Sekumpulan Puisi dari Epos Ilagaligo 

Senja yang begitu murung disertai dengan gerimis manis, tak menyurutkan semangat para pecinta sastra untuk hadir dalam bedah buku puisi “Manurung  13 Pertanyaan Untuk 3 Nama” di Kafe Pustaka, pada Jumat (06/04/2018). Buku puisi yang dibedah merupakan buku yang ditulis oleh sastrawan muda Indonesia, Faisal Odang. Kelihaian Faisal untuk menyihir para pembaca dengan untaian kata-kata dalam setiap ceritanya, ternyata mampu membuat para pecinta sastra di Kota Malang menjadi penasaran untuk puisi yang ditulisnya. Maklum saja, selama ini Faisal dikenal dengan novel dan cerpen-cerpennya.

Genre puisi sengaja dipilih oleh Faisal karena dia ingin menyuarakan tokoh-tokoh yang selama ini tak bersuara dan terpinggirkan dalam Ilagaligo. Dalam buku kumpulan puisi terbarunya, Faisal memang berniat meresonansi hasil pembacaanya terhadap karya Ilagaligo yang selama ini lebih sering diteliti orang barat. “Budak dan orang di luar istana sering kali kesulitan untuk bersuara dalam Ilagaligo, itulah sebabnya perlu disuarakan!” jelas Faisal. Budak sering kali menulis diri sendiri dan dibaca oleh dirinya sendiri. Narasi tentang budak sesungguhnya merupakan narasi pembanding atas narasi yang telah diberikan pada kita selama ini.

Buku puisi yang ditulis oleh Faisal ini direspons oleh Yusri Fajar. Dosen sastra Universitas Brawijaya Malang ini mengatakan bahwa Faisal memposisikan diri berbeda dengan penulis sastra lain yang membahas tentang Ilagaligo. “Faisal merupakan penulis yang sejak kecil akrab dengan tradisi lisan di Bugis, sehingga dia dapat merekonstruksi Ilagaligo dalam bentuk puisi” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Yusri juga mengatakan bahwa Faisal merupakan generasi kesekian kalinya yanng mempertanyakan tentang Ilagaligo. Keberanian Faisal untuk mau merespons sisi gelap Ilagaligo patut diapresiasi. Hal itulah yang dibutuhkan dan harusnya dilakukan oleh sastrawan muda. Respons kritis terhadap narasi-narasi besar yang terlanjur diamini orang banyak harusnya perlu dilakukan. Dengan demikian, pembacaan sastra akan semakin bervariasi dan semakin meneroka sisi sisi yang belum dijelajahi dalam sebuah narasi.(Ard)