Saat itu kota Malang pada malam hari sedang dalam suasana yang sangat syahdu dan menenangkan selepas hujan deras yang mengguyurnya. Di sebuah ruang yang berukuran tidak begitu besar—tempat diadakannya pemutaran—para pengunjung mulai sibuk mencari tempat dengan posisi dan angle terbaik untuk menonton.

Istirahatlah Kata-kata garapan sutradara Yosep  Anggi Noen masih mendapatkan perhatian yang cukup besar di kalangan muda di kota Malang, walau sebelumnya film ini telah diputar melalui tahap pemungutan suara atas inisiasi nonton bareng yang diprakarsai oleh Melati Noer Fajrie. Kendati demikian, hujan dan ruang yang tak begitu besar tidak menyulutkan antusiasme para pengunjung yang datang. Mereka rela untuk duduk berdesak-desakan hingga berdiri bahkan melebar sampai ke luar ruang pemutaran, karena hanya ada satu kata: nonton!

***

Pada mulanya, sembari menanti hujan reda, sempat terpikir dalam benak saya bahwa pemutaran ini akan biasa-biasa saja dan seusai menonton, para pengunjung akan beranjak pulang. Namun, nyatanya segala apa yang terpikir dalam benak tersebut terlampaui. Seusai pemutaran, terjalinlah nuansa dialektis antara pengunjung dan pembicara yang memantik diskusi. Dan, saya melihat gestur bahagia dari Denny Mizhar, selaku penyelenggara ekshibisi.

Inilah yang kerap menjadi momok menjenuhkan bagi saya ketika mengunjungi sebuah ekshibisi yang hanya menayangkan sebuah film dengan dalih ekosistem film perlu dimasyarakatkan. Lebih dari itu, ekosistem adalah sesuatu konten yang terdapat di dalam sebuah film yang perlu untuk diperbincangkan oleh masyarakat, bukan sekadar tonton-pulang-lupa.

Film yang merepresentasikan kehidupan seorang aktivis-buruh-penyair ini belum beristirahat. Wacana tentang Wiji Thukul masih sangat perlu untuk diangkat; karena lebih dari sekadar tontonan, konten di dalam Istirahatlah Kata-kata masih memiliki banyak kemungkinan untuk dibaca dan dikaji, salah satunya wacana mengenai rezim Orde Baru.

***

Pemutaran dan diskusi Istirahatlah Kata-kata diadakan di Kafe Pustaka, pada hari Rabu (7/3/18) sebagai bagian dari agenda Parade Film Malang selama sebulan penuh di bulan Maret bersama dengan Pelangi Sastra Malang atas dasar kerja kolaboratif. Diskusi ini dipandu oleh moderator Dika Sri Pandanari dari Lingkar Studi Filsafat Discourse beserta pembicara Evi Eliyanah, dosen sastra UM merangkap kritikus film dan Ragil Cahya, pustakawan partikelir di kota Malang.

Evi Eliyanah mulai memantik sebuah diskusi dengan wacana Wiji Thukul yang selama ini dikultuskan oleh sebagian banyak masyarakat, akan tetapi pengkultusan itu yang pada mulanya berada di awang lalu kemudian membumi di antara kita semua pada film ini. Interpretasi Yosep Anggi Noen selaku sutradara membagikan pengalaman membaca sosok Wiji Thukul kepada penonton dengan menghadirkan sosok Wiji Thukul yang dalam masa pengasingan dan pelariannya dari kekejaman rezim Orde baru dengan ketakutannya yang sunyi, ditambah tekanan dari situasi kondisi dan rasa rindu terhadap anak istri.

Sedangkan, Ragil Cahya membicarakan konten yang terdapat di dalam film Istirahatlah Kata-kata dari sudut pandangnya sebagai seorang pustakawan partikelir yang cukup militan selama ini di kota Malang. Pada sebuah adegan dalam film, Ragil mengangkat cuplikan sajak, “… apa guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu…” dengan membahas lebih jauh mengenai literasi yang ada di Indonesia, khususnya kota Malang dan kota asalnya berada, Sumenep. Tak lupa juga Ragil melontarkan bahasa satire kepada para mahasiswa yang banyak membaca buku namun abai atas kondisi sekitar dan komunitas literasi yang selama ini lebih banyak mengadakan pesta literasi; sebuah ironi paradoksial dari makna literasi itu sendiri.

Selebihnya, para pengunjung bebas angkat suara atas pengalamannya menonton Istirahatlah Kata-kata berdasar interpretasi masing-masing, sehingga suasana yang tadinya cukup menjenuhkan dikarenakan tempo film tersebut memang lambat berubah menjadi lebih hidup dan dialektis.

Ketika film biopic coba dihadirkan oleh filmmaker untuk merepresentasikan sebuah kisah dari ‘si tokoh’ tentu hal ini bisa memberikan kepuasan ataupun tidak. Tergantung bagaimana perangkat menonton dari penonton. Karena,  kompleksibilitas kehidupan si tokoh tidaklah mampu dirangkum sedemikian utuh di dalam sebuah karya seni film sehingga hal tersebut memiliki banyak kemungkinan yang mampu menimbulkan pihak yang pro maupun pihak yang kontra. Akan tetapi, lebih dari itu, Yosep Anggi Noen telah memberikan sumbangsih bagi dunia perfilman tentang wacana penyair dan kepenyairan yang sepertinya sangat jarang diangkat oleh para filmmaker di Indonesia.

Hanya ada satu kata: nonton!

Lahir di Makassar dan tinggal di kota Malang. Penikmat puisi. Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang.