai mau untuk menanggapi atau malah melakukan hal serupa, itu berarti bahwa DNA kesenianya mulai timbul. Itulah yang dicoba oleh Anwari untuk terus menerus dieksplorasi, diresonansi, dan direspons. Redy berharap agar semangat Anwari ini menjadi bola salju sehingga akan muncul bibit bibit seniman muda yang sadar akan kesenian, khususnya teater. Ketika DNA kesenian yang ada dalam tubuh seseorang mulai dibangkitkan, maka secara otomatis respons estetika pun muncul. Respons estetika inilah yang sifatnya apresiatif, penuh penghargaan, toleran, dan sangat menghargai keberadaan satu sama lain sehingga kedamaian pun dapat terus tuumbuh dan berkembang.

 

 

Tulisan ini pernah dimuat di Radar Malang, 7 Januari 2018

Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang. Antologi cerpennya Aloer-Aloer Merah (Pelangi Sastra, 2017)