Maka beginilah jadinya, saya didapuk untuk menjadi pembicara di acara bedah novel Samaran karangan cak Dadang Ari Murtono (selanjutnya akan saya singkat menjadi Cak DAM) pada rangkaian acara Pekan Sastra – Kota Malang (03/04/18). Saya suka dengan poster digital yang tersebar dengan istilah “Bincang Novel”. Agaknya, istilah ini lumayan ringan dan lebih bisa diterima daripada bedah novel. Istilah kedua ini mengisyaratkan sesuatu yang berat dan mengerikan. Setidaknya, beban saya agak berkurang sebagai pembicara atau sebut saja pengulas karya. Oh iya, yang paling mendorong saya mengiyakan dan menyanggupi kawan Denny Mizhar beberapa waktu lalu adalah Novel gratis yang nanti pasti tertandatangani oleh penulisnya, hehehe…

Baiklah, saya mulai saya racauan saya mengenai novel ini:

Membaca Samaran adalah membaca beberapa kisah dalam satu novel (pernyataan ini agaknya berat, dan serius padahal biasa saja, ringan. Saya melakukannya agar terihat bombastis saja sebenarnya). Laku pembacaan novel yang selalu saya lakukan adalah merekonstruksi beberapa peristiwa di dalamnya, menyusunnya di benak saya, membuat hubungan-hubungan kausalistik, membuat alasan-alasan logis, dan lalu mencoba menerka-nerka sebab apa yang menjadikannya demikian. Salah satu caranya adalah dengan membayangkan apa yang dibayangkan Cak DAM ketika menganggitnya dulu. Tidak terkecuali asal muasal, setting, dan hal-hal sederhana di baliknya.

Agar terjadi kesinambungan, secara garis besar, Samaran dapat diringkas dalam cerita seperti ini:

Pada bulan kedua musim tanam padi (kisaran Desember tahun 2019), Yati gendut memulai hari dengan tingkahnya yang aneh dengan mengatakan pada Marjiin, suaminya, bahawa pagi itu dia mencium bau kutukan. Marjiin yang berang dengan tingkah aneh istrinya segera ngeloyor ke Dukun sakti samaran, Aba Gabah, dia mendapati hal aneh pula dengan dukun tersebut bahwa dia juga mengalami hal serupa dengan Yati Gendut. Tak habis pikir dengan tingkah aneh kedua orang tersebut, Marjiin kemudian ke rumah Mat Ali, mendapatinya sedang makan dengan lahap. Beberapa waktu lalu, mat Ali ddapati kesurupan di dekat Kedung Baya. Tempat wingit yang penghuninaya dianggap mbaurekso Samaran semenjak desa itu berdiri.

Mat ali adalah pusat dalam novel ini. Dia adalah anak semata wayang dari pasangan Arkam dan Aisyah. Arkam, pemuda cemerlang dengan ketampanan yang gilang gemilang, adalah idola para perawan dan bahkan perempuan-perempuan bersuami di Samaran. Walaupun tidak buruk rupa, Aisyah adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuat Arkam panas dingin dengan pemandangan pahanya yang tersingkap tatkala bekerja di sawah.

Demikianlah, kemudian mereka berdua menikah dan menghancurkan hati sebagian besar perempuan Samaran. Mereka bersekongkol untuk memboikot pernikahannya dengan tidak melaksanakan tradisi yang dijunjung tinggi di Samaran tatkala sepasang kekasih itu menikah: memecahkan gerabah di jalanan yang dilalui mempelai wanita. Ini adalah aib terbesar semenjak Samaran berdiri. Pernikahan mereka kemudian menjadi semacam bara dalam sekam, dingin, dan terasa ada yang diperselisihkan dalam diam, sesuatu yang asing dan gelap. Pelanggaran tradisi oleh keduanya berlanjut dengan tidak menggelar upacara tujuh bulanan dan kelahiran Mat Ali lantaran boikot itu masih menjadi trauma yang hebat bagi keduanya.

