Sumber: ivystore

Judul Buku : Estetika Musik, Sebuah Pengantar
Penulis          : Suka Hardjana
Editor            : Michael H.B. Raditya, Erie Setiawan
Tahun           : 2018
Halaman      : 188 + xiv hal
Penerbit       : Art Music Today (AMT)


Saya akan membagikan ringkasan hasil pembacaan saya atas buku: “ESTETIKA MUSIK Sebuah Pengantar” yang ditulis oleh Suka Hardjana. Buku yang dulu pernah terbit secara terbatas pada tahun 1983 ini kini diterbitkan secara lebih luas oleh Penerbit Art Music Today, sehingga saya juga bisa membacanya. Buku ini berisi lima bab yang membahas persoalan estetika musik yang menurut saya masih relevan untuk dibaca hari-hari ini.

Estetika sebagai ilmu atau pengertian terus-menerus mengalami perkembangan dari zaman ke zaman sehingga pengertian estetika sendiri masih simpang siur hingga hari ini. Meskipun demikian Suka Hardjana memahami estetika sebagai pengetahuan atau penelaahan tentang keindahan, maka cita rasa dan kesadaran intelektual manusia juga perlu dipertimbangkan dalam upaya penelaahan karena ukuran-ukuran keindahan berbeda-beda dari waktu ke waktu.

Pengertian musik pun berbeda-beda. Apa yang dulu dianggap musik oleh para komponis klasik dapat dianggap sampah oleh para komponis kontemporer. Sebaliknya seorang fanatik musik klasik akan menganggap musik kontemporer bukanlah musik! Pemahaman kita tentang musik hari ini sangat jauh berbeda dengan pemahaman orang Yunani ribuan tahun yang lalu. Sehingga pertanyaan “apa itu estetika?” dan “apa itu musik?” menjadi sulit untuk dijawab.

Suka Hardjana menjelaskan musik dengan cara menguraikan bagian-bagian atau unsur-unsurnya, yaitu bunyi. Sifat-sifat bunyi sebagai materi dasar musik yaitu memiliki volume atau intensitas (keras atau lemah); dinamika (yang membedakan teriakan orang dalam bahaya dan teriakan orang memanggil walaupun sama kerasnya); durasi (tempo); jangkauan atau interval (rendah atau tinggi); kualitas bunyi (misalnya kasar atau halus); kuantitas bunyi; gerak bunyi (bunyi bergerak untuk mencapai suatu titik tertentu); bentuk bunyi (bulat, datar, vertikal, cekung, dll.); warna atau timbre (pada frekuensi yang sama, dua instrumen berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda); serta bobot dan karakter bunyi.

Kesadaran manusia menjadi hal penting atas kehadiran musik secara nyata sehingga bunyi saja tidak cukup untuk kita sebut sebagai musik. Musik kita kenal sebagai musik apabila ia menjadi media ekspresi manusia. Nada, Frekuensi, Ritme, Melodi, Harmoni, dan Warna adalah elemen-elemen yang membentuk bangunan musik. Untuk melengkapi penjelasannya ini Suka Hardjana juga menguraikan persoalan keindahan alam dan keindahan seni yang memiliki perbedaan-perbedaan. Juga sedikit mengulas persoalan keindahan dari sudut pandang Socrates, Plato, Aristoteles, hingga Kant. Saya melihat kecenderungan Suka Hardjana memandang fungsi musik adalah untuk musik itu sendiri – meskipun kemudian dia menyatakan bukan menekankan paham “l’art pour l’art” – baginya musik harus dilihat dari musik itu sendiri.

Musik adalah karya seni yang paling sulit untuk diterima pendengarnya secara langsung. Musik adalah bahasa ekspresi yang harus diterjemahkan. Berbeda dengan sastra sebagai bahasa verbal yang tidak memerlukan penjelasan atau penerjemahan. Juga berbeda dengan seni rupa sebagai bahasa kesan yang bersifat visual, ia memerlukan pemahaman tapi tidak memerlukan penerjemahan. Penerjemahan musik dilakukan melalui pengertian dan pemahaman, tidak cukup melalui emosi, rasa, dan selera saja.

Suka Hardjana juga mengulas beberapa aliran atau keyakinan di dalam musik. di Timur para pencipta musik tradisi pada umumnya memandang estetika berkaitan dengan ajaran etika, moral, agama, kepercayaan, dan sebagainya. Narasi dan teks merupakan bagian yang penting di sini, misalnya dalam tembang macapat. Berbeda dengan di Barat, komponis berada di garis depan dalam suatu karya musik sehingga berbicara aliran adalah berbicara komponisnya. Bagi Bach misalnya sebagai representasi aliran Barok, keagungan karya musik hanya bisa digolongkan dengan kebesaran Tuhan, sehingga sikap estetiknya bertolak dari keyakinan ini. Berbeda dengan aliran Klasik yang berpandangan bahwa manusia tidak dapat mengelak dari hukum keseimbangan alam. Karya-karya Mozart mencerminkan keyakinan ini.

Aliran lainnya lagi yaitu Romantik yang dipengaruhi oleh paham rasionalisme subjektif. Mereka percaya bahwa manusia dapat mengungkap rahasia kehidupan. Aliran ini mencoba untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab atau mencari sesuatu yang belum pernah ditemukan. Sehingga dunia kreatif menjadi sangat subjektif, tiap komponis adalah dirinya sendiri tanpa perlu prototipe yang menjadi panutan.

Aliran-aliran ini ditolak oleh Debussy yang menganut paham Impresionisme. Baginya hidup adalah perjalanan jauh, manusia tidak akan bisa menghayati seluruhnya, cukup memetik kesan-kesannya saja, tak perlu mengungkap rahasianya. Maka karya-karya Debussy bukan bermaksud untuk menyampaikan suatu pesan, tetapi mengungkapkan kesan atas sesuatu. Kemudian terjadi semacam revolusi bunyi atau emansipasi keindahan pada abad XX yang juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Komponis-komponis abad XX sudah tidak menggunakan logika tonal dalam membuat komposisi musik. Revolusi bunyi abad XX ini telah menuntut perubahan sikap dan pandangan estetika bunyi. Demikianlah apa yang dulu dianggap bukan musik, hari ini ternyata dapat disebut sebagai musik. Begitu juga sebaliknya.

Suka Hardjana mengakhiri buku ini dengan menyatakan bahwa musik pada tingkatan yang lebih lanjut bukan hanya sekedar bermain atau bernyanyi saja, tetapi juga melibatkan pengetahuan tentang hal-hal yang lebih ilmiah, sehingga membutuhkan studi wawasan yang sangat luas. Hal ini disebabkan oleh musik bukan hanya gairah atau birahi, tetapi menyangkut pandangan manusia secara mendalam tentang dunia, keyakinan estetis, dan tentang manusia itu sendiri.

 

Bahan tulisan ini disampaikan saat #TadarusBuku pada tanggal 20 Mei 2018 di kediaman Han Farhani.
#TadarusBuku adalah kegiatan rutin komunitas Pelangi Sastra Malang saat bulan Ramadan.

Musisi. Tinggal di kota Malang.