Pelajaran Pekan Sastra Malang untuk Komunitas Sastra Kampus (Pekan Sastra #1)

Pekan Sastra Malang sudah selesai digelar pekan lalu. Mulai senin hingga malam minggu. Perpustakaan UM dan Kafe Pustaka UM jadi lokasi perayaannya. Ditambah satu gelaran di Wisma Kalimetro.

Digelar bersamaan dengan hari ulang tahun kota Malang, ini merupakan gelaran pertama kali. Kudap gagasan, bedah nover, bincang puisi, ngorbol cerpen, atau orasi kebudayaan, juga panggung sastra yang biasanya diadakan sepekan sekali, digelar bersamaan selama sepekan penuh di area Kafe Pustaka UM. Tidak ketinggalan, lapakan buku lawas, indie, dan reguler tepat di depan perpustakaan UM yang juga berada di sebelah Kafe Pustaka.

Pekan Sastra Malang ini dimotori oleh komunitas sastra Pelangi Sastra Malang. Utamanya, aktor intelektualnya, Denny Mizhar. Katanya “Kami komunitas sastra yang berada di Kota Malang turut andil bagian dengan menggelar acara sederhana, yakni Pekan Sastra dan Lapakan Buku Kota Malang. Komunitas-komunitas sastra di Kota Malang merasa bertanggung jawab akan kota yang kami diami sebagai ruang proses kreatif. Sehingga kami berupaya membuat dinamika kesusastraan di Malang tidak berhenti, meski peran kami masih kecil dan kami lakukan secara independen”.

Tidak bisa dibilang sepi, tapi juga tidak bisa dibilang ramai. Bisa dimengerti, sebab persipan yang sebentar dan penyelenggaranya yang tidak memakan banyak orang. Tetapi justru di sini lah catatan penting bisa diambil. Utamanya untuk komunitas sastra di kampus-kampus.

Beberapa bulan sebelumnya, para pelapak buku daring di kota Malang diundang di sebuah acara pekan sastra salah satu kampus di kota Malang. Tamu undangan utamanya adalah Pidi Baiq. Sepekan para pelapak membuka jajanan buku-bukunya. Bersamaan dengan hujan turun dan para penjaja bakso atau makanan instan lain. Hasilnya? Sepi pun membersamai. Acara Pidi Baiq, tentu saat sedang naiknya ia dengan Dilannya, hanya dihadiri 50 peserta. Mengagetkan.

Memang yang ini, kampus ‘nomer dua’ seperti yang sering distereotipe pada UGM-UNY. Tidak ramai pembeli acuan bagi pelapak buku, sudah mafhum. Tidak antusias pada acara yang digelar, juga sama. Padahal, pelaksananya adalah BEM fakultas sastra. Miris pun ditandai dengan helaan napas panjang sambil tertawa.

Contoh ini tidak jauh beda dengan acara literasi yang diadakan lembaga mahasiswa kampus yang sama beberapa bulan sebelumnya lagi. Padahal, sumber daya manusianya sangat melimpah. Panitianya ratusan. Panitianya menggunakan seragam kompak. Punggung besar disediakan. Kursi ratusan disiapkan. Apa yang terjadi? Jumlah panitia selalu lebih banyak daripada jumlah peserta yang hadir. Kecuali satu acara, talk show bersama Firsa Besari. Saya baru tahu nama orang itu saat acara berlangsung. Karyanya? Hanya satu buku perjalanan. Tetapi disambut cewek-cewek lebay, di acara sastra lagi. Memprihatinkan kualitas keduanya.

Di acara beberapa bulan sebelumnya lagi, kampus ‘nomer satu’, sedikit lebih baik. Pembeli buku para pelapak lebih bagus. Peserta acara yang dibuat juga dihadiri cukup ramai. Sebab penyelenggara juga bekerjasama dengan dosen perkuliahan agara kuliah dialihkan ke acara-acara diskusi ‘nonformal’ itu. Dalam beberapa hal kontras stereotipe dua kampus di kota Malang itu memang ada benarnya.

Satu yang sama di antara keduanya, yaitu wacana kesusastraan yang tidak berkembang alih-alih masih membicarakan teknis menulis. Semirip wacana dan gerakan pers kampus yang tidak naik ke permukaan (untuk tidak mengatakan redup atau bahkan mati). Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Belajar dari komunitas sastra luar kampus.

Ini hanya ulasan sederhana. Kampus, bagaimana juga hanya diisi mahasiswa baru, penggeraknya mahasiswa lama yang kebanyakan bertindak ‘mengajari’ mahasiswa baru itu. Padahal yang ‘diajarkan’ seringkali hanya berkutat pada kemampuan keorganisasian. Tujuan sastra, sederhananya wacana kesustraan, tidak dijadikan orientasi. Dengan begitu, sulit untuk mengikuti isu dan wacana sastra di luar kampus. Minat baca yang rendah semakin mengukuhkannya.

Di komunitas sastra luar kampus lah seharusnya mereka belajar. Bergumul dengan pegiat sastra bahkan sastrawan lintas kota. Tidak menutup kemungkinan bisa bergaul dengan dosen sastra sebagai teman. Jaringan luas menjadi prasyarat agar komunitas sastra kampus bergairah tersebab karya-karya sastra bermutu, daripada mengundang artis media sosial sebagai ‘pembual’ di acara sastra.

Setiap sore dan atau malam selama sepekan di Pekan Sastra Malang pertama itu, perbincangan bernas bisa dinikmati. Puncaknya pada malam minggu. Banyak ‘penyair’ membacakan puisinya. Banyak yang bagus. Sebagai orang yang jarang mengikuti acara sastra secara mendalam, saya terpukau dan bukan hanya terhibur. Utamanya anak-anak kampus yang berani tampil ‘keluar kandang’. Denny Mizhar, lelaki berambut gondrong itu, menutup malam puncak dengan puisinya tentang kota. Suaranya lumayan merdu meski lebih enak disebut jelas dan menggelegar. Ditemani alunan gitar Han, musisi yang baru saja merilis album musikalisasi puisi-puisi Saut Situmorang.

“Kami berharap agenda ini akan berkelanjutan dan direncanakan dengan lebih matang nantinya”, kata Denny, orang baik hati yang menerbitkan karya-karya sastra anak-anak ‘baru’ di penerbit Pelangi Sastra.

Satu catatan dari Pekan Sastra Malang ini. Meski sudah menggandeng banyak pelapak buku, lintas, komunitas, dan juga portal media, ‘rasa’ Malang masih harus diupayakan. Konon, selepas mendiang sastrawati Ratna Indraswari Ibrahim, sastra di kota Malang ‘lesu’. Tentu ini hanya kesimpulan tergesa. Tetapi sebagai sosok sastra besar, karya-karyanya perlu dimunculkan kembali, diulas kembali, dihidupkan kembali, misalnya. Juga konteks penulis atau isu Malang lain.

Nah, sayangnya ini tidak dilakukan di gelaran pertama ini. Semoga tahun depan, bersama lintas komunitas sastra, lebih besar, lebih bergairah. Benar-benar menjadi puncak pesta sastra di kota Malang. Sembari komunitas sastra kampus tidak abai mengambil pelajaran darinya.

 

Malang 10 April 2018

Mengelola lapak @bukunemalang dan Penerbit Sabuk Pustaka