Setelah Aisyah melahirkan Mat Ali, dia tak lagi digubris oleh suaminya. Cinta buta Arkam terhadap anaknya membuat Aisyah terluka. Di titik inilah Aba Gabah dan Kepala Kampung membuat pemufakatan jahat dengan Suratman. Kepala kampung dan Aba Gabah berniat untuk menghukum pasangan ini. Mereka berdua membujuk suratman agar menggoda Aisyah. Dengan begitu, pasangan ini akan bercerai, dan pada titik itulah Suratman akan meninggalkan Aisyah dalam keterpurukan cinta terlarangnya.

Tidak disangka, Suratman terlalu jauh melangkah, dia terbawa perasaan dan mencintai Aisyah. Perselingkuhan mereka membuat Suratman gelap mata sampai pada keputusan untuk memunuh Arkam dengan mendorongnya ke Kedung Kali Baya. Maka, Arkam ditemukan mengambang di Kedung Baya dengan tubuh yang sudah agak menggembung dan kepala yang retak terantuk batu.

Samaran, seperti namanya, hampir serupa desa yang hanya menghuni ilusi dan mimpi manusia. Semakna dengan namanya, lokasinya sangat terpencil. Mempunyai penduduk yang ramah, tulus, lagi bersahabat. Namun, dia didirikan atas pondasi dari dosa seorang penghianat kerajaan Majapahit, Widhe. Dia memboyong keluarga besarnya dan membangun desa setelah memutuskan untuk menghapus seluruh hubungannya dengan Majapahit, kerajaan yang mesti dibelanya sampai mati. Dia mengingkari keterpautan jiwa dan raganya akibat penyesalan dan kekecewaan atas runtuhnya kerajaan tersebut.

Maka demikianlah, Samaran didirikan atas penggadaian jiwa seorang manusia agar terlepas dari beban yang menghimpitnya. Petinggi kampung dan dukun selepas Widhe juga mempunyai dosa yang terbilang besar dan nyaris tak terampunkan. Segala kesaktian yang diperoleh dukun Samaran hampir pasti diperoleh dengan menggadaikan sesuatu yang paling berharga milik mereka. Sampai pada Aba Gabah, dia rela menggadaikan istri yang begitu dicintainya untuk mendapat kesaktian agar dapat mengalahkan Seh Kali yang pada waktu itu datang untuk mengajarkan agama Islam.

Demikian juga dengan kepala kampung. Tidak hanya pemufakatan jahat untuk menghancurkan pasangan Arkam dan Aisyah saja dosanya. Lebih dari itu, kepala kampung mengingkari tugasnya sebagai suami dan kepala keluarga. Istrinya tidak pernah dianggap karena kemandulannya, kemudian semakin jatuh sengsara akibat perlakuan suaminya tersebut. Kepala kampung lebih silau dan menghargai jabatannya daripada istrinya sendiri. Dosa yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh otak sederhana penduduk Samaran adalah kepala kampungnya jatuh cinta kepada Juminten, seorang banci pemain ludruk.

Rencana jahat tersebut membawa petaka yang lebih besar di kemudian hari ketika Mat ali dan Roh bapaknya membuat perhitungan dengan ketiganya. Pun demikian dengan roh Istri Aba Gabah yang enagih janji kepada suaminya lima puluh tahun lalu. Pada puncaknya, nyatalah bahwa seluruh penduduk Samaran adalah pendosa, mulai dari Marjiin yang pemalas luar biasa, Mat Ali yang merawat dendam, Bapaknya yang kelewatan, Romlah, Suratman dan Kepala kampung yang selingkuh, Aba Gabah yang memakan hidup-hidup Istrinya. Demikianlah, seluruh penduduk Samaran juga menanggung dosa struktral yang ratusan tahun mereka lakukan turun-temurun.

Aroma kutukan yang dirasa yati Gendut adalah pertanda kehancuran Samaran dengan seluruh penduduknya. Satu persatu, penduduk Samaran digerakkan kekuatan aneh untuk melakukan gerakan tarian Remo. Diawali dengan Yati Gendut, Romlah, Suratman dan seluruh penduduk desa. Mereka menari dan terus menari. Menari sampai mati.

