Sastra dan sejarah, dua disiplin ilmu yang romantis untuk dikawinkan. Itulah yang dilakukan oleh Iksaka Banu, penulis novel dan cerpen bergenre sastra sejarah yang pernah meraih penghargaan Kausala Sastra Indonesia. Tepatnya pada Senin (23/04/2018), buku Iksaka Banu dibedah oleh dua pakar ilmu Sosial yaitu Riwanto Tirtosudarmo dan Ary Budiyanto di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pelangi Sastra Malang, KP3, dan penerbit buku Gramedia ini dihadri oleh para dosen, dan peneliti dari berbagai universitas di Malang.

Sebagai pembahas, Riwanto Tirtosudarmo mengatakan bahwa 13 cerpen yang terdapat dalam buku Kumpulan Cerpen Semua Untuk Hindia merupakan cerita yang berurutan. Namun kronoliginya dibalik oleh Iksaka. Cerpen pertama dimulai dengan kisah kepergian warga Belanda dari Hindia Belanda, dan cerpen terakhir difokuskan pada kedatangan Belanda untuk pertama kalinya ke Hindia.“Kekerasan fisik dan batin dikemas dengan menarik oleh Iksaka dalam cerpen ini,” ujar Riwanto. Melalui kekerasan itulah, Iksaka ingin menyampaikan pesan-pesan dala cerpenya.

Pada kesempatan yang sama, Yusri Fajar, dosen Sastra Inggris Universitas Brawijaya mengatakan bahwa Iksaka berhasil menunjukkan mutasi identitas orang  Eropa di Hindia Belanda. “Cerita tentang orang Eropa dalam kumcer ini menunjukkan mutasi identitas yang berhasil menunjukkan bahwa tidak semua orang Eropa yang berada di Hindia Belanda berwatak buruk”. Yusri juga mengomentari tentang konstruksii perempuan yang disajikan oleh Iksaka. “Konstruksi cerita perempuan dalam cerpen Iksaka sangat bagus, seolah mengingatkan saya pada Perempuan-Perempuan Perakasa Jawa dalam buku Peter Carey!” tegasnya.

Setelah para pembedah dan peserta menyampaikan hasil bacanya, Iksaka mulai bercerita tentang proses kreatifnya. Pria yang keseharianya bekerja sebagai desainer ini sejak tahun 2008 memang tertarik untuk menulis cerpen berlatar kolonial. Awalnya, dia menekuni genre tersebut dengan mengirim tulisan ke majalah Tempo bertajuk ‘Mawar di Sarang Macan’. Dia tidak menyangka bahwa respons redaktur dan pembaca Tempo sangat positif sehingga genre sastra sejarah pun ditekuninya.

Genre sejarah bukanlah genre yang mudah. Berbagai riset ditekuninya agar menjadikan cerita yang layak disajikan pada pembaca. “Saya harus kejam pada diri saya sendiri, khususnya dalam membagi waktu!” ungkapnya.

Salah satu keunikan proses kreatif yang dilakukan oleh Iksaka adalah memvisualisasikan data yang diperoleh baik dalam bentuk peta maupun lukisan. Hal itu tentu tidak lepas dari latar belakangnya sebagai seorang desainer. Meskpiun demikian, justru proses itulah yang membuatnya mampu menciptakan karya sastra bergenre sejarah yang dapat dinikmati banyak orang.

Dalam berkarya, Iksaka memiliki keyakinan bahwa kita ini adalah orang biasa yang melewati rel sejarah panjang dan telah mengalami pasang surut hidup. “Jangan sampai kesalahan yang terjadi pada massa lalu diulang kembali, dan kita tidak perlu menceritakan orang besar karena dari orang orang sederhana pun kita dapat belajar banyak,” pungkasnya.

Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang. Antologi cerpennya Aloer-Aloer Merah (Pelangi Sastra, 2017)