Membedah Kelahiran Pepohonan (Pekan Sastra #1)

Bagaimana jadinya jika kelahiran seorang anak dirayakan dengan menanam pohon? Sangat ekologis bukan? Begitulah cara Mashdar Zainal mengimajinasikan Sawitri, tokoh utama dalam novelnya yang terbaru. Penulis yang berdomisili di Malang ini baru saja membuat sebuah novel bertajuk “Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran”. Novel terbaru karya Mazdar ini dibedah oleh pegiat sastra Malang raya pada Kamis (05/04/2018) di Wisma Kali Metro. Bedah novel tersebut merupakan salah satu rangkaian acara Pekan Sastra Kota Malang.

Acara bedah novel “Sawitri” dimoderatori oleh Faris Naufal Ramadhan dan diulas oleh Denny Mizhar. Menurut Denny, ada pesan-pesan ekologis yang ingin disampaikan oleh Mashdar melalui novel terbarunya ini. Hal tersebut dapat dilihat dari kelahiran anak-anak Sawitri yang ditandai dengan kemunculan pohon baru. Setiap pohon memiliki sifat yang hampir mirip dengan anak anak itu. “Pesan yang disampaikan oleh Mashdar memang sesuai dengan kondisi masyarakat zaman sekarang agar tidak semakin rakus, khususnya dalam hal eksploitasi alam” ujar Denny.

Apabila ditinjau secara struktur, Denny melihat adanya pola yang berulang dalam novel karya Mashdar. “Menurut Levi Straus, makna akan didapatkan ketika logika binner muncul” terangnya. Logika binner dalam “Sawitri” tercipta ketika terjadi perulangan pola penceritaan ketika anak anaknya lahir dan memiliki pembeda satu dengan lainnya. Membaca novel ini sama halnya dengan membaca dongeng. Ketika dongeng diulang-ulang ceritanya dan dibacakan setiap malam, pendengar tetap nyaman untuk mendengarkannya. Sesuatu yang tidak ada lagi dan dikisahkan ulang, hal tersebut serupa dongeng.

Pendapat tersebut diamini oleh Mashdar, tulisannya tentang “Sawitri” memang terinspirasi dari kisah massa kecilnya. Pohon-pohon yang sering ditemuinya saat kecil dan kini sudah tak ada lagi, menjadi sumber inspirasi baginya untuk menuliskan cerita ini. Mashdar juga ingin menunjukkan bahwa pohon yang ditulisnya memang ada di tahun 90-an. Pembaca, terutama generasi muda, akan penasaran membaca nama-nama pohon yang disajikan dalam novel “Sawitri”. Meskipun demikian, rassa penasaran tersebut memang sengaja ditumbuhkan agar terbersit keinginan untuk mencari tahu pohon-pohon yang ditulis oleh Mashdar.

Terkait dengan teknik penulisan, Mashdar melakukan sebuah eksperimen dalam karyanya. Dia membuat latar dalam novel dipenuhi dengan simbol-simbol dan tidak digambarkan secara gamblang. Simbol-simbol tersebut merupakan teknik dari Mashdar untuk menggambarkan latar tempat dan waktu dalam cerita. Lepas dari itu semua, Mashdar menysukuri terbitnya novel ini. Kehadiran novel “Sawitri” juga semakin memperkuat denyut sastra di Kota Malang. Bahan bacaan masyarakat Malang pun semakin beragam yang disajikan oleh penulis berdomisili di Malang.

Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang. Antologi cerpennya Aloer-Aloer Merah (Pelangi Sastra, 2017)