***

Terdapat beberapa peristiwa besar yang pada awalnya akan terbaca sebagai peristiwa-peristiwa yang berdiri sendiri, saling sengkarut dan membingungkan. Dibutuhkan ingatan agak tajam untuk merekontruksi beberapa peristiwa yang mungkin sudah terlewat. Sementara otak sedang sibuk menjawab beberapa hubungan antarperistiwa tersebut, mata dan otak tak berhenti mengeja baris-demi baris, kalimat demi kalimat demi mendapat narasi yang utuh. Namun, ketika kejelian tidak dipegang selama pembacaan, mencari bangunan narasinya menjadi agak sulit. Ini agak merepotkan. Tapi bukankah novel baik itu memang seharusnya yang agak kompleks dan merepotkan?!

Kalaupun dibuat sebuah rekonstruksi berbentuk bagan antarperistiwa tersebut, mungkin yang tergambar adalah garis linier maju yang sederhana dan pendek (sehari, pagi sampai malam). Padahal, terdapat peristiwa-peristiwa penting yang menjadi latar belakang keseluruhan cerita. Maksud saya, dibutuhkan orang-orang dengan tingkat ketelatenan di atas rata-rata untuk membaca novel ini.

Yang paling membuat penasaran dari teknik bercerita Cak DAM adalah kejutan dan lompatan-lompatan peristiwanya. Kalau boleh dibilang itu adalah kekuatan, itu terletak pada daya paksa kepada pembaca yang mau tidak mau, baris demi baris kalimat akan terus dibaca untuk ditandaskan. Sayang seribu sayang, Cak DAM terlalu pelit untuk sekedar memberi semacam narasi petunjuk yang memberikan ancang-ancang agar pembaca tak terjebak dalam dimensi ruang dan waktu yang membingungkan. Semacam titik untuk menghela nafas panjang sebelum kemudian beralih ke persitiwa lain dalam cerita.

Tidak ada petunjuk khusus yang disediakan Cak DAM untuk sekedar menuntun pembaca bahwa (misalnya) bau kematian yang diutarakan Yati Gendut disela oleh masa lalu yang luar biasa kompleks perihal Mat Ali dkk. Bahwa apa yang sebenarnya diceritakan oleh Cak DAM dalam masa kini cerita sesederhana bau kutukan pagi sampai menjelang malam, hari dimana Samaran menemui akhir dan kematian seluruh penduduknya. Lainnya adalah peristiwa flash back yang coba dibangun untuk kemudian menjadi dasar lakuan Yati dan seluruh penduduk desa. Kalau dihitung, masa kini dalam Samaran hanya sehari, pagi sampai menjelang malam. Kalau mau dibuat panjang, bisa dimulai ketika kelompok ludruk mendirikan tobong, empat belas hari.

Sebagaimana yang telah diungkapkan para ahli di masa lalu, sebuah masyarakat di tempat dan waktu tertentu mempunyai caranya sendiri dalam melangsungkan kehidupannya. Pengalaman-pengalamn empiris ini kemudian dituangkan dalam sesuatu yang dapat diturunkan secara turun temurun sebagai pegangan hidup, Folklor. Melalui samaran, akan didapati banyak sekali folklor sebagai rambu-rambu yang menjaga harmoni kehidupan.

Orang Jawa sangat dekat dengan pasemon, perlambang. Tidak suka berterus terang secara langsung apa yang dimaksudkannya. Terdapat pepatah “wong jawa nggone semu, sinamun ing samudana, sasadone ingadu manis”, atau orang jawa cenderung bersikap semu atau terselubung, penuh simbol, diwujudkan dengan cara yang indah. Mereka cenderung berhati lembut (untuk tidak menyebutnya emosional). Demikian pula dengan beberapa hal yang ada di Samaran.

Tengok saja cerita mengenai kedung Baya. Dia adalah tempat terwingit yang menjaga Samaran dari marabahaya. Mitos yang berkeembang dari tempat ini berupa larangan-larangan yang menjurus pada kesadaran untuk hidup berasyarakat dengan menjaga keharmonisan dengan alam sekitar. Folklor semacam ini akan berkembang menjadi semacam pranata sosial yang mengikat dan mengatur laku hidup manusianya untuk mencapai keharmonisan.

Kesadaran makrokosmos yang demikian ini membawa kita pada fakta ruang dan waktu yang manusia termasuk di dalamnya (ekosentrisme). Manusia, dalam pendekatan ekosentrisme berdiri sama tinggi dengan segala sesuatu yang berada di luarnya, baik biologis maupun non-biologis. Kesadaran hidup dalam ruang makrokosmos yang demikianlah kemudian diwujudkan dan sekaligus dijaga dengan peraturan dan norma-norma untuk melangsungkan dan memelihara lingkungan.

Seperti setiap tempat yang dianggap mempunyai kekuatan magisnya sendiri, babat alas Samaran juga demikian. Widhe sang pionir dalam hal ini menyadari betul akan hal tersebut. Dalam semedi khusuknya, didapatilah olehnya tiga makhluk putih penjaga kedung di tempat itu. Maka kemudian, sukseslah pembukaan hutan sebagai lokasi desa dengan didahului prosesi Kulanuwun tadi. Demikianlah falsafah hidup orang jawa dan bagaimana kelindan kehidupan sosial mereka dalam rangka menjaga keharmonisan dengan alam, baik yang hidup maupun yang mati. Melalui cara-cara demikianlah tercipta kehidupan yang selaras.

Di samping itu, pola komunikasi tidak langsung yang terwujud dalam tradisi juga menjadi semacam batas-batas sosial yang dianut untuk menjaga kelestarian hubungan antarpenduduk. Prosesi pecah gerabah adalah semacam pelajaran sosial yang diwujudkan dalam satu tahap dalam prosesi pernikahan. Dalam Samaran, hal ini digambarkan bagaimana seorang mempelai harus melewati pecahan gerabah di tengah perjalanannya menuju rumah kepala kampaung untuk melakukan proses akhir pernikahan. Para wanita di Samaran sengaja memecahkan gerabah di tengah jalan sebagai wujud restu pada mempelai berdua. ini semacam penegasan atas laku hidup yang dilalui seseorang dalam memperoleh kebahagiaan semestinya harus melalui perjuangan yang menyakitkan (digambarkan dengan kaki yang menginjak pecahan gerabah yang tajam). Semakin banyak yang berpartisipasi “memberikan doa restu” , semakin terberkati pula pernikahan mereka.

Pasemon seperti itu adalah kearifan lokal masyarakat jawa untuk mengajarkan sesuatu yang bernilai. Satu masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu mempunyai cara sendiri dalam menjaga keselarasan hidupnya, yaitu melalui penyebaran nilai-nilai moral yang terwujud secara tidak langsung. Prosesi injak gerabah ini menegaskan bagaimana penyebaran nilai-nilai moral dalam masysrakat jawa itu ditanamkan dan disebarkan.

Jika menilik kembali kesadaran makrokosmos di awal tadi, rupanya penduduk Samaran lupa bahwa kesadaran tersebut musti diiringi dengan kesadaran mikrokosmos. Kesadaran inilah yang mustinya juga tetap terjaga. Keluhuran budi semestinya tetap harus dijaga untuk melestarikan hubungan antarmanusia. Maka demikianlah, penduduk Samaran sebagai representasi Jawa dan mencintai Pasemon ini lalu musnah, terlena dengan kemudahan dan sifat hipokrit sebagai efek buruk pasemon. Mereka musnah akibat tradisi dan pranata sosial mereka sendiri, tenggelam dalam kenyamanan dan keselarasan semu.

Wajahwajah berselimut pilu
Sementara perasaan perasaan nyaris di antara duka dan haru
Di luar;
Takdir mengemasi larik terakhir caya senja
Lihatlah, tatkala dendam semakin temaram
wajah wajah yang asing siasia memungut sisa masalalu

 

 

Dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya