Saya masih sangat ingat pertemuan pertama bersama Doni Ahmadi saat lapak baca di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, saat itu hujan mengguyur begitu derasnya hingga buku-buku yang sudah tergelar rapi terpaksa diangkat-angkut kembali dan menuju tempat berteduh.

Tak jauh dari tempat kami menggelar lapak baca di Taman Suropati, terdapat halte yang dapat dijadikan sebagai tempat berteduh tepat di pinggir jalan. Pada mulanya, saya dan Doni belum sempat berkenalan. Hanya sambil lalu. Tetapi, hujan adalah berkah –yang katanya– ternyata benar. Di Halte ini, secara kebetulan dan tidak langsung, saya berkenalan dengan Doni. Berawal dari percakapan ihwal konstruksi di dalam tubuh puisi Afrizal Malna hingga betapa cupu sebenarnya ambisi kepenulisan Fiersa Besari. Percakapan dari saat berteduh ini berlanjut hingga kami berpindah tempat malam harinya di Taman Ismail Marzuki dengan memesan kopi hitam seharga lima rebuan dan beberapa gorengan. Begitulah pertemuan singkat saya dengan Doni Ahmadi sampai kami benar-benar menjadi kawan yang bangsat-bangsat-an.

***

Sore tadi (4/29/2018), empat orang anggota baru Pelangi Sastra Malang tekun menyimak Doni menceritakan proses kreatifnya selama menulis prosa dan pengalamannya sebelum dan setelah cerpennya dimuat di koran Tempo. Sama halnya seperti yang lain, Doni menjelaskan bahwa momen menunggu cerpen dimuat di koran adalah momen-momen yang lebih banyak kecewa, dibanding bahagianya–khususnya penulis yang namanya memang belum dikenal publik luas. Sebagai pemula yang belum dikenal luas, cerpen Doni telah dimuat sebanyak dua kali di koran Tempo, cerpennya yang berjudul ‘Tentang Ucup Karbol yang Kelak Akan Diperdebatkan’ dan ‘Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangat’– klipingnya bisa dilihat melalui website lakonhidup(dot)com.

“Sudut pandang, sebab akibat, substansi, merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan ketika menuliskan sebuah cerita,” papar Doni. Lebih jauh lagi, bagaimana menulis lebih luwes yaitu dengan memperbanyak tabungan membaca karena menulis tak sekadar menulis, diperlukan pembacaan-pembacaan lainnya terlebih dahulu, yang itu tentu diperlukan banyak. Lanjutnya.

Setelah itu, empat orang anggota baru Pelangi Sastra Malang; Arif, Dita, Firdha, dan Fian diberikan kesempatan untuk membacakan cerpennya masing-masing dan saling memberikan komentar satu sama lain. Pembacaan-pembacaan dan diskusi seperti ini diperlukan sebagai upaya proses kreatif menulis kedepannya, karena jika sebuah tulisan hanya disimpan di kulkas sendiri, ia akan membeku karena tak tersentuh.

Terakhir, rekan-rekan anggota baru diberikan waktu singkat untuk menuliskan cerita yang singkat namun padat. Ini pun merupakan upaya untuk mengasah intuisi kepenulisan agar terus terasah dan terasah. Intuisi dan intelektualitas perlu kiranya diseimbangkan. Sebagai penutup diskusi, Istifari Hasan selaku tuan rumah, menjamu dengan makanan-makanan selepas perbincangan prosa yang cukup melelahkan pikiran.

Harapan kedepannya dengan proses ini adalah rekan-rekan anggota baru bisa terus konsisten dalam menulis dan dapat melahirkan karya-karya bagus sebagai rekam-jejak kepenulisan di kota Malang.

Lahir di Makassar dan tinggal di kota Malang. Penikmat puisi. Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